
"Lisa, pulang bareng yuk." Ajak Sarah.
"Kamu duluan aja sama Al. Aku pulang nya sama Rey."
"Oh yaudah, kalo gitu aku duluan yah." Ujar Sarah sambil tersenyum.
"Duluan yah Lis. Nanti pulang nya hati-hati, jangan sampe khilaf." Sahut Al yang diselingi oleh tawa Sarah.
"Ih paan sih kalian. Udah sana pulang!" Ucap Lisa dengan kesal.
Setelah kepergian Sarah dan Al. Lisa memutuskan untuk keluar kelas mencari si Macan. Rencana nya sih, Rey aja yang ke kelas nya buat jemput kalo Lisa sih malas yah eh malah kagak jadi karena dari tadi nunggu si Rey belum juga dateng.
"Eh, Rey mana?" Tanya nya pada salah satu teman sekelas Rey.
"Nggak tau."
"Oh yaudah makasih." Lisa celingukan di depan pintu kelas untuk mencari sosok si Macan tutul. Namun, hasil nya nihil. Rey tak ada sama sekali di kelas nya, membuat Lisa berdecak kesal. Si Macan mana sih? Kagak ada dah.
"Hei Lis. Nyari Rey yah?" Tanya Vhino.
"Eh iya. Kamu liat Rey nggak?"
"Kayaknya di ruang BK deh." Jawab Vhino. "Iyakan Ghea?"
Ghea yang ditanya hanya mengangkat bahu nya cuek.
"Oh yaudah kalo gitu aku ke ruang BK dulu deh. Makasih yah Vhin, daahh Ghea..." Lisa melambaikan tangannya namun Ghea tak memberi respon, hanya Vhino yang terlihat tersenyum ke arahnya.
Sesampainya di ruang BK, karena pintu terbuka Lisa dapat melihat dengan jelas dari luar 8 orang yang dijumpainya di belakang sekolah tadi. Terlihat 8 siswa tersebut berdiri sambil menundukkan kepalanya. Merasa penasaran, Lisa semakin mendekat ke arah pintu untuk melihat lebih jelas. Oh ternyata benar mereka. Jadi mereka semua berhasil di tangkap. Pasukan OSIS emang best deh. Keren-keren semua kecuali si Macan tutul.
"Icha." Sebuah suara dan tangan yang tiba-tiba memegang pundak nya dari belakang berhasil menyetrum Lisa.
Lisa berbalik dan melihat Rey yang sedang berdiri menatap nya dengan heran. "Eh lo ngagetin gue!" Sahut Lisa dengan kesal.
"Ya maaf. Kamu ngapain di sini?"
Lisa memutar bola mata nya jengah. " Ya nungguin lo lah masa gue mau tidur di sini. Lo pulang nya kapan sih? Dari tadi gue nungguin. Kalo lo belum bisa pulang sekarang, gue pulang duluan nih."
"Eh iya. Aku mau nganterin ini dulu sama pak Rudi. Kamu tunggu bentar yah, bentar aja kok." Rey menunjukkan sebuah map kepada Lisa.
"Ck, yaudah. Tapi cepetan yah."
"Iya. Kamu tunggu aku."
Dengan memasang wajah malas, Lisa duduk di kursi panjang yang ada di depan ruangan tersebut. Dia duduk menunggu Rey yang tengah sibuk saat ini.
"Hai Lis." Sapa seseorang.
Lisa menoleh ke arah sumber suara. "Eh hai." Ternyata yang menyapa nya itu Dinda.
"Kamu lagi ngapain?"
"Ini lagi nung-..."
"Yuk pulang." Ucap Rey tiba-tiba. Semua mata memandang ke arah nya.
"Hai Rey." Sapa Dinda sambil tersenyum pada Rey.
"Hai."
"Kamu udah mau pulang yah?" Tanya Dinda.
"Iya. Kamu tolong bantu urusin masalah ini yah."
Lisa menatap kedua manusia di depan nya ini dengan tajam. Apa mereka lupa dengan kehadirannya? Sampe mereka berdua asyik ngobrol berdua?
"Oke serahin aja sama aku. Kamu hati-hati yah pulang nya, jangan lupa makan." Pesan Dinda sambil tersenyum.
"Eh yaudah aku pulang dulu yah." Ujar Rey.
"Hati-hati yah."
