
"Iya Lis. Daddy kamu nggak mungkin suka liat kamu sedih terus." Ucap Vhino dengan pelan.
"Iya, makasih yah." Jawab Lisa.
Sedangkan Al, Al hanya terdiam menatap Lisa. Dalam hati dia sangat ingin berada di samping Lisa, menguatkan nya, menjadi sandaran nya serta ingin berbagi rasa sedih itu. Dada nya sesak melihat Lisa seperti ini. Namun apalah daya nya dia hanya bisa melihat nya dari jauh. "Aku turut berduka cita yah, Lis. Kamu harus kuat!" Ucap Al.
Lisa menoleh pada Al kemudian tersenyum lemah. "Makasih, Al."
"Yaudah kalo gitu kita pulang dulu yah, Lis. Kamu yang kuat..." Ujar Sarah berpamitan.
"Iya, makasih yah teman-teman."
"Keep strong!" Sahut Mira sambil menggenggam tangan Lisa memberi semangat.
"Daahh..."
Sarah, Mira, Ghea, Vhino dan Al berlalu pergi. Sebetulnya Al masih ingin tinggal, masih ingin berada di sana untuk menguatkan Lisa. Namun apalah daya nya dia kan harus ikut sama pacar nya.
Rey hanya diam terpaku sambil menatap Lisa yang air matanya masih bercucuran. Dia ingin sekali merangkul Lisa, namun dia juga merasa ragu. Apalagi kan Lisa membenci nya. Pada akhirnya, Putra lah yang berusaha menenangkan adik kecil nya, "Hush, udah nggak sedih lagi yah. Ini sudah jadi jalan Allah." Putra memeluk Lisa dengan erat. "Kita nggak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Biarkan Daddy pergi dengan tenang."
Lisa tak menjawab apapun, dia hanya sibuk mengeluarkan air matanya. Rasanya benar-benar sakit di tinggal oleh Daddy. Apalagi selama ini Daddy begitu sangat memanjakan nya. Putra merasa heran, dia merasa Lisa semakin melemas dalam pelukan nya. Putra sedikit melonggarkan dekapannya, namun ternyata Lisa sudah jatuh pingsan.
"Lisa..."
"Dek... Dek... sadar!" Panggil Putra dengan panik.
Semua menoleh pada Putra, dan melihat Lisa jatuh pingsan. Semua lansung panik.
Rey berusaha membantu Putra untuk menopang Lisa. "Ayo kak dibawa ke mobil."
Namun, saat mereka berusaha membawa Lisa pergi dari sana, tiba-tiba Mommy jatuh pingsan juga. "Eh, Mommy..." Felice berusaha menopang Mommy. "Putra, Mommy pingsan juga." Sahut Felice panik.
"Rey kamu bawa Lisa ke mobil. Kalian pulang duluan aja. Kakak mau tolongin Mommy dulu."
Rey mengangguk mengerti, kemudian menggendong Lisa ala bridal style. Menuju ke mobil nya yang terparkir.
.
.
.
🏠Rumah Keluarga Hariwijaya🏠
Rey yang mendengar suara itu langsung menoleh pada Lisa. "Icha." Rey berjalan mendekati Lisa, dia duduk di tepi tempat tidur.
"Daddy gue mana Rey?" Tanya Lisa panik.
Rey terdiam, tak memberikan jawaban.
"Daddy, Daddy nggak kenapa-napa kan Rey?!" Sahut Lisa agak keras.
"Cha, tenang dulu." Rey memegang bahu Lisa. Namun Lisa dengan segera langsung menepis nya.
"Nggak, gue nggak bisa tenang. Daddy nggak mungkin tinggalin Lisa, itu nggak mungkin. Daddy masih hidup!" Setetes air mata Lisa jatuh dari mata kirinya. Dengan cepat Lisa langsung menghapus nya. "Daddy udah janji nggak bakal tinggalin Lisa. Daddy masih hidup, gue harus jemput Daddy!" Lisa ingin segera turun dari kasur namun di cegah oleh Rey.
