Love In Many Ways

Love In Many Ways
Suprise



"Bener nih? Kamu ngaku?"


"Iya, aku kalah dan kamu menang..." Ujar Rey pasrah.


"Yeiii akhirnya... Aku juga bilang apa, aku ini seorang pemenang dan nggak bakal ada yang pernah bisa ngalahin aku, termasuk kamu." Sahut Lisa berbangga diri. "Yaudah yuk tukerin tiketnya!" Ajak Lisa dengan santai setelah mendengar pengakuan kekalahan dari Rey.


Lisa berjalan santai ke arah Counter Game, diikuti oleh Rey di belakang yang menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri nya.


"Kak, tukerin tiket ini!"


"Iya kak, tunggu sebentar yah kami hitung dulu jumlah tiketnya."


Mereka berdua menukarkan tiket hadiah dari game yang mereka mainkan, entah berapa yang mereka habiskan untuk isi ulang saldo kartu. Tapi bagi Rey itu sepadan jika bisa membuat Lisa tersenyum.


"Sudah kak, mau ditukarkan dengan hadiah yang mana?"


Rey tampak berpikir, matanya tak sengaja melihat sebuah boneka Bear dengan ukuran jumbo. "Coba boneka itu!" Tunjuk Rey.


"Ini, silahkan dilihat dulu."


"Wah, besar banget Rey!" Sahut Lisa kagum sambil menyentuh boneka jumbo itu. Bahkan ukuran boneka itu terlihat lebih besar dibanding dengan tubuh Lisa yang mungil.


"Kamu suka?" Tanya Rey.


Lisa mengangguk cepat, "Suka, suka banget."


"Yaudah saya ambil ini aja. Makasih yah..." Ujar Rey sambil mengangkat boneka tersebut.


"Sama-sama, Mas. Oh iya ada bonus nya."


"Ini!" Sambung mbak tersebut sambil memberikan boneka ukuran sedang.


"Makasih, mbak." Ujar Lisa sambil tersenyum.


"Nih buat kamu..." Ucap Rey sambil memberikan boneka bear tersebut pada Lisa.


"Wah makasih Rey." Sahut Lisa girang sembari memeluk boneka itu dengan senang.


Cup!


Lisa mengecup singkat pipi Rey. Tentu saja itu membuat Rey terkejut. Ini untuk kedua kalinya, dan keduanya tiba-tiba. Lisa tak memberikan aba-aba sehingga Rey tak sempat mempersiapkan jantungnya. Lihat saja ekspresi nya, Rey terpaku tak bergerak. Jantung nya dag-dig-dug serrr serasa akan melompat keluar.


"Emang ada jantung yang bisa keluar Rey? Nggak waras kali yah." Tanya Author.


"Apaan sih, Thor. Kan yang nulis cerita nya kamu. Kenapa aku yang jadi korban?"


"Berani ngelawan Author?"


"Nggak deh, bisa di kick aku dari cerita. Author kan selalu benar." Ujar Rey pasrah.


Udah-udah lanjut aja cerita nya...


Lisa bingung melihat Rey yang terpaku tak bergerak. "Rey?"


"Ha? Ekhem. Iya kenapa?" Tanya Rey yang baru saja tersadar, ia pura-pura terlihat biasa saja, padahal mah jantung nya udah meronta-ronta di dalam.


"Kamu kenapa bengong?" Tanya Lisa sambil menautkan kedua alisnya. Ia menatap Rey yang terlihat salah tingkah.


"Ah nggak. Nggak papa." Jawab Rey berusaha menghindari tatapan dari Lisa.


"Hmmm... Kalo yang satu itu buat siapa?" Tanya Lisa sambil menunjuk sebuah boneka tadi yang ada ditangan Rey.


"Kamu mau ambil itu?" Tanya Lisa polos.


"Eh nggak. Ngapain aku mainin boneka." Sanggah Rey.


"Trus? Oh buat selingkuhan kamu yah?" Tuduh Lisa dengan tatapan geram.


"Nggak. Ngomongnya aneh banget. Ya ini punya kamu lah."


"Tapi kan aku udah punya nih." Ujar Lisa sambil memperlihatkan boneka yang di peluknya.


"Ya nggak papa."


"Yaudah yuk." Ajak Rey sambil menarik tangan Lisa.


"Kemana lagi?"


"Udah ikut aja!"


Rey menarik tangan Lisa untuk pergi kesuatu tempat, kalo Lisa sih pasrah aja.


"Kita mau turun?" Tanya Lisa saat mereka sampai di depan eskalator.


Rey menangguk membenarkan. "Yuk."


"Eh bentar." Cegah Lisa. "Kamu pegang nih boneka, aku takut jatuh kalo aku yang pegang." Ucap Lisa sambil menyerahkan boneka tersebut.


