
Putra dan Felice dengan setia menunggu di depan ruang operasi. 4 jam telah berlalu, namun belum ada tanda-tanda bahwa proses operasi Mommy akan berakhir. Putra yang saat ini sedang dalam perasaan kacau menyandarkan bahunya pada sang istri, keringat terus saja menetes tiada hentinya. Tiada hentinya ia berdoa agar proses operasi berjalan lancar, berharap Mommy bisa segera selamat. Sedangkan Felice sibuk mengibas-ngibaskan tangan nya di depan wajah Putra agar Putra lebih tenang.
Cklek!
Pintu ruang operasi terbuka, Putra dan Felice langsung berdiri dan melihat dokter keluar dari ruangan.
"Bagaimana operasi nya, Dok? Lancarkan?" Tanya Putra dengan wajah penuh harap.
"Keadaan Mommy bagaimana, Dokter? Apa dia akan segera tersadar?" Tanya Felice.
Dokter hanya terdiam tak menjawab apapun, guratan wajahnya terlihat seperti sedih dan kecewa. Dan yah, ia tak berani memandang kedua wajah yang sedang menatanya dengan penuh harap.
"Dokter? Mommy baik-baik aja kan?" Tanya Felice yang mulai khawatir.
"Pasti Mommy baik-baik aja, iyakan Dokter?" Tanya Putra lagi sambil tersenyum.
Dokter terlihat menggelengkan kepalanya kekiri dan kekanan dengan pelan. "Maafkan saya." Lirih nya. "Saya sudah berusaha sebaik mungkin. akan tetapi Tuhan berkehendak lain."
Mendengar penuturan Dokter, ekspresi wajah Putra terlihat berubah menjadi kaget. "Maksud Dokter apa?"
"Bu Marissa tak tertolong." Ucap Dokter sembari menundukkan kepalanya sedih, seolah ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Putra.
Putra menggeleng, "Nggak! Nggak mungkin! MOMMY!" Teriak Putra.
Terlihat Mommy di bawa keluar ruangan oleh beberapa petugas, seluruh tubuhnya sudah di balut oleh kain berwarna putih, seluruh wajahnya terlihat sangat pucat.
"MOMMY!" Teriak Putra sembari memeluk Mommy yang sudah terbujur kaku, tak bernyawa.
"Putra..." Felice berusaha menenangkan Putra yang sudah tak bisa membendung air matanya. "Putra, kamu harus tabah. Biarkan mereka membawa Mommy ke rumah terlebih dahulu."
"Mommy, Mommy nggak mungkin pergi. Nggak!" Sahut Putra. "AKHHH..." Putra memukul tembok yang ada disampingnya dengan keras.
"Putra, hei! Jangan sakiti dirimu!" Felice langsunv memeluk Putra dengan air mata yang ikut berurai. "Kamu yang sabar, yah."
"Mommy nggak mungkin pergi, nggak mungkin." Seru Putra dengan matanya yang sudah memerah.
"Udah kamu tenang dulu." Felice mendudukkan Putra di kursi kembali. "Kita harus berusaha tegar melepas kepergian Mommy. Mungkin ini udah jalan nya yang di atas." Ujar Felice.
"Tapi aku harus bilang apa sama Lisa? Aku nggak mungkin tega liat dia sedih lagi, ini untuk yang kedua kalinya. Apalagi luka saat Daddy pergi dulu belum pulih."
Felice menghela napas kemudian membekap Putra, memeluknya. "Aku ngerti perasaan kamu. Kamu harus kuat yah, suami ku pasti bisa ngelewati semua cobaan ini. Ini semua udah jadi takdir." Felice berusaha untuk tegar dan menguatkan Putra.
"Untuk Lisa, cepat atau lambat dia pasti akan tau juga. Mau tak mau kita harus memberitahu nya." Sambung Felice.
"Tapi aku nggak mungkin sanggup memberitahunya, kamu bisakan menolong ku?"
"Tentu. Kalo gitu hapus dulu air matanya. Kamu jangan kayak gini, aku jadi ikutan sedih." Felice menatap wajah Putra yang merah padam lalu mengusap pipi Putra yang basah. "Tenang, kita keruangan Lisa sekarang. Ayo." Felice menuntun Putra untuk segera menghampiri adiknya.
"Assalamualaikum." Sapa Felice sambil membuka pintu ruangan dengan pelan.
Lisa dan Rey yang ada diruangan langsung menoleh dan menjawab, "Waalaikumsalam."
"Kak Felice." Sapa Lisa.
"Hai." Felice berjalan mendekati ranjang milik Lisa. Lalu memeluk Lisa dengan erat.
"Lisa kangen banget sama kakak." Ucap Lisa sembari menunjukkan wajah senangnya.
