I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Diculik



Esoknya.... saat Althea bangun dari tidurnya waktu udah menunjukan pukul 09.00 pagi..


"oohh shhiit!! telat ngantor gue..." saat Althea bangun dia melihat kertas note di atas nakasnya dan disampingnya ada handphonenya.



...'lo pasti bangun telat kan.. it's okay hari ini lo nggak usah masuk, gue juga nggak ada kan... gue udah acc lo cuti sehari...'...


^^^-Danniel-^^^


Althea cuma tersenyum liat note dari Danniel. Althea pun beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. dia jalan menuju dapur saat dia buka tudung saji disana sudah tersedia roti yang udah di toast dikasih sayuran, telur, keju dan persausan. disitu juga ada note.


..."gue bikinin sarapan buat lo dimakan ya..."...


^^^-Danniel-^^^


Uuukkhhh so sweeet...


Althea lagi-lagi terharu dengan tindakan Danniel.


"hah... please.. jangan terlalu baik sama gue, ntar gue jatuh cinta sama lo" gumamnya sambil tersenyum getir. dia pun makan rotinya sambil beranjak ke ruang tv dan diatas meja pun ada note.


..."jangan kemana-mana istirahat dirumah, password lo udah gue ganti dan ini password lo yang baru.. 791128..."...


^^^-Danniel-^^^


Althea lagi-lagi tersenyum.


"ck... kenapa pake ulang tahun dia sih?!"


Tak lama Althea pun segera mengambil Handphonenya dan mengetik sesuatu dan mengirimkannya.


"tau banget kalo gue baru bangun, btw thanks ya sarapannya. okay gue nggak akan kemana-mana sesuai perintah Yang Mulia Raja..."


**


Sementara di bandara..



Danniel yang sedang menunggu penerbangannya pun mengecek Handphonenya dan tersenyum saat melihat layar handphone nya. Hans yang berada disampingnya pun heran kearah Danniel.


"lo nggak akan tau kalo nggak pernah jatuh cinta Hans..." ucap Danniel yang tau magsud dari tatapan Assistennya sambil terkekeh.


"Boss... udah jatuh cinta lagi??" Danniel terdiam mengernyit.


"kok kesannya gue sering jatuh cinta ya, denger ungkapan lo barusan..."


"lah iya kan, trus cewek-cewek yang selalu gue usirin itu kan awalnya kalian berhubungan juga..."


"ini lain Hans... jangan samain Althea sama gadis-gadis yang sering gue ajak kencan 1 malam..." Danniel terdiam menghela naoas berat.


"hmm... entahlah Hans, kalo sama dia gue nggak pengen ngelakuin sesuatu hal yang besifat negative... gue malah pengen ngejaga dia..." Hans tersenyum.


"baguslah itu artinya lo udah mau ngejalin hubungan serius lagi ama cewek..."


"jangan ngomongin ini dulu sama Rafael ya... gue baru bilang sama lo doang loh ya..."


"siap boss!"



***


Di salah satu cafe favorit Althea....


pukul 19.00 malam...


Althea sedang duduk di salah satu kursi tempat biasa dia duduk menunggu seseorang sambil berfikir dan mengetuk-ngetuk jarinya ke meja.


Ya... seharian ini dia tidak kemana-mana seperti yang dibilang Danniel. Tapi beberapa menit kemudian saat Althea menerima pesan dari Lauro.


...LAURO...


...'Al, bisa kita ketemu sekarang? gue mau minta maaf langsung sama lo... please!!'...


Althea pun berfikir dan bicara baik-baik dengannya dan mengakhiri semuanya bersama Lauro karena sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan olehnya.


"Al... udah lama?" ucapnya Lauro yang sudah ada di depannya membuyarkan lamunan Althea.


"hey... emm, blum kok..." ucap Althea sambil melihat wajah Lauro yang bengkak karena bekas pukulan Danniel.


"Al... gue minta maaf, gue nggak sadar sampe bisa ngelakuin hal kayak gitu sama lo.."


"Lauro... semenjak lo khianatin kepercayaan gue dengan lo berhubungan sama Gracia... gue udah berenti sayang dan cinta sama lo.. lo tau kan, buat gue apapun kesalahan lo gue bisa memaafkan kecuali selingkuh, dan lo udah ngelakuin itu Lauro..."


