Love In Many Ways

Love In Many Ways
Suami nggak Berperasaan



"Lo nggak usah ikut campur urusan gue. Gue nggak habis pikir deh sama lo, kenapa sih lo g*tel banget dari dulu dulu belum juga tobat, udah tau Rey punya pacar masih aja nempel-nempel."


"Auuu sakiitt, lepaskan Lisss...," Dengan penuh drama Dinda mengeluarkan air mata palsunya agar Rey membelanya, apalagi kan sekarang Dinda menyadari kalau semua orang tengah memperhatikannya.


"Cha lepaskan Cha, ini bisa kita bicarain baik-baik." Pinta Rey.


"Cewek kayak dia emang harus di kasih pelajaran. Lo fitnah gue, gue bisa sabar yah, tapi kalo lo mau rebut Rey dari gue, gue nggak mungkin tinggal diam. Nih rasain nih." Lisa semakin menarik keras rambut Dinda.


"Sakit Lis, hiksss lepasin. Rey tolong, hiks..." Tangis Dinda.


"Icha udah Cha, kita bicarain baik-baik masalah Ini." Pinta Rey.


"Apa? Kamu mau bela dia? Iya gitu? Kamu emang nggak pernah mikirin perasaan aku!" Sewot Lisa.


"Hiks hiksss..." Dinda semakin drama dengan berusaha mengalirkan air matanya lebih banyak.


"LEPASIN ICHA!" Gertak Rey tanpa sadar.


Semua orang terkejut dengan teriakan Rey terutama Lisa.


Lisa terpaku dengan teriakan Rey, perlahan ia melepaskan genggaman tangannya dan menatap Rey dingin. "Jadi lo lebih milih dia?" Tanya Lisa pelan.


Rey yang baru saja tersadar langsung menggeleng dan menggenggam tangan Lisa, "Cha maafin aku, aku nggak ada maksud buat kasar. Aku cum-..."


"Cuma apa? Ha? Lo urusin aja tuh si cewek gat*l lo!" Lisa melepaskan genggaman tangan Rey dengan kasar kemudian berlari pergi tanpa menghiraukan panggilan Rey. Melihat hal itu membuat Dinda tersenyum miring.


Air matanya menetes satu persatu, ia begitu tak menyangka dengan sikap Rey barusan. Jelas-jelas ini semua salah Rey tapi kenapa harus Lisa yang digertak bahkan di depan banyak orang dan di saksikan oleh siswa siswi sekolah, seolah-olah ia memang tak diinginkan berada di sana. Lisa berlari keluar sekolah sembari menangis, tak menghiraukan tetesan air hujan yang sangat deras. Bahkan sampai di depan pagar sekolah pun air matanya tak henti menetes.


Dada nya terasa sesak, ia terus menangis tanpa menghiraukan seragam nya yang mulai basah. Ia berlari menyusuri pinggir jalanan dengan basah kuyup sembari menangis. Ia berlari sejauh mungkin.


"AKU BENCI...!!!"


"AKU BENCI KAMU REY... SUAMI NGGAK BERPERASAAN! TUKANG SELINGKUH! KASAR!"


"POKOKNYA AKU BENCI KAMU REY! Hiksss..." Teriaknya sekencang mungkin.


Namun, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya karena merasa pusing, kepalanya terasa sakit, pandangan nya mulai kabur, ia tak tau apa yang terjadi dengan dirinya. Ia jatuh tersungkur di pinggir jalan dengan pandangan nya yang gelap.


.


.


.


"Rey! Lo gila yah!" Murka Al yang sedari tadi diam. "Lo bener-bener nggak pernah becus jagain Lisa!"


"Kamu diam aja Al!" Ucap Rey.


"Diam? Lo nyuruh gue diem setelah apa yang barusan terjadi? Lo nyadar nggak sih apa yang barusan lo lakuin?" Al semakin emosi saat mendengar ucapan Rey. Dia benar-benar nggak mengerti apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu.


"Al kamu nggak tau apa-apa."


"Oh jadi bener? Lo lebih milih dia daripada Lisa? Tau gitu lo nggak usah deket-deket sama Lisa, Lisa berhak sama yang lain yang lebih baik dari lo. Liatkan? Untuk kesekian kalinya lo buat dia nangis, otak lo dimana?"


Rey hanya bisa terdiam, karena memang yang diucapkan Al itu benar.


"Al udahlah, mending kita susulin Lisa." Kata Sarah menenangkan.


Dinda tersenyum kemudian memasang wajah kesakitannya kembali. Dengan memelas ia memegangi lengan Rey, "Rey, kepala ku sakit banget..."


