
Lisa kembali melirik arloji di tangan nya untuk yang kesekian kalinya. Sudah setengah jam dia menunggu di depan gerbang sekolah, namun Rey belum juga datang.
Akhirnya Lisa memutuskan untuk menghubungi Rey. Dengan kesal dia mengambil ponselnya.
"Halo Rey, kamu dimana sih? Dari tadi aku nungguin kamu."
"Astgfirullah Cha, Maaf aku lupa ngasih tau kalo aku ada urusan, makanya aku nggak bisa jemput."
"Ck, aku udah nungguin dari tadi loh, kalo nggak bisa jemput tuh bilang dari awal, nyebelin banget!"
"Aduh, maaf yah sayang, maaf banget..."
Lisa langsung mematikan telepon tanpa mau mendengar penjelasan dari Rey lagi. Lisa benar-benar kesal, apasih yang lebih penting dari menjemput istrinya sendiri.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.23, namun Rey belum juga pulang sedari tadi. Tentu saja itu membuat Lisa khawatir dan merasa aneh. Tidak biasanya Rey pulang terlambat. Kalaupun ini berkaitan dengan urusan OSIS biasa nya sore Rey sudah pulang.
Arrrghh menyebalkan. Pasti Rey lagi berduaan sama cewek lain, oh pasti sama si Dinda tuh. Mentang-mentang udah nggak satu sekolah, dia jadi seenaknya kayak gini.
"Arrgghhhhh...." Lisa. memukul mukul bantal sambil bergumam gumam kesal.
Beberapa menit dia terdiam, menatap langit-langit kamar, entah apa yang dipikirkannnya. Sampai akhirnya dia ketiduran. Tertidur lelap.
.
.
.
Rey membuka pintu kamar dengan pelan, ia tersenyum lemah saat melihat Lisa yang tertidur dengan pulas. Ia terlebih dahulu membersihkan badannya dan mengganti seragam sekolahnya. Hari ini benar benar melelahkan.
Rey menghampiri Lisa, ia duduk di sampingnya sambil menatap dalam pada wajah imut yang menggemaskan itu. Ia merebahkan dirinya di samping Lisa, menatapnya dalam sambil membelai lembut rambutnya.
"Mimpi indah sayang..." Ia mengecup lembut dahi Lisa dengan penuh kasih sayang kemudian ikut memejamkan matanya.
Lisa yang menyadari nya langsung berbalik badan dan tersenyum senang. Sumpah, sikap Rey yang seperti ini selalu bisa membuatnya luluh.
...*****...
"Kemarin kemana aja?" Tanya Lisa tanpa melihat ke arah Rey.
Rey yang tengah mengemudi menoleh sekilas, "Itu urus teman-teman yang akan ikut lomba."
Lisa balik menoleh, "Segitunya? Sampe lupa jemput, trus pulangnya juga kemaleman?"
"Maafin aku Cha, tapi kemarin itu guru-guru lagi rapat, yaa mau nggak mau aku juga yang harus urus semuanya."
"Hm..."
Rey mengusap kepala Lisa dengan lembut kemudian kembali fokus menyetir.
"Oh iya, gimana sekolahnya, suka?" Tanya Rey.
"Yaa gituu."
"Loh kenapa, kok jawabnya gitu?"
"Nggak papa Rey, pulang sekolah kamu jemputkan?"
"Mmm ya jemput dong."
"Oke, kalo gitu aku masuk dulu yah." Lisa meraih tangan suaminya dan menciumnya.
"Kalo ada apa-apa kabarin yah!" Sahut Rey karena Lisa buru-buru keluar dari mobil.
"Oke boss..." Teriak Lisa langsung berlari masuk.
Rey tersenyum kecut melihat tingkah istrinya itu dan melanjutkan perjalanan nya menuju sekolahnya.
.
.
.
"Hai Rey, kamu udah makan?" Tanya Dinda sambil menyamai langkah Rey.
Baru saja Rey berjalan masuk, sepagi ini Dinda sudah memepetinya terus terusan.
Tak ingin menjawab apapun Rey memilih untuk mempercepat langkah kakinya.
Rey memutar bola matanya jengah, kemudian menghentikan langkahnya berbalik pada Dinda. "Din, bisa nggak sih sehari aja nggak gangguin aku, risih lama-lama."
"Rey, aku tuh cuma-..."
"Kamu taukan aku udah punya Lisa, jadi tolong kamu nggak usah berharap banyak sama aku. Jadi cewek itu harus punya harga diri, jangan sampe kamu nurunin kodrat cewek dengan cara kayak gini." Rey benar-benar sudah tidak tahan lagi. "Udah yah, aku ada urusan..." Setelah berkata seperti itu, Rey langsung pergi begitu saja tanpa peduli dengan Dinda lagi.