Lisa yang merasa dikacangin akhirnya memilih untuk jalan duluan dengan memasang wajah kesal. "Huh, ngeselin banget sih." Gumam Lisa sambil terus berjalan ke arah parkiran.
"Icha tunggu!" Sahut Rey sambil berlari menyusul Lisa. "Kamu kenapa sih?"
"Lagi kesel." Ujarnya dengan ketus.
"Loh kenapa?"
"Lo nggak usah banyak tanya deh. Yuk pulang, gue mau tidur biar mood gue kembali normal."
.
.
.
Motor berhenti tepat di depan halaman rumah keluarga Agrananda yang luas. Bunga-bunga tertata rapi di sana, sangat indah.
"Yuk masuk." Ajak Rey.
Lisa mengikuti langkah kaki Rey di belakang. Meskipun dulu Lisa sering ke sini, tapi Lisa masih tak pernah berani untuk main masuk begitu saja. Itu nggak akan mungkin sopan. Begitu pikirnya.
Rey membuka pintu kamarnya yang luas. Terlihat semua dimodifikasi dengan warna yang agak-agak gelap. Dinding yang di cat warna abu-abu, kasur yang berwarna putih bersih, serta tirai yang berwarna abu-abu. Semua barang-barang di dalam kamar itu nampak manly sekali. Di balkon terdapat sebuah ayunan yang du samping nya tersedia rak buku yang di dalam nya terdapat banyak sekali buku. Semua terlihat rapi dan bersih. Mungkin kalau di bandingkan dengan kamar Lisa, kamar Rey lebih besar dan lebih luas.
"Icha ngapain berdiri di situ? Sini masuk." Ujar Rey saat melihat Lisa masih berdiri di depan pintu sambil mengamati semua nya. Ia tak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti dia akan berbagi kamar dengan Rey bahkan berbagi kasur sekali pun.
Lisa masuk ke dalam dengan canggung. Terakhir dia masuk ke dalam kamar ini mungkin dulu saat main petak umpet bersama dengan Rey. Semua desain kamar Rey tak pernah berubah, masih sama dengan yang dulu. Lisa merebahkan dirinya diatas kasur, menatap langit-langit kamar. Menikmati betapa empuk nya kasur tersebut.
"Ganti baju dulu, Cha!" Pinta Rey.
"Nanti!"
"Sekarang, Icha!"
"Ck." Lisa mendengus kesal. Mau tidur aja susah, beginikah definisi penderitaan sesungguhnya?! "Ini ruang ganti yang mana? Gue bingung dah." Gumam Lisa. "Rey, ruang ganti yang mana?" Tanya Lisa saat melihat ada dua pintu yang bersebelahan.
"Yang sebelah kiri."
"Ya Allah, ntar gue pake ojol aja kali yah, kalo masuk rumah lo. Gue kira rumah Daddy gede eh rumah lo kayak istana gini..." Lisa mengoceh terus-terusan, tapi Rey tak ingin menjawab satu pun ucapannya ntar malah makin menjadi -jadi lagi.
Setelah mengganti pakaiannya, Lisa langsung rebahan begitu saja di atas kasur.
"Nggak mau makan dulu?" Tanya Rey saat melihat Lisa sudah bersiap untuk tidur.
"Ntar aja deh. Gue udah ngantuk banget." Lisa malah guling-guling nggak jelas di atas kasur.
Rey hanya bisa menggeleng dengan tingkah istri nya yang keras kepala. "Yaudah tapi ntar jangan lupa makan yah."
"Hm." Lisa memeluk guling dan memejamkan matanya.
"Kalo kamu mau apa-apa tinggal bilang aja. kamu nyari aku, aku ada di ruangan itu." Ujar Rey sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan.
"Iya bawel. Sana gih!" Sahut Lisa kesal. Padahal kan Rey takut aja kalo Lisa sampe butuh apa-apa dan nggak tau mau apa.
Lisa mulai berlabuh masuk ke dalam mimpinya yang indah, asal kalian tau aja, dari tadi Lisa tak bisa diam, dari tadi dia guling sana guling sini. Kagak jelas dah. Dan setelah memastikan Lisa sudah benar-benar tertidur, Rey masuk ke dalam ruangan yang tadi. Ntah apa yang ingin dia lakukan? Ntahlah.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!