I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 43



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"Apa kamu sengaja beliin gaun ini karena sebenarnya kamu pengen pake jas yang warnanya sama?" tanya Rubina namun terkesan sedang memberikan tuduhan. Dia menatap dengan begitu intens kepada Alvin.


"Bisa-bisanya kamu kepikiran sampe sejauh itu. Padahal saya sama sekali nggak pernah ada niatan buat menyamakannya. Waktu di butik pun saya cuma ngambil gaunnya secara asal. Jangankan masalah warna, bahkan saya cuma nebak ukuran yang cocok buat kamu. Ya.. bisa dibilang kecocokan yang terjadi di antara outfit yang kita kenakan saat ini cuma kebetulan semata. Maka dari itu kamu nggak perlu berpikir kejauhan."


"Kalo emang kayak gitu. Itu artinya semesta lagi mihak kita. Buktinya sekarang kita couple."


"Terserah kamu mau nganggap itu kayak gimana. Yang jelas, bagi saya ini semua cuma kebetulan aja. Sama sekali nggak ada kaitannya dengan takdir."


"Ok Fine. Aku juga nggak akan maksa kamu buat sependapat sama aku. Tapi satu hal yang pasti bahwa takdir akan selalu memihak kita. Dan aku nggak akan nyerah buat dapetin kamu. Kita masuk sekarang?"


"Tunggu bentar! saya mau ngehubungin Nino dulu," usai mengatakannya Sean membuat kepalanya menunduk. Dilanjutkan dengan tangannya digunakan untuk merogoh saku mengambil ponselnya dari dalam sana.


Sean segera mencari nomor ponsel sahabatnya. Setelah menemukan, segera dia melakukan upaya sambungan telepon dengannya.


"Halo, lo di mana No?" langsung pada intinya Sean menanyakan keberadaan Nino sewaktu panggilan telah terhubung.


"Ini gue udah di dalem. Lo langsung masuk saja!" ujar Nino di seberang sana.


"Oh, ok," usai mengatakannya sambungan telepon pun diputus sepihak oleh Sean.


"Ya udah. Kalo emang Nino sudah ada di dalam, kita juga langsung masuk saja."


"Tunggu bentar! Ada beberapa hal yang harus kita omongin sebelum kita masuk."


"Apa lagi sih yang mau kamu omongin?"


"Saya cuma mau ngasih kamu peringatan sebelum kita masuk."


"Peringatan apa?"


"Sebelum kita masuk saya mau jelasin disana nanti kamu jangan lupa buat liatin sikap seolah-olah kita pacaran. Kamu nggak perlu melakukannya dengan berlebihan, yang paling penting orang-orang bisa percaya sama hubungan kita. Kamu ngerti kan apa yang saya maksud?" salah satu dari kedua alis tebal milik Sean terlihat terangkat meninggalkan tempatnya.


"Kamu tenang aja. Aku pasti akan melakukan yang terbaik."


"Tapi saya nggak yakin kamu bisa melakukannya."


"Percaya sama aku. Akan aku buktiin pas kita udah di dalem nanti."


"Ok saya akan berusaha percaya sama kamu. Tapi ingat yah, pas di dalem nanti kamu jangan berlebihan."


Rubina tidak menjawab. Bukan dengan sengaja dia melakukannya. Hal itu terjadi karena teleponnya sedang berdering tanda adanya telepon masuk. Rubina merogoh tas kecil yang sejak tadi dia tenteng. Berhasil mengambil ponselnya Rubina melihat nama salah satu sahabatnya tertera di layar.


"Sean, mendingan kamu masuk duluan aja. Aku ada telepon, nanti aku nyusul kamu!"


"Hmm.. jangan lama-lama!" Rubina tersenyum.


"Emangnya kenapa kalo lama? Kamu takut nggak bisa nahan rindu ya kalo aku perginya lama-lama," pokoknya selalu ada saja cara yang didapatkan oleh Rubina dalam menghadirkan kekesalan di diri Sean.


Seperti saat ini, dia kembali mencoba untuk membuat Sean kesal, dan benar saja setelah ucapan Rubina, wajah Sean terlihat sedang menegaskan kekesalan.


"Ck... Bener-bener ya..." kesal Sean. Pria itu memutar badan. Dia pergi meninggalkan Rubina dengan langkah dipercepat.


