Love In Many Ways

Love In Many Ways
pura-pura



"Ta-tapi saya nggak mungkin ngelakuin itu bu... Itu pasti fitnah, saya nggak ngelakuin hal itu bu!" Dinda tetap bersikeras membantah untuk menutupi kesalahannya.


"Dinda jika memang kamu benar salah, lebih baik kamu jujur, di sini disaksikan banyak orang dan bukti, saksi juga korban ada. Hal yang diucapkan para saksi dan korban sama Din, kalo kamu jujur mungkin hukumannya nggak akan terlalu berat nak..." Bu Desi berusaha membujuk Dinda untuk segera jujur padanya.


Ayah Dinda bolak-balik menutupi wajahnya dengan kedua tangannya seolah-olah malu dengan kejadian ini. Ia sudah tidak tau harus melakukan dan harus mengatakan apalagi.


Dinda... Kamu jujur aja yah, jangan buat masalah ini semakin rumit. Semua bukti sudah mendukung nak," Bu Desi masih berharap kalau Dinda akan mengaku dengan sendirinya.


Dinda semakin merasa bingung dan terpojok, ia semakin tertekan saat melihat orang-orang menatapnya sambil diam-diam membicarakannya. Terlebih lagi saat melihat ekspresi wajah ayahnya.


"Terserah ibu mau gimana. pokoknya saya nggak mau ngaku sama masalah ini! Saya nggak salah kenapa saya harus di tuduh seperti ini, itu semua kecelakaan bukan sengaja!" bentak Dinda yang semakin terpojok.


Bu Desi terkejut dengan jawaban Dinda, "Apa maksudnya kecelakaan? Awal pertama masalah ini, kamu bilang kalo semua ini sengaja dan dilakukan oleh Lisa. Kenapa sekarang berubah?"


"M-maksud saya nggak gitu bu, s-saya bisa jelasin semuanya. Saya nggak buat semua kecelakaan ini


bu!"Dinda tak henti-hentinya membantah ucapan Bu Desi. Namun Bu Desi justru semakin yakin kalau pelakunya adalah Dinda dan sengaja melimpahkan kesalahannya itu pada orang lain.


"Baik Dinda kamu bisa kembali ke kelas dulu, kita lakukan pertemuan lagi minggu depan ya!"


Bu Desi mengantarkan Dinda keluar dengan baik-baik, ia paham Dinda masih tidak ingin mengakhiri itu semua. Setelah itu Bu Desi kembali melanjutkan pertemuan tadi.


Dinda berjalan dengan pandangan kosong dan seperti orang lemas tak berdaya. Sesekali ia menabrak anak lain karena tak fokus.


"Gimana nih, kalo sampe ketahuan bahaya. Reputasi gue bakal hancur, dan mama papa pasti malu. Gue pasti jadi hinaan satu sekolah, apa yang harus gue lakuin sekarang!" pikir Dinda yang masih bingung.


Tanpa sadar ia berjalan menuju parkiran mobil, ia berjalan tak fokus karena otaknya tengah berpikir keras. "Siapa sih yang sebenarnya laporin gue? Tasya kan udah gue singkirin juga, siapa yang berani ngelakuin itu semua? Bener-bener pengen di kasi pelajaran yah, awas aja."


"Gue!"


Mendengar sahutan seseorang, Dinda menengok dan mencari ke arah sumber suara tersebut. Dinda langsung melihat ke arah Rani yang dengan sinis menatapnya sambil bersandar dimobil dengan santai.


Dinda terkejut setengah mati sekaligus bingung melihat Rani ada disini ia langsung menghampiri Rani dengan akting terbaiknya, "Rani, lo kok ke sini? Ngapain? Emangnya udah sembuh ya? Ayo aku anter ke rumah sakit, baru aja nanti sore gue mau jenguk lo tau."


Rani spontan menepis tangan Dinda yang hendak meraihnya, "Jangan sentuh gue! Gue alergi sama pengkhianat!" kata Rani dengan sinis.


"Hah? M-maksud lo apaan sih, gue gak paham sama kata-kata lo."


"Gue gak suka sama pengkhianat! Jelas?!" tanya Rani dengan nada yang sangat ia tekankan.


