
🏠Rumah Keluarga Agrananda🏠
"Icha..." Panggil Rey dengan suara pelan, lalu ikut duduk di samping Lisa. Lisa memandang ke arah luar jendela, menatap semua bintang yang bertebaran di langit malam sambil berayun pelan.
"Icha." Ulang Rey saat Lisa tak menjawab.
"Hm."
"Kamu nggak papa?" Tanya Rey khawatir.
"Nggak papa."
Lisa terlihat sangat lesu dan tak bergairah. Matanya terlihat bengkak akibat kebanyakan menangis belakangan ini.
Rey tak tega melihat keadaan Lisa seperti ini. Tentu ini akan sangat mengganggu mental nya. Rey merangkul Lisa kemudian menuntun nya agar Lisa menyandarkan kepalanya di bahu Rey. "Kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Itu semua nggak ada gunanya. Apapun yang terjadi kita nggak boleh putus asa dan harus tetap menjalani hidup."
Lisa hanya diam mendengarkan. Ia tak berniat sama sekali untuk menjawab.
"Icha, kamu jangan kayak gini. Aku sedih liatnya. Kamu nggak bakal sendiri kok, kan masih ada aku. Aku janji aku akan selalu ada di samping kamu." Sambung Rey.
Lisa mendongak melihat Rey, kemudian tersenyum paksa. "Makasih Rey, aku percaya sama kamu."
"Yaudah sekarang tidur yah, pasti kamu capek."
"Ntar aja."
"Sekarang, kamu kan masih butuh istirahat."
"Hm yaudah." Lisa terdiam sejenak. "Yaudah gendong." Pinta Lisa yang manja.
Rey menghela napas sejenak kemudian berdiri. "Yaudah naik sini!" Pinta Rey sambil menepuk pundaknya.
Lisa dengan sigap langsung melompat naik keatas punggung lebar milik suami nya. Tangan nya ia kalungkan di leher Rey. Rey berjalan pelan ke arah kasur dan menurunkan Lisa di atas nya.
Dengan telaten Rey memperbaiki bantal yang akan Lisa pakai, kemudian menutup seluruh tubuh Lisa dengan selimut.
"Sekarang tidur..." Ujar Rey sembari mengusap kepala Lisa.
"Jangan pergi!" Lisa menggenggam tangan Rey, "Lampunya jangan dimatiin!" Sambung nya.
"Iya, nggak kok." Rey ikut naik ke atas kasur lalu duduk di samping Lisa, ia bersandar di sandaran kasur dengan tangan yang terus saja di genggam oleh Lisa.
.
.
.
Cahaya sang surya menerobos masuk melalui jendela kamar, menyinari seisi ruangan yang ada. Membuat seseorang yang ada di atas kasur mengerjapkan matanya karena terkena silaunya.
Perlahan Rey membuka matanya, ia menoleh ke samping nya. Dimana Lisa?
Mata Rey terpaku pada seseorang yang berayun pelan di balkon. Terlihat pandangan wanita itu menerobos membelah langit yang cerah. Namun, sangat jelas guratan kesedihan dari dalam dirinya.
Rey menghela napas berat melihat keadaan Lisa yang tak berubah, masih sama seperti kemarin. Tak ada keceriaan seperti hari-hari biasanya, wanita itu hanya dibalut dengan kesedihan yang sepertinya sangat mendalam.
"Icha." Panggil Rey.
"Hm." Jawab Lisa tanpa menoleh.
"Ngapain?"
"Nggak ada."
"Udah mandi?"
"Udah."
"Makan?"
"Nanti aja."
"Kok gitu?" Rey berjalan pelan menghampiri.
"Nggak papa."
"Yaudah sekarang kita makan. Yuk." Ajak Rey.
"Nanti aja Rey."
"Icha. Kamu jangan kayak gini lah. Nggak buat kesehatan kamu. Sekarang apa yang harus aku lakuin supaya kamu nggak sedih lagi?" Tanya Rey dengan nada sedih.
"Nggak ada Rey. Kamu nggak usah ngelakuin apapun. Aku nggak papa kok, aku cuma butuh waktu untuk bisa nerima semua ini."
"Yaudah sekarang kamu mau makan apa? Biar aku beliin." Tawar Rey.
"Nggak ada."
"Ya Allah, Cha. Ayolah. Atau kamu mau buah? Buah semangka mau nggak? Kamu kan suka itu."
Lisa menggeleng memberi jawaban.
"Oh iya kamu kan suka cokelat, aku beliin yah?"
"Nggak mau Rey."
Rey terdiam berpikir, ia bingung harus bagaimana mana lagi. Ia tak cukup berpengalaman untuk mengubah mood wanita.
