
"Yah akhirnya aku bisa pulang. Semua keluarga dan sanak saudara ku menyambut kepulangan ku dengan baik. Aku bahagia bisa membuat mereka tersenyum bangga padaku. Dengan senang hati dan penuh kebahagiaan aku berniat untuk mendatangi Daddy mu, saat itu aku sengaja tidak mengabari dan memberitahukan ke pulang ku, aku berniat untuk memberikan kejutan padanya. Aku sungguh berharap dia juga akan tersenyum bangga padaku, karena aku sudah berhasil." Setetes air mata mulai turun membasahi pipi wanita tersebut. Seperti nya kesedihan nya benar-benar sangat dalam. Putra yang sedari tadi menyimak pun sedikit simpati melihat nya.
"Namun, apa yang terjadi tidak sesuai harapan ku. Saat aku mendatangi Daddy mu ternyata dia sudah menikah. Saat itu aku benar-benar hancur, saat aku sudah lama merindukan nya namun dia malah menikah dengan orang lain. Yah kuputuskan untuk tidak mengganggu ketenangan nya bersama dengan istrinya. Berbagai cara telah ku lakukan untuk melupakan nya namun hasilnya nihil. Dan pada akhirnya aku menikah dengan lelaki yang baik dan kami di karuniai seorang anak lelaki yang bernama Gilang."
Putra terkejut saat mendengar nama itu disebut Ha? Gilang? Gilang yang dulu... Ah nggak, nggak mungkin. Itu pasti bukan dia.
Melihat wajah terkejut Putra, wanita tersebut tersenyum. "Kenapa? Kau ingat kan yang nama nya Gilang? Gilang yang dari dulu mengejar Vanessha, namun Vanessha selalu menolaknya." Sindir wanita tersebut. "Itu semua karena kehadiran mu di dunia ini!"
Putra yang mendengar ucapan wanita tersebut merasa agak bersalah. "Tapi saya tidak tau apa-apa. Saat itu juga saya sudah punya pacar, tetapi Vanessha sel-..."
"Jangan kau salahkan dia. Dia tak salah apa-apa. Ini semua salahmu. Kenapa kau harus bertemu dengan Vanessha. Haih kau tau apa yang terjadi saat Vanessha kecelakaan malam itu?"
Melihat Putra terdiam wanita tersebut melanjutkan kalimatnya. "Anak ku Gilang sangat-sangat terpukul atas kematian dia. Dia... Dia mengeluarkan segala emosi nya melalui balap liar di jalanan. Dan saat itu... Dia... Dia kecelakaan dan mati tempat..." Jelas wanita itu sambil menahan tangis nya saat mengingat putera satu-satunya yang sangat dia cintai.
"Jadi anda ibu nya Gilang?"
"Ya."
"Jadi itu sebab nya anda melakukan tindakan ini? Menyergap adik-adik saya untuk balas dendam?"
"Kenapa tidak?! Akhirnya kau mengerti juga. Aku ingin kalian semua merasakan apa yang aku rasakan pada saat itu, merasa kehilangan orang yang disayang."
"Kak Putra hati-hati, ada lagi yang datang." Ucap Fadil.
"Hmm." Jawab Putra sambil celingukan mencari siapa yang dimkasud.
Terlihat seorang lelaki paruh baya dengan menggunakan pakaian serba hitam berjalan menghampiri. Putra terkejut setengah mati saat melihat sosok tersebut. Loh? Pak Bram? Jadi... Jadi ini semua...
"Halo..." Sapa Pak Bram sambil duduk di samping wanita yang tadi.
"Pak Bram?" Kaget Putra.
Pak Bram terlihat tersenyum sinis. "Kenapa? Kau terkejut? Kaget? Ah udahlah nggak usah pura-pura." Ucap nya dengan ketus.
"Kau terlalu cepat kesini, aku belum selesai." Ucap wanita tadi pada Pak Bram.
"Kau yang terlalu lama, kenapa kau harus pake curhat segala pada dia, aku ingin langsung ke intinya saja." Jawab Pak Bram.
"Tapi bisa tidak sih kau memberiku sedikit waktu?"
"Haih, yaudah cepat. Nggak usah pake curhat-curhatan." Kesal Pak Bram.
"Jika kau menginginkan adik-adik mu kembali padamu, serahkan Mommy mu pada kami." Ucap wanita tersebut dengan nada mengancam.
"Ha? Mommy ku? Kenapa harus dia?" Tanya Putra.
"Yah sebenarnya aku tak ingin melukai adik kecilmu dan tak ingin melukai mu karena aku tau Hariwijaya sangat menyayangi kalian berdua. Aku hanya menginginkan Mommy mu, karena dia sama sekali tak pernah becus mengurus keluarga mu." Ucap nya dengan sinis.