"Al, gue dijebak..."


"Apapun alesan lo mau itu dijebak sekalipun tetep aja lo nikmatin adegan itu kan... jadi gue mohon, mulai sekarang lo lupain gue jalani kehidupan lo yang sekarang sama Gracia... terimain keputusan nyokap lo... masa gue yang di khianatin bisa nerima tapi lo yang ngekhianatin nggak bisa nerima.." Lauro terdiam melihat Althea.


"apa lo suka sama boss lo Al..." Althea hanya tersenyum pahit.


"gue nggak mau buat kesalahan untuk yang kedua kalinya... gue pasti nyari cowok yang sayang sama gue, cinta sama gue, setia sama gue dan tentunya dari kalangan orang biasa, yang orang tuanya bisa nerima gue dan keluarga gue apa adanya, nggak hanya mementingkan derajat dan harta doang..." Lauro pun tertunduk dan menerima keputusan Althea dengan berat hati karena Lauro memang sangat mencintai Althea. Lalu mereka pun berbincang untuk mencairkan suasana setelh tadi bersitegang denganargumen msing-masing.


Dan saat Althea berada di parkiran sendiri karena Lauro sudah berpamitan untuk pulang dengan mobilnya. Tiba-tiba ada yang membekap hidung dan mulutnya Althea dengan saputangan yang diberi obat bius. seketika itu Althea pun terjatuh pingsan.


**


Sementara itu... di Singapore...


pukul 08.00 pagi...


Danniel yang sudah rapih dengan pakaiannya karena akan meeting bersama beberapa klien nya sedang uring-uringan. Hans yang sudah mengerti pun hanya menggelengkan kepalanya.



"Hans.. coba lo hubungin bodyguard yang ngawasin Althea. Tanya dimana dia? di hubungin kok nggak aktip sih Handphonen nya..." Hans pun dengan pasrah langsung menghubungi anak buahnya di luar ruang Meeting karena tidak ingin mengganggu meetingnya.


Danniel masih ngurus berkas dan saat mereka memulai meetingnya Hans masuk kedalam dengan muka yang sedikit tidak tenang. Danniel yang melihat raut wajah Hans pun mempercepat meetingnya.


2 jam rapat pun selesai, saat orang-orang sudah keluar ada beberapa yang mengajak ngobrol Danniel tentang proyek yang akan mereka garap. Hans pun makin panik melihat photo yang dikirim anak buahnya.


"Shiitt!! ngapain sih lo Al.. nyri masalah aja deh!" gerutu Hans geram.


"Ada apa Hans?" ucap Danniel setelah beres berbincang dengan para klien... Hans melihat kearah Danniel.


Dengan ragu Hans memperlihatkan photo yang diambil oleh anak buahnya yang memperlihatkan Althea sedang duduk di sebuah cafe bersama Lauro sambil tersenyum.


"apa maksudnya ini???" Ucap Danniel sarkas melihat kearah Hans.


"saya juga tidak tau Boss mereka hanya bilang kalau Althea pergi ke cafe dan ternyata dia janjian sama Lauro"


"apa dia balikan lagi sama Lauro??? tapi... nggak mungkin!" gerutu Danniel.


"Hans, Telpon Rafael dan tanyakan apa Althea ada di ruangannya..." Lanjut Danniel, lalu Hans pun segera menelpon Rafael.


Tak lama Danniel menerima photo dari nomor yang tidak dikenal.



Danniel melihat kearah photo itu sambil memperhatikan dengan seksama.


"What the... Altheaaa?!" tandas Danniel geram ketika melihat kondisi Althea di photo itu yang tengah pingsan di lantai sebuah gedung.


Tak lama ada sebuah pesan yang menyusul kearah Handphonenya...


...+8615343.......


"Shiitt..." teriak Danniel mencoba menghubungi nomor tersebut tapi sudah tidak aktip. Hans yang baru menelpon Rafael pun mendekati Danniel.


"Aaaarrgghhhh!!!" teriak Danniel geram sekaligus marah.


"Boss...!"


"Berikan bukti ini pada polisi, suruh anak buahmu mencari sebelum 24 jam harus sudah ketemu. Dan siapkan penerbanganku sekarang!" Ucap Danniel dengan tegas.