Dinda mengerutkan dahinya bingung, ia pura-pura tidak tau arti dari ucapan Rani. "Pengkhianat apaan sih Ran maksudnya! Aneh banget lo hari ini? Oh efek sakit kali ya, lo kan belum pulih, udah masuk dulu dan segera balik ke rumah sakit dulu biar segera pulih."


"Ma-maksudnya?"


"Maksud lo apaan sih? Gue nggak ngerti lo lagi bahas apaan." Nada suara Dinda yang semakin meninggi karena kesal.


"Lo payah, nyingkirin saksi tapi nggak nyingkirin gue. Awalnya gue selalu anggep lo kayak kakak gue sendiri, dan yah gue sadar kalo kakak gak bakal sakitin adiknya sendiri!" Rani berkata sinis pada Dinda.


"Ran... Gue gak maksud, itu salah Tasya... Dia jalan dan gak sengaja tumpahin pelicin lantai, bukan gue yang ngelakuin itu semua, lo salah paham Ran!"


Rani memutar bola matanya jengah dan tersenyum sinis, "Jangan sok suci! Gue pengen banget nampar lo yah, tapi gue sadar kalo manusia gak boleh jahat sama binatang."


Dinda mengepalkan tangannya erat, "Jaga yah mulut lo!" Dinda mengangkat tangannya hendak menampar Rani, namun ia menahannya.


"Kenapa? Mau tampar? Tampar aja gak papa, kayaknya nanti ayah gue gak bakal kesulitan buat jadi penuntut lo di pengadilan. Sekuat-kuatnya pengaruh ayah lo, hukum negara ini masih lebih kuat dan kebenaran itu yang harus di kedepankan. Pak ayo pergi sekarang, saya bingung mau lihat muka dia yang mana. Balik ke rumah sakit aja yah pak!" ujar Rani kesal.


Rani pergi begitu saja, sedangkan Dinda mengepalkan tangannya. Ia benar-benar ingin marah dan memukuli seseorang saat ini. Ia tak menyangka semua rencana nya akan sekacau ini.


Dinda berjalan pergi dengan kepala yang penuh pikiran dan emosi yang tak stabil. Namun, tak sengaja ia bertemu Lisa di koridor.


"Eh ada Dinda..." sapa Lisa dengan nada meledek.


Dinda yang masih marah pun terpancing, ia berhenti dan berdiri menghadap Lisa secara langsung. "Ngapain lo kesini? Lo kan udah di pindahin, dasar nggak ada malu."


"Heh, sorry yeee... Pacar gue kan Ketua OSIS disini jadi yah mau mau gue lah. Lagian kan gue nggak ada masalah disini."


Dinda langsung naik darah dan semakin emosi. "Ini semua gara-gara lo tau nggak! Gara-gara lo, hidup gue berantakan, ngapa sih lo harus ada disini, kenapa harus ada Lo di dunia ini? Kenapa? Hidup gue jadi nggak tenang!"


Lisa menahan senyum karena ia berhasil memancing Dinda. "Jangan jadikan kesalahan lo sendiri buat pembenaran atas apa yang udah lo lakuin! Lagian kalo lo nggak mulai, mana mungkin kayak gini?" tanya Lisa santai.


"Atas dasar apa s*mpah kayak lo hancurin hidup gue, bahkan bikin hidup gue sekacau ini. Gue bakal buat lo nyesel atas semuanya!" ancam Dinda dengan amarah yang berkobar.


Lisa menunjukkan smirk-nya, "Sedetail apa lo tau tentang hidup gue hingga lo berani ngomong gitu? Dan kenapa lo jadi nyalahin gue atas semua masalah ini. Gue nggak pernah ganggu lo sama sekali, tapi memang lo yang selalu nyari gara-gara sama gue, jadi yah nikmatin aja semuanya." tanya Lisa santai. Lisa mundur selangkah dari depan Dinda.


Lisa menunjuk ke sebuah arah, "Eh liat!" spontan Dinda melihat apa yang ditunjuk Lisa. "Anj*ng pintar, gue pergi dulu, bye..." Lisa mengacak rambut Dinda gemas kemudian melenggang dengan anggun meninggalkan Dinda yang marah dan memaki-maki Lisa. Sementara Lisa hanya menanggapinya dengan senyuman manis.


"Ish... Kayaknya kiamat udah deket deh, sekarang hewan bisa ngomong, segera tobat aja deh gue" pikir Lisa.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!