Rubina menggeleng lambat memperhatikan punggung Sean yang kian menjauh. Setelah itu dia berhenti memperhatikan Sean, Rubina kembali kepada layar ponselnya dan segera mengangkat telepon dari sahabatnya.


"Iya, Fa, kenapa?"


"Lo di mana Bi?"


"gue lagi di acara resepsi pernikahan temennya Sean."


"Iya nih. Btw kenapa lo nelpon gue. Ada hal penting kah?"


"Besok kan ulang tahunnya Rara. Gimana kalo kita nyiapkan party kecil-kecilan buat dia besok."


"Ah iya juga yah. gue baru ingat lagi. Ngomong-ngomong apa rencana lo?"


"Pokoknya malam ini jangan ngasih ucapan selamat ulang tahun. Anggep aja kita lupa. Terus besok siang gue bakalan usahain buat pulang cepet dari kantor. Lanjutannya kita omongin besok saja, soalnya kan lo lagi jalan sama Mr. Snowman."


"Ok. Besok aja kita lanjut bahasnya. Sekalian juga besok kita nyiapin kado buat dia. See you tomorrow bestie."


Setelahnya sambungan telepon pun terputus.


***


'Dia ke mana sih?' keluh Sean saat dia sudah memasuki gedung tempat berlangsungnya acara. Sean masih saja menunggu. Pria itu urung mengisi buku tamu karena dia masih menunggu kedatangan Rubina.


"Kamu ke mana sih? Lama banget!" bisiknya saat Rubina sudah ada di sebelahnya.


"Aku tadi nerima telepon. Lagian kamu takut banget sih. Jangan-jangan kamu takut kehilangan aku yah!"


"Ck.. Cepet isi nama kamu di buku tamu trus kita cari Nino!" setelah Rubina mengisi namanya di buku tamu, sekarang giliran Sean yang melakukannya.


"Sean!" panggil Rubina.


"Hmmm."


"Apa sekarang aku udah bisa berakting layaknya pasangan?"


"Hmm, sekarang kamu boleh melaku--"


Sean belum sampai pada tahap selesai dengan kalimatnya. Dan tangannya keburu direnggut oleh Rubina. Rubina terlihat sangat terburu-buru menggamit lengan milik Sean setelah mendapatkan izin untuk berakting layaknya pasangan. Mungkin karena adegan yang berlangsung dengan cepat itu sehingga di detik yang sama menyisakan raut muka kaget pada wajah Sean.


"Kamu ngapain?" bisik Sean.


"Aku cuma melakukan sesuatu yang seharusnya aku lakukan."


Sean mencoba membiarkan Rubina bertingkah sesukanya. Mungkin menggamit tangannya adalah langkah yang Rubina tempuh untuk meyakinkan rekan-rekan Sean kalau hubungan mereka baik-baik saja.


Ting!


Sean berhenti pada langkahnya. Begitu pun dengan Rubina yang ikut berhenti melangkah. Kening Rubina mengkerut saat pandangannya diarahkan pada Sean.


"kenapa, kok berhenti?" tanya Rubina.


"Ada pesan masuk!" jawab Sean sembari mengecek ponselnya. Ternyata pesan itu berasal dari Nino.


'Kenapa Nino pakek ngirim pesan?' pikir Sean. Dia pun mengecek isi pesan yang Nino kirimkan untuknya.


[Syukur deh lo dengar saran gue. Paling nggak lo enggak akan jadi bahan bully-an mereka, soalnya lo datang kesini sama Bina]


Sean menoleh ke segala penjuru. Tatapannya lantas menjurus kepada salah satu meja. Dia melihat Nino sedang memberikan kode-melambaikan tangan-seakan dia menunjukkan eksistensinya kepada Sean.


"Tuh, Nino sama yang lainnya ada di meja sana. Kita ke sana," bisiknya pada Rubina.


"Ayo. Aku udah nggak sabar buat ketemu sama temen-temen kamu."


"Inget. Jangan bertingkah berlebihan. Kamu cuma perlu melakukan segala sesuatu sewajarnya!" Sean kembali memperingati.


"Iya, aku tahu. Kamu nggak perlu khawatir. Akan aku pastiin temen-temen kamu bakalan percaya kalo kita adalah pasangan."