Dinda tertegun mendengar semua ucapan Rey. Bukankah itu sudah sangat menjatuhkan harga dirinya. "Liat aja Rey, suatu saat nanti kamu bakalan bertekuk lutut di depan kaki ku..." Gumam Dinda penuh kebencian. "Okeeeyy kita kembali ke rencana awal, mari bermain cantik, heheheee..." Seringai Dinda.
...*****...
"Aww..." Lisa mengusap kepalanya yang baru saja di gepak oleh tangan seseorang.
"Selamat pagi..." Sapa Fadil dengan senyum manisnya tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Bisa nggak sih nggak usah gangguin!" Kesal Lisa melanjutkan langkahnya.
"Yaaa gimana yah? Sebenarnya sih bisa, tapi nggak seru ah kalo nggak gangguin, kan sekarang kita ketemunya tiap hari." Seringai Fadil. "Mau ke kelas nih? Yuk aku anterin..." Fadil berjalan duluan mendahului Lisa yang menatap nya kesal.
"Ayo cepetan, kayak kepiting jalan nya lama banget..."
Sampai di depan kelas Lisa, Fadil tersenyum gemas melihat raut wajah sepupunya itu. "Uuuhh gemes banget sih." Ia mencubit pipi kiri Lisa.
"Awww..."
"Sana masuk, atau mau aku anterin sampai di depan bangku nya?" Tanya Fadil.
"Sampai kapan sih kamu harus perlakuin aku kayak gini, aku bukan anak kecil Fadiiiill, kamu nggak usah berlebihan bisa nggak sih?"
"Nggak." Jawab Fadil cepat. "Kamu tau sendiri kan gimana baik nya papa kamu sama papa aku waktu papa hampir bangkrut, yaaa aku balesnya yaa bisanya cuma kayak gini, dengan cara jagain Princess tersayangnya."
Lisa memijat kepalanya frustasi. Sumpah, Fadil cerewet banget, katanya dingin katanya cuek, kata siswi disini dingin kayak kulkas.
"Lagian juga Ayahnya Rey udah amanahin aku buat-"
"Terserah!" Lisa langsung masuk kedalam kelasnya. Sementara Fadil tersenyum senang. Berhasil lagikan buat wajah merahnya si kepiting.
.
.
.
"Lisa..."
Lisa yang sedang memainkan ponselnya berbalik ke sampingnya, terlihat Nara yang berdiri disana. "Iya, kenapa?"
"Gue boleh nanya nggak?"
"Nanya apa?"
Nara memandang seantero kelas, juga melihat sekilas pada Dita disebelah Lisa yang tengah sibuk memainkan ponselnya. Ia kemudian kembali menatap Lisa, "Lo sama Fadil ada hubungan apa?" Bisik Nara.
Lisa tersenyum heran, "Loh kok nanya nya gitu? Ada apa emangnya?"
"Hussstt." Nara menempelkan jari telunjuknya di bibir memberi isyarat supaya Lisa memelankan suaranya.
Lisa semakin heran dibuatnya, "Emang kenapa?" Bisik Lisa.
"Cuma nanya aja, dari pertama masuk di sini kayaknya lo deket banget sama Fadil, lo udah kenal dia sebelumnya?"
"Bisikin apa sih? Serius banget..." Seru Ragi dari bangku belakang.
"Diem lo kutu kampret, ini rahasia banget pokok nya." Sahut Nara.
Rizal menatap curiga, "Wah parah Dit, woii Dita tuh temen lo lagi gosipin lo tuh..." Tuduh Rizal.
"Wah sembarangan banget lo, nggak ada nggak ada."
Dita menoleh pada Lisa dan Dita, "Bahas apaan sih?" Tanya Dita kepo.
"Ehem, nggak. Nggak ada kok."
"Ra, kasih tau nggak, kalo nggak guee..." Ancam Dita sengaja menggantungkan ucapannya.
Nara menghela nafas, "Gue kepo aja gitu, Lisa sama Fadil tuh gimana sih, soalnya dari kemarin gue liat mereka tuh dekeeettt banget. Seisi sekolah tuh lagi heboh sama yang ini, emang lo nggak mau tau apa?"
"Nggak sih, biasa aja." Cuek Dita.
"Dih, dalem hati tuh pasti pengen tau juga, cuma gengsi aja." Ledek Nara. "Jadi lo ama Fadil ada apaan sih? Kita butuh kepastian nih, apa jangan jangan lu pacar barunya Fadil yah?" Tanya Nara kembali pada Lisa.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!