
Plakkk..
Mamanya Dinda membalas tamparan Kumala atas putrinya, "Atas dasar apa kamu berani menampar anak saya? Seburuk-buruknya putri saya, dia tidak mur*han dan tidak merebut suami orang seperti kamu! Lantas kenapa kamu tampar putri saya?!" bentak Mama Dinda yang berdiri didepan Dinda untuk melindungi anak kesayangannya itu.
"Ahh..." keluh Kumala sambil memegangi pipinya yang tertampar. "Bukan saya yang mur*han, tapi suami kamu yang memaksa saya untuk melakukan hal itu, maka dari itu salahkan saja suami kamu itu!" bantah Kumala.
"Wanita dilahirkan dengan otak! Meski pria memaksa, wanita bisa menolak atau justru pergi bagaimanapun caranya! Dan kamu malah memilih menerimanya, kamu bodoh! Dasar perebut suami orang!" ucap Mamanya Dinda dengan nada yang kian meninggi.
Mama Dinda selangkah maju dan terus maju hingga membuat Kumala mundur selangkah demi selangkah. Ia tak lagi bisa menahan kesabarannya, ia menjambak rambut Kumala kuat-kuat kebelakang. "Dasar kamu wanita matre! Wanita m*rahan! Dasar wanita nggak punya harga diri! Kamu j*lang, mati saja kamu!"
Dinda memegangi kepalanya yang sakit karena terjambak, Dinda yang panik langsung memanggil satpam.
"Pak! Tolong pak! Ma udah ma, biarin!" Dinda berusaha menengahi pertengkaran ini, namun ia malah terpental kebelakang dan tangannya mengenai pecahan mangkuk.
"Aw..." Dinda meringis menahan sakit dan perih.
Sesegera mungkin satpam datang dan melerai Mama Dinda dengan Kumala. Satpam langsung menyeret Kumala keluar secara paksa.
"Dasar! Tunggu saja! Kamu bakal kehilangan suami kamu, karena calon anak kami sudah berusia 7 bulan, dan kamu nggak bisa hentikan pernikahan kami! Lihat saja!" teriak Kumala yang berusaha memberontak.
Satpam terus menyeret keluar Kuma. di luar, Kumala langsung berjalan dengan kasar pergi meninggalkan rumah mewah itu.
Sementara Mamanya Dinda langsung lemas begitu mendengar kata-kata '7 Bulan'.
"7 bulan? Serapi itu papa nyembunyiin semuanya? J-jadi..."
Bruk...
Mamanya Dinda langsung jatuh pingsan diatas lantai. Dinda langsung panik melihat mamanya tergeletak lemas seperti itu.
"Pak! Pak satpam! Tolong cepat bantu saya! Bawa mama ke mobil saya cepat!" teriak Dinda spontan.
Pak sopir menawarkan untuk mengantar ke rumah sakit, Dinda menolak dan memilih menyetir sendiri mobil sportnya agar lebih cepat.
"Ma... Mama tolong bertahan ma, jangan kenapa-kenapa! Dinda nggak sanggup hidup lagi kalo mama kenapa-napa!" gumam Dinda sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dinda melihat ke arah kaca spionnya, polisi tampak mengikuti Dinda karena cara menyetir Dinda yang dianggap ugal-ugalan. Dinda tetap tak perduli dan terus melaju menuju rumah sakit.
***
Di Rumah Sakit
Begitu Dinda turun dari mobil, beberapa polisi menghampirinya. "Selamat siang mbak, mbak tau nggak apa kesalahannya?" tanya seorang polisi.
"Nanti aja yah pak! Daripada banyak omong, bantu mama saya pak tolong! Mama saya lagi sakit!" bantah Dinda panik.
Beberapa polisi pun langsung membantu membawa Mama Dinda ke IGD agar segera ditangani, begitu selesai, polisi masih menanyakan kartu identitas Dinda.
"Mohon maaf mbak, walau tadi adalah situasi genting, tapi mengebut di jalan raya adalah tindakan yang salah. Boleh saya melihat kartu identitas dan SIM mbaknya?"
Tangan Dinda terasa perih karena terluka, ia merogoh sakunya dan lupa tak membawa dompet apalagi uang karena buru-buru.
