
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Sean kembali menutup pintu apartemennya ketika telah mengambil makanannya dari kurir. Tidak lupa dia memberikan sedikit tip untuk si kurir yang sudah bekerja keras.
Paper bag berisikan kotak itu di dekatkan ke indra penciumannya. Rasa lapar yang mendiami dirinya semakin mengamuk saja. Sean ingin buru-buru menyantap makanan andalannya. Apalagi kalau bukan burger. Hanya makanan itu yang dapat mengembalikan energinya setelah beraktivitas seharian.
"Hmmm... Aroma burger emang enggak pernah gagal" ucapnya menyunggingkan senyum sekejap lalu meletakkan burger itu ke meja. Sean bersiap untuk duduk. Tapi, belum juga bokongnya mendarat di sofa dan sekarang dia harus kembali menghampiri pintu. Seseorang baru saja menekan bel pintu apartemennya. Sean mengira orang itu adalah kurir yang tadi.
"Ah... Elo Nin, gue pikir kurir."
Pria bernama Nino yang merupakan sahabat Sean sejak SMA terlihat sedang tidak bersemangat. Karena itu Sean mengernyitkan keningnya di detik awal ketika dia menemukan raut itu di wajah sahabatnya.
‘Hah... Kenapa dia?!’ Sean membatin.
Kalau Sean diperkenankan untuk menilai, dia bisa merasakan ada sebuah masalah yang sedang dihadapi oleh sahabatnya itu sehingga dimukanya memperlihatkan tampang frustrasi yang teramat berat.
Sementara Nino masuk dengan raut muka yang sama, Sean justru menutup kembali pintu apartemennya. Barulah setelah melakukannya dia lantas balik badan, berjalan dan duduk di sofa bersebelahan dengan sahabatnya.
"Tumben jam segini udah mampir ke sini? Biasanya juga keluyuran dulu sama pacar lo." Nino tidak menjawab. Dia hanya mengembuskan napas secara kasar sambil menyenderkan punggung lelahnya ke sandaran sofa empuk. Hembusan napas itu sudah sangat pas untuk dijadikan acuan oleh Sean dalam hal menilai apa yang saat itu dirasakan oleh sahabatnya.
"Diihh ngapain bibir lo dimanyun-manyunin. Mau saingan Lo ama Donald bebek?" Sean memang tidak handal dalam membuat jokes yang dapat membuahkan tawa lawan bicaranya. Selain karena itu, faktanya dia memang agak hemat bicara terutama kepada orang yang tidak terlalu sering bertemu dengannya.
"Gak lucu Sean. Nggak usah bikin emosi gue naek lagi deh!" peringat Nino yang kini sedang mengudarakan tangan memijit keningnya sendiri. "Jangan sampe emosi buat gue lupa kalo lo itu sahabat gue." Sean membawa bibirnya ke samping, tersenyum miring.
“Emangnya ada masalah apa sih, Nin?"
"Salsa ngambek sama gue," jawab Nino.
"Kok bisa?" tanya Sean ingin menggali lebih jauh.
"Entah. Padahal dia yang salah, tapi ujung-ujungnya dia sendiri yang marah trus pergi. Heran gue sama perempuan. Untung sayang banget gue sama dia. Coba kalau enggak, udah gue putusin dia."
"Perempuan emang seribet itu ya?" iseng Sean bertanya sambil berdecak.
“Banget!” sambung Nino membenarkan pertanyaan yang diajukan oleh Sean.
“Gue tuh paling sebel kalo cewek udah ditanya makan atau pengin nongkrong dimana pasti jawabannya sama ‘terserah’ seolah nggak ada jawaban lain aja.”
“Ya kalo emang ribet sama cewek, kenapa juga lo pacarannya sama cewek, kenapa enggak pacaran sama cowok aja?”
“Setan lo, Sean,” respon Nino mulai naik pitam. “Lo jarang ngomong, tapi sekalinya ngomong nyelekit. Lo pikir gue suka batangan? Sialan lo!” terdapat sebuah decakan yang lebih mengarah ke perasaan sebal di akhir kalimat Nino.
"Oh ya, Nin. Gue mau cerita kesialan gue baru-baru ini."
"Kesialan apa lagi?" Nino balik bertanya.
"Lo masih inget nggak gadis yang ngejar-ngejar gue pas kita lagi praktek di ‘SMA KHARISMA?’" tanya Sean.
Tidak banyak waktu yang dibuang oleh Nino dalam memikirkan gadis yang dimaksudkan Sean dalam pertanyaannya. Memang sih yang dia tahu ada banyak gadis yang menyimpan perasaan terhadap Sean, tapi tidak ada satu pun gadis yang memiliki kadar keberanian seperti gadis bernama Rubina Henney Wiriawan. Hanya dia yang berani menembak Sean secara langsung di depan khalayak ramai. Bahkan setelah bertahun-tahun lamanya Nino masih saja ingat dengan momen memorable tersebut.
"Maksud lo si Rubina, yah?"
Pandangan Sean meredup, sementara dahinya berlipat-lipat sebagai sebuah pertanda bahwa saat itu dia sedang dilanda perasaan bingung. Sean merasa dirinya tidak mengeluarkan lelucon yang wajib hukumnya direspon tawa oleh Nino. Tapi lihat saja yang dilakukan Nino barusan?
