
Lisa sampai jenuh mendengar semua ucapan Sarah yang sudah berulang kali dia ucapkan.
Malam ini mereka sedang berada di mal kawasan Senayan. Sesuai janjinya tadi. Ternyata Sarah ingin mencari hadiah untuk Al. Entah bingkisan macam apa, Sarah masih belum punya gambaran sedikit pun.
"Aku sendiri nggak tau, Rah. Aku aja sebenarnya belum mengiyakan Rey."
Setelah keluar dari toko pakaian, Sarah menarik tangan Lisa masuk ke toko di seberangnya, yang menjual berbagai macam alat-alat olahraga.
"Nggak tau gimana? Come on, ini kan impian kamu dari dulu, Lis!" Sarah meraih sepatu olahraga, dan membandingnya dengan sepatu yang lainnya. "Emang apasih yang kamu pikirin? Emang masih ada yang menganggu pikiran kamu?"
Mengganggu pikiran? Iya! Cowok reseh itu! Bayangan Al yang udah bikin aku nggak bisa tersenyum saat Rey menembakku! Dia yang udah bikin aku bingung dengan perasaan aku sendiri! Al! Al! Al! Satu kata itulah jawabannya.
"Udah deh, Lis. Jangan bengong aja. Kamu tuh udah punya Rey, harusnya kamu bersyukur. Sekarang tinggal aku nih yang bingung mencari hadiah untuk nembak Al besok. Kasih apaan yah bagusnya?" Kata Sarah dengan wajah senangnya.
Lisa hanya menatap Sarah yang sangat antusias mencari hadiah untuk Al. Semua barang di perhatikannya dengan saksama sambil membayangkan apakah sang pujaan hati akan menyukai hadiah pemberiannya.
Entah kenapa didadaku ada perasaan sedih saat Sarah mau menembak Al besok.
"Gimana kalau yang ini? Bagus nggak Lis?"
...*****...
🏠Rumah Keluarga Agrananda🏠
Malam hari!🌃🌛
Semenjak pulang dari rumah Lisa tadi, Rey selalu senyum dan selalu terlihat bahagia. Entah apa yang ada di pikiran nya.
Rey sedang berada di kamarnya sambil bermain game online dan duduk di kursi belajarnya.
"KAK REY!" Tiba-tiba Aqeela datang dan berniat mengejutkan Rey.
"Apa? Kebiasaan. Kalo masuk tuh ketuk pintu dulu!" Kata Rey dengan ekspresi datarnya.
"Ihhh kak Rey. Kok nggak terkejut sih, Aqeela udah susah-susah loh buat bikin kakak kaget!" Aqeela memasang wajah cemberutnya.
"Yah gimana lagi?" tanya Rey lagi.
"Uuuhh... Kak, ayo makan!" Ajak Aqeela.
"Ntar dulu."
"Ayo kak!"
"....." Rey tak menanggapi ucapan adiknya.
"Kak ayoo!" Aqeela menarik narik baju kakaknya.
"Yaudah iyya!" Rey menyimpan hpnya dan mengajak adiknya untuk makan malam.
Nama AQEELA RANTYANI FEBRIANA AGRANANDA
Nama panggilan Aqeela.
.
.
.
Keesokan Harinya!🌄🌞
Di Meja Makan🍽
Rey sedang sarapan dengan semua keluarganya. Rey hanya makan sepotong roti dan segelas susu.
Rey berdiri dari duduknya lalu menyalami Bundanya."Bund, Rey berangkat yah."
"Loh kok gitu? inikan masih kepagian, jam tujuh aja belum."
"Lagi buru-buru Bunda."
Kemudian berjalan ke arah ayahnya dan juga menyalaminya."Yah, Rey berangkat yah."
"Kamu hati-hati!" Pesan Ayahnya Rey.
Melihat kakaknya yang akan berangkat Aqeela buru-buru menghabiskan minumnya."Kak! Aqeela nebeng yah."
"Nggak!" Rey mengambil tasnya di kursi yang tadi dia duduki.
"Ayahh... Ayah liat tuh kak Rey." Aqeela mengadu kepada ayahnya.
"Kamu diantar supir aja yah, kak Rey lagi buru-buru." Jawab Ayahnya sambil menyendokkan makanan lagi ke dalam mulutnya.
"Tapikan... yaudah deh lain kali aja. Bayy kak Rey!" Aqeela akhirnya mengalah juga. Sifat Aqeela yang sangat manja terhadap kakaknya memang tak bisa di elakkan, lebih-lebih lagi Aqeela sering menjahili kakaknya.