"Tapi boss..."


"Cancel jadwal besok ke depan nya, dan atur ulang pertemuannya! nyawa Althea lebih penting sekarang!"


***


Sementara itu... Althea yang baru sadar mengernyit melihat sekitar dan tangan yang diikat serta mulut yang di tutup oleh lakban mulai ketakutan.


"Aaahh lo udah bangun?!" ucap seseorang yang baru masuk ke ruangan itu. Althea memperhatikan pria yang sedang menghampirinya dengan remang karena penerangan nya remang dan mata Althea pun sedikit buram.


"Ya... ini gue Reqi... orang yang Danniel buang dengan seenaknya... hahahaha... Yah... sekarang kita liat, apa dia bisa dateng tepat pada waktunya buat nyelametin lo, atauuu..." Ucapnya melihat Althea yang seakan ingin berbicara. Reqi pun membuka lakban yang menutup mulut Althea.


"Hah.. lo salah, dia nggak akan datang, siapa gue? gue cuma staff nya doang dan sekarang dia nggak ada di negara ini.. jadi percuma aja lo lakuin ini semua... pak Danniel nggak akan perduli sama lo!"


"Lo bodoh apa? Udah jelas-jelas lo itu orang yang paling berharga buat Danniel... Dan ini balasan atas apa yang lo lakuin di kantor dulu.."


Plaaakkk...


Reqi menampar pipi Althea sampai merah. Althea hanya meringis dan terlihat dari bibirnya mengeluarkan sedikit darah. Saat Althea di sekap oleh Reqi, dia sama sekali tidak diberi makan ataupun minum sehingga badannya sangat lemah.


"Lagi diambang kematian Al??"


"gue mati pun Danniel nggak akan dateng bodoh... penilaian lo salah tentang hubungan gue sama Danniel, gue cuma bawahannya aja sama kayak Hans ... dan lo... keinginan lo nggak akan bisa tercapai... Danniel nggak akan dateng bego!" Ucap Althea tersenggal-senggal.


Beberapa jam kemudian... sedikit demi sedikit Althea sudah mulai kehilangan kesadarannya dan napasnya kian berat.


"Hah... Apa ini akhir hidup gue??? Gue kangen papah... dan juga Danniel... Gue nggak berharap banyak sama Danniel buat kesini nyelametin gue karena gue tau klien di Singapore sangatlah penting buat perusahaan... tapi... Gue pengen liat Danniel untuk yang terakhir kalinya..." Ucap Althea dalam hati.


"Heh... bangun lo!" Ucap Reqi yang baru datang buru-buru menghampiri Althea dan mencengkram bahunya supaya Althea berdiri.


"Lo salah Al... sekaranag Danniel ada di luar, and you see?? Danniel rela ninggalin Singapore cuma buat nyelametin lo... dan akan berakhir disini juga!"


Reqi pun berdiri di belakang Althea sambil menodongkan pistol kearah Althea.. Althea hanya bisa terdiam pasrah..


"Nggak... itu nggak mungkin Danniel nggak mungkin dateng..." gerutu Althea dalam hati.



(itu cuma contoh adegan ya...)


Braakkkk!!!


pintu Gudang utu pun terbuka dan menampilkan sosok Danniel dari kejauhan.


"hm... dateng juga lo..." ucap Reqi sedikit berteriak.


Sementara Danniel yang baru masuk mengangkat tangannya dan berjalan pelan kearah Reqi.


Dengan samar Althea melihat Danniel yang sedang berdiri didepannya dan Althea air mata Althea oun menggenang di pelupuk matanya karena dia masih tidak percaya bahwa Danniel sekarang berada didepannya.


"Danniel...?" ucap Althea melihat Danniel dengan suaranya yang parau.


"hah..udah gue bilang lo itu kelemahannya sekarang!" ucap Reqi menekankan pistol itu ke kepala Althea. Althea pun sedikit memekik sambil memejamkan matanya menangis.


"Apa mau lo?" ucap Danniel sedikit teriak.


"Gue mau lo hancur."


"Lepasin Althea... Yang lo mau gue kan?" Ucap Danniel berjalan kedekat Althea.


Doorrrr..


