
Al memegang kepala nya frustasi, mata nya memerah dan hati nya yang biasa di penuhi dengan kegembiraan kini telah berubah jadi sakit, benar-benar sakit. Kenapa tidak? Dia sudah sangat-sangat mencintai Lisa, dia rela melakukan apapun untuk pujaaan hatinya, bahkan sudah berekspetasi untuk cepat-cepat lulus sekolah dan melamar Lisa. Namun, semua terjadi tak sesuai harapan nya. Lisa malah mematahkan harapan nya yang begitu besar.
"Al, aku punya satu permintaan." Ujar Lisa memecah keheningan. "Aku ingin kamu menjalin hubungan dengan Sarah."
Al langsung menoleh pada Lisa, "Oh jadi gara-gara Sarah kamu mutusin hubungan kita?"
Lisa hanya menjawab pelan. "Nggak, ini bukan karena Sarah. Bukan sama sekali. Aku hanya tau dia suka sama kamu, dia beneran suka. Dan kamu tau Al, aku nggak akan pernah bahagia jika Sarah nggak bahagia. Kebahagiaan Sarah juga kebahagiaan ku. Jadi, jika kamu bener-bener pengen liat aku bahagia, maka kamu harus bersama dengan Sarah!" Lisa menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan nya.
"Tapi aku nggak suka sama Sarah, aku cuma sayang sama kamu dan aku yakin kamu juga sayang kan sama aku?"
"Seiring berjalan nya waktu kamu pasti bisa membuka hati buat Sarah. Aku yakin itu. Aku sayang sama kamu, Al. Tapi aku nggak akan pernah bahagia liat Sarah terluka. Aku akan lebih bahagia jika dia bisa bahagia tanpa ada luka yang dia tutupi."
"Tapi aku bener-bener nggak bisa sama Sarah, Lisa. Aku tuh cuma sayang sama kamu, hanya kamu!" Kata Al dengan sendu.
Lisa menatap kedua mata Al. "Harus Al. Kamu harus belajar lupa in aku. Kamu harus mencoba membuka hati untuk orang lain. Kamu nggak usah berharap lagi sama aku, kita nggak akan pernah di takdirkan untuk bersama. Aku yakin kamu pasti bisa kok buka hati buat Sarah, dia tak akan pernah menyakiti kamu karena dia sangat sayang sama kamu."
"Tapi Lis-..."
"Nggak ada tapi-tapian, Al. Lebih baik di cintai, dari pada mencintai. Kamu akan bahagia, Al. Kamu akan bahagia dengan orang yang mencintai kamu. Kamu harus percaya itu."
Hening sejenak. Al tampak berpikir, memikirkan semua ucapan Sarah.
"Kamu pengen kan liat aku bahagia?"
Al mengangguk memberi jawaban.
"Jika memang kamu ingin aku bahagia kamu harus bahagia in Sarah. Dengan melihat Sarah bahagia maka aku akan ikut bahagia. Di coba aja dulu, jika memang kamu nggak merasa nyaman dengan Sarah maka kamu boleh melepaskan nya. Aku nggak maksa kamu, kamu juga berhak untuk memilih." Ucap Lisa lagi.
Al masih terlihat berpikir keras tentang semua kalimat Lisa yang dia ucapkan.
"Gimana, Al? Ini untuk kebahagiaan Lisa? Demi kebahagiaan ku?"
Al menghela napas pasrah. Dia sebenarnya tak ingin, namun kalau menyangkut Lisa apapun akan dia lakukan, meskipun Lisa sudah bukan siapa-siapa nya lagi. "Hm, oke. Akan ku coba."
Lisa terlihat tersenyum tulus. "Jangan khawatir, Al. Nanti akan ku bantu. Ntar aku akan atur waktu dan tempat. Makasih, Al." Lisa memeluk Al dengan senang, namun tak dapat dipungkiri dia memang merasa sakit. Al membalas pelukan Lisa dengan hangat. Dia mengusap punggung Lisa dengan pelan.
"Kamu jangan pernah salahin Sarah atas keputusan aku ini, Al. Sarah nggak pernah tau soal ini. Dan ku ulangi lagi, ini bukan karena Sarah tapi memang ada satu hal yang membuat aku harus mengambil keputusan ini. Aku nggak bisa jelasin hal itu untuk saat ini, tapi suatu hari nanti pasti kamu akan tau." Ucap Lisa masih memeluk Al.