"Maksudnya?"
"Yah buktinya saja Hariwijaya telah meninggal dengan cepat, itu karena dia tak becus mengurusnya. Hari itu yang ingin aku culik adalah Mommy mu tapi karena penjagaan nya cukup ketat yah akhirnya aku terpaksa mengambil adik-adikmu." Jelas ibunya Gilang.
"Tidak! Saya tidak akan menyerahkan Mommy!" Tegas Putra.
"Oh berarti kau sudah tak ingin melihat adikmu? Begitu?" Tanya nya.
"Haih sudahlah, kau tak perlu membuat dia pusing. Kalo dia tak mau menyerahkan ibunya kita musnahkan saja adiknya." Ucap Pak Bram. "Jujur saja, aku sudah lama menunggu saat-saat ini terjadi. Aku ingin kau membayar kematian puteri ku Vanessha. Nyawa di bayar dengan nyawa."
Puteri? Yah, Pak Bram ini adalah ayah dari Vanessha. Jadi Vanessha ini adalah kakak kandung Ghea. Kematian Vanessha memang meninggalkan luka yang sangat dalam untuk keluarganya.
...*****...
Sementara itu...
Fadil dan Faro yang sedang berada di dalam mobil mengamati dengan seksama sekeliling tempat itu. Kalau-kalau ada yang mencurigakan, mereka akan dengan sigap memberitahukan pada Putra.
Faro terlihat menyapu tempat itu dengan pandangnnya. Dia melihat-lihat tempat itu dengan insten. Sampai akhirnya matanya tertuju pada sebuah rumah yang terletak agak jauh dari tempat mereka, namun masih bisa dijangkau dengan penglihatan. Faro menajamkan pandangan nya memastikan, benar saja itu sebuah rumah namun terlihat sangat lusuh dan kotor.
"Fadil, kamu tunggu sini aku mau kesana sebentar."
"Kemana?" Tanya Fadil.
"Kamu liat rumah itu..." Faro menunjuk rumah tersebut dengan telunjuknya.
Fadil mengikuti arah yang dimaksud oleh Faro. "Iya aku liat, kenapa emangnya?"
"Nggak, aku cuma mau ngecek aja kesana. Kamu tunggu sini aja awasin kak Putra."
"Oh oke, tapi kamu hati-hati yah. Kalo ada apa-apa jangan lupa kabarin."
"Oke." Faro turun dari mobil dengan pelan. Kemudian berjalan ke arah rumah tersebut.
Faro segera bersembunyi di balik pepohonan saat melihat ada seorang lelaki bertopeng yang berjalan masuk ke dalam rumah. Sepertinya dugaan ku benar, pasti ada sesuatu di dalam rumah ini.
Saat melihat lelaki tersebut sudah tidak ada, Faro kembali berjalan dengan mengendap-endap untuk segera masuk kedalam rumah. Sial, mereka terlalu banyak. Bagaimana aku bisa melawan mereka.
"Hei, kamu jaga disana! Kamu disini! Dan kau di dekat pintu masuk." Pinta salah satu lelaki bertopeng tersebut, sepertinya dia adalah pimpinan dari sekian banyak nya lelaki bertopeng lainnya.
"Ingat, kalian harus berhati-hati. Kalau ada yang mencurigakan cepat beritahu aku. Bisa mati kita kalo korban Bos sampe lolos." Sambung nya.
"Baik Bos!" Sahut para lelaki bertopeng dengan serentak kemudian melaksanakan tugas nya masing-masing.
Ternyata benar, Lisa dan Rey di sekap di sini. Setelah melihat cukup aman, Faro kembali berjalan pelan untuk mencari Lisa dan Rey. Faro mulai membuka satu pintu, tak ada siapa pun. Dan, ups hampir saja.
Seorang lelaki bertopeng lewat di depan pintu yang baru saja di buka oleh Faro. Untung saja sebelum itu Faro telah lebih dulu masuk kedalam ruangan tersebut dan menutupnya rapat. Setelah lelaki itu lewat, Faro membuka pintu dan kembali berjalan pelan.
Faro membuka pintu demi pintu bahkan pintu WC pun Faro buka, jangan sampai Lisa dan Rey disekap di salah satu ruangan.
"Hiks... Lepaskan aku..." Suara isak tangis terdengar samar-samar di telinga Faro.
"Hahahaaa... Tutup mulutmu!" Bentak seseorang.
Faro yang mendengar suara bentakan tersebut, dapat menebak bahwa suara itu berasal dari suatu ruangan yang ada di depan nya.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!