
...Yang aku inginkan hanyalah dicintai dengan sepenuh hati, Aku tau bahwa cinta tidak seperti yang terlihat di dalam film. Tetapi aku hanya ingin merasakan sedikit perhatian darimu, Mas. Jujur, terkadang aku iri saat melihat orang lain menjalani kehidupan mereka. Aku ingin punya kehidupan normal dan memiliki seorang suami yang pulang ke rumah setiap hari lalu memanjakan aku meskipun dia lelah dalam pekerjaannya, menyediakan waktu untuk istri dan juga keluarganya....
...Seseorang yang tidak menyembunyikan kebohongan ataupun berusaha menutupi perasaannya juga membatasi diri dari istrinya. Selalu menghormati, mengutamakan dan menghargai istri. Aku nggak bisa bertahan disaat suami masih mengingat dan mencintai mantannya apalagi aku sudah jelas tidak bisa menggantikan posisinya untuk berada disisimu....
...Mengapa aku tidak bisa memiliki kehidupan bahagia seperti orang lain? Mengapa aku tidak penting bagi dirimu? Mengapa kamu sangat jauh dariku? Andai kamu tau hatiku. Hatiku benar-benar terluka. Tercabik-cabik dan penuh lubang....
...Terima kasih atas segalanya Mas, Makasih karena Mas mau rela berkorban menikahi aku, dan sekarang Mas bisa hidup dengan bebas. Aku akan melepaskan Mas untuk orang yang Mas cintai... jangan terbebani karena aku Mas, aku akan hidup dengan pilihanku dan ku akan baikbaik saja, jadi Mas tidak usah khawatir lagi dengan tanggung jawab Mas sama aku... Semoga Mas bahagia dengan wanita pilihan Mas kelak....
^^^-Nadin-^^^
Hans pun buru-buru melihat dokumen yang ada di dalam amplop cokelat itu dan benar saja. Dokumen itu adalah surat pengajuan perceraian yang sudah ditandatangan oleh Nadin.
Hans yang melihat dokumen itu pun mulai marah. Dia mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.
***
Sementara itu... pukul Lima pagi,
Di rumah Althea... Nadin sedang menginap disana tanpa sepengetahuan Hans.
Nadin yang terpaksa bangun dari tidurnya langsung berlari ke kamar mandi yang ada di kamar itu mulai muntah-muntah.
Para ART yang sedang melewati kamar yang Nadin tinggali pun mendengar suara Nadin yang sedang muntah-muntah. Seorang ART yang sudah mengenal Nadin pun buru-buru masuk ke kmar dan menghampiri Nadin di kamar mandi.
"Mbak.. Mbak Nadin.. nggak apa-apa kan?!" tanyanya langsung memijit pundak ke leher Nadin.
"Nggak apa-apa Bi... Bibi harusnya nggak usah kesini... ini sangat menjijikan!" ucap Nadin sambil menekan flush closet itu, agar kotoran yang Nadin keluarkan tadi terbawa arus air.
"Nggak apa-apa Mba Nadin... Mba Nadin sakit?"
"Hm... kayaknya aku masuk angin Bi..." ucap Nadin lemas dan terduduk di sisi closet itu.
"Kalau gitu saya buatkan teh anget ya, Mba?!" Nadin pun hanya mengangguk pasrah.
ART itu pun langsung buru-buru keluar dari kamar yang Nadin tempati.
***
Althea yang baru saja turun dan berjalan ke dapur untuk membantu para ART menyiapkan sarapan, heran melihat salah satu ART nya yang sedang membuat teh manis hangat.
"Loh Bi, itu buat siapa? emang udah ada yang bangun ya, jam segini?"
"Oh ini buat Mba Nadin Bu... tadi pas ngelewat kamar Mba Nadin saya denger ada yang muntah-muntah di toilet, saya jadi khawatir, jadi saya langsung nyamperin Mba Nadin di kamarnya, dan ternyata benar Bu... Mba Nadin memang lagi muntah-muntah..." Jelas Salah satu ART itu. Althea yang terlejut pun mulai khawatir.
"Ya udah Bi... biar saya aja yang bawa ke kamar Ndin, Bibi tolong siapin sarapan buat yang lain ya?!"
"Iya, baik Bu... itu Bu... ini minyak angin buat Mba Nadin takutnya memang butuh buat di balur ke badan Mba Nadin."
Althea yang langsung menerimanya pun buru-buru pergi ke kamarnya Nadin.
Tok.. Tok...
"Nad... ini saya, Saya boleh masuk?!"
"Iya, Kak... Masuk aja!" ucap Nadin yang sudah duduk sambil bersandar di sandaran kasur sambil memijit keningnya. Althea yang lamgsung masuk pun menghampiri Nadin di pinggir kasurnya.
"Ini... minum dulu, Nad... dan ini minyak angin kata Bibi takutnya butuh buat balur di badan..."
