
"Kalo gitu lo cepetan balik. Mommy nunggu lo buat sarapan, sekarang! Jangan nyusahin gue!" Kata Lisa dengan kesal kemudian berjalan pergi meninggalkan Rey yang masih berdiri dan menatap kepergian nya.
Saat menuruni tangga Lisa menghentikan langkahnya dan kembali berteriak. "LO BALIK SEKARANG!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Lisa melanjutkan langkahnya untuk kembali ke rumah nya yang dia rasa cukup indah dan nyaman dari pada si Rey yang selalu bikin kesel.
.
.
.
"Nak, makanan suami nya diambilin dong!" Pinta Mommy pada Lisa. Sekarang Lisa, Rey dan Mommy sedang sarapan di meja makan.
"Dia bisa sendiri kok, Mom." Ujar Lisa. Pagi-pagi mood nya udah hancur dengan keberadaan si Rey. Dasar macan tutul.
"Iya Mom, Rey bisa kok." Rey mengambil piring dan hendak mengisi nya dengan nasi.
"Nggak papa, Rey. Itu udah jadi kewajiban Lisa sebagai seorang istri. Ayo Lisa diambilin!"
Lisa mengambil piring dari tangan Rey dengan kasar. Kemudian menyendokkan nasi. "Segini cukup nggak?" Tanya pada Rey dan di balas dengan anggukan.
Lisa menyodorkan piring itu pada Rey. "Nih."
Baru aja Lisa mau menyendokkkan nasi pada mulutnya udah di suruh lagi. "Lauk nya juga, nak!" Pinta Mommy.
Lisa menghela napas dengan kasar, kemudian kembali berdiri untuk mengambilkan Rey lauk. Dalam hati dia benar-benar menggerutu kesal.
Huh, nyebelin banget sih. Ngapain sih Mommy mesti suruh aku buat ambilin dia makan, dia kan bukan bayi. Huh dasar Macan tutul. Liat deh wajah polos nya serasa mau ku tendang ke kutub utara.
"Mom, Daddy nggak makan?" Tanya Lisa.
"Kata nya Daddy mau makan di kamar."
"Oh yaudah, Lisa aja yang anterin." Lisa berdiri dari kursi.
"Nanti aja, Lisa habisin dulu makan nya nak." Mommy melirik pada piring Lisa yang terlihat makanannya masih utuh.
"Lisa makan ntar aja, Mom. Lisa lagi nggak nafsu!" Lisa melirik sinis pada Rey yang sedang menyantap makan nya seolah-olah dia berkata 'Lisa nggak nafsu karena ada Macan tutul yang ngeselin di sini' begitulah kira-kira Lisa ingin menyampaikan penyebab dia tidak makan. Namun, yang di lirik sinis terlihat sama sekali tak peduli dengan tatapan itu.
.
.
.
"Dad." Lisa membuka pintu kamar Daddy nya. Di tangan nya terlihat ada semangkuk bubur dan segelas air minum. Dia meletakkan nya di meja dekat tempat tidur.
Dengan telaten Lisa menyuapi Daddy nya dengan bubur. "Daddy udah ngerasa baikan?"
Daddy mengangguk. "Daddy udah kenyang."
"Tapi, Dad. Bubur nya belum habis, Daddy habisin dulu yah."
"Daddy udah kenyang, nak."
"Yaudah Daddy minum." Lisa mengambil segelas air tadi lalu membantu Daddy nya untuk meminum nya.
"Makasih, nak." Daddy kembali membaringkan tubuh nya dengan pelan. "Ayo sini!" Panggil nya sambil menepuk tempat di samping nya. Menyuruh Lisa untuk ikut berbaring di sana.
Dengan patuh Lisa berbaring, lalu memeluk Daddy nya dengan penuh kasih sayang. "Lisa sayang Daddy."
...*****...
Keesokan hari nya...
"Icha, ayo bangun!" Rey menepuk-nepuk bahu Lisa dengan pelan.
Tak ada pergerakan, Rey kembali menepuk-nepuk bahu Lisa. "Cha, ntar kita telat ke sekolah. Ayo bangun!" Rey sudah siap dari tadi, dia sudah memakai seragam sekolah nya. Maklum lah ketos yang disiplin akan selalu jadi panutan semua siswa.
Lisa yang merasa tidur nya terganggu, mengerjapkan mata nya perlahan pertanda dia akan segera bangun.
