
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Kamu kedengeran lebay banget By. Perkara barang seringan ini nggak akan bikin aku sampe kelelahan kali."
"Kamu jangan ngelawan, dengarin aja suami kamu ini. Biarin saya yang bawa." Sean mengambil popcorn di tangan istrinya. "Biarin saya yang bawa popcorn ini buat kamu. saya nggak mau liat kamu ribet pas bawa ini."
Setibanya dia di dalam bioskop terlihat ada sedikit perubahan di wajah Sean. Meski tidak terlalu nampak tapi kecemasan sedang terlihat di sana.
"Kenapa By?" bisik Rubina.
"Nggak kenapa-kenapa kok." Sean meneguk salivanya takut-takut saat film telah dimulai. Padahal baru di menit-menit awal namun Sean sudah dibuat tersentak oleh sebuah scene jumpscare. Gerakan tangan Sean tidak kalah cepat menggenggam tangan Rubina.
"Eh Sorry," ucapnya spontan nada rendah lantaran tidak ingin mengganggu penonton lainnya. Sean melepaskan tangannya dari tangan Rubina dengan segera.
Sean tidak menyelesaikan film. Bahkan setengahnya saja belum. Sean sudah berusaha setengah mati untuk menyelesaikan filmnya tapi pada? akhirnya dia jadi sport jantung sendiri. Sean meninggalkan bioskop dengan terburu-buru.
"By? Kenapa?" Rubina juga ikut keluar meninggalkan film yang masih berjalan. "Kamu sakit?"
"Nggak. Saya baik-baik saja."
"Terus kenapa kamu ninggalin filmnya. Sama kenapa keringatan gitu? Kamu nggak lagi sakit kan?" nada suara Rubina terdengar menyimpan kekhawatiran.
"Saya baik-baik aja kok. Alasan kenapa saya keluar karena di dalam gerah banget."
"Perasaan di dalam dingin kok, By. Kok bisa kepanasan. Kayaknya kamu berkeringat bukan karena kegerahan deh By. Kayaknya itu keringat ketakutan."
"Ketakutan apa maksud kamu?"
"Kamu ketakutan kan pas nonton film horror makanya sampe keringatan kayak gini."
"Enak aja kalo ngomong," tentu aja Sean tidak ingin mengakui dirinya yang takut dengan yang namanya hantu. Oleh karena itu Sean memutuskan untuk tidak berkata jujur. Dari pada Rubina akan terus menggodanya, Sean pun memilih jalan pintas berbohong.
"Sekarang kita pulang aja ke apartemen. Soalnya keringat bikin badan saya jadi lengket. Sialan tuh hantu bikin..." Sean mungkin terlalu kesal sampai dia keceplosan mengakui tentang keringatnya hadir lantaran ketakutannya dengan hantu.
"Kenapa By, kok nggak dilanjutin kalimatnya," Rubina telah menerbitkan senyum jail sebelum melancarkan aksinya untuk menggoda suaminya lagi. " Kecoplosan yah By?"
"Kamu ngomong apa sih?" Sean belagak kayak orang bodoh.
"Udahlah By, nggak perlu malu buat ngakuin kalo kamu takut buat nonton film horror." Menoleh ke kanan dan ke kiri, Rubina lalu mengembalikan fokus matanya itu kepada sang suami. "Nggak ada orang yang bisa denger kecuali aku. Kamu nggak perlu malu buat mengakui kalo sebenarnya kamu takut nonton film horror."
"Aku nggak takut ya nonton film horror," elak Sean. Dia menatap tidak suka kepada Rubina yang kala itu sedang tersenyum. Senyum Rubina menambah kesan manis di wajahnya namun Sean malah mengartikan senyum itu sebagai senyum menyebalkan.
"Nggak takut gimana By. Buktinya sekarang wajah kamu keringatan kayak gitu!"
"Saya nggak takut," Sean menekankan kalimatnya. "cuma saya tidak berani."
"Sama saja By."
"Dari pada kamu terus godain saya kayak gitu mendingan kita pulang sekarang!" ajak Sean.
Rubina menatap punggung Sean yang semakin meninggalkannya.
"Gue liat perkembangan Sean sangat signifikan seiring berjalannya waktu. Walaupun kadang dia masih kasar, tapi gue yakin sebentar lagi gue bakalan naklukin dia. Apalagi akhir-akhir ini dia kadang ngeliatin sisi baiknya sama gue."
"Kamu mau tetep diam di sana atau ikut saya pulang?" teriak Sean di ujung sana.
"Ikut kamu pulang lah By," jawab Rubina sambil berlari-lari kecil untuk menyamakan dengan Sean.
***
"KENAPA TIBA-TIBA RUBINA SAMA SUAMINYA NINGGALIN FILM YANG MASIH BERJALAN?" Agam mengajukan pertanyaan kepada adiknya yang kini berjalan santai di sisinya sambil memainkan ponsel. "Perasaan alur ceritanya bagus-bagus aja tapi kenapa mereka pergi."
"Dia ngechat aku katanya dia dan suaminya lagi ada urusan. Makanya buru-buru pulang sebelum filmnya beres." Caca menjawab keraguan Agam tentang kejadian di bioskop tadi.
"Ada apa Kak? Hela napas kakak kok kayak berat gitu. Apa yang buat kakak kesal?"
