
"Ckckckck... Gak sabaran banget sih, tunggu aja bentar lagi giliran kamu kok." Ledek lelaki tersebut. "Gimana? Masih kurang?" Tanya nya pada Lisa. Namun Lisa tak menjawab apapun. Dia hanya menangis dan terus menangis
" Yaudah kalo gitu kita tambah lagi."
"Shhh... Hiks... Hiks..." Satu cambukan kembali mendarat di kulit mulus nya. Lisa terisak-isak menahan sakit dan perih di tubuhnya.
Hati Rey terasa teriris melihat dan mendengar rintihan nya. Terlebih lagi dia merutuki kebodohan nya karena tak bisa melakukan apapun dan tak bisa melindungi Lisa. Sebagai seorang suami dia merasa gagal menjaga istri kecilnya. Melihat Lisa seperti ini rasa lebih menyakitkan dibanding di cambuk sesering mungkin.
"HENTIKAN!" Teriak Rey. Ia masih meronta-ronta agar dirinya di lepaskan dari cengkeraman para lelaki tersebut. "Sudah hentikan, jangan sakiti dia lagi! Biar aku saja yang mengambil jatahnya." Sahut Rey.
Lelaki yang memegang cambuk tersebut menoleh pada Rey. "Owh, okeyy... Ckckckck bagus sekali." Ucap lelaki tersebut sambil mengangguk-ngangguk meremehkan. Lelaki tersebut berjalan dengan pelan, mendekati Rey yang terduduk lemas.
"Pak Bram?" Sahut Rey kaget saat lelaki yang memegang cambuk tadi membuka topeng nya tepat di depan Rey.
"Hahahaaa... Kenapa? Kaget? Kaciaaan..." Ledek Pak Bram.
"Pak Bram kenapa lakuin ini semua? Kami salah apa Pak?" Tanya Rey.
"Hahahaa..." Pak Bram tertawa terbahak-bahak. "BANYAK! Kalian berdua punya kesalahan yang begitu banyak, kalian memiliki banyak dosa kepada saya juga keluarga saya!" Sahut Pak Bram dengan tegas, nada suara nya menyeramkan.
Rey mengerutkan kening nya bingung, "Kesalahan? Kesalahan apa Pak?"
"DIAM! kamu jangan sok polos!" Bentak Pak Bram. "Sekarang giliran kamu yah, plus ambil jatah dari cewek j*lang ini." Pak Bram menunjukkan smirk nya.
Lisa menggeleng saat melihat Pak Bram mendekati Rey. "Jangan! Jangan, ku mohon jangan!" Sahut Lisa. Dia ingin menghampiri Rey tapi sepertinya tenaga nya sudah habis untuk itu.
Pak Bram tak peduli dengan sahutan Lisa. Dia mengayunkan cambuk nya dan kembali mengenai kulit Rey. Rey terlihat meringis menahan sakit di tubuhnya.
"REY!" Teriak Lisa saat melihat Rey kesakitan. "Sudah cukup! Jangan!" Sahut Lisa saat cambukan kedua kembali mendarat. Air mata Lisa terus mengalir saat melihat cambuk itu terus saja memukul tanpa henti. Entah sidah berapa kali cambuk itu mendarat pada Rey. Rey terlihat sangat lemas, seluruh tubuhnya memerah dan lebam-lebam.
"Papa!" Panggil seseorang dari arah pintu masuk.
Pak Bram menghentikan aktifitas cambuk nya dan menoleh ke arah pintu, begitupun dengan semua yang berada di dalam ruangan menoleh pada arah sumber suara. Dan betapa terkejut nya Rey terlebih lagi Lisa saat melihat seseorang tersebut adalah...
"Ghea?" Gumam Lisa. "Papa?" Lisa kembali bergumam. Jadi lelaki ini Papa nya Ghea? Tapi...
Ghea melangkahkan kaki nya masuk ke dalam ruangan, dia menghampiri Papa nya. "Papa, sudah cukup. Jangan lakukan itu!" Pinta Ghea.
"Sudah kamu diam saja. Biar kan Papa melakukan tugas Papa dengan tenang." Ucap Pak Bram lembut.
"Nggak Pa. Sudah cukup, jangan siksa Rey lagi!" Sahut Ghea.
Pak Bram berdecak, "Ck, kau liat br*ns*k. Meskipun kau sudah menyakiti anak ku dia tetap melindungi mu." Ucap nya pada Rey.
Isi kepala Rey berputar-putar memikirkan maksud dari Pak Bram. Menyakiti? Maksudnya apa? Kapan aku melakukan itu pada Ghea?
