
Melihat pesan dari Faro sontak semua terkejut dan kaget, termasuk Fadil. Ternyata dari tadi Faro menyimak semua percakapan tanpa mau menyela sedikit pun? Bener-bener es batu yah, diem-diem baee. Dan apa tadi? Dia mau ikut juga? Nggak salag nih?
Bryan B*cot🔥
Demi kerang ajaib
keajaiban apa ini?
Devan😐
Ini aku nggak salah bacakan?
Ardi Gila☺
Wah, si es batu mau ikut?
Tumben dia mau ikut kita jalan
Andre😏
Udah lah. Sekarang kita OTW
Reza Aja☇
Bener tuh
^^^Me!^^^
^^^Wah parah^^^
^^^Yang izinin kalian siapa?^^^
Bryan B*cot🔥
Capcus gaisss
Devan😐
OTW
^^^Me!^^^
^^^Ini kalian kenapa sih?^^^
^^^Jangan pergi^^^
^^^Hoi^^^
^^^Dengerin dulu^^^
^^^Semena-mena banget yah kalian^^^
^^^Yang punya rumah siapa?^^^
^^^Yang se-enak nya siapa?^^^
^^^Hoii kalian ini bener-bener yah^^^
^^^Kagak ada yang peduli^^^
^^^Kalian itu bagaikan penjajah^^^
^^^Perasaan Indonesia sudah merdeka dah^^^
^^^Kok masih ada sih manusia kayak kalian^^^
^^^NGESELIN!^^^
Fadil terus saja mengirimi pesan spam, melarang teman-teman nya untuk datang. Bukan gimana-gimana, tapi teman-teman nya itu semua suka buat onar. Kalau di rumah nya sih nggak papa, tapi ini di rumah nya Lisa.
Sementara itu, Lisa sibuk membaca riwayat chat nya dengan Rey. Ntah kenapa dia jadi rindu dengan manusia yang satu itu. Dan buat yang nanya kenapa Lisa nggak ikut nimbrung atau apalah di grub The Prince, itu karena kemarin dia membisukan grubnya. Jadi tak ada sama sekali notifikasi yang masuk dari grub itu.
"Aku mau ke kamar dulu, kamu di sini aja." Ucap Lisa Dengan santai nya.
"Hm." Fadil yang saat ini sedang kesal hanya menjawab sekena nya.
Lisa berlari-lari kecil menaiki tangga, menuju ke arah kamar nya. Dia langsung merebahkan tubuhnya begitu saja di atas kasur nya yang empuk. Rencana nya dia ingin tidur siang untuk saat ini. Namun, rencana hanyalah tinggal rencana. Suara bising dari lantai bawah membuatnya tak bisa terlelap. Dengan wajah kesal Lisa bangun dan berjalan turun ke lantai bawah untuk mengecek siapa yang sudah membuat kebisingan dan menganggu tidur nya.
Baru saja dia setengah menuruni tangga, dia sudah dapat melihat ruang tengah yang di penuhi dengan lelaki. Semua terlihat sibuk dengan aktifitas nya masing-masing. Bryan, Andre dan Reza terlihat sibuk main game online, Devan membaca buku dengan seksama, Ardi sibuk melakukan live di medsos. Faro terlihat duduk dengan tenang menyandarkan kepalanya di sofa. Dan yang terakhir Fadil, ia sedang sibuk mengoceh panjang lebar menceramahi teman-teman nya. Sedangkan teman-temannya terlihat tak peduli dengan semua ucapan nya.
Lisa menggelengkan kepala nya melihat tingkah semua lelaki yang sedang berada di ruang tengah. Memang mereka semua tampan tetapi kelakuan nya, subhanallah serasa pen tabok.
"Kalian ngapain ke sini?" Tanya Lisa lalu berjalan menghampiri mereka dan duduk di samping Fadil.
"Main, hehehee..." Jawab Ardi sambil cengengesan.
"Main? Di sini?"
"He-em. Kan di sini ada Fadil." Ujar Andre.
Lisa melirik tajam ke arah Fadil, seolah meminta jawaban.
"Tadi udah aku larang kok. Serius deh, tapi mereka semua maksa." Jelas Fadil saat mengerti arti tatapan tajam itu.
