Love In Many Ways

Love In Many Ways
Lawan Gue!



Di Kelas


Lisa berjalan dengan anggun memasuki kelasnya, seisi kelas langsung heboh melihat Lisa yang terlihat berbeda.


"Ini Lisa kan?" tanya Sarah.


"Ini mata ku yang buta apa gimana? Kok Lisa beda banget, jadi cantik banget?"


"Hareudang-hareudang..."


Lisa duduk dengan anggun dimeja nya, ia membuka tasnya dan membaca buku catatannya lagi untuk mengulang materi.


"Wow... So seksihhh..." Sahut Vhino yang kebetulan juga berada di kelasnya Lisa.


"Impresif..."


Lisa menaruh bukunya dimeja, "Apa sih apa? Kenapa?"


Vhino berputar melihat Lisa dari samping, depan dan belakang. "Ini beneran Lisa kan? Terakhir kali kita ketemu, kamu kan masih kayak bocil gelandangan. Kenapa sekarang jadi eonnie-eonnie?"


"Apasih? Kenapa? Aku cantik yah?" Tanya Lisa dengan percaya diri. "Iya tau kok, udah yah kalian jangan gini, jangan di puji lagi. Biasa aja gitu liat aku. Nanti aku ke-pd an."


Ketiga temannya seolah-olah menyesal telah memuji Lisa yang terlihat sangat percaya diri.


"Eh si Faro mana?" Tanya Lisa tiba-tiba saat tak melihat Faro sedari tadi.


"Faro?"


Lisa mengangguk menanggapi ucapan Sarah barusan, "Iya Faro, biasanya kan kalo jam segini dia udah dateng."


"Faro pindah sekolah." Jawab Mira.


Lisa mengernyitkan dahinya bingung, "Pindah lagi? Kemana?"


"Nggak tau deh kemana, pokoknya tuh dia pindah 3 hari yang lalu."


Lisa manggut-manggut mengerti, "Pantesan nggak pernah liat dia lagi."


Sementara Al masih memperhatikan Lisa, ia masih tak percaya kalau Lisa tiba-tiba saja jadi seperti ini.


"Kamu nggak kesambet kan Lis?" Tanya Al memastikan.


"Dih... Enggak lah, kenapa?"


Al menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Enggak... Heran aja, ngerasa beda aja gitu. Lisa yang ini beneran beda. Biasanya kan kamu cuek banget sama tanggapan orang. Tapi tadi kamu berani speak up."


Lisa menghela nafas, "Huh..." Dia menutup bukunya yang ada diatas meja, "Aku pernah denger, ada 2 tipe orang di dunia ini. Yang satu, orangnya gak enakan, dan yang satunya seenaknya sendiri. Kalo aku diem terus-terusan mereka bakal seenaknya sama aku. Hatters nggak akan puas sebelum aku jatuh sejatuh-jatuhnya dan aku mau buktiin kalo Lisa itu nggak lemah."


"Kalo aku nggak bertindak, mereka bakal lebih seenaknya sendiri. Sampai kapan aku mau hidup dibawah bayangan orang lain? Cepat atau lambat, aku harus bisa berdiri diatas kaki gue sendiri."


Prok... Prok... Prok...


Sarah dan Mira langsung bertepuk tangan mendengar kata-kata Lisa.


"Wow... So savage baby..." Ujar Sarah.


"Oh iya Vhino ngapain ke sini?" Tanya Al.


"Iya ih, kitakan nggak sejalur." Sambung Lisa.


"Apaan sih, cuma mau kesini aja soalnya di kelas sebelah nggak ada yang asyik."


"Oh yaudah pulang sana ke habitat semula, bel masuk bentar lagi bunyi." Ucap Al seraya meletakkan tas nya diatas kursi.


"Jahat banget."


"Pulang aja pulang..." Gurau Sarah.


"Hadeh, iya deh. Lagian juga dari tadi mau pergi kok."


"Awas aja ntar kalo kamu yang ke kelas aku, bayy!" Vhino beranjak pergi dari kelas itu dengan kesal.


Sementara Mira yang sedari tadi hanya diam menatap kepergian Vhino sambil tersenyum kecil.


.


.


.


Istirahat...


Lisa langsung duduk dikantin memesan mie ayam kesukaannya, lalu Rey ikut duduk menyusul disebelahnya.