Yah, Rey tak pernah sadar akan rasa cinta Ghea padanya. Dia hanya menganggap Ghea sebagai saudaranya, karena dari kecil dia, Vhino dan Ghea sudah bersahabat. Jadi tak heran jika Rey mengenali Pak Bram, Papa nya Ghea. Sedangkan Ghea terus saja mengharapkan hal lebih dari Rey, meskipun sudah tau Rey sudah beristri.
"Tolong aku Ghea." Lirih Lisa.
"Ha? Apa?"
"Tolong aku..." Ulang Lisa.
"Hahahaa... Tolong? Membantu mu? Hahahaa... Lucu sekali..." Ledek Ghea sambil tertawa, nada suaranya jelas bahwa dia mengejek. "Kenapa aku harus menolong mu? Ha?!" Kali ini Ghea membentak.
"Karena kita sahabat." Ucap Lisa pelan.
"Sahabat? Oh tidak, aku nggak pernah menganggap kamu sahabat bahkan menganggap mu teman saja tidak. Asal kamu tau aja, aku membenci mu dari dulu."
Mendengar penuturan Ghea, air mata Lisa kembali menetes. "Aku salah apa sama kamu? Aku menyayangi mu seperti saudara ku sendiri, aku menganggap mu keluarga ku. Tapi kenapa kamu melakukan ini semua?"
Ghea menatap Lisa kesal. "Karena kamu telah merebut semua kebahagiaan aku. Termasuk merebut Rey!" Sentak Ghea.
Lisa maupun Rey sontak terkejut dan menatap Ghea bingung. Lisa dan Rey tak pernah menyangka kalimat tadi akan keluar dari mulut Ghea.
"Dari dulu aku udah suka sama Rey, bahkan sebelum kamu hadir di kehidupan nya. Tapi, aku tak ingin merusak persahabatan kami bertiga. Sampai akhirnya kamu hadir di kehidupan Rey dan menghancurkan semua harapan ku..."
"Hiks... Tapi aku nggak pernah bermaksud ngerebut kebahagian kamu... Aku sayang sama kamu, Ghea..." Lirih Lisa.
Ghea berjongkok di depan Lisa. "Sayang yah? Utututuhh... Aku juga sayang sama kamu kok..." Ghea mengelus-elus pipi Lisa dengan salah satu tangan nya dengan lembut.
Plakk...
Satu tamparan keras mengenai pipi Lisa. Saking keras nya terlihat sedikit lebam di pipi Lisa. "Tapi kamu udah MEREBUT KEBAHAGIAN AKU!" Bentak Ghea.
"GHEA!" Teriak Rey. Dia sangat terkejut dengan reaksi Ghea yang menampar Lisa tanpa aba-aba. Sedangkan Lisa hanya menangis tersedu-sedu sembari memegangi pipi nya. Lisa tak pernah menyangka dengan apa yang Ghea katakan dan lakukan sekarang. Jujur saja dia merasa di khianati. Dia sudah menyayangi Ghea seperti dia menyayangi Sarah dan Mira. Tapi apa sekarang? Ini semua terjadi begitu saja, ini semua terjadi di luar nalar.
"GHEA! JANGAN SAKITI LISA!" Bentak Rey penuh emosi. Dari tadi dia sudah menahan emosi nya saat mengetahui Pak Bram yang melakukan semua ini. Tapi Rey masih menaruh sikap sopan santun nya.
"Berani sekali kamu membentak anakku!" Sahut Pak Bram. Dia kembali mendaratkan cambuk nya pada tubuh Rey, sehingga Rey tak bisa berkutik lagi, dia hanya bisa menahan sakit dan perih. "Aku lelah. Kalian pukuli saja dia sepuas kalian dan jangan beri ampun tanpa aba-aba dari saya! Saya mau istirahat dulu!" Pinta Pak Bram lalu dia duduk bersandar di tembok, sambil menonton semua adegan ini. Ini yang paling dia sukai, menyaksikan manusia menderita. Ah suka sekali.
Semua lelaki bertopeng tersebut mengangguk mengerti dengan perintah Bos nya. Beberapa lelaki memegangi tubuh Rey dan lelaki lain terus-terusan memukuli Rey tanpa ampun.
Ghea menjambak rambut Lisa ke belakang dengan keras. "Kamu liat? LIAT? Selama ini Rey tak pernah bersikap kasar padaku. Tapi sekarang dia membentakku hanya karena cewek b*ngs*t kayak kamu. PUAS LO SEKARANG?!" Sahut Ghea dengan geram. Ingin rasanya dia segera membunuh kemudian mencincang dan mengoyak-oyak seluruh anggota Lisa saat ini. Tapi, dia sadar. Ini masih belum waktunya.
"Ssshh... Sa-sakit..." Rintih Lisa.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!