Di pagi hari yang cerah, dia baru bangun dan di sambut oleh suara yang sangat menyebalkan akan membuat emosi nya meluap. "Iya, gue bangun. Udah deh, lo diem!" Sahut Lisa dengan kesal.
Melihat ada pergerakan, Rey diam. Tak mau kena semprot dari Lisa yang akan memecahkan gendang telinga nya. Namun, diluar dugaan. Lisa kembali tertidur.
Rey menghela napas berusaha sabar. Kembali menepuk-nepuk bahu Lisa. "Cha... Bangun..."
Lisa berdecak kesal dengan lelaki yang benar-benar selalu membuat mood nya jelek. "Ck, iya iya. Bawel banget sih." Lisa bangun dengan kesal, jelas terlihat dari wajahnya. Dengan langkahnya yang kasar dia masuk ke dalam kamar mandi.
Rey yang melihat tingkah Lisa, hanya tersenyum. Menurutnya wajah kesal yang terlihat dari Lisa, begitu menggemaskan dimata nya.
"Icha, aku tunggu di bawah yah." Sahut Rey sembari berteriak karena Lisa masih berada di kamar mandi. Rey sudah menunggu sekitar 23 menit namun Lisa tak kunjung keluar dari sana. Ntah apa yang dilakukannya. Apakah dia sengaja berlama-lama di dalam sana untuk membalas kekesalannya pada Rey? Atau bagiamana? Hadeh, ntahlah.
"Terserah!" Teriak Lisa yang terdengar ketus.
.
.
.
Saat selesai sarapan, Lisa menyalami Mommy nya terlebih dahulu. Dia sengaja makan sedikit hari ini karena niat nya untuk meninggalkan Rey yang masih sibuk makan. Lisa tak ingin ke sekolah bersama Rey, itu hanya akan membuat kondisi emosinya tak bisa terkontrol.
"Mom, Lisa mau berangkat."
"Loh? Nggak bareng Rey?"
"Nggak, Mom. Lisa bareng sama pak Anto aja."
"Kenapa?"
"Rey masih makan, Mom."
"Nggak kok. Aku udah kenyang nih." Sela Rey.
Lisa melihat ke arah Rey dengan tatapan membunuh. Huh, ngeselin banget sih nih orang
"Yaudah bareng Rey aja."
"Tapi, Mom. Lisa nggak suka naik motor." Ucap nya memberi alasan.
"Aku nggak pake motor kok. Pake mobil aja." Sela Rey lagi.
Lisa kembali melihat pada Rey dengan tatapannya yang sangat geram dan ingin rasanya dia menabrak muka ngeselin nya dengan pesawat terbang. Emang bisa? Macan tutul yang satu ini benar-benar ngeselin yah guys. Untung ganteng. Hehehe...
"Lisa, bareng sama Rey aja nak. Kan searah!"
"Ck, iya Mom." Ujar Lisa dengan terpaksa.
Mommy ini gimana sih? Anak nya siapa di sini? Kok malah lebih belain Macan tutul itu sih. Kalo gini terus kan serasa jadi anak yang tak di inginkan hiks...
"Yaudah, Mom. Rey berangkat yah." Rey berdiri dan menyalami Mommy.
Mendengar kalimat Rey barusan, Lisa mencibir. Suara itu terdengar halus lebih tepat nya sok halus di indra pendengaran Lisa.
"Iya, kamu jagain Lisa yah."
"Oke, Mom." Rey menghampiri Lisa dan mengajaknya untuk segera pergi. "Ayo, Cha." Lisa menatap Rey dengan kesal. Rey melihat tak ada pergerakan dari Lisa, Rey mengangkat salah satu alis nya pada Lisa seolah meminta nya untuk berjalan lebih dulu.
Melihat reaksi Rey, serasa Lisa ingin menggeplak wajah itu. Ingin rasa nya dia mencukur alis yang serasa meledek itu. "Huh." Lisa menyilangkan tangannya di depan dada dan dengan langkah nya yang kasar berjalan duluan ke arah pintu. Dalam hati dia terus mengumpat tanpa henti.
Sesampainya di depan teras, Lisa menghentikan langkahnya. "Mana mobil lo?" Tanya nya.
"Ada di garasi, di rumah ku. Tunggu bentar di sini, aku ambil dulu."
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!