"Kamu nggak kenapa-napa kan? Di ganggu sama anak-anak nggak? Atau ada yang jelek-jelekin kamu? Bilang sama aku, biar aku yang atasin!" Ucap Rey yang risau.


"Tenang aja, aku nggak kenapa-napa... Nggak perlu keluarin senjata pamungkas buat ngadepin manusia selevel mereka..."


Rey bingung dengan ucapan Lisa barusan, "Se-senjata pamungkas?"


"Iya..." Lisa mencubit kedua pipi Rey dengan gemas, "Kamu kan perantara Tuhan buat lindungin aku..."


Rey langsung tertegun dan menahan diri agar tak semakin salah tingkah. "Ya Allah... Kenapa salah satu hambamu ini suka banget buat jantung senam.


"Ehem.... Masih ada kita loh disini, bukan cuman kalian berdua!" Sahut Vhino.


"Pamer ke-uwuan nih?" Tanya Sarah datar.


Al menatap Lisa datar, "Aku juga bisa nih!" Al mengangkat tangannya yang bergandengan dengan Sarah sedari tadi. Sementara Sarah menatap Lisa dan Rey dengan sinis.


Vhino celingukan melihat sekelilingnya, "Karena disini tinggal aku sama Mira, yaudah aku sama Mira aja." Vhino merangkul pundak Mira kemudian tersenyum lebar.


Sementara Mira hanya tersenyum malu-malu, sedangkan keadaan jantung nya sudah jangan ditanyakan lagi. Duduk di samping Vhino aja udah buat jantungnya maraton apalagi sekarang pria itu merangkul nya astaga nggak bisa bayangin jantungnya sekarang.


Sarah yang mengerti akan perasaan Mira langsung menyahut, "Udah Vhin, hajar Vhin, langsung sikat aja."


"Apaan? Cucian mak lo?"


"Hahahaaaa...." Semua tertawa mendengar ucapan Vhino barusan.


Lisa pergi menuju kamar mandi sebentar. Setelah kembali dari kamar mandi, Lisa tak sengaja berpapasan dengan Dinda.


"Eh ada Lisa ternyata, masih hidup toh? Gimana? Enak nggak di hujat satu sekolah?" Tanya Dinda dengan nada mengejek.


Mendengar ucapan itu, Lisa sudah bisa menebak siapa yang telah mempublikasikan masalah ini, siapa lagi kalau bukan Dinda. Dinda kan memang ingin menjatuhkan Lisa sejatuh-jatuhnya.


"Ya gimana yah... Biasa aja sih gue, gue bisa bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Mandarin sedikit, tapi gue nggak bisa dan nggak ngerti bahasa binatang," Balas Lisa untuk memprovokasi Dinda.


Dinda mengepalkan tangannya menahan emosi, "Terserah apa kata lo, jangan banyak gaya. Lo bukan nomor 1 disini, dan lo itu bukan tandingan gue, lo nggak bakal bisa saingin gue!"


Lisa terkekeh kecil, "Hehehe... mmm apa yah, disini tuh yang merasa tersaingi cuma lo doang, kalo gue mah biasa aja yah. Yah gue tau sih gue ini populer dan disini kayaknya lo selalu mau diatas gue tapi sayang nggak kesampean. Dan gue bukan pembully lemah yang cuma bisa hasut orang biar ikutan benci."


"B*cot lo!" Gertak Dinda yang emosi.


Lisa melihat mading pengumuman di dinding dan membaca beberapa pengumuman. "Ada lomba cerdas cermat, lomba story telling juga." Lisa tersenyum miring, "Kita liat aja nanti siapa yang bakal mewakili seķolah ini untuk lomba itu."


"Udah lah udah terbukti, kalo gue yang bakal mewakili sekolah ini, gue kan hebat dan nggak akan ada yang bisa ngalahin terutama lo!" Dinda menyibakkan rambutnya di depan wajah Lisa.


Lisa memutar bola matanya jengah, "Halla Lisa di lawan. Kalo emang lo berani, lawan gue di sesi seleksi nanti dan kita liat siapa yang terbaik yang bakal dipilih guru buat wakilin sekolah ini. Jangan banyak omong doang..."


"Oke, siapa takut! Gue bakal jadi yang terbaik pilihan para guru, dan lo bakal jadi tertawaan orang banyak."


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!