"Icha kamu tenang dulu, oke? Kamu jangan kayak gini." Rey memegang tangan Lisa.
"Lepasin gue Rey! Gue mau jemput Daddy!" Lisa berusaha melepaskan genggaman tangan Rey namun Rey tak ingin melepaskan nya.
"Cha, ini udah hampir tengah malam. Kamu mau kemana? Kamu nggak boleh kayak gini. Kamu harus belajar ikhlasin Daddy."
Lisa berusaha memberontak, dia ingin melepaskan cengkeraman tangan Rey. "Lepasin gue Rey, lepasin!" Perlahan air matanya jatuh satu per satu. Jujur saja dia masih tak bisa menerima kenyataan yang sangat pahit ini. Hidup tanpa Daddy itu gimana?
Melihat Lisa semakin memberontak, Rey langsung membawa tubuh Lisa ke dalam pelukan nya. Rey memeluk dengan sangat erat.
Lisa tak terima di peluk begitu saja oleh Rey. Apalagi dia sangat membenci manusia satu ini. Dengan sekuat tenaga Lisa memukul-mukul dada bidang Rey dengan kepalan tangan nya. "Lepasin gue Rey, hiks! Lepasin! Gue udah pernah bilang sama lo hiks..., jangan pernah sentuh gue tanpa se izin dari gue! LEPASIN GUE!" Air mata Lisa terus mengalir tanpa henti. Dia benar-benar sangat terpukul.
Rey memejamkan matanya, dia merasa sangat sedih melihat keadaan istri nya. Sama sekali tak menghiraukan rasa sakit yang dia rasakan dari pukulan Lisa. Dia tau rasa sakit nya ini tak sebanding dengan rasa sakit Lisa yang sedang amat sangat kehilangan, apalagi kehilangan seorang Ayah, seorang ayah yang merupakan cinta pertama dari seorang anak perempuan.
"Hiks, hiks... lepasin gue!" Lisa terus saja memberontak meskipun tenaga nya sudah mulai habis.
Rey terus saja mendekap nya erat. Menyandarkan kepala Lisa pada dada bidang nya, dan dengan lembut mengusap punggung Lisa. "Kamu boleh pukul aku, pukul aja nggak papa! Asal kamu jangan pernah nyakitin diri kamu sendiri! Keluarin semua nya! Keluarin rasa sesak yang ada di dada kamu, biar kamu lega!" Ujar Rey dengan sendu. "Aku tau ini semua berat buat kamu, tapi mau gimana lagi udah udah jadi keputusan dari Allah. Kamu nggak boleh kayak gini, nggak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, kalo Daddy liat kamu Daddy juga akan sedih. Jadi kamu harus belajar ikhlasin semua ini, biar Daddy bisa pergi dengan tenang."
Mendengar kalimat Rey, perlahan Lisa mulai terdiam, ntah karena tenaga nya memang sudah habis atau mungkin membenarkan ucapan Rey. Dia sudah tak memukul lagi, membiarkan Rey mendekap nya untuk saat ini, air matanya terus saja mengalir.
Merasa Lisa sudah agak tenang. Rey melanjutkan ucapan nya. "Aku bisa ngerasain perasaan kamu saat ini. Kamu nggak boleh pendam semua nya sendiri. Sekarang kan ada aku, Daddy nikahin kita karena dia ingin aku ngejaga kamu, itu amanah dari Daddy. Ya walaupun aku tau kamu sangat benci aku, tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik buat kamu. Kamu jangan pernah merasa sendiri, aku siap buat berbagi semua beban kamu, semua kesedihan kamu, semua masalah kamu, semuanya kita hadapi bersama, itu semua udah jadi tugas aku."
Rey terdiam sejenak, memikirkan kalimat apa yang harus dia katakan lagi biar Lisa bisa tenang.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!