Love In Many Ways

Love In Many Ways
traktiran Lisa



"Baiklah, juara pertama lomba cerdas cermat Umum adalah peserta dengan nomor urut... 3!"


Semua langsung terkejut dan bingung, nomor urut 3 adalah nomor urut Dinda, sementara Dinda sudah mendapatkan juara 2. Dinda tersenyum dan merasa sedikit punya harapan, ia berpikir mungkin tadinya panitia salah sebut. Dan sementara itu Lisa mencoba tenang dan percaya pada dirinya sendiri.


Salah seorang guru pun terlihat mendatangi guru yang membacakan hasil lomba dan berbisik. "Oh maaf semuanya, ternyata terjadi kekeliruan dalam pembacaan pengumuman. Jadi, pemenang lomba cerdas cermat Umum SMAN Bakti Husada 2022 adalah, peserta dengan nomor urut... 13, Melissa Sabrina Gianiggy..."


Semua bersorak riuh karena pengumuman ini. Mereka semua cukup bangga dengan Lisa, mereka tau Lisa selama ini tak bersalah, dan hanya di fitnah saja. Dan dengan memenangkan lomba ini Lisa sudah memperbaiki namanya di sekolah lamanya.


Lisa terdiam tak percaya, ia sangat gugup hingga bingung harus apa.


"Sa-saya juara 1? Ini beneran juara 1?" tanya Lisa tak percaya.


"Iya Lisaaa! Kamu yang juara 1, buruan maju sana!" Sarah dan Mira menyemangati.


Dengan langkah pasti, Lisa maju kedepan untuk menerima hadiah dan penghargaan dari Sekolah.


Dinda menatap Lisa penuh iri dan benci, rasanya ia ingin menjambak dan memukuli Lisa dengan penuh amarah saat ini karena geram. la masih tak bisa menerima kekalahannya atas lomba ini.


"Dasar cewek sialan! Bisa-bisanya lu rebut hal yang harusnya jadi punya gue!" gerutu Dinda dalam hati.Ia melempar tatapan membunuh kepada Lisa.


Lisa menerima piala serta piagam penghargaan dengan bangga. la sempat melirik Dinda dan mengedipkan sebelah matanya untuk membuat Dinda semakin kesal. Sementara Dinda hanya diam menatap Lisa penuh amarah, pencitraannya didepan teman-temannya sudah rusak, ia tak mau membuatnya menjadi lebih buruk.Lisa menatap bangga melihat ke segala arah, omongan tentang buruknya dirinya tertutup sudah oleh piala dan piagam ditangannya. Ia puas bisa membuktikan kalau dia tidak seburuk bayangan orang.


"Selamat yah Lisa, kamu berhasil menjadi ucapan juara 1 lomba ini. Terus berprestasi dan tingkatkan semangat belajarmu ya!" ujar guru yang memberikan piala pada Lisa.Yah meskipun Lisa menang tidak dengan membawa nama sekolah mereka, tapi guru tetap bangga padanya.


"Iya bu..."


Setelah pembagian piala selesai, ada sesi foto. Lisa tampak tersenyum lebar di foto karena bahagia, sedangkan Dinda hanya tersenyum dengan terpaksa.


Ckrek...


Begitu foto selesai diambil, semua kembali ke barisan. Akan tetapi Dinda tak kembali ke barisan, ia langsung membawa pialanya itu pergi tanpa mengikuti acara selanjutnya. Dengan langkah kasar ia berjalan menuju toilet, ia mendorong pintu toilet dengan kasar dan keras karena emosi.


"Arghhh... Sialan! Dasar cewek sialan! Cewek nggak tau diri! Harusnya gue yang juara 1! Arghhh..."


Dinda tak sengaja menyenggol pialanya yang ada diatas wastafel hingga jatuh dan patah menjadi 2 bagian.


"Oh tidak! Tidak!"


Dinda langsung duduk jongkok melihat pialanya yang jatuh dan patah, tanpa sadar air matanya mengalir. Ia benar-benar stress dan frustasi sekarang, ia bingung harus bagaimana kedepannya.Ia takut, cemas, emosi, depresi semua tercampur dalam dirinya.


...*****...


Acara selesai tepat saat sore hari. Lisa menghampiri guru dan juga teman-temannya. "Wah selamat yahh Lis," seru temannya senang.


"Iya, kamu juga selamat yah."


"Kerja bagus Lis, kalian benar-benar cerdas nak. Kalian buat bapak bangga." Ucap guru pendamping dengan bangga.


"Selamat yah Lis, aku ikut seneng." Ucap Devan.