"Maaf pak saya nggak bawa, ketinggalan di rumah. Hp aja saya nggak bawa pak! Mohon maaf ya pak, ya..." bujuk Dinda yang sedikit panik karena tak bawa apapun.
Dinda berusaha berdiskusi dengan para polisi, di sisi lain ada Lisa dan Rey yang sedang berjalan santai keluar dari dalam rumah sakit.
Rey pun mengikuti arah tunjukkan Lisa, "Hah? Udahlah biarin, males sama dia. Biarin aja, tiap orang punya urusan masing-masing."
"Coba kita samperin, siapa tau dia ada masalah kan?" tanya Lisa.
"Icha, Icha... Dia itu udah jahat banget sama kamu, kenapa sih kamu masih baik banget jadi orang?!" tanya Rey yang heran.
"Sebagai manusia kan cuma bisa belajar dari kesalahan dan maafin kesalahan orang, tapi aku nggak akan ngelupain rasa kekecewaan buat Dinda. Apa salahnya kita bantuin kalo emang ada masalah? Balas dendam terbaik itu, kita buktiin kalo kita lebih baik dari dia sayang..." jawab Lisa dengan santai.
Rey langsung memeluk istrinya gemas karena kata-kata Lisa yang begitu bijak, "Mmm nggak salah ayah bunda milihin istri, dewasa banget pikirannya" Ucap Rey dengan gemas.
Cupp...
Ciuman singkat mendarat di pipi Rey, "Udah yuk ke sana!" ajak Lisa sambil tersenyum manis.
Mata Rey membelalak, "Astagfirullah ya Allah, jantung nggak aman! Ayo balik ke poli jantung!" gurau Rey.
Lisa memukul pelan pundak Rey, "Ih serius napa sayang! Ayo kesana dulu, kalo bercanda mulu, sini di antar ayo!" ajak Lisa menggenggam tangan Rey.
"Ayo!"
"Ke kamar mayat! Mau?"
"L-lah, jangan! Udah ayo kesana ya sayang, jangan marah-marah gitu ahh. Udah yaaa..." bujuk Rey yang sedikit merinding ketika mendengar kata kamar mayat.
Lisa memutar bola matanya jengah, "Udah ayo kesana buruan! Jan main-main aja!" kesal Lisa. Ia cukup risih dengan tingkah Rey. Ia menarik tangan Rey untuk menghampirinya Dinda.
"Selamat sore pak, permisi kalau boleh tau, ini ada apa ya?" tanya Rey dengan sopan.
"Selamat sore mas, jadi mbak ini melanggar peraturan lalu lintas untuk mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dijalan raya, juga beberapa kali menerobos lampu lalu lintas." Polisi itu menjelaskan, Dinda sudah tampil pucat pasi karenanya.
Mata Lisa fokus pada darah yang menetes dari tangan Dinda. Lisa sedikit mendekat pada Rey dan berbisik, "Kamu bisa urus polisi ini? Kayaknya Dinda kewalahan, biar aku yang tanganin dia!"
"Tapi kan..."
Lisa mengode Rey dengan beberapa tatapan hingga akhirnya Rey mengalah. Rey mengajak rundingan para polisi itu, sementara Lisa menatap Dinda dari atas sampai bawah.
"Lo ngapain kesini? Ada masalah apa? Dan kenapa penampilan lo kacau kayak gini?" tanya Lisa yang masih menatap Dinda dari atas sampai bawah.
"Bukan urusan lo!" bentak Dinda. Ia hendak berbalik dan pergi, namun tangan Lisa cepat menahannya dan mengenai luka di telapak tangannya, "Aw..." Dinda meringis menahan sakit.
"Oh sorry sorry, ini kenapa? Kok bisa luka sih?" tanya Lisa khawatir.
Dinda segera menyembunyikan tangannya, "Ng-nggak papa, bukan urusan lo! Pergi sana, nggak usah ikut campur!" Dinda a tetap kekeuh menyuruh Lisa pergi.
Lisa memutar bola matanya jengah, "Lo jangan kepala batu kenapa sih! Gue ini niat mau bantuin lo!" tegas Lisa karena semakin kesal.
Selesai berunding dengan polisi, Rey menghampiri Lisa dan Dinda. Dengan tiba-tiba Rey menarik tangan Dinda dan melihat luka di tangan Dinda.
"Din, lo terluka? Ini kenapa? Parah loh ini" tanya Rey.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!