I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 13 Kisah Hans



Setelah Nadin sudah mandi dan berganti pakaian, Nadin pun langsung ke dapur untuk memasak makan malam yang sebenarnya terlambat karena Nadin pikir Hans masih berada di rumah Danniel Henney. Dan sebenarnya juga, tadi Nadin memang sudah makan malam dengan Bastian.


"Mas, makanannya sudah siap!" ucap Nadin sedikit berteriak karena dia di dapur sedang menyusun makanan diatas meja makan mini yang ada di dapur itu.


Hans pun beranjak dari tempat duduknya menuju dapur, dilihatnya menu makan malam kali ini sangat sederhana, sayur capcay, dan telur balado.


"Apa ini cukup?"


"Hm..." gumam Hans sambil duduk dan menunggu Nadin yang sedang mengambilkan nasi dengan lauknya untuk Hans. Setelah Nadin memberikah sepiring makanan untuk Hans, Hans pun memakannya dengan lahap tanpa bersuara. Sementara Nadin yang duduk di depan Hans pun tediam melihat Hans yang sedang makan. Bagi Nadin ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan melihat Hans makan di hadapannya dan Nadin pun dengan senang hati menemani Hans makan.


"Kamu nggak makan?!" ucap Hans setelah habis memakan makannnya.


"Aku pikir Mas belum pulang, jadi tadi aku makan malam di luar..." ucap Nadin lalu membereskan piring bekas makan Hans dan mencucinya. Hans pun beranjak dan kembali lagi ke sofa ruang tengah dan melanjutkan pekerjaan dengan tabletnya.


Nampak ada kecanggungan diantara mereka yang terasa sekarang.


"Mas, kalau nggak ada yang harus aku lakukan lagi, aku kembali ke kamar ya.." ucap Nadin. Tidak ada jawaban dari Hans maka Nadin pun mulai melangkah kearah kamar itu.


"Kita bicara sebentar, Nad..." Ucap Hans berat sambil meletakkan tabletnya di meja depannya.


Nadin yang akan masuk ke dalam kamar pun terhenti dan terdiam sesaat. Entah apa yang sekarang Nadin rasakan. Tapi setidaknya Hans ingin berbicara dan menyelesaikan masalah diantara mereka.


...


Nadin yang duduk di samping Hans terdiam menautkan jarinya di ujung baju tidurnya gugup, menunggu Hans untuk berbicara.


Sebelum berbicara, Hans menghembuskan napas berat.


"Saya minta maaf, Nad." Nadin mengernyit melihat ke arah Hans.


"Mas, jujur sama aku... Apa Mas punya orang yang Mas sayangi? Dan Mas terpaksa menikahi aku?" tanya Nadin dengan tegas dan pasti, meskipun hatinya sakit melontarkan pertanyaan itu.


Ya... dari awal juga salah, saking terlalu senangnya Nadin sampai tidak sempat menanyakan alasan kenapa tiba-tiba Hans mengajaknya menikah, yang bahkan selama ini terang-terangan menunjukkan bahwa Nadin menyukai Hans dan selama itu pula Hans menolak atau menghindarinya. Tapi... ga ada angin ga ada hujan setelah kejadian tragis yang menimpa Nadin Hans langsung meminta pada kedua orang tua Nadin ingin menikahinya.


Nadin juga sempat berfikir kalau itu hanya rasa kasihan saja, dan Nadin berfikir mungkin dengan awalnya kasihan lama-lama perasaannya Hans akan berubah seiringnya waktu yang mereka jalani bersama.


"Saya hanya perlu waktu..." Nadin menghela napas.


"Sampai kapan? Hah... Mas, usia kita nggak muda lagi aku hampir tiga puluhan dan Mas juga sudah menginjak tiga puluh lebih, kita nggak tau sampai kapan kita akan bisa melihat dunia. Jika saat ini Allah masih memberikan kesempatan buat kita, kenapa kita nggak mengusahakan yang terbaik?" Nadin melihat Hans dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Hans pun melihat Nadin menelisik.


"Mengenai hal ini... apa karena kedua orang tuamu yang terus menerus mendesakmu untuk mempunyai keturunan dengan saya?! Jadi kamu stres dan mau saja menuruti kedua orang tuamu? Dan untuk masalah kemarin malam... itu juga disebabkan karena kedua orang tuamu kan? kemarin sore kamu kamu mengunjungi kedua orang tuamu kan?!"


"Apa??" Nadin melihat kearah Hans tidak percaya dan secara tidak sadar meneteskan air matanya.


"Mas, kamu tau kan tanpa orang tua aku ngedesek juga aku punya keinginan punya anak dari kamu, Mas." ucap Nadin menjelaskan sambil mulai terisak. "Aku suka anak kecil, impian aku adalah punya anak dari kamu Mas, apa kamu nggak menginginkannya?"