"Makasih Van."


"Yasudah kalau begitu kita pulang, acara juga sudah selesai." ajak pak Setyo.


"Kenapa Lis? mau tinggal bentar?" Tanya Devan yang melihat wajah Lisa yang tidak bersemangat. Ia tau pasti Lisa masih ingin tinggal di sekolah ini.


Lisa mengangguk, "Boleh nggak pak? Lisa mau ketemu sama teman-teman Lisa dulu."


"Yaudah boleh kok." Ucap pak Setyo.


"Nanti kamu pulang nya aman kan Lis? Sama Rey kan?" Tanya Devan, dia benar-benar sangat menjaga amanah Fadil.


Lisa berjalan sambil bersenandung ria bersama teman-temannya. "Karena lagi seneng hari ini, aku yang traktir kalian semua yah!" celetuk Lisa.


"Beneran nih?" tanya Vhino antusias.


"Iya... Kalian pesen semau kalian, ntar gue yang bayar!" jawab Lisa dengan percaya diri.


Vhino menoleh pada Rey yang sedari tadi diam, "Boleh Rey?" Tanyanya. Rey membalas mengangguk tanda setuju.


"Ok sip lah!"


Sarah, Mira, Vhino dan Al angsung bersemangat pergi ke kantin untuk memesan makanan. Sedangkan Lisa baru ingat kalau uang cashnya menipis.


"Yahh gimana nih! Kalo ke ATM sekarang, ntar aku nggak ada waktu istirahat lagi dong!" batin Lisa yang bingung. "Tapikan udah terlanjur buat mereka seneng.."


"Hayoloh mikir apa!" Rey datang dengan mengejutkan Lisa tiba-tiba dari belakang.


"Astaghfirullahaladzim! Ish paan sih, ngaget-ngagetin orang aja tau nggak!" gerutu Lisa yang kesal.


"Iya-iya sorry, lagian melamun aja. Mikir apa hayo? Mikirin Rey tampan ya?" tanya Rey penuh percaya diri.


"Yee... Sok ke-pd an, eh gini nih... Kan duit cash nya abis nih..."


"Trus?" Rey lebih dulu memotong ucapan Lisa.


Raina tersenyum dengan semanis-manisnya, "Boleh bayarin anak-anak dulu nggak Mas? Kan Mas Rey baik orangnya..." bujuk Lisa dengan manisnya.


"Kamu nyadar nggak nih? Kamu kayak istri yang lagi bujukin suaminya buat bayarin barang-barang yang dibeli anak-anaknya," ledek Rey.


Lisa memanyunkan bibirnya, "Ih bayarin dulu lah... Rey, ingat! Duit suami, duit istri juga. Tapi, duit istri ya punya istri doang!" kata Lisa untuk membujuk Rey.


Rey hanya terkekeh mendenganya, "Ahahaha... Iya-iya ntar di bayarin, udah sono pesen sekalian noh. Masalah bayaran gampang lah."


Lisa tersenyum, "Yeeee... Kamu baik banget deh!" Lisa memuji kebaikan Rey agar Rey senang.


Saat Lisa berbalik, Rey menarik tangan Lisa hingga Lisa kembali menghadap ke dirinya lagi.


"Aduh, apa lagi sayang? Hm? Kenapa?" tanya Lisa karena kesal.


"Ahahaha, lucu juga banget." Rey mendekat dan berbisik, "Aku seneng kali ini kamu menang, tapi aku juga sedih sih kamu menang. Harusnya kalah aja, biar keluarga kita makin harmonis sayang..." goda Rey.


Spontan Lisa langsung memukul ringan bahu Rey, "Jangan aneh-aneh ya anda! Saya lulus SMA aja belum, KTP baru jadi juga kapan. Dahlah, mau makan. Kamu nggak makan?" tanya Lisa untuk mengalihkan perhatian


.


"Out of topic tau nggak?"


"Yee biarin, udahlah laper nih. Kalo mau makan, ayo!" ajak Lisa lalu pergi mencari tempat duduk.


Rey pun ikut duduk dan makan bersama yang lain, duduknya Rey disamping Lisa membawa banyak komentar positif tentang Lisa. Tak ada lagi yang berani mengatai bahwa Lisa tak pantas untuk Rey.


Di Koridor


Lisa berjalan santai setelah kembali dari kamar mandi, namun tiba-tiba ia berpapasan dengan Dinda. Lisa melangkah ke kanan untuk menghindari Dinda, tapi Dinda malah mengikuti langkah Lisa, seolah-olah menghalangi jalan Lisa.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!