"Baay!" Rey melangkahkan kakinya ke arah garasi.
...*****...
"Rey?"
Hari ini hari yang benar-benar baru bagiku. Mengapa? Karena Rey menjemputku sebelum berangkat ke sekolah!
Yup! Jelas aku terkejut banget melihat Rey didepan teras rumah. Apalagi begitu aku tau dari Bi Asih kalau ternyata Rey sudah menunggu ku sejak setengah jam yang lalu alias pukul enam lewat lima belas menit. Pagi banget! Duh, jadi nggak enak hati... Apa ini tandanya Rey serius dengan perasaannya ke aku?
"Mulai hari ini kan kita udah pacaran, jadi kita berangkat bareng ya?" Rey memulas senyum tipis nya dengan tulus.
Pacaran? Nggak Rey! Rasanya hatiku menolak jadi pacar kamu!
Sayangnya kalimat itu hanya tersimpan di hati Lisa dan Lisa hanya menjawab ucapan Rey dengan mengangguk kan kepalanya pelan.
Rey berjalan ke arah motornya dan mengambil helm lalu memakaikannya untuk Lisa.
Mereka pun berangkat ke sekolah. Di sepanjang perjalanan Lisa hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Jujur, aku masih belum terbiasa. Aku masih belum siap menerima perlakuan spesial dari Rey. Jadi apa yang harus aku lakukan nih? Ah, masih pagi-pagi hati udah ribet.
...*****...
🏫SMAN Bakti Husada🏫
Sepanjang memasuki gerbang sekolah siswa-siswi terus-terusan menatap Lisa dan Rey, berbisik-bisik satu sama lain.
Lisa yang melihatnya pun merasa nggak enak hati. Apalagi Rey memiliki begitu banyak penggemar, jiwa insecure nya meronta-ronta. Dalam hati dia merasa dirinya nggak pantas dengan Rey.
Parkiran👈
"Rey makasih yah, aku duluan!" Lisa sudah akan melangkahkan kakinya pergi.
"Eh tunggu, ayo aku antar kamu ke kelas!" Ajak Rey.
"Ha, ng-nggak usah Rey, aku bisa sendiri kok, lagian kan nggak enak diliatin terus sama anak-anak lain."
"Nggak papa. Ayo!" Rey menarik tangan kanan Lisa dan mereka berjalan beriringan menuju kelas nya.
Di sepanjang perjalanan siswa-siswi terus saja menatap dan saling berbisik-bisik.
Rey begitu acuh dan bersikap tak perduli dengan semua siswa-siswi tersebut.
Sesampainya di depan kelas Lisa.
"Aku masuk kelas dulu yah. Belajar yang bener!" Rey mengusap kepala Lisa lembut.
Lisa hanya mengangguk menjawab ucapan Rey.
Rey berjalan pergi menuju kelas nya.
Lisa masih termangu memandangi kepergian Rey didepan pintu kelas.
Sarah berjalan dari dalam kelas menuju ke arah Lisa sambil tersenyum. "Cieee yang diantar pacar baru nih!" Sarah menggoda.
"Hem!" Lisa hanya menanggapinya dengan acuh.
"Ehem... Pajak Jadian ada gak nih? Nanti traktir di kantin yah!"
Lisa tak merespon ucapan Sarah sama sekali. Sarah yang melihat Lisa hanya bengong pun berusaha menggodanya lagi.
"Ehem...ehemm!"
Lisa langsung tersadar dan memasuki kelas menuju ke meja nya tanpa menghiraukan Sarah.
.
.
.
Kelas 11 IPS 5👈
Di tengah pelajaran Pak Ilham entah kenapa Lisa malah jadi sering mencuri pandang ke Al. Hari ini cowok reseh itu sungguh berbeda.
Tumben dia konsen banget belajar. Tumben dia nggak menjewer telingaku ataupun menendang kerikil ke arahku dari pagi tadi. Sampai detik ini, kami diem-dieman tanpa kata.
Aduhh... aku ini kenapa sih? Kok aku malah jadi kangen sama segala perbuatan usilnya itu?
Degh!
Mendadak mata Lisa menangkap sebuah kertas yang sedikit menjorok keluar dari tas Al. Di atas kertas itu tertulis...
"10 Alasan Mengapa..."
Selebihnya nggak bisa kebaca karena terlipat. Rasa penasaran menyergap otak Lisa.
Jadi selama ini Al juga menulis catatan seperti aku? Jadi dia juga sedang menyukai seseorang? Siapa? Siapa orang itu? Apa mungkin Sarah?
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!