
Kantin Rumah Sakit
Rey memesan segelas air putih untuk Lisa minum, "Nih diminum dulu biar nggak panik lagi. Tenang aja, semua pasti baik-baik aja. Aku yakin kamu enggak salah..." Rey berusaha meyakinkan Lisa yang masih kacau.
Mendengar kata-kata Rey, membuat Lisa sedikit bersemangat, ia lega masih ada orang yang bisa percaya padanya. Ia meminum segelas air didepannya, ia menatap Rey sendu, "Bukan aku... Aku nggak pernah dorong Rani, tadi dia jatuh sendiri."
"Iya aku percaya... Sebenci-bencinya kamu sama orang, pasti nggak bakal ngelakuin tindakan kayak gitu. Sekarang kamu tenangin diri kamu dan jelasin semua yang terjadi pelan-pelan oke!" pinta Rey.
Lisa mengangguk pelan. Rey berharap semua ini bisa segera selesai, ia takut kalau mental Lisa akan bermasalah lagi. Karena anak yang pernah memiliki penyakit mental akan lebih rentan kembali mengalami over thingking dan mudah down.
Lisa menjelaskan satu-persatu apa yang ia alami dan ia lihat, Rey mengangguk memahami tiap kata-kata Lisa. "Jadi maksudnya, kamu enggak dorong dia? Tapi tiba-tiba dia jatuh kebelakang?" tanya Rey yang dibalas anggukan oleh Lisa.
Rey berpikir dan membayangkan semua kejadian, "Aku yakin Rani itu enggak ceroboh, dia pasti hati-hati. Sepatunya yang mahal enggak mungkin juga licin, jadi intinya dia bisa jatuh karena kehilangan keseimbangan lalu tertarik kebawah oleh gaya gravitasi bumi yang menyebabkan dirinya jatuh kebawah." pikir Rey.
Rey mencoba berpikir keras tentang hal ini, "Jika memang dia didorong, maka kecepatan jatuhnya dari ketinggian itu sekitar 0,1 hingga 2x lipat kecepatan jatuhnya saat itu. Tapi jatuhnya begitu tak beraturan, berarti merupakan GLBB (Gerak Lurus Berubah Beraturan) dengan pertambahan percepatan jatuh yang konstan dari atas hingga bawah. Kecepatan jatuhnya pun relatif sesuai dengan gaya gravitasi yang ada, tidak terlalu beda jauh. Maka dia tidak mungkin di dorong."
Lisa yang menangis sesenggukan masih saja sempat protes karena sedikit kesal dengan konsep Rey yang terbilang menyusahkan alias mengasah otak. "Jangan ribet-ribet napa sih Rey!" Kesal Lisa.
"Bentar!" Rey mengode Lisa agar diam sejenak dan tidak menggangu dirinya yang sedang berpikir keras, "Jika ia jatuh karena terdorong maka kecepatan jatuhnya juga konstan dari awal hingga akhir, tidak bertambah atau berkurang karena gaya yang diberikan dari dorongan itu. Tapi kecepatan jatuhnya bertambah sedikit demi sedikit karena besarnya gaya gravitasi dari ketinggian tertentu. Oke, fiks ini bukan di dorong tapi jatuh sendiri!" Jelas Rey panjang lebar, ia cukup yakin kalau Rani jatuh sendiri. Pasalnya jika di pikir-pikir dengan logika dan di jelaskan secara ilmiah, sesuai dengan pikiran Rey barusan itu cukup meyakinkan ditambah lagi Rey sudah mengenal Lisa dari kecil dan ia tau bagaimana sifat Lisa.
"Aku nggak dorong dia, dia jatuh sendiri kan? Aku nggak salah..."
"Kalo gini aku yakin kamu nggak salah, tapi masalahnya, apa penyebab dia jatuh? Orang lain butuh bukti, bukan penjelasan ilmiah. Entah kenapa firasat aku ini semua terjadi secara di sengaja," pikir Rey.
Rey berpikir keras hingga akhirnya matanya terkunci ke kaki Lisa yang di pasangi gip karena retak, "Kamu juga jatuh kan? Kok bisa?"
Lisa mengusap air matanya pelan, "Aku awalnya panik mau nolong Rani, tapi tiba-tiba aku ngerasa kalau lantainya licin banget dan aku juga kepeleset. Untungnya tangan aku masih bisa pegangan ke salah satu pembatas tangga."
Rey kembali berpikir, "Licin? Lantai? Jatuh? Oh iya, mungkin jika kesalahan bukan di manusianya, maka ada di tempatnya!"
"Tempatnya?"
Rey langsung menelpon Vhino secepatnya untuk memastikan sesuatu.
"Halo Rey, kenapa?"