"Aaakkhh...!" pekik Althea kaget sambil menahan tangisnya.


Reqi menembakan tembakannya keatas memperingatkan Danniel agar tidak mendekatinya.


"woo..woo..woo... berenti disitu! kalo nggak ucapin selamat tinggal sama cewek lo..."


"Okay... Okay gue berenti, tapi lepasin Althea, yang lo mau gue kan?" Ucapnya masih mengangkat tangannya keatas.


Sementara Althea melihat kearah Danniel sambil menggelengkan kepalanya pelan. Reqi pun melihat Althea dan membalikan badan Althea ke arahnya sehingga mereka berhadapan dan sangan dekat karena Reqi merangkul pinggang Althea.


"Lo mau Danniel selamet... Cium gue..."


"Brengsek... Al... please jangan dengerin dia Al...lo harus percaya kalo..." Danniel yang melihatnya langsung mengepalkan tangannya marah.


Dddoorrr!!!


"Aakkhhh..." Althea menjerit kaget dan mulai menjerit menangis ketakutan... Sementara Reqi hanya menyeringai melihat Althea dengan penuh nafsu dan mengusap pipi Althea.


plaakkk....


Dan lagi-lagi Reqi menampar Althea dihadapan Danniel. Danniel pun mulai geram melihat apa yang dilakukan Reqi pada Althea.


"So Kiss me *****!" teriak Reqi kesal.


Saat Althea mendekati Reqi... Tiba-tiba Althea mendorong kepala nya kearah kepala Reqi dengan keras sampai badan Reqi mundur ke belakang.


"Aaakkhhh!!! bastard!"


"Shiiiiit!!! Hans now!" Teriak Danniel pada Hans lewat alat di tangannya.


Danniel pun berlari menghampiri Althea dan menyuruh Althea berlari kearahnya.


Althea pun berlari ke arah Danniel. Saat Reqi mengarahkan tembakannya pada Althea, Danniel yang melihat pergerakan Reqi langsung berlari kearah Althea memeluk Althea sambil membalikan badan Althea dan menjadikan tubuhnya menjadi tameng peluru Reqi agar tidak mengenai Althea.


Ddoorrr!!! doorrr... doorrr...


"Aaaaakkkhhhh!!!" Althea memeluk Danniel erat sambil menangis memejamkan matanya sejenak.


"Hey, you're save Al.." suara bariton Danniel menyadarkan Althea lalu Althea membuka matanya melihat kearah Danniel yang sedang melihat kearahnya sambil tersenyum.


Sementara Hans dan beberapa polisi yang sudah berada di TKP menunggu intruksi Danniel langsung bergerak maju dan menembak Reqi dari beberapa arah mereka menghampiri Reqi yang sudah terkapar tidak sadarkan diri karena tertembak beberapa kali.


Danniel pun menjatuhkan dirinya di lantai. Althea kaget melihat Danniel.


"Danniel... No.. Danniel... Sadarlah, Danniel!" Althea berteriak histeris sambil menangis lagi, takut Danniel akan meninggalknnya.


Hans pun segera berlari menghampiri Danniel dan melihat keadaannya khawatir juga.


"boss.." Althea melihat Hans ketakutan..


"Hans.. Danniel Hans..." ucapnya sambil menangis. Hans yang melihat wajah Danniel oun menghela napas lega.


"Haaah, Boss.. bangunlah, kasian Althea udah panik tuh.." Ucapnya santai. Sementara Danniel memposisikan badannya jadi duduk. Althea pun kaget melihat kearah Danniel.


"hah... seenggaknya biarkan saya istirahat Hans... lo ini ya... akkkhh..." dia membuka kemejanya dan di dalam kemejanya dia sudah memakai rompi anti peluru...


Althea pun menangis kencang melihat Danniel baik-baik saja.


Danniel melihat Hans bingung, sementara Hans hanya mengangkat bahunya.


"Kalian istirahatlah biar saya yang memberi laporannya pada polisi." Ucap Hans lalu memberikan kunci mobil pada Danniel, sementara Danniel melihat Althea yang masih menangis dan memperhatikan luka bekas tamparan yang Althea terima dari Reqi.


Danniel pun mengusap pipi, ujung bibir dan kening Althea yang sedikit berdarah.