"Fadil udah pulang, katanya mau mandi dulu, abis itu kesini lagi." Jawab Lisa.
"Kak Putra mana, kak?" Tanya Rey.
"Putra... eeemmm... Putra masih ada diluar, nanti dia nyusul katanya." Jawab Felice.
"Oh, kalo Mommy? Eh iya keadaan Mommy sekarang gimana kak? Dia baik-baik ajakan? Astaga kemarin kan Mommy kena tembakan, sekarang Mommy dimana kak?" Tanya Lisa yang baru mengingat akan kejadian yang menimpa Mommy nya kemarin. Nahkan, mulai panik tuh anak. Liat aja ekspresi wajahnya saat bertanya pada Felice, menunjukkan guratan khawatir.
"Ha? I-itu... Itu... Mom-mommy..." Felice mulai gugup. Ia bingung harus mulai darimana memberitahukannya.
"Mommy mana kak?" Tanya Lisa tak sabar.
"Kak Felice abis nangis yah? Kok matanya kayak merah gitu?" Tanya Rey.
Refleks Felice langsung mengusap matanya, mulutnya masih kaku, masih bingung harus menjawab apa.
"Kak Felice, Mommy mana? Mommy nggak papa Kan?" Tanya Lisa lagi.
"Kamu harus kuat yah, Dek..." Felice tak mampu melanjutkan ucapannya.
"Ma-maksud kakak?" Tanya Lisa bingung.
"Mommy...Mommy udah nggak ada." Akhirnya kalimat yang sangat sulit untuk diucapkan itu akhirnya keluar juga. Diiringi oleh setetes air mata Felice yang ikut menetes.
"HA?" Sahut Lisa kaget. Begitupun dengan Rey yang sama kagetnya. "Ng-nggak nggak mungkin. Mommy pasti baik-baik aja, kak Felice pasti cuma bercanda." Lisa menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Maafin aku, Dek. Tapi aku serius. Mommy sempat dioperasi sekitar 4 jam, tetapi nyawa Mommy benar-benar tidak tertolong." Ucap Felice tanpa melihat ke arah Lisa. Ia juga tak akan sanggup melihat ekspresi adik iparnya.
"Nggak, Lisa nggak percaya. Mommy pasti baik-baik aja, Mommy nggak mungkin pergi ninggalin Lisa. NGGAK!" Sahut Lisa dengan nada suara yang semakin meninggi. Matanya sudah terlihat berkaca-kaca, siap untuk menjatuhkan kristal bening dari pelupuk matanya, namun ia masih berusaha menahannya.
"Aku harus temuin Mommy!" Lisa berusaha membuka selang infus yang ada ditangan nya.
"Eh jangan, Cha!" Cegah Rey.
Namun Lisa sudah berhasil membuka nya dan siap untuk segera menghampiri Mommy nya. "Aku harus liat keadaannya Mommy sekarang, aku nggak percaya sama kak Felice. Aku yakin Mommy pasti baik-baik aja." Lisa turun dari ranjang.
Baru saja kaki nya melangkah, tangan Rey langsung menghentikan langkah selanjutnya. "Kamu kan masih sakit, kamu disini dulu. Nanti kita temuin Mommy bareng." Cegah Rey.
"Nggak Rey. Aku nggak mau! Aku harus pastiin keadaannya Mommy sekarang. Aku khawatir sama Mommy, aku udah nggak punya waktu!" Seru Lisa.
Sementara itu, Putra yang sedari tadi berdiri di depan pintu ruangan mendengar semua percakapan di dalam ruangan. Sedari tadi ia berusaha untuk tenang agar Lisa juga tidak terlalu sedih saat mendengar beritanya, akan tetapi tetap saja tidak bisa. Apalagi saat mendengar teriakan adik kecilnya. Itu sangat terasa di dalam hatinya, bagaikan pukulan yang bertubi-tubi yang menimpanya, begitu sakit saat mendengarnya.
Putra sudah tidak tahan lagi, ia tanpa pikir panjang langsung saja membuka pintu ruangan Lisa dan dengan cepat memeluk adik nya yang masih berdiri dengan tangan yang digenggam oleh Rey.
"Kamu yang kuat, Dek..." Lirih Putra sambil mendekap adiknya.
"Kak Putra kenapa? Maksud kak Putra apa?" Tanya Lisa heran.
"Mommy... Mommy udah ninggalin kita..." Ucap Putra dengan air mata yang terus berurai.
Sekuat apapun lelaki, sejarang apapun dia meneteskan air mata, pasti ada saatnya ia mencapai titik terendahnya dimana ia sudah tak sanggup dan jalan satu-satunya adalah menangis, maka ia akan melakukan nya.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!