Rey menghempas tangan Dinda kasar, "Maaf Din, itu bukan urusan aku. Aku kayak tadi itu bukan berarti aku perhatian sama kamu, tapi aku cuma nggak mau Lisa kena masalah lagi dari sekolah ini gara-gara kamu."


"Mending kita susul Lisa, takutnya Lisa kenapa-napa, diluar lagi hujan." Ucap Mira.


"Hujan?" Rey langsung panik dan berlari keluar. Ia khawatir dengan Lisa, ia takut Lisa akan lakuin kemungkinan disaat perasaannya sedang tak menentu.


Ia segera mengambil mobilnya di parkiran dan melajukannya.


Di jalan ia berusaha menelpon Lisa. "Cha... Angkat dong. Maafin akuuu..." Rey terus-terusan menelpon Lisa namun sekalipun tidak pernah diangkat dan tentu membuat Rey semakin cemas, apalagi dengan melihat keadaan hujan yang sangat deras. Entah kemana ia harus mencari.


...*****...


Perlahan-lahan Lisa membuka matanya, pandangannya buram namun ia tetap berusaha untuk melihat dimana ia berada. Ruangan serba putih, dengan jarum infus di tangan nya.


Apa? I-ini rumah sakit? Bukannya tadi...


Matanya terpaku pada seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi tak jauh dari tempatnya terbaring. Seragam nya sama dengan seragam sekolah yang dikenakan oleh Lisa.


Faro? Bagaimana bisa dia?


Faro yang tadinya sedang berusaha menelpon Fadil langsung menoleh. "Lisa, kamu nggak papa?" Tanya nya sembari berjalan mendekat.


"Nggak papa Ro, kepala ku cuma sedikit sakit." Ucap Lisa. "Kok aku bisa disini?"


Faro menghela nafas saat mengingat kejadian tadi, "Pas perjalanan pulang aku nemuin kamu di pinggir jalan, pingsan, takutnya kenapa-napa aku langsung bawa kesini." Jelas Faro.


"Pingsan?" Heran Lisa.


"Iya pingsan, mana lagi hujan tadi."


Lisa memijat mijat pelipisnya. Mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya.


"Sebenarnya ada apa?" Tanya Faro.


Lisa tak menjawab ia hanya terdiam.


Faro terkejut saat melihat setetes air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Lisa, "Loh Lis? Kamu kenapa? Ada apa?" Tanya Faro semakin bingung.


Lisa segera menghapus air matanya, "Eh nggak, nggak papa kok."


"Apa yang terjadi? Coba cerita sama aku." Pinta Faro.


"Nggak papa Ro, makasih yah kamu udah nolongin."


"Hm."


Faro tau pasti Lisa sedang punya masalah, tapi dia juga tak mau memaksanya untuk cerita. Akhirnya ia memilih untuk kembali menghubungi Fadil. Deringan kedua, telepon tersambung.


"Halo, kamu dimana?"


"....."


"Kemana aja? Dari tadi aku telpon nggak di angkat."


"....."


"Aku mau ngabarin, kalo Lisa masuk rumah sakit."


"....."


"Cerita nya panjang mending kamu kesini aja, ntar aku ceritain."


"....."


"Huftt..." Faro menghempas tubuhnya di atas kursi.


"Siapa Ro?" Tanya Lisa.


"Fadil."


"Hmmm... Maaf yah Ro selalu ngerepotin kamu." Ucap Lisa merasa bersalah.


Faro tersenyum, "Nggak papa Lis, kamu istirahat aja. Atau kamu mau makan?"


Lisa menggeleng, "Nanti aja."


Tok.. Tok.. Tok...


"Boleh masuk nggak?" Itu terdengar seperti suara Fadil dari luar ruangan.


Faro berjalan ke arah pintu dan membukanya, "Eh kak Putra, ayo masuk kak." Sapa Faro.


Putra dan Faro berjalan masuk meninggalkan Fadil yang ngedumel nggak jelas di depan pintu.


"Wah parah, aku nya nggak di sapa, bahkan di lirik pun nggak!" Cetus Fadil kesal.


"Ya Allah Budimannnnn." Putra langsung memeluk erat adiknya.


"Ini adik saya nggak kenapa-napa kan? Astagfirullah ya Allah dek badan kamu lemes bangettt." Terlihat jelas wajah kekhawatiran sang kakak.


Lisa tersenyum lemas, "Aku nggak papa kak, cuma agak pusing."


Bersambung....


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!