
Marissa berusaha secepatnya untuk memindahkan Lisa ke tempat yang lebih aman, baru saja dia berdiri, Dewi sudah berdiri lagi dan berlari menuju Marissa. Melihat pistol yang ada ditangan Dewi, Marissa segera mendorong tubuh Lisa agar Lisa terjatuh ke tanah. Dan pada akhirnya...
Dorr...
Sebuah peluru dari pistol tersebut berhasil mengenai bagian perut Marissa. Darah segar mengalir deras, Marissa memegangi perutnya yang terasa ngilu. Marissa yang awalnya berdiri langsung jatuh terduduk sambil memegangi luka dalam dibagian perut kanannya.
"A-aku... Aku... Aku benar-benar melakukan nya. Ha... Ti-tidak..." Tangan Bu Dewi bergetar, pistol yang ia pegang terjatuh ke tanah. Ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan.
"MOMMY!" Teriak Putra dan Felice bersamaan. Felice segera berlari membantu Mommy yang sudah tergeletak setengah sadar di tanah.
Putra panik melihat Marissa yang sudah bersimbah darah ditangan dan badannya. Darah tak berhenti mengalir dari luka Marissa. Karena lengah pak Bram berhasil memukul kembali perut Putra dengan tinjunya.
"Mom..." Lisa berusaha merangkak ingin mendekati Mommy nya yang sudah jatuh pingsan di pangkuan Felice.
...*****...
Dorrr...
"Ha, suara apa itu, Rah?" Tanya Mira pada Sarah.
"Aku juga tidak tau." Ucap Sarah sambil memainkan ponselnya.
Sarah dan Mira masih berada di dalam mobil, mereka berdua ditugaskan untuk menjaga Vhino dan Rey. Sebenarnya mereka sudah akan pulang akan tetapi Lisa mengatakan dia ingin menghampiri kak Putra terlebih dahulu dan mengajaknya pulang. Karena mobil terparkir agak jauh dari lokasi kejadian, maka karena itu Sarah dan Mira tak bisa melihat apa yang terjadi sebenarnya.
Sementara Al, Fadil dan Faro sedang berada di rumah tempat Lisa dan Rey disekap untuk membantu Bryan dan kedua teman nya, melawan para lelaki bertopeng.
"Kamu denger nggak sih?" Tanya Mira yang terlihat khawatir.
"Iya aku denger kok." Jawab Sarah dari jok depan.
"Aku khawatir Lisa kenapa-napa, kamu samperin gih." Pinta Mira.
"Ntar juga balik kok."
"Sarah tolong dong, kamu nggak khawatir apa sama Lisa?"
"Khawatir sih, yaudah kamu aja yang samperin, aku disini aja jaga Rey sama Vhino."
"Ck, kamu nggak liat Vhino ini. Atau kamu mau aja yang mau nyanggah kepalanya?" Tanya Mira sambil menunjuk Vhino yang sedang tertimur di pangkuannya.
"Haih yaudah deh." Sarah menyimpan ponselnya. "Kamu jaga mereka berdua yah." Ucap Sarah sembari membuka pintu mobil.
"Oke, hati-hati."
Sarah turun dari mobil dan mulai melangkahkan kaki nya ke arah taman. "Loh? Ada apa ini?" Gumam Sarah saat melihat keadaan terlihat kacau.
...*****...
"Mommy..." Lirih Lisa. "Akhh..." Sahut nya kesakitan saat sebuah kaki dengan sangat sengaja menginjak salah satu tangan nya. Lisa mendongak dan mendapati Ghea yang sedang berdiri dengan santai nya.
"Tangan ku Ghea... Sa-sakit..." Keluh Lisa.
"Oh sakit yah? Utututu... kacian banget..." Ledek Ghea sambil menjauhkan kaki nya dari tangan Lisa. Lisa langsung buru-buru menarik tangan nya dan mengusap nya pelan.
"Mau lagi nggak? Mana coba tangan nya yang satu lagi? Oh atau yang aku injek punggung nya aja kali yah, biar lebih ahh... mantap..." Kata Ghea dengan senyum smirknya. Ghea kembali mengangkat salah satu tangan nya untuk menginjak Lisa, dan hampir saja kaki nya mengenai Lisa, Sarah lebih dulu datang dan mendorong Ghea hingga ia terjatuh.
Buaggg...
"Jangan pernah kamu sakiti dia lagi!" Tegas Sarah.
"Sarah?" Kaget Ghea. Mata Ghea tertuju pada sebuah pisau yang tergeletak di tanah, perlahan ia mendekatinya dan mengambil nya. Dengan pelan ia berdiri dan mengarahkan pisaunya pada Sarah yang sedang membantu Lisa berdiri, Ghea siap menikam Sarah...
Duagghh...
Al lebih dulu sampai dan menendang tangan Ghea hingga pisau itu kembali terjatuh ke tanah. Sedangkan Ghea masih menahan sakit ditangan nya.