“Apa yang buat lo ketawa, Nin?” tanya Sean yang matanya mulai memincing ke arahnya.
“Hah? Nggak. Gue Cuma ngerasa lucu aja ngebayangin dulu si Rubina seperti nggak kenal dengan kata ‘menyerah’ buat ngedapetin lo. Lagian lo juga sih yang dinginnya kayak kulkas dua pintu. Padahal nih yah, si Rubina tuh cantik loh orangnya, kenapa lo malah ngehindarin dia terus-terusan sih, Sean?” bingung Nino. “Kalo si Rubina disandingin sama lo mah, cocok banget! lo ganteng, dan dia cakep. Kalo gue jadi lo sih gue bakal deketin dia balik.
Memang benar bahwa Rubina memang memiliki visual di atas rata-rata. Dan juga Sean tidak pernah menampik kenyataan bahwa gadis itu memiliki wajah yang cantik. Tapi jika melihat tingkah absurd dan sikapnya yang terlalu jelas mengakui perasaannya bukannya tertarik, jatuhnya Sean malah jijik dengan perempuan itu.
"Iya sih cantik, tapi sikap bar-barnya bikin gue jijik. Suka enggak, yang ada gue malah benci sama dia. Tiap kali ketemu dia tuh bawaannya pengen emosi terus."
"Hati-hati loh?!" Nino memperingatkan.
"Kenapa lo nyuruh gue hati-hati?"
"Iya, hati-hati. Jangan terlalu benci sama orang. Udah banyak loh kasus orang-orang di sekitar kita yang dulunya saling membenci tapi berakhir terikat oleh sebuah hubungan. Buktinya si Ikhsan yang dulu musuhan sama si Risma, sekarang mereka udah punya lima anak. Hidup itu kayak misteri bro, kita sebagai manusia biasa hanya bisa berencana tapi Tuhan adalah yang menjalankan skenario kehidupan ini." Alam bawah sadar membuat Sean tanpa sadar mengedikkan bahunya tanda jijik.
"Semoga aja nasib gue nggak berakhir sama kayak mereka. Bisa gila gue kalo tiap hari harus ketemu sama manusia menyebalkan bernama Rubina. Bisa-bisa gue kehilangan ketentraman di dalam hidup gue kalo jadinya kayak begitu.”
“Trus gimana kalian bisa ketemu?”
“Waktu itu dia dateng ke Rumah Sakit. Dia mengalami kecelakaan.”
“Hah? kecelakaan? Terus keadaannya gimana sekarang?”
“Cuma luka dibetis doang, tapi meskipun nggak terlalu parah namun luka itu harus dijahit soalnya darahnya nggak berhenti netes.” Nino menganggukkan Kepalanya paham dengan cerita Sean.
“Trus-trus gimana? Bukanya dia phobia sama darah dan jarum suntik ya? Trus dia masik kenal ga sama lo?” Sean mendelik ke arah Nino saat mengingat betapa hebohnya ruangan IGD pada saat itu.
“Ck... nggak ada yang berubah. Dia tetep heboh, dan dia masih aja menggoda gue kayak tujuh tahun yang lalu.” Nino pun tertawa terbahak-bahak mendengar cerita sahabatnya itu.
“Emang kocak tu bocah! Gila! Terus respon lo gimana?”
“Ck... Ya gue pura-pura aja nggak kenal sama dia. Dan lo tau? dengan cara kayak gitu aja dia masih tetep buat gue kesel sama gombalannya yang super cringe.” Nino tertawa.
Bagaimana pun juga dia pernah jadi saksi saat Rubina mengejar-ngejar cinta Sean. Dan terus terang Nino sangat takjub karena sampai sekarang ternyata Rubina masih dengan perasaan yang sama. Rupanya waktu tidak membuat cintanya kepada Sean jadi luruh. Perasaannya masih utuh dan tidak terkikis oleh waktu yang terus berjalan.
"Padahal setahu gue si Rubina tuh inceran banyak teman seangkatan dia loh, malah beberapa cowok popular di angakannya tuh ngejar-ngejar dia juga. Trus lo tau sendiri kan teman seangkatan kita juga ada yang suka sama dia. Tapi lihat aja! Kenyataannya si Rubina cuma pengen lo doang Sean. Bahkan setelah tujuh tahun berlalu perasaannya ke lo masih aja sama. nggak ada yang berubah walaupun itu secuil aja."
"Tapi..." belum sempat Sean memberikan sebuah kalimat berisi jawaban. Sekarang ponselnya berdering tanda seseorang sedang menelponnya. Sean melepaskan tangannya dari paper bag berisikan burgernya. Tangan kanannya lalu merogoh saku celana mengambil ponselnya dari dalam sana.
"Ibu? Nelpon jam segini?" di menit yang sama Sean menekan dan menggeser tombol berwarna hijau.
"Halo, Bu. Ada apa nelpon malam-malam gini?" Sean dia mendengarkan yang disampaikan oleh ibunya. "Kok Ibu udah ada di sana? Bukannya besok yah? Hm... ya udah besok saya usahain dateng ke sana."
"Ada apa? Kenapa?" tanya Nino setelah Sean mengakhiri sambungan telepon bersama ibunya.
"Rahasia."
“Ck... Najis lo! Pake rahasia-rahasiaan segala.”