Hans mulai mengusap wajahnya, sebenarnya dia malas sekali memperpanjang masalah ini, apalagi ini tidak ada habis dan yang pasti tidak akan ada ujungnya selama Hans tidak menerima kehadiran seorang Nadin di kehidupannya.


"Hah... Bukan gitu nad, hanya saja sekarang bukan waktunya. Kita baru saja memulai, bukankah butuh penyesuaian?"


"Kalau Mas nggak bisa dengan cara berlari, aku bisa tememenin Mas dengan melangkah perlahan. Bukan seperti ini, Mas. Jalan di tempat bukan jalan yang tepat buat kita. Kamu tidak memiliki kemajuan sama sekali, Mas."


Sebelum Hans membuka suara, Nadin lebih dulu menyela, "kamu memang memiliki niat baik buat melangsungkan pernikahan ini, Mas. Kamu datang kepada orang tua aku, bicara baik-baik sampai kita dapat restu mereka. Lalu setelah semua sudah diraih, pernikahan ini akan diisi dengan kekosongan?" Perjuangan Nadin dalam mencintai Hans terasa begitu berat dan menyedihkan. Ternyata benar, hubungan akan berjalan dengan baik jika pihak sang pria memiliki cinta yang lebih besar.


"Lalu mau kamu apa sekarang?!"


"Aku mau Mas belajar menyayangi dan mencintai aku, juga merubah sikap Mas yang dingin itu hanya buat aku, bisa?" Hans menghela napas panjang dan berat mendengar permintaan Nadin.


"Mas, ayo kita memulai lagi dari awal... ya?!"


Mereka berdua saling bertukar tatap dalam beberapa detik, Hans melihat keseriusan mendalam pada binar tatapan indah Nadin. "Baiklah." Hans mengangguk pasrah.


"Maaf..." hanya itu yang bisa diucapkan Hans. Nadin pun mulai memegang wajah Hans sambil menggeleng kepalanya masih menangis.


Lalu Hans pun mengusap air mata di pipi Nadin. Saat mata mereka terkunci Hans pun menarik kepala Nadin perlahan lalu mengecup bibir Nadin. Nadin pun hanya terdiam menerima kecupan Hans yang lama-lama berubah menjadi *******.


Mereka kembali saling memiliki dengan perasaan yang bercampur jadi satu.


Saat perasaan senang sempat terisi penuh, seketika kembali kosong ketika melihat Hans masih menggunakan pengamannya.


"A-apa... kenapa Mas menggunakannya lagi?" Nadin bertanya dengan cepat, menggeleng tidak ingin. "K-kamu nggak mau punya anak bersamaku, Mas?" mata Nadin berkaca-kaca. Pertanyaan yang sama untuk yang kesekian kalinya.


"Siapa yang nggak mau punya anak? Hanya saja... waktunya nggak sekarang, Nad. Tolong beri saya waktu untuk menyesuaikan diri."


"baiklah, mari kita sama-sama menyesuaikan diri. Tapi tidak dengan pengaman itu, kamu begitu membatasi diri sama aku, Mas."


"Beri saya waktu sedikit lagi." Dan setelah itu Nadin diam, matanya kembali berkaca-kaca dengan perasaan yang begitu sesak.


#####


Hay-hay gimana nih ceritanya..


Seneng deh bisa balik lagi garap cerita ini. Dan pastinya banyak komentar yang ngomentarin Hans dan Nadin... itu artinya kalian ngikutin terus ceritanya...


kalo mau kalian tulis di kolom komentar ya.. gimana baiknya Nadin ngadepin Hans yang super duper bikin Aaaarrrgghh geleng-geleng kepala itu. ampe gw ga bisa berkata-kata lagi. Hah.. gw yang nulisnya aja kesel apalagi kalian yang baca.


So... Menurut kalian nih, Apakah Nadin lebih menyerah dengan perasaannya pada Hans dan memilih untuk mundur? mendapatkan laki-laki yang lebih baik lagi dan menyayanginya seperti Bastian, yang rela balik lagi demi keinginan untuk menikahi Nadin.


Atau Nadin tidak memilih dua-duanya? dan memilih untuk pergi dari kehidupannya yang sekarang meninggalkan kedua laki-laki yang ada di depannya?


So.. gw pengen kalian lebih aktip lagi di komentarnya ya.. biar gw juga semangant buat nulis kelanjutan ceritanya...


Oh, makasih juga atas dukungan kalian selama ini... sama I'm Not Cinderella...


jangan lupa klik lonceng biar kamu tau update selanjutnya, like, vote juga komentar-komentar kalian yang membuat gw lebih semangat lagi dalam berkarya..


love u guys!!!