"Iya, kami baik-baik saja." Jawab Sarah. Sarah dan al berusaha untuk membantu Lisa yang terlihat sudah sangat lemas.
"Aku udah nggak kuat." Ucap Lisa dengan lirih.
"Kamu tahan dulu yah." Sarah dan Al memindahkan Lisa agak jauh dari Ghea yang masih memegangi tangan nya yang sedikit lecet akibat tendangan Al tadi.
Sementara itu, Felice dan Fadil berusaha membawa memberikan pertolongan pertama pada Bu Marissa yang sudah jatuh pingsan. Fadil membuka jaketnya lalu kemudian mengikatnya pada perut Bu Marissa agar darah yang keluar bisa sedikit berkurang. Sementara Bu Dewi yang terlihat semakin panik bersiap untuk melarikan diri.
Buaghh...
Sebuah tendangan berhasil mengenai perut Putra. Tetapi meskipun begitu Putra tak akan menyerah, Putra masih bisa bertahan. Ditambah lagi Faro yang sudah datang membantu nya membuat semangatnya tak akan pernah padam. Begitupun dengan pak Bram. Meskipun sudah terluka parah tak akan ada kata menyerah yang keluar dari mulutnya. Tekadnya sudah bulat, dia tidak akan berhenti jika belum membunuh Putra, ia harus membalas kematian Puteri kesayangan nya.
Cobalah mengerti, bagaimana jadi nya jika jadi Pak Bram? Belum sampai seminggu anaknya meninggal, eh istrinya sudah dipanggil oleh yang MahaKuasa. Haih, mungkin itu salah satu penyebab nya kenapa ia tak mengubur jasad istri nya. Bagaimana mungkin dia tak terluka? Bagaimana mungkin dia tak depresi? Hanya Ghea harta paling berharga yang ia miliki sekarang. Kejadian ini sudah membuat mental nya dan juga mental Ghea Puteri satu-satu nya rusak. Yah, mental Ayah dan Anak itu sepertinya sudah rusak. Mereka sepertinya tak takut untuk membunuh siapapun.
Baru saja Bu Dewi akan melangkahkan kakinya pergi, namun, sebuah suara yang menggelegar berhasil menghentikan langkah nya...
"BERHENTI!" Semua menoleh pada sumber suara tersebut. Terlihat Devan dan beberapa polisi bersama nya sambil mengarahkan pistol nya.
"Jangan bergerak! Kalian sudah dikepung!"
Ghea, Pak Bram dan juga Bu Dewi sudah tak bisa berkutik lagi. Polisi sudah mengepung dari berbagai penjuru.
Devan langsung berlari menuju Fadil dan Felice untuk membantu mereka membawa Mommy. "Maaf kan aku, aku terlambat." Ucap Devan merasa bersalah.
"Nggak papa, sekarang bantu aku bawa Aunty ke mobil." Ucap Devan.
"Oke."
"Mommy!" Teriak Putra sambil berlari menghampiri Mommy nya. "Mom, Mommy harus bertahan yah. Ayo cepat bawa ke mobil ku." Pinta Putra panik.
Sementara Faro berlari ke arah Sarah dan Al untuk melihat keadaan Lisa. "Lisa, kamu harus bertahan. Kamu jangan sampai kehilangan kesadaran. Ayo cepat kita bawa ke mobil!" Pinta Faro yang juga mulai panik saat melihat Lisa menutup matanya perlahan.
"Lisa... Lisa jangan pingsan!" Sahut Sarah panik.
"Kita tidak punya banyak waktu. Sini aku saja yang menggendong nya ke mobil." Sahut Faro panik. Dengan sigap dia langsung membawa Lisa dengan menggendong nya gaya bridal style.
"Kamu nggak papa kan?"
"Aku nggak papa." Sarah langsung memeluk Al yang dibalas dengan sepenuh hati oleh Al.
"Tangguh sekali pacar ku ini." Puji Al. "Kamu nggak takut yah ngelawan tadi?"
"Takut sih, tapi lebih takut kehilangan kamu."
"Iddih, makin hari udah makin jago ngegombal yah. Belajar darimana coba?" Tanya Al sembari melangkahkan kaki nya begitupun dengan Sarah. Mereka berjalan ke arah mobil, tangan Sarah masih saja memeluk pinggang Al sementara Al meletakkan tangan nya dipundak Ghea, merangkul nya dengan hangat.
"Dari kamu lah. Kan tiap hari kerjaan kamu cuma ngegombal."
"Iya deh. Tadi aku liat kamu tuh tadi kayak Srikandi deh."
Sarah tersenyum malu. "Aku sayang sama kamu."
"Itu kalimat aku buat kamu." Ucap Al sambil tersenyum.
"Yaudah aku pinjem."
"Nanti balikin yah."
"Siap pak Bos."
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!