Lisa menoleh pada Rey yang berjalan ke arah kamar mandi. "Kemana?"
"Ntar juga tau. Udah sana ganti baju, aku mau mandi dulu!" Sahut Rey lalu menutup pintu kamar mandi.
.
.
.
Di Perjalanan...
"Mau kemana?" Tanya Lisa bingung.
Rey tersenyum sekilas. "Jalan-jalan."
"Kemana?"
"Ntar juga tau."
Lisa tak ingin bertanya banyak, ia hanya mengikuti kemana arah tujuan Rey. Lisa menyandarkan kepalanya, matanya memandang ke arah luar dengan tatapan kosong. Melihat berbagai kendaraan yang lalu lalang dan beberapa pohon yang sempat mereka lewati..
Mobil berhenti di parkiran depan sebuah Mall. Lisa mengerutkan dahi nya bingung. "Kenapa ke Mall?" Tanya Lisa sambil menoleh pada Rey.
"Ayo masuk." Ajak Rey sambil turun dari mobil, diikuti oleh Lisa. "Ayo." Rey menggandeng tangan Lisa masuk kedalam Mall itu, yang ditarik pun hanya diam dan menurut saja.
Rey membawa Lisa ke zona game. "Mau main?" Tanya Rey.
Lisa menatap semua game arcade yang ada di depan nya. "Nggak."
"Coba dulu."
"Nggak mau." Jawab Lisa dengan lesu.
Rey langsung menarik tangan Lisa menuju sebuah game. "Kita battle, kalo kamu yang menang abis ini kita pulang."
"Hm terserah."
Setelah mengisi game card, mereka mulai battle.
You Win...
You Lose...
"Ah, hampir aja." Geram Lisa saat melihat skor nya dengan Rey beda tipis.
Rey tersenyum tipis, "Masih mau main?"
"Oke, siapa takut. Setelah aku menang, kita pulang."
"Oke..."
Entah sudah berapa ronde yang mereka mainkan, namun Lisa belum pernah menang sekalipun. Hal itu tentu saja membuatnya kesal dicampur geram melihat Rey yang terus saja menang.
"Gimana? Nyerah?" Tanya Rey memprovokasi.
"Nggak mungkin. Kita main lagi, aku bakal ngalahin kamu." Ucap Lisa dengan percaya diri nya.
Rey hanya tersenyum simpul menanggapinya. "Oke..."
Sekali lagi mereka bermain, dan pada akhirnya Rey kalah dan Lisa unggul satu poin dari Rey.
"Yeeeii... Aku menang... Yuhhuii... Aku menang hoii... Aku pemenangnya..." Sahut Lisa yang kegirangan. Ia melompat-lompat seperti anak kecil.
"Its okay, ini cuma satu game. Ada puluhan game disini dan kamu cuma ngalahin satu dari semuanya." Ucap Rey disengaja untuk memprovokasi Lisa.
"Wah parah, nantangin yah?! Ayo battle, kita mainin semua yang ada disini! Kita liat siapa pemenang yang sebenarnya!" Sahut Lisa.
Rey tersenyum meremehkan. "Siapa takut?!"
"Liat aja, kamu nggak akan mungkin bisa ngalahin aku. Aku udah pro kalo gini mah, daripada malu mending kamu nyerah aja deh. Kasian aku liatnya." Lisa tersenyum sinis.
"Why? Aku mau main kok. Aku nggak bakal pernah nyerah."
"Oke, kita buktiin." Tantang Lisa.
Mereka bermain di sana sampai benar-benar puas. Rey memilih mengalah agar Lisa senang, walau sesekali Rey menang karena bosan kalah, dab pada akhirnya mereka berdebat sampai benar-benar puas juga.
"Udah yuk, udah lama kita disini, sekalian tukar tiket nya. Udah banyak banget nih..." Ujar Rey yang mulai lelah.
"Eits nggak bisa. Kita harus tetap main, aku harus buktiin kalo aku pemenangnya." Ucap Lisa dengan semangat yang menggelora untuk mengalahkan Rey.
"Iya deh, kamu menang."
"Bener nih? Kamu ngaku?"
"Iya, aku kalah dan kamu menang..." Ujar Rey pasrah.
"Yeiii akhirnya... Aku juga bilang apa, aku ini seorang pemenang dan nggak bakal ada yang pernah bisa ngalahin aku, termasuk kamu." Sahut Lisa berbangga diri. "Yaudah yuk tukerin tiketnya!" Ajak Lisa dengan santai setelah mendengar pengakuan kekalahan dari Rey.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!