"Kamu kan tahu sendiri kalo tujuan kakak datang ke mall adalah untuk menghibur diri, tapi kita malah ketemu sama Bina dan suaminya. Kayaknya semesta nggak pernah ngerasa bosen buat ngelukain hati kakak lebih dalam lagi."
"Walaupun nggam mudah tapi kenyataan itu harus kakak hadapi. Kakak harus nerima kalau sekarang Bina udah bahagia sama cowok yang dia pilih buat jadi pendamping hidupnya. Dan juga, menghindari Bina bukanlah solusi yang tepat menurut aku. Malah, hal itu cuma bakalan buat kakak akan kesulitan buat move on darinya. Ayo lah Kak. Kakak bisa lihat kan betapa bahagianya Biba tadi pas sama Sean?"
"Tapi kok aneh ya, Ca?" Kening pria itu mengkerut dalam.
"Apanya yang aneh, Kak?"
Penasaran Caca.
"Aku seperti merasa kalo apa yang Sean lakuin ke Bina kayak nggak tulus. Aku ngerasa dia kepaksa ngelakuin itu."
"Maksudnya gimana ya Kak? Aku enggak ngerti sama sekali," dengan melihat wajahnya saja orang-orang bakalan tahu kalau saat itu Caca sedang bingung. Penegasannya berupa kening yang mengkerut, sejalan dengan tatapannya yang semakin meredup. "Bisa jelasin secara rinci maksud ucapan kakak?"
"Mungkin cuma firasat aku aja atau justru kayak gitulah kenyataannya, tapi yang jelas aku ngeliat perlakuan Sean ke Bina tuh kayak dipasain, nggak tulus dari hatinya."
"Kayaknya itu cuma firasat kakak aja deh. Soalnya aku liat tadi Sean sangat sayang kok sama Bina. Dia perhatian buat ngebantuin melap sisa makanan di bibir Rubina, dan sebelum masuk di bioskop tadi aku juga liat Sean yang sampe bela-belain bawain pop corn segala. Ya logikanya kalau emang kayak dugaan kakak, kenapa dia sampe ngelakuin hal itu buat Bina? Dia bisa aja kan bersikap santai?"
Agam menganggukkan kepalanya pelan-pelan. Dia mencoba memahami namun rasanya seperti berat untuk dia terima begitu saja. "Tapi dari yang aku tau Sean itu nggak pernah membalas cintanya Bina sejak kita jaman SMA. Kok aneh setelah tujuh tahun kemudian perasaannya berubah secara drastis. Dari yang dulunya nggak pernah ngelirik Bina, sekarang dia malah nikah sama dia. Bukankah menurut kamu itu sedikit aneh, Ca?"
Caca menggelengkan kepalanya. Sangat-sangat tidak setuju dengan dugaan yang disampaikan oleh kakak laki-lakinya. "Maaf ya Kak. Tapi jujur aku kurang setuju sama yang kakak sampaikan barusan. Waktu tujuh tahun lama banget loh. Bisa jadi dalam rentan waktu itu hatinya Sean berubah, dari yang dulunya nggak punya perasaan apa-apa sekarang malah punya rasa suka itu. Allah kan maha pembolak-bolak hati."
Agam menganggukkan kepalanya.
"Mungin itu cuma kekhawatiran kakak aja." Ucap Caca sambil memberikan tepukan penyemangat.
"Semoga aja itu cuma ketakutan aku saja."
Di tempat lain namun di waktu yang bersamaan terlihat Sean yang diekori oleh Rubina sedang berjalan menuju ke dapur sambil membawa barang belanjaan yang sempat mereka beli. Sean langsung merapikan semuanya. Buah-buahan serta makanan frozen segera dia masukkan ke dalam freezer.
"By?"
"Hmmm?"
"Aku mau tanya."
"Soal apa?" kata Sean tanpa mengalihkan perhatiannya kepada aksi yang sedang digelutinya yaitu menyusun barang-barang di freezer.
"Soal kamu yang takut sama hantu. Aku penasaran deh, kok bisa ya seorang Sean Altemosa Ahmet yang tampannya sebelas dua belas sama Zayn Malik setakut itu sama hantu?"
"Ya wajarlah kalo saya punya ketakutan. Saya juga kan manusia biasa."
"Maksud aku begini loh By. Apa sih yang kamu takutkan dari hantu?" tanya Rubina.
"Hantu itu nyeremin, kayak kamu," pedas Sean. Dengan kesadaran penuh dia mencibir istrinya.
"Kalau kayak aku berarti hantunya cantik dong, soalnya aku kan cantik kayak boneka."
"Narsistik!" umpat Sean.
Senyum di bibir Rubina mengembang dengan sempurna. Sekelabat ide muncul begitu saja memenuhi ruang di dalam pikirannya.
"By?"
"Kenapa?" ucap Sean singkat.
"Ngomongin soal hantu dulu ada loh temen aku yang katanya diteror sama hantu pas tidur sendirian."
"Nggak usah mencoba nakut-nakutin saya! Nggak akan mempan."
"Aku serius loh By, temen aku bahkan diikuti sampai ke kamar mandi. Bukan itu aja sih, temen aku juga sampe diteror pas dia lagi tidur. Bahkan nih ya kata temen aku dia ngeliat bantal gulingnya berubah jadi sosok pocong."