Love In Many Ways

Love In Many Ways
Ini Apa?



Besoknya...


Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, tapi Lisa sama sekali belum beranjak dari kasurnya. Ia benar-benar malas melakukan apapun saat ini. Yang ia inginkan hanyalah berdiam diri tanpa harus ada yang mengganggunya sama sekali.


Tok... Tok... Tok...


Putra langsung masuk kedalam kamar Lisa karena ia tau Lisa tak mungkin menjawab ketukan pintu meskipun ia mendengarnya. Putra melihat Lisa masih rebahan santaiy di atas kasurnya sambil memainkan ponselnya.


"Ya Allah ni anak... Bangun woy! Mau jalan sama Faro yah? Noh orangnya ada di bawah!"


Lisa menengok dengan malas, "Oh yah? Bilangin aja nggak jadi kak, Lisa mager banget sumpah lagi nggak mau kemana-mana, nggak mood jalan!"


"Loh nggak bisa gitu, ayo cepetan mandi sekarang! Nggak enak sama orangnya lah, noh orangnya udah ada di bawah. Kenapa nggak dari kemarin-kemarin batalin nya sih?!" Tanya Putra kesal.


"Males ngetik..."


"Nahkan salah sendiri. Udah sana mandi gih, nggak enak sama orangnya kalo sampe di batalin. Dia udah jauh-jauh kesini loh!"


"Ck."


Karena paksaan Putra, Lisa terpaksa mandi dan bersiap untuk pergi dengan Faro.


.


.


.


30 menit kemudian...


Lisa turun dengan wajah lusuhnya dan pakaian seadanya untuk pergi bersama Faro. Putra dan Felice yang melihatnya merasa prihatin melihat adiknya yang sudah seperti gembel itu.


"Nih anak mukanya nggak usah di tekuk mulu bisa nggak sih?! Nggak bergairah gitu keliatannya." Ujar Putra.


Felice memberi kode seolah meminta Putra untuk tidak mengatakan hal itu. Kemudian Felice tersenyum pada Lisa, "Nggak ada yang ketinggalan kan? Hp udah bawa?" Tanya Felice.


"Eh iya lupa..."


Lisa berjalan ke kamarnya dengan malas untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan di kamar. Lalu ia turun lagi.


Felice kembali bertanya, "Dompet?"


"Astaga lupa..."


Putra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat adiknya yang terlihat tidak normal.


Lisa kembali lagi ke kamarnya untuk mengambil dompetnya yang ketinggalan. Lalu turun lagi ke bawah.


"Yuk Faro..." Ajak Lisa.


"Eh bentar. Udah sisiran apa belum sih? Kayak gembel gitu, mukanya juga lusuh gitu..."


Lisa menyentuh rambutnya pelan, "Mmm... Kayaknya belum deh."


Putra menepuk jidatnya, ia tak mengira Lisa bisa menjadi sekacau ini. Ia benar-benar melupakan semuanya.


"Ikut kakak!" Putra langsung menarik tangan Lisa menuju kamarnya kembali.


Felice tersenyum canggung pada Faro yang sudah menunggu sedari tadi. "Tunggu sebentar yah Dek, kakak susul mereka dulu."


"Iya nggak papa kak." Jawab Faro.


Felice menyusul kedua kakak beradik itu di dalam kamar.


"Sekarang bajunya diganti dulu, kamu pake yang ini!" Pinta Putra sambil memberikan baju pada Lisa.


Lisa hanya bisa menghela napas panjang dan menuruti keinginan kakaknya. Ia berjalan masuk kedalam ruang ganti.


"Cepetan, nggak pake lama!" Sahut Putra.


Tok... Tok... Tok...


"Sini sayang..." Jawab Putra.


Felice berjalan masuk, "Lisa mana?"


Baru saja Putra akan menjawab, pintu ruang ganti terbuka dan terlihat Lisa berjalan keluar dengan malas.


Putra berdiri dari duduknya, "Nahkan jadi cantik, sini dulu!"


Lisa memutar bola matanya malas kemudian mendekat.


"Duduk sini!" Pinta Putra menyuruh Lisa duduk di kursi yang terletak di depan cermin.


Setelah Lisa duduk Putra langsung menyemprotkan parfum sebanyak mungkin pada Lisa.


"Ck kak Putra apa-apaan sih?!" Kesal Lisa.


"Udah diem aja!" Putra menyisir rambut Lisa dengan pelan.


"Kacau boleh, tapi jangan malu-maluin kakak dong. Masa kamu mau jalan dengan penampilan kayak gembel gitu, kamu kan jalan sama Faro muka Faro mau di taroh dimana nanti. Kasihanilah kakak yang selalu estetik ini!" Gurau Putra.


Lisa hanya menatap Putra datar tanpa ada niat untuk menjawabnya.


Felice yang sedari tadi hanya memperhatikan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Putra. Ia berjalan mendekat, "Sini biar aku yang melakukannya..." Felice merebut sisir yang ada di tangan Putra kemudian menyisir rambut Lisa.


Selesai menyisir rambut Lisa, Felice mengambil salah satu tas Lisa, kemudian memasukkan dompet, ponsel dan uang ke dalam tas.


"Ini di pake, udah rapi kan... Udah sana turun, nggak enak orang nungguin dari tadi loh..." Ujar Felice.


Lisa tersenyum pada Felice, "Makasih kak Felice. Kalo gitu Lisa pergi dulu yah..."


"Eh btw kalian mau kemana? Udah ijin sama Rey?" Tanya Putra.


Lisa merasa malas menjawab pertanyaan Putra, "Mana kutau... Hp aja sejak kemarin mati kok, lagian Lisa perlu self time kak. Umur Lisa masih 17 tahun, belum jadi ibu-ibu 35 tahun yang udah nikah. Dan menurut Lisa, egois itu penting dalam beberapa situasi. Karena nggak selamanya jujur itu mujur!" Jawab Lisa.


"Iya tapi ijin kek ke suami..."


Lisa memutar bola matanya jengah, "Terserah kak Putra aja deh, Lisa males berurusan sama dia. Kalo kakak mau, kak Putra aja yang ijinin ke dia. Lisa males! Udahlah, Lisa pergi dulu!"


Lisa berbalik dengan cuek dan pergi menghampiri Faro di bawah yang sudah sedari tadi menunggu. Ada sedikit penyesalan kenapa ia mau menikah muda, dalam beberapa aspek mungkin memang menguntungkan, tapi ia juga kehilangan kebebasannya untuk beberapa waktu.


.


.


.


Faro membawa Lisa menuju ke sebuah tempat yang asing untuk Lisa. Ia hanya mengikuti langkah Faro agar tidak ketinggalan, hingga mereka sampai di depan sebuah pintu.


"Ini ruangan apaan Ro? Kok aneh?" Tanya Lisa penasaran.


Faro berbalik menghadap Lisa, "Daripada tanya... Mending buka aja!"


Lisa heran mendengar penuturan Faro, ia pun membuka pintu itu dengan pelan dan hanya ada ruangan gelap di dalamnya.


Lisa menoleh pada Faro dengan perasaan bingung, "Ini apa?" Tanya nya.


Cklek...


"SURPRIZEE!!!"


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!