"Iya, makasih, Kak..." ucap Nadin yang langsung meminum air teh manis hangat itu membuat kondisinya lumayan nggak terlalu mual. Lalu membaui minyak angin itu agar pusingnya sedikit mereda. "Oia, Kak Al punya paracetamol? kayaknya aku masuk angin nih, gara-gara tadi malam pake pakaian terbuka." lanjut Nadin tanpa curiga. Sementara Althea yang sudah tau gejalan itu hanya mngerutkan keningnya.
"Kamu sejak kapan nggak datang bulan, Nad?!" ucap Althea to the point. Sementara Nadin pun terdiam mengingat-ngingat terakhir dia tidak datang bulan.
"Kayaknya udah lama deh Kak, mungkin hampir dua bulanan..." Nadin pun seketika terdiam baru sadar dan melihat Althea. "Aku nggak mungkin kan, Kak?!"
"Sebentar, Nad. kayaknya ada stock test pack buat saya berjaga-jaga, saya ambilkan dulu ya... Kamu tunggu disini, dan jangan kemana-mana!"
***
Ting Tong...
"Nad... Kamu ada di dalam kan? Nadin?! Buka pintunya, Nad." teriak Hans yang terus menekan bel juga mengetuk pintu tidak sabar.
Setelah tidak ada jawaban Hans pun mencoba menelepon handphonenya Nadin, tapi Handphone Nadin tidak aktip.
***
Tring...
Suara pintu butik di buka ada seorang pegawai yang di temptkan di depan untuk menyambut tamu yang datang ke butik itu.
"Selmt siang, Pak.. ada yang busa saya bantu?"
"Apa Nadin disini?" pegawai itu pun mengerutkan kening.
"Mba Nadin sudah jarang ke sini, Pak. tapi kalau Bu Aquila pasti selalu bertemu dengan Mba Nadin, karena desain yang masih dikerjakan oleh Mba Nadin."
"Kalau begitu, apa Aquila sudah datang?!"
"Bu. Aquila sudah ada di ruangannya Pak..." dengan langkah cepat Hans buru-buru ke lantai atas untuk bertemu Aquila di ruangannya.
Braakkkk!!!
"Loh, Kak Hans? ada apa, tumben mampir ke sini?!" ucap Aquila yang sedang duduk di kursi kerjanya dan kaget melihat Hans sudah berada di ruangannya.
"Kamu tau Nadin dimana?!"
"Hah?! Kenapa malah tanya aku sih Kak? Kakak kan suaminya, harusnya Kakak lebih tau dong!" ucap Aquila kesal, karena bukanya menanyailkan kabarnya, Hans malah menanyakan Nadin.
"Dia nggak ada di rumah itu... kamu kan selalu berhubungan dengan Nadin mengenai desain pakaianmu..."
"Terakhir aku ketemu dia beberapa hari yang lalu, dan waktu itu Nadin masih berada di rumah itu! emang kenapa sih, Kak?"
Hans hanya terdiam meremas rambutnya. panik, kesal semua jadi satu.
"Kenapa ga nyari tau sama anak buah Kakak sih? biasanya kan Kakak suka nyari tau hal darinya?!"
"Dia juga tidak tau keberadaan Nadin, terakhir dia mendapat sinyal Handpgonenya ada di rumah itu, tapi kata para tetangga dia tidak melihat Nadin.
***
Sementara itu...
Di sebuah rumah sakit...
Althea, Nadin bersama Dany orang kepercayaan Hans sedang duduk menunggu antrian untuk ke klinik Obsgyn.
"Dan... ingat jangan kasih tau atasanmu keberadaan Nadin." ucap Althea.
"Baik, Nyonya. tadi memang Pak Hans mnyuruh saya ubtuk mencari tagu keberadaan Nona Nadin, tapi saya sydah memberi kabar bahwa terakhir sinyal handphone berada di rumah itu. mungkin sekarang bos Hans sedang menunggu di rumah itu... atau di butik... atau mungkin sudah berada di kantor bersama Boss Danniel." Jelas Dany. Althea hanya mengangguk.
***
"Dokter Silvi..." ucap Althea saat Althea dan Nadin sudah berada di ruangan itu bersama dokter spesialis obsgyn.
"Miss Althea... ada apa ini? apa saya dapat kabar gembira lagi??"
"haha.. sayangnya kabarnya bukan saya yang dok... ini Nadin, sudah hampir dua minggu telat, dan saat di cek tadi pagi pakai test pack ternyata garisnya dua, kami langsung kesini untuk mengetahui lebih jelasnya, Dok!"
"Oohh.. begitu, saya pikir Miss Althea akan mempunyai adik baru lagi untuk Rubina..."
"Hahaha... cukup dua saja, itu juga sudah membuat saya kewalan ditambah suami saya yang dokter sendiri tau seoerti apa kan?!"
"Hahaha... ya ya ya... baiklah, Miss Nadin, silahkan anda berbaring di ranjang yang telah disediakan, saya akan langsung melihat lewat usg saja ya... Suster, tolong bantu Miss Nadin..." ucap Dokter Silvi pada karyawannya tanpa menunggu lebih lama lagi.
"Baik, Dok! Mari, Miss Nadin... saya bantu!" ucap suster itu sambil membatu Nadin untuk tidur di ranjang pasien.