I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 24 Kisah Hans



"Selamat pagi?!" ucap Nadin yang baru saja sampai di butik milik Aquila.


Aquila yang melihat Nadin pun hanya terdiam dan berkaca-kaca melihat ke arah Nadin.


***


Di sebuah cafe...


Nadin dan Aquila duduk berhdapan dan masih saling terdiam tanpa ada yang memulai berbicara.


"Nad---"


"Quil--" ucap mereka berbarengan.


"Kamu dulu aja Quil..." lanjut Nadin sambil tersenyum.


"Aku minta maaf Nad... aku bener-bener nggak tau kalau Kak Hans adalah suami kamu..." Nadin hanya tersenyum kecut.


hubungan aku sama Mas Hans memang sudah retak sebelum kamu datang... lagian aku juga nikah sama Mas Hans tanpa adanya cinta dari Mas Hans, karena Mas Hans cintanya sama Azura dari dulu sampai sekarang...


"Kemarin Kak Hans nemuin aku dan ngejelasin semuanya, kalau kamu adalah istrinya..."


"aku juga minta maaf, pria cinta pertamamu itu sudah jadi suami aku, Quil..." ucap Nadin terasa berat.


"Hm... jujur, awalnya aku kaget dan nggak percaya! tapi setelh kejadian itu kamu nggak pernah datang lagi ke butik... dan aku jadi percaya kalau kamu istri dari Kak Hans... maaf..."


"It's okay Quil, aku juga nggak tau, dan ini..." Nadin menyerahkan sebuah kertas yang dimasukan ke dalam amplop putih.


Aquila menerima amplop itu bingung lalu membuknya.


"What?! No... Nad, aku butuk kemampuan kamu dalam mendesai pakaian di butik ini, semua klien dan para tamu kemarin sangat suka dengan desainnya... aku mohon Nad... mereka sudahbjtuh cinta sama desain kamu.."


"Tapi... Quil--"


"Kalau gara-gara Kak Hans aku udah nyerah Nad, sejak Kak Hans cerita tentang kalian juga aku udah bener-bemer menyerah dan aku nggak mungkin ngehancurin pernikahan kalian... aku akan jauhin Kak Hans.. tapi please.. kamu haris tetep jadi desainer di butik aku ya..." ucap Aquila memohon dengan sangat.


Nadin pun terdiam sejenak.


Sebenarnya bukan karena Aquila Nadin mengundurkan diri dari butik tapi Nadin sudah mau menjauh dari Hans.... dan memang sejak kejadian itu Nadin tidak pernah pulang ke Apartment Hans.


Althea dan Danniel ikut andil dalam rencana Nadin untuk menjuh dari Hans, sampai mereka menyewa sebuah rumah yang tidak terlalu besar di suatu tempat yang pasti tidak diketahui oleh Hans, bahkan Danniel mewanti-wanti Dany orang kepercayaannya Hans untuk tidak memberitahu, jika Hans menyuruhnya mencari tahu dimana Nadin berada. Danniel hanya memberitahu Hans bahwa Nadin masih ada disini dan dia baik-baik saja.


Makanya Nadin mau mngundurka diri dari butik milik Aquila.


"Baiklah Quil, aku mau bertahan di butik ini, tapiada syaratnya... aku nggak bisa setiap hari datang ke butik, aku akan kerjakan desainya di rumah, dan tolong jangan bilang Mas Hans kalau aku msih bekerja di butik kamu..." Aquila melihat ke arah Nadin heran.


"Tapi... kenapa? kamu masih marahan sama Kak Hans? kn aku udah bilang aku bakalan ngejauhin Kak Hans..."


"Ada masalah lin yang sedang kami hadapi, Quil... Dan ini bukan karena kamu! Ini masalah intern Mas Hansnya sendiri... pokoknya kalau kamu nggak bilang kalau aku masih kerja disini aku bakalan bertahan disini dengan syarat yang aku ajukan..."


"Ok, ok aku terima syarat kamu, tapi boleh kan kalau aku main ke rumah kamu, cuma buat sekedar main atau ada keperluan yang urgent..." Nadin sedikit ragu meluhat kearah Aquila lalu akhirnya mengangguk.


Aquila tersenyum lalu memeluk kearah Nadin dengan perasaan lega dan juga senang.


***


"Om... Om Hans lagi marahan ya sama Aunty Nadin?!" ucap Emerald saat Hans sedang menjemput Emerald dan Rubina di sekolah mereka.


"Cih... aku tau, Om lagi dilarang ketemu sama Aunty Nadin kan sama Ibu dan Papah?! Aku tau Aunty Nadin ada dimana... tapibaku juga ga mau Om Hans nyakitin Aunty Nadin lagi!"


"Ck... bocah! tanpa kamu kasih tau juga Om tau Aunty Nadin dimana?! Cuma--"


"Papah ngelarang Om buat nemuin Aunty kan? abis Om sih... nyakitinnAunty Ndin terus... udah tau Aunty Nadin orangnya baik.. masih aja disakitin!"


"Udah kamu tidur sana! tuh adik kamu aja udah tumbang!"


"Dia tumbang karena disekolah banyak tingkah, kalo aku kan nggak!"


Beberap saat mereka hening.


"Om tau waktu aku tanya kenapa Aunty Nadin mau nikah sama Om? Padahal Om kan ga ada bagus-bagusnya, dingin iya, jutek juga iya. itu juga udah di konfirmasