
"Banyak loh kejadian di luar sana, yang dulu jadi juara kelas belum tentu langsung sukses, malahan kebalikan nya, justru yang paling nggak bisa ngerti pelajaran yang bisa sukses duluan." Sambung Rey.
Lisa memutar bola mata nya malas, "Iya deh iya. Bawel banget sih. Diem deh, aku nggak konsen nih." Sahut Lisa kesal. Lisa mulai menghafalkan satu-persatu rumus yang ada di buku.
Semakin lama matahari semakin naik, selesai mandi dan memakai seragam nya Lisa dan Rey turun untuk sarapan. Selesai sarapan mereka berdua berangkat bersama menggunakan mobil. Di dalam mobil, Rey memberikan sesuatu pada Lisa.
"Nih!" Ucap Rey sambil memberikan sebuah botol kecil pada Lisa.
Lisa menaikkan satu alisnya heran, "Apa nih? Racun yah? Nggak ah nggak mau. Kamu mau bunuh aku yah?" Tebak Lisa asal.
"Astagfirullah... Tuh mulut yah. Yakali aku racunin kamu, ntar aku nggak ada pendamping hidup dong." Ralat Rey.
"Hehehee... Ya kali aja. Trus apa dong?"
"Itu multivitamin, minum aja biar nggak lemes. Kan tadi katanya kurang tidur, itu minum aja biar nggak lemes!" Jelas Rey.
"Oh gitu..." Lisa mengangguk paham sambil menatap botol itu. "Makasih yah, Mas" Ucap Lisa pelan.
"Ha? Apa tadi?" Tanya Rey yang mendengar suara samar-samar dari Lisa.
"Apa? Nggak ada, cuma bilang makasih doang." Jawab Lisa sambil tersenyum malu.
"Yaudah aku masuk kelas dulu yah, dadahh sayang..."
"Belajar yang bener!" Teriak Rey.
"Pasti!" Sahut Lisa.
.
.
.
Lisa berjalan santai menyusuri koridor, ia merogoh sakunya untuk mengecek berapa uang saku yang di berikan Rey hari ini.
"Hari ini pulangnya pasti lebih awal, wah kalo uang saku nya lebih, kan enak bisa jajan lagi kalo pulang sekolah." Gumam Lisa bersemangat.
Namun saat merogoh sakunya, Lisa merasa ada kertas di dalam saku nya, ia pun mengeluarkannya.
"Apa nih? Perasaan aku nggak pernah naruh kertas di saku deh."
Lisa membuka kertas yang terlipat itu, ia langsung senyam-senyum saat membaca isi tulisan di dalam kertas itu.
"Semangat sayang! Aku yakin kamu pasti bisa. Nilainya harus bagus, jangan sia-siain kita belajar semalam ok! Love you...♡"
Lisa langsung tersenyum malu dibuatnya. Ia benar-benar tak menyangka kehadiran Rey di dalam hidupnya bisa banyak merubah segala hal. Bahkan hal sekecil apapun itu.
"Morning, Baby..." Sapa Sarah dari belakang.
Lisa berbalik dan melihat Sarah dan Mira yang sedang tersenyum manis padanya. "To. Kalian udah belajar?" Tanya Lisa.
"Aku udah belajar tapi cuma bentar doang, males banget belajar lama-lama. Ntar aku nggak sempat ngebucin lagi sama Al. Untung ada Mira, Mira kan selalu rajin belajar jadi bisalah kita berbagi jawaban. Ye nggak?"
"Iyain biar seneng." Jawab Mira dengan nada datar. "Kamu mah mau nya yang enak doang, lah aku belajar mati-matian." Kesal Mira.
"Hehehee..." Sarah cengengesan.
"Yaudah yuk ke kelas!" Ajak Lisa.
"Kelas mana? Kita semua nggak seruangan." Sanggah Sarah.
"Lah? Trus?"
"Kalo kita berdua di ruangan C, kalo nggak salah kamu kayaknya ruangan B deh." Ujar Mira.
Lisa tambah bingung di buatnya, "Kalian tau darimana?" Tanya Lisa.
"Loh? kamu nggak liat Mading , Lisa? Disitu ada nama kita semua trus di samping nya nama ruangan nya." Jelas Sarah.
Sarah dan Mira mengangkat kedua bahu nya kompak. "Nggak tau deh. Mending kamu periksa Mading sana!" Pinta Sarah.
"Yaudah aku duluan yah, babay..." Lisa langsung berjalan ke arah Mading sekolah untuk mencari ruangan nya. Bisa-bisa nya ada pemberitahuan ia nggak tau, ngebucin aja sih sama Rey.
*Tiiingg...
Tiiingg...
Tiiingg*...
Suara bel berbunyi, tanda ujian akan segera dimulai. Lisa mempercepat langkah kakinya agar segera sampai ke arah tujuan. Namun, belum juga ia sampai, ia tak sengaja berpapasan dengan Faro.
"Eh, Lisa. Mau kemana? Bel udah bunyi tuh." Sahut Faro.
"Bentar mau liat Mading, aku nggak tau aku diruangan mana." Jawab Lisa.
"Kamu ruangan B kita seruangan. Yuk cepetan ntar kita telat!" Ajak Faro.
"Beneran?"
"Iya, ayo!" Ntah karena terlalu panik karena ujian akan segera di mulai, atau karena apa ntahlah, Faro langsung saja menarik tangan Lisa agar Lisa mengikutinya.
Namun, bukan Lisa namanya kalo ia tinggal diam. "Eh Faro tangan ku!" Sahut Lisa.
Faro langsung tersadar dan langsung melepaskan genggaman tangan nya. "Eh sorry-sorry. Yaudah yuk cepet!"
.
.
.
Jam tiap jam berlalu, Lisa berhasil mengerjakan soalnya, meskipun ada beberapa soal yang membuatnya kesulitan.
"Nggak sia-sia juga aku belajar banyak kemarin. Aku bisa jawab soal sebanyak inu trus bisa jawab lebih rinci. Bapak Rey memang the best deh..." Gumam Lisa senang.
Yah ia merasa lega karena sudah belajar kemarin. Ia jadi bisa menjawab lebih banyak soal dari biasanya dan juga ia menjawab soal Uraian dengan lebih rinci karena sudah menghafal beberapa rumus tadi pagi.
Tiba-tiba ia melihat Faro berdiri dari bangku nya kemudian berjalan ke arah guru pengawas dan menyerahkan kertas ujian nya. Lisa sempat kaget dibuatnya, bahkan guru pengawas pun dibuat kaget karena Faro bisa menyelesaikan ujian dengan waktu yang terbilang singkat.
Wah gawat, kayaknya Faro saingan baru nih di kelas. Kayaknya otak nya sangat encer sampe-sampe ia bisa selesai dengan cepat bahkan seorang Lisa pun di kalahkan. Nggak bisa di biarin ini, jangan sampai dia ambil gelar aku di kelas. Nggak bisa yah!
Lisa dengan cepat langsung berdiri dan menyerahkan kertas ujian nya. Ia tak akan pernah mau di kalahkan oleh Faro, apalagi kan Faro siswa pindahan. Ia harus lebih berhati-hati dengan Faro.
"Untuk yang sudah selesai mengerjakan ujian, boleh keluar ruangan sekarang agar tidak menganggu murid lain nya!" Pinta guru pengawas.
Lisa keluar ruangan di ikuti oleh Faro di belakang nya. Namun, saat di depan pintu langkah kaki Lisa terhenti. "Sekarang kita ngapain? Kayaknya belum ada murid lain yang keluar deh." Ucap Lisa.
"Yaudah kita duduk aja dulu, murid lain kan masih ujian!" Ajak Faro.
"Yaudah deh, yuk Ro!" Mereka berdua duduk di salah satu bangku yang tersedia di samping koridor.
"Mmm... Faro. Aku boleh nanya nggak?" Tanya Lisa.
Faro yang tengah sibuk dengan ponselnya hanya menjawab sekena nya saja. "Tanya aja."
"Mmm... Di sekolah kamu dulu, kamu juara berapa?" Tanya Lisa. Sedari tadi ia memang sangat ingin menanyakan soal ini. Ia takut dalam waktu dekat Faro bisa saja mengambil predikat yang ia pegang dan berusaha ia pertahan kan selama ini. Apalagi kalo di liat Faro itu anak yang cerdas.
"Kenapa emangnya? Kok nanya nya gitu?"
"Nggak papa sih, hehehee... Cuma penasaran aja. Aku tebak pasti kamu pinter banget." Ucap Lisa polos.
Faro tersenyum hangat melihat Lisa, "Aku tau, pasti kamu takut kan aku bakal ambil gelar kamu?"
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!