I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 117



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


SEAN terbangun dengan perasaan yang sedikit aneh. Saat meneguk salivanya dia merasakan yang namanya perasaan getir. Selain itu dia juga merasa bahwa kepalanya sedikit sakit.


"Ck... Kayaknya udah ada tanda-tanda kalo gue bakalan sakit. Mending gue segera minum obat sebelum gue benar-benar sakit. Nanti yang ada gue malah cuna bakalan ngerepotin Bina lagi."


Meninggalkan kamar, pria dengan setelan piyama itu membawa langkah kakinya menuju dapur. "Loh kamu udah bangun Bi. Saya pikir kamu masih tidur. By the way lagi masak apa nih?" tanya Sean sambil dia melangkahkan kaki jenjangnya menghampiri Rubina yang sedang sibuk di depan kompor.


"Aku masak sup kentang wortel. Oh ya mending kamu langsung duduk di meja makan aja. Soalnya aku juga udah bikinin susu anget buat kamu."


"Hm, mau saya bantuin masak?" tanya Sean menawarkan dirinya. "Ngomong-ngomong kamu belum masak lauknya kan? Gimana kalo saya bikin omlet?" Sean membagikan idenya.


"Aku udah bikin lauknya Bi. Tuh ada di meja. Aku udah bikin ayam rica-rica."


"Wah, kayaknya enak nih. By the way belajar masak ayam rica-rica dari mana?”


"Awalnya aku iseng belajar lewat internet tapi kesampaian bikinnya pas aku ke rumah Ibu."


"Saya jadi nggak sabar pengin nyicipin hasil masakan kamu."


"Tunggu ya, Bi. Bentar lagi supnya udah mateng kok. Oh ya, mending kamu ke meja makan aja. Kan capek kalo kamu berdiri terus kayak begini."


"Enggak apa-apa. Biar sama-sama capek. Kan kamu juga berdiri di sini sambil masak."


"Oh... okay, terserah kamu aja."


"Oh ya, semalam saya nggak sempet nanya soalnya kamu udah keburu masuk kamar pas udah Sarah pulang. Jadi apa tujuan Sarah dateng sampe pengen ketemu kamu segala? Jujur aja saya kaget loh pas dia tiba-tiba datang kayak begitu."


"Hmm... Nggak ada apa-apa kok, dia cuma pengen lurusin aja kesalah pahaman yang terjadi."


"Tapi dia nggak ada ngomong aneh-aneh kan ke kamu? Maksud saya apa dia sempet nyampein kalimat yang ranahnya udah masuk ke ancaman atau sebagainya?"


Rubina menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nggak kok, tidak ada ancaman yang dilayangkan oleh Sarah. Bahkan sebaliknya dia meminta maaf karena katanya dia yang sudah jadi biang keladi yang membuat masalah ini semakin rumit," Rubina masih ingin membagikan banyak hal kepada Sean namun sesuatu mengambil perhatian Rubina,


"By, itu wajah kamu kok pucet banget. Kamu sakit?" Rubina bersuara dengan begitu khawatir.


"Hm, kayaknya sih udah ada tanda-tanda kalo saya bakalan demam."


"Nanti udah sarapan jangan lupa minum obat ya!"


"Iya. Nanti saya bakalan minum obat."


"Kalau perlu hari ini kamu nggak usah masuk kerja dulu. Ntar takutnya demam kamu makin parah aja.” Rubina saat itu benar-benar khawatir tapi lihat saja bagaimana respon dari Sean. Pria itu bukannya memberikan jawaban atas kekhawatiran istrinya tapi malah tersenyum simpul. "Kamu kok senyum senyum kayak gitu sih? Apa yang lucu?"


"Bukan lucu sih, saya senyum soalnya seneng aja, kamu masih khawatirin saya. Ngomong-ngomong makasih banyak yah, Bi, karena kamu masih mau buat khawatir. Ya walaupun saya sadar sih kalo saya belum bisa jadi suami yang baik buat kamu. Tapi saya janji, ke depannya, kalo emang kamu masih ngasih saya kesempatan kedua maka saya bakalan berusaha buat jadi suami yang terbaik buat kamu."


***



"Kita kecewa loh Bi, kenapa kamu nggak bilang masalah Sean?" Althea.


"Baru aja Papah nerima dia jadi menantu... tapi apa sekarang?! Ternyata bener kan feeling Papah?!"


"Kalau saja Emerald nggak bilang dan kedua orang tua Sean nggak dateng ke rumah... mau sampai kapan kamu ngerahasiain masalah sebesar ini Bi?!"


RUBINA hanya bisa terdiam menunduk. perasaan tak keruan yang menguasai dirinya. Ya... Sekarang dia sedang di rumah keluarganya.


Sementara Tyo sang Kakek hanya bisa terdiam.


Danniel yang heran menatap sang Ayah pun heran kenapa pada kejadian ini sang Ayah tidak bereaksi...


Padahal sang ayah yang dari awal yang ngebet pengen ngejodohin putri keaayangannya dengan pria pilihannya yang katanya baik.


"Apa Daddy tau hal ini?" tanya Danniel curiga. Tidak ada jawaban Tyo Henney. Tyo pun akhirnya menarik napas berat.


"Hah... Untuk soal itu sebenernya, Saya udah tahu," Tyo mengakuinya.


"Daddy tau masalah itu dari orang kepercayaan Daddy, dan pas sehari sebelum kamu dapat serangan jantung Niel... Makanya Daddy nggak bilang dulu masalah itu sama kamu, lalu Daddy menyelidiki sampai ke akarnya, karena Itu hanya sebuah kesalahan pahaman tidak sepenuhnya salah Sean, dia hanya korban Niel, dia dijebak! Jadi Daddy memutuskan untuk diam saja, karena bagaimana pun itu tergantung dari keputusan kamu, Bi... "


jujur saja Althea sangat kecewa dan menyayangkan ada masalah sepelik ini pada putrinya. Dan kalian tau reaksi Danniel dia sangat marah dan sakit hati saat pertama kali tahu soal itu.


"Tapi tetap saja Sean sudah membohongi kita semua." ucap Danniel melihat kearah putrinya dengan tajam.


RUBINA kembali ke apartemen dengan bantuan Emerald. Setibanya di apartemen Rubina merasa bahwa ada yang aneh dengan suasana di sana.


"Oh iya, kok suasana apartemen kayak sepi amat yah. Sean ada di kamarnya gak sih?" penasaran Rubina. Dia pun menuju ke kamar suaminya itu untuk mencaritahu. "By!" panggilnya sambil mengetuk pintu kamar.


"Masuk!"


Rubina pun membuka pintu. Yang niat awal hanya ingin mengecek akhirnya berakhir terkejut melihat yang ditemukan oleh netranya. "Kenapa By? Kamu demam kah?" Rubina langsung menghampiri suaminya yang saat itu sedang membungkus tubuhnya dengan selimut tebal." Sini By, biar aku cek dulu suhu badan kamu," betapa kagetnya Rubina saat menaruh punggung tangannya di dahi Sean dan dia menemukan hawa panas sedang bersarang di sana. “By, badan kamu panas banget loh. By the way kamu udah makan malam atau belum nih?" tanya Rubina.


"Udah."


"Kalo gitu aku ambilin obat penurun demam yah!"


"Nggak usah, saya juga udah minum obat kok sebelum kamu datang.”


"Oh... gitu ya..." Rubina memandang kepada AC yang bertaut di tembok ruangan. Karena AC masih dalam keadaan on, Rubina pun berinisiatif mengambil remote dan mematikannya. “By, malem ini aku tidur di sini ya sama kamu?” izin Rubina.


"Nggak usah By. Kalo misalkan kamu nggak nyaman buat tidur di sini mendingan kamu tidur di kamar sebelah aja."


"Tapi gimana sama kamu By kalo aku tetep tidur di kamar sebelah?"


"Kamu nggak usah peduliin saya By. Anggep aja sekarang saya lagi dapet karma setelah apa yang saya lakuin sama kamu.”


"Aku bakalan tetep ada di sini By. Oh ya, sebelumnya aku mau bilang maaf ya."


"Maaf untuk apa By?”


Rubina tidak mengatakan apa-apa langsung ikut berbaring di belakang suaminya. Dia langsung memeluk tubuh segede gaban itu dari belakang.


"Maaf soalnya udah meluk kamu kayak gini. Aku ngelakuinnya juga supaya tubuh kamu anget."


SELAMA beberapa saat Sean menghabiskan waktunya untuk menghayal. Tentu saja Sean sangatlah terkejut lantaran istrinya yang memberikan pelukan super hangat untuknya. Sungguh, rasanya tuh seperti ada kupu-kupu yang sedang berterbangan di bagian perut Sean -membuatnya tidak kuasa untuk tidak menerbitkan senyuman di tengah-tengah perasaan sakit yang dideritanya.


"Boleh saya balik badan supaya dipeluknya bisa sambil hadap-hadapan sama kamu?" tawar Sean bukannya diam saja menikmati pelukan dari belakang yang istrinya persembahkan.


Rubina membawa bibirnya ke samping tersenyum miring. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Hanya gerakan cepat menabok punggung suaminya.


Sean yang mendapat tabokan pun langsung berdesis. "Awww, sakit Bi, kenapa saya malah ditabok sih?" protes Sean masih dengan posisinya yang membelakangi istrinya. "Saya ini lagi sakit loh Bi. Lebih tepatnya saya lagi demam. Emangnya kamu mau saya tambah sakit?"


"Salah kamu sendiri."


"Kok nyalahin saya? Emangnya saya kenapa?" cecar Sean.


"kamu nggak perlu pura-pura nggak tau. Kamu sebelumnya bilang kan kalo kamu pengen balik badan."


"Maksud saya supaya kita bisa saling hadep-hadepan gitu loh, Bi.”


"Kamu ini ada-ada aja sih, By. Udah dikasih hati malah minta jantung. Udah dikasih pelukan supaya badan kamu jadi anget kamu malah mau yang lebih."


"Kapan lagi kan saya dapetin pelukan kayak begitu."


"Dari pada kamu mikirin hal yang aneh-aneh, mendingan kamu fokus saja pada proses penyembuhan kamu.”


"Maksudnya kalau saya udah sembuh nanti kamu bakalan meluk kamu dari depan? Gitu?" ujar Sean kelewat percaya diri.


"Heh, kok asal nyimpulin kayak gitu. Aku enggak ada ngomong yah kalau aku akan memeluk kamu setelah sembuh nanti."


"Hm baiklah, kalau gitu peluk saya kayak tadi aja. Masih mending saya dapat pelukan kayak begini, daripada nggak ada sama sekali kan." Sedetik setelah itu Rubina kembali memeluk tubuh suaminya dari belakang. Dan respon dari Sean adalah tersenyum membuat kesan manis terlihat jelas di wajahnya.


"Kalo biasanya tidur saya nggak bakal nyenyak kalo lagi demam kayak gini, aku sangat yakin kalau malam ini saya bakal tidur nyenyak karena aku tidurnya sambil dipelukin kayak begini sama kamu."


"Ck... Bisa aja kamu, By. Tapi kayaknya kamu bakalan aku perlakukan seperti ini hanya malam ini saja. Jangan harap besok malam dan seterusnya kamu bakalan ngedapetin hal-hal kayak begini lagi!" seru Rubina. "Dan anggep aja kalo malam ini kamu lagi beruntung."


"Ya, saya sangat beruntung karena malam ini saya bisa tidur dengan keadaan sehangat ini. Makasih ya, Bi, karena kamu udah ngelakuin ini buat saya.”


"Hmmm," jawab Rubina.


“Tidur By, nggak usah banyak ngomong. Semoga besok bisa sembuh supaya saya nggak perlu lagi melukin kamu kayak begini.”


"Kok gitu? Ya udah deh, mendingan saya sakit aja tiap hari"


"IISSSSHHH... Nggak boleh ngomong gitu ah By. Harusnya kamu tuh berdoa supaya kamu bisa cepet sembuh, bukannya minta sakit tiap hari."


"Nggak masalah kalau tiap hari saya sakit, asalkan tiap kali saya tidur, kamu selalu melukin saya kayak begini. Pastinya bakalan kerasa sangat menyenangkan. Hidup saya mungkin bakalan terasa bahagia dan damai."