"Kamu dimana?"
"Warung deket sekolah, kenapa emangnya?"
"Vhin, tolong kamu cek ke lantai 2 dan hati-hati! Lihat tangganya satu-persatu, coba kamu sentuh semua. Apa ada yang licin, buruan!"
"Emang kenapa? Ada apa dengan tangga nya?"
"Udah nanti aku jelasin! Sekarang yang terpenting kamu buruan cek, ini menyangkut nyawa orang!"
"Hah? Nyawa? Nyawa siapa?"
"Udah buruan! kalo udah segera kabarin aku oke!"
"Oke-oke!"
Vhino yang ada di warung dekat sekolah pun langsung pergi ke sekolah untuk mengecek tangga lantai 2 sesuai dengan permintaan Rey. la melihat dengan seksama tiap anak tangga disekolah.
Sementara Rey hanya pasrah menunggu, semua ini tergantung pekerjaan Vhino saja. Tak lama, Vhino kembali menelfon.
"Iya gimana?"
"Jadi aku baru aja cek, ada salah satu tangga yang agak beda. Rasanya lebih licin daripada yang lain, kayak habis di pel gitu loh!"
"Licin? Coba kamu video pake flash lampu belakang, bandingin tangga yang licin sama yang nggak!"
"Oke bentar!"
Beberapa menit kemudian, Vhino mengirim video perbedaan lantai yang licin dan yang tidak. Setelah Rey melihat videonya, ia jadi semakin yakin kalau Rani itu terjatuh karena lantai yang licin, bukan didorong.
Rey memeluk Lisa senang, "Oke kamu sekarang nggak usah khawatir. Aku punya bukti sekarang, kita sekarang bisa jelasin semuanya. Ayo kembali ke sana!"
"Ha?" Meskipun bingung tetapi Lisa tetap mengikuti langkah kaki Rey.
Lisa dan Rey kembali untuk memberitahukan semuanya, namun para guru lebih dulu menarik Lisa untuk diajak berbicara.
"Pak, Lisa mau diapain?" tanya Rey kawatir.
"Tenang aja, kamu nggak boleh ikut campur dulu! Kamu diem dulu yah, ini pribadi antara Lisa dan orang tua Rani!"
Para guru itu membuat Rey semakin khawatir, apalagi melihat ibu Rani yang semakin emosional.
Lisa diajak agak menjauh untuk berbicara dengan kedua orang tua Rani secara pribadi.
"Lisa, tolong jujur apa yang sebenarnya terjadi!" tegas salah satu guru.
Ibu Rani menyela, "Kamu dorong Rani kan?! Dasar anak nggak tau diri, gara-gara kamu sekarang Rani gegar otak! Hiks..." Tangis Ibu Rani.
Lisa seolah terpukul dengan kata-kata ibu Rani yang menyalahkan dirinya atas semua situasi ini.
Papa Rani yang melihatnya mencoba melerai,"Ma... sudahlah! Semua nggak akan selesai kalo cuma berantem!"
"Tapi dia celakain anak kita Pa! Dia yang buat Rani celaka!"cetus Ibu Rani.
Papa nya Rani berusaha meredam amarah istrinya, lalu mulai menanyakan satu persatu tentang masalah ini pada Lisa yang masih bengong dengan tatapan kosong.
"Lisa... Lebih baik kamu jujur nak,berbohong tak akan menyelesaikan semuanya. Kenapa kamu dorong Rani sampai jatuh?" Papa Rani berusaha membujuk Lisa agar segera jujur.
Tapi dipaksa seperti apapun tak akan ada hasilnya karena memang Lisa tak melakukan hal tersebut. Hatinya terlalu kacau saat ini untuk menjawab semua pertanyaan yang menyerbunya.
"Lisa... Kamu kenapa? Coba jelaskan!"
Lisa menjelaskan semuanya dengan nafas tersengal-sengal karena tangisannya yang tak kunjung berhenti. Namun tetap saja tidak ada yang mempercayainya, seolah semua orang menyalahkan nya.
Tak lama kemudian, Ayah dan Bunda Rey datang menghampiri Lisa.
Ayah berjalan dengan gagah dan menyela semua pembicaraan, "Maaf bukannya saya tak sopan. Tapi pembicaraan ini tak baik jika diteruskan, situasinya begitu tak mendukung. Mari kita bicarakan lagi dengan baik-baik dan setelah Lisa benar-benar tenang. Jika masih seperti ini, masalah juga tidak akan selesai!"
Setelah Ayah berdiskusi beberapa saat dengan orangtua Rani, akhirnya Lisa dibawa pergi dulu untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Bunda langsung merangkul Lisa pergi dan mengajaknya menjauh terlebih dulu dari keramaian.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!