"Ada camilan nggak cantik?" Tanya Bryan.
"Kagak ada!" Ucap Lisa dengan ketus.
"Weits, galak banget sih."
"Ntar aku beresin ini semua, janji deh." Ucap Fadil.
"Bodo." Sahut Lisa ketus.
Tanpa Lisa sadari dari tadi Faro yang sedari tadi diam saja memperhatikan nya, memperhatikan semua pergerakan nya.
"Ntar di beresin semua nya. Aku mau tidur!" Lisa melangkahkan kakinya pergi begitu saja tanpa mendengarkan jawaban dari Fadil lagi.
...*****...
Lisa meregangkan badan nya yang terasa pegal, kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum dia membuka nya. Haih, ternyata sudah malam. Ntah berapa jam dia tertidur. Ia meraih hp nya yang berada di samping nya kemudian mengecek WhatsApp nya. Siapa tau ada yang mengirimi nya pesan. Dan yah, siapa tau Rey mengirim pesan untuk nya. Yah jujur saja, dia berharap Rey mengirimi nya pesan, meskipun hanya singkat. Tapi, harapan nya sirna, hasilnya nihil. Tak ada pesan yang masuk sama sekali, dia mengecek last seen nya Rey. Baru saja Rey online.
Lisa menghempas napas kecewa. Lalu dia bangun dan keluar dari kamar nya untuk mengecek ruang tamu. Apakah para makhluk yang tak tau malu itu sudah pulang atau belum?
"Fadil? Kok masih di sini? Ini udah malem loh." Tanya Lisa saat melihat Fadil masih berada di ruang tengah sambil melainkan ponsel nya.
"Nggak papa. Cuma mau nemenin kamu aja."
"Iddih, tumben banget perhatian sama aku, habis ruqiah dimana?" Lisa menghempaskan dirinya di atas sofa.
"Enak aja. Aku emang selalu perhatian dari dulu, kamu nya aja yang nggak pernah nyadar."
"Hadeh, terserah. Udah sana gih pulang!"
"Nggak ada syukur-syukur nya yah jadi orang. Udah bagus di temenin, aku malah di usir." Ujar Fadil dengan kesal.
"Ya kan aku juga nggak nyuruh. Sana pulang, ntar di cariin lagi."
"Ntar dulu."
"Pulang sekarang, aku mau istirahat nih."
"Haih, iya iya. Yaudah aku pulang yah." Fadil berjalan keluar di susul oleh Lisa di belakang.
"Iya hati-hati."
"Kamu juga hati-hati di rumah, tutup semua pintu dan jendela. Trus kalo ada kuntilanak cuekin aja nggak usah di ladenin, kalo masih ganggu guyur aja pake bensin."
"Iya bawel. Lagian mana ada kuntilanak jam segini, mereka itu udah pada tidur."
"Yaudah aku pulang nih."
"Iya."
"Pulang nih aku."
"Oke."
"Bener nih?"
"Iya ih. Bawel banget sih, udah sana pergi." Lisa langsung menutup rapat pintu rumah. Tak ingin mendengarkan ocehan Fadil lebih lanjut. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam kamar nya.
Untuk saat ini dia hanya ingin tidur kembali di dalam kamarnya. Mungkin saja dengan melakukan itu, kerinduan nya pada keluarga nya bisa sedikit berkurang.
Lisa menatap satu foto yang ada di ponselnya. Foto yang membuat dirinya tanpa sadar merindukan perhatian darinya, bahkan dia merindukan ocehan nya. Juga merindukan semua perintah dan larangan nya. Ntah sejak kapan Lisa selalu ingin melihat wajahnya yang sebenarnya dulu selalu membuat nya ennek, wajah yang dulu sangat-sangat dia benci, bahkan melihat nya pun bisa menaikkan emosinya. Tapi kini, ntah sejak kapan dia jadi merindukan nya. Manusia yang dirindukan nya yaitu Rey! Yah Rey. Manusia yang dulu benar-benar dia benci.
Setelah perubahan sikap dari nya kini membuat Lisa sadar akan kepentingan kehadiran nya. Yah, Lisa juga tak pernah mengerti kenapa akhir-akhir ini Rey bisa berubah. Tapi yang pasti dia merindukan sosok itu.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!