Al hanya mengangguk. Sekarang dia hanya bisa pasrah dengan semua keputusan Lisa.
Pasti Lisa punya alasan yang kuat tentang semua ini. Aku hanya bisa pasrah dan menerima nya dengan lapang dada. Aku percaya jika memang kita berdua di takdirkan untuk bersama, halangan apa pun yang kita hadapi pasti kita akan kembali bersama lagi.
Lisa melepaskan pelukan nya dari Al. "Al. Aku harap kamu nggak akan pernah berubah, yah. Reseh nya di kurang-kurangin, Al. Aku harap kita berdua masih bisa berteman lagi." Ucap Lisa sambil tersenyum lembut.
Al tersenyum lemah mendengar penuturan Lisa. "Kamu juga manja nya dikurangin, bawel nya juga. Aku juga berharap yang sama kamu, Lisa. Aku juga berharap setelah ini kita masih berteman."
Lisa berdiri dari duduk nya dan berpamitan pada Al. "Yaudah Al, aku ke kelas dulu yah. Kamu jangan lupa siapin kalimat yang paling romantis untuk nyatain perasaan kamu sama Sarah, ntar aku atur tempat dan waktu nya oke?"
"Hm. Oke!"
"Good luck." Lisa berbalik dan bersiap untuk pergi. Tanpa sadar air matanya kembali jatuh. Lisa buru-buru mengusap nya dan melangkahkan kaki nya pergi dari tempat tersebut. Berusaha tetap baik-baik saja di depan orang lain padahal sedang dalam keadaan hancur namun tetap tersenyum adalah bakat tersembunyi dari Lisa, yang sudah dia kembangkan selama ini. Wah acting nya memukau banyak orang. Keep strong Lisa.
.
.
.
Kelas 11 IPS 5👈
Lisa berjalan masuk ke dalam kelas. Sarah dan Mira yang melihat mata nya agak merah pun merasa khawatir.
"Kamu dari mana? Dari tadi kita nyariin." Sambung Mira.
"Eh, hm nggak papa. Aku nggak papa." Kata Lisa.
"Kok mata kamu merah gitu? Kamu habis nangis yah?"
"Ng-nggak, siapa bilang?!" Lisa mengucek-ngucek mata nya. "Ini tadi kelilipan aja kok."
Sarah menatap curiga. "Masa?"
"Iya."
Bener?" Tanya Mira.
"Bener kok."
"Nggak bohong?"
"Ih apaan sih kalian, kayak detektif aja." Kesal Lisa.
"Hahaa..."
.
.
.
🏠Rumah Keluarga Hariwijaya🏠
Lisa pulang ke rumah nya. Sesuai janji nya pada Mommy nya dia cuma menginap sehari saja di rumah Sarah. Lisa membuka pintu rumah dengan pelan. "Assalamualaikum..." Sahut Lisa.
Tak ada jawaban sama sekali.
Lisa berjalan masuk kedalam rumah. Dia hendak langsung masuk ke dalam kamar nya yang sudah dia rindukan. Namun, saat melewati ruang keluarga terlihat Mommy nya sedang berada di sana. Berkutat dengan laptop nya. Rupa nya dia masih kerja.
"Assalamualaikum, Mom." Sapa Lisa. Lisa berjalan menghampiri dan mencium punggung tangan Mommy nya.
"Waalaikumsalam."
"Mommy lagi kerja yah?"
"Iya, kerjaan Mommy banyak banget. Mommy juga nggak sempat ke kantor karena Daddy kamu masih sakit." Jelas Mommy.
"Daddy masih sakit, Mom?" Tanya Lisa dengan kaget.
"Iya masih. Daddy kamu nyariin, kata nya dia mau bicara sama kamu."
"Bicara? Soal apa?"
"Itu soal pernikahan ka-..."
"Ng, Mom. Lisa masih butuh waktu untuk memikirkan soal itu, jadi biarin Lisa pikirin dulu yah, nggak papa kan?"
"Yaudah nggak papa. Tapi Mommy cuma mau ngasih tau kalo kemarin, Rey dan kedua orang tuanya dateng ke sini buat jenguk Daddy kamu, sekalian bahas soal pernikahan kalian."
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!