
Nadin masuk ke dalam Apartment yang sudah dia tinggalkan selama beberapa bulan kemarin. Hans yang berjalan di belakangnya Nadin sambil menenteng tas yang lumayan besar berisi pakaian Nadin.
"Kamu istirahat aja dulu di sofa, biar saya yang beresin pakaian kamu di lemari." ucapnya masih dengan datar.
Nadin pun hanya mengangguk dan mengikuti perkataan Hans duduk di sofa. Nadin pun sedikit menyunggingkan senyumnya saat mengingat Hans tadi membelanya di hadapan kedua orang tuanya. Apalagi saat Hans berusaha merubah sikapnya yang dingin jadi lebih perhatian, ya... Meskipun kata-katanya masih terdengar dingin dan wajahnya masih datar, paling nggak ada usaha darinya untuk berubah.
Saat Nadin beranjak kearah dapur untuk minum dia melihat sekilas kamar yang selama ini tertutup, kamar yang dipertahankan oleh Hans mati-matian sekarang terbuka lebar.
Ya... Nadin melihat Kamar itu sekarang pintunya terbuka dan terlihat ada sinar matahari yang menyorot ke kamar itu...
Nadin pun berjalan pelan ke arah kamar itu dan masuk ke kamar itu pelan dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Ya... tempat tidur, photo-photo yang dulu terlihat jelasbdi dindingbdan juga lnari nakasbdi kamar juga barang-barang yang tersimpan di tempat tidur milik Azura tidak terlihat disana. Hanya ruangan kosong dan yang ada hanya sejadah sarung dan mukena. Sesuai apa yang pernah Nadin katakan pada Hans dulu... bahwa ruangan itu lebih baik dijadikan tempat ibadah mereka...
Nadin pun menutup mulutnya melongo tidak percaya dan matanya mulai berkaca-kaca.
Hans yang sudah selesai membereskan pakaian Nadin pun berjalan menghampiri Nadin di kamar itu dan berdiri pintu kamar sambil bersandar melihat reaksi Nadin yang tidak percaya.
"Saya sudah memutuskan untuk melupakan Azura dimulai dengan cara membuang semua kenangannya dan mempertahankan kamu, Nad..."
Perkataan Hans berhasil membuat Nadin membalikan badannya ke arahnya sambil meneteskan air matanya.
Tidak menunggu lama Nadin pun langsung memeluk Hans menangis di pelukan Hans. Hans yang heran pun hanya terdiam mengangkat kedua tangannya lalu tak lama Hans pun membalas pelukan Nadin.
"Maaf..."
"Hmm... kenapa kamu minta maaf?!"
"Apa aku egois, Mas?" Hans yang baru sadar akan kemana arah tujuan Nadin melihat sekeliling kamar tersebut.
"No... You are not selfish, Nad. what you did was right, you reminded me and made me realize... maybe I won't be able to be the husband you want and dream of, but I will try to change..."
(kamu tidak egois, Nad. apa yang kamu lakukan sudah benar, kamu mengingatkan dan menyadarkan saya... mungkin saya tidak akan bisa akan jadi suami yang kamu inginkan dan impikan, tapi saya akan berusaha untuk berubah...)
Nadin pun melepaskan pelukannya dan melihat kearah Hans.
"Kamu nggak harus berubah seratus derajat, Mas... yang aku inginkan hanya Mas nerima aku sebagai istri, sebagai orang yang selalu ada buat Mas baik dalam suka dan sedih.. kamu ingat kan mas... we marry for each other's possession and care, from now on for ever; In times of trouble and joy, in times of abundance and in need, in times of health and sickness, to love and cherish one another, until death do us part."
(kita menikah untuk untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita.)
Meskipun samar dan sesaat tapi Nadin sekilas melihat senyum Hans. Lalu Hans pun mengacak puncak kepala Nadin dan kembali menarik tubuh Nadin pelan memeluknya erat. Nadin pun menikmati pelukan Hans.
***
Keesokan harinya Nadin disibukan dengan beberapa desain yang Aquila pesan dan harus hari ini diserahkan pada kliennya...
Ada beberapa desain yang sudah selesai dikerjakan Nadin.
Dan ada benerapa lagi yang belum selesai dikerjakan olehnya, dan otomatis Nadin tidak bisa keluar meskipun untuk sekedar makan siang.
Tok Tok...
"Nad... makan siang yuk!! Laper nih..."
"Quil, kayaknya aku nggak bisa makan di luar, kerjaan aku belum beres ini..."
"Bentaran aja iihh, kamu harus makan loh, jangan lupa debay yang ada di perut kamu juga harus di kasih makan loh.."
"Ya udah nitip aja, bungkusin nasi padang yang di depan aja ya... nih uangnya..."
"ck... kayak ke siapa aja, uangnya dari aku aja, sekalian aku juga mau ngebeliin buat karyawan lain kalo gitu.. Biar adil..." ucap Aquila sambil tersenyum ke arah Nadin, begitu pun dengan Nadin yang cuma nyengir ke arah Aquila.
"Thank's ya..." teriak Nadin karena Aquila sudah menutup pintu ruangannya.
Nadin pun kembali lagi menyelesaikan desain nya.
Beberapa menit kemudian Handphone yang ada di atas meja kerjanya bergetar menandakan ada telepon masuk, Saat Nadin lihat layar terpampang nama Mas Hans. Lalu Nadin pun tersenyum sambil mengangkat teleponnya.
"Iya, Mas... Kenapa?"
"Lagi sibuk?"
"hm... lumayan, lagi menggarap desain untuk klien nya Aquila yang lumayan banyak... kenapa emang?"
"Udah makan?" Nadin pun tersenyum saat memdengar pertanyaan Hans yang memperlihatkan perhatiannya padanya meskipun nadanya dingin.
"Aku nggak sempet keluar buat makan siang, Mas.. Deadline nya jam tiga sore udah harus diserahkan sama klien nya..." tidak ada jawaban yang terdengar dari ujung telepon, mungkin Hans bingung harus bicara apa lagi... tapi Nadin mengerti apa yang Hans pikirkan.
"Mas tenang aja, tadi aku udah nitip Aquila buat bungkusin nasi padang yang di depan, sekalian Aquila juga mau beiin buat karyawan lain..." lanjutnya menjelaskan.
"Oh... ya sudah!" jawab Hans irit dan langsung menutupnya.
Kadang kelakuan Hans yang canggung dan tidak biasa seperti ini membuat Nadin geli sendiri, karena jujur saja... Nadin tidak pernah melihat ataupun mendengar Hans seperti ini. Tapi Nadin menghargai usaha Hans yang benar-benar ingin berubah dan lebih memperhatikannya.
Saat Aquila sudah datangembeli beberapa bubgkus nasi padang untuk para karyawanya maupun Nadin, Akhirnya dengan tanda close di pintu semua karyawan beserta Nadin maupun Aquila menggelar karpet di tengah ruangan dan mempersilahkan para karyawan untuk makan disana agar kekeluargaannya makin erat.
"Kak Nadin... Selamat ya.. berkat Kak Nadin kita dapat makan siang gratis nih..." ucap salah satu karyawan.
"Iya kak... semoga kehamilannya lancar sampai lahiran ya..."
"Ammin... makasih ya..." ucap Nadin sambil tersenyum ke arah Aquila yang hanya tersenyum ke arah Nadin.
Waktu pun berjalan dengan cepat klien Aquila datang tepat dengN waktu deadline nya. Dan kerjaan Nadin pun beres sebelum klien itu datang.
Dan hari ini dilalui oleh Nadin dengan lancar dan tidak ada halangan.