Petugas itu mengangguk setuju kemudian ia lebih dulu turun kebawah.


"Loh Rey, boneka nya diambil Rey. Dua-duanya lagi." Panik Lisa.


"Udah nggak papa. Aku yang nyuruh kok."


"Hm, yaudah."


Wajah Lisa terlihat lebih ceria hari ini, mungkin saja dia udah agak lupa dengan masalahnya. Hah, syukurlah. Saat menaiki eskalator, Rey dengan segera mungkin mengambil hp nya kemudian mengarahkan kameranya pada Lisa.


Cekrek...



Rey tersenyum melihat hasil foto yang baru saja ia ambil. Terlihat sangat imut dan menggemaskan.


Lisa yang menyadari nya langsung berbalik pada Rey dan bertanya, "Apaan tuh?"


Dengan segera Rey langsung memasukkan kembali hp nya ke dalam sakunya, "Nggak ada."


Lisa menyipitkan matanya tak percaya. "Masa?"


Rey tak menjawab. Ia hanya terlihat tak peduli dan pura-pura tak mendengar nya, reaksinya itu tentu membuat Lisa berdecak kesal.


"Makasih ya, Pak." Ucap Rey lalu mengambil krmbali kedua boneka yang ia titipkan tadi.


"Sama-sama."


"Yuk." Ajak Rey, Lisa yang tak tau kemana arah tujuan Rey hanya mengekor saja.


Rey membawa Lisa ke sebuah kedai yang ada di Food Court Mall. Ia menarik sebuah kursi untuk Lisa duduk. "Silahkan Tuan Puteri!" Pinta Rey dengan sopan membuat Lisa tersenyum malu.


"Ih apasih Rey!"


"Kamu tunggu sini, aku pergi bentar."


Lisa dengan sigap langsung menangkap tangan Rey, "Kemana?" Tanya Lisa.


"Cuma sebentar kok."


"Jangan pergi, Rey. Aku takut. Kamu jangan ninggalin aku Rey." Lisa semakin menggenggam kuat tangan Rey.


"Nggak kok. Aku cuma sebentar doang. Nggak lama."


"Aku takut sendiri Rey. Gimana kalo aku diculik lagi, trus di siksa lagi, trus dimutilasi, trus-..." Kalimat Lisa terpotong oleh Rey.


"Nggak lama kok. Kamu tenang yah, aku cuma sebentar kok. Aku janji!" Ucap Rey sambil mengusap kepala Lisa pelan.


Mata Lisa sudah berkaca-kaca, jujur saja dia masih trauma dengan tragedi kemaren. "Bener yah?"


"Iya sayang." Jawab Rey mesra. "Eh kok malah nangis. Jangan nangis yah, aku janji nggak lama." Rey segera mengusap setetes air mata yang berhasil lolos dari pelupuk mata Lisa.


"Bentar yah."


Lisa hanya mengangguk sambil mengusap pipinya dan menatap kepergian Rey dengan pasrah.


Rey pergi ke salah satu kedai dan kembali dengan mangkuk besar ditangan nya. "Nih makan, habisin semuanya...!" Ucap Rey sambil meletakkan mangkuk besar itu di atas meja di depan Lisa.


Lisa terkejut bukan main, sumpah besar banget. "Ha? Ini eskrim? Cokelat? Buat aku?" Tanya Lisa takjub. Ini pertama kalinya Lisa melihat eskrim ukuran raksasa seperti ini.


"Iya, ini buat kamu. Habisin aja, kamu kan suka cokelat. Eskrim ini ada cokelat nya kan."


Semangkuk besar eskrim cokelat vanila dengan taburan dan topping oreo sudah ada didepan mata. Lisa yang sangat suka dengan cokelat pun sangat kegirangan melihatnya. Rey memang sengaja memesan eskrim khusus untuk Lisa agar ia bisa melihat wajah ceria dan senyum mengembang Lisa seperti saat ini.


"Ayo dimakan! Katanya suka cokelat." Pinta Rey.


"Yuk bantu makan!" Ajak Lisa.


"Kamu aja yang makan. Kalo bisa habisin sampe puas."


Lisa terbelalak mendengar penuturan Rey. "Kamu pikir aku bisa habisin ini semua? Badan sekecil ini mana muat buat menampung sebanyak ini."


"Ya siapa tau, lagian kamu jarang makan sih, maka nya badan kamu kayak kurang gizi gitu." Ledek Rey.


"APA?!" Sahut Lisa tak terima.


"Udah-udah, aku cuma bercanda kok. Yaudah ayo makan, aku bantuin deh."


"Mulai ngeselin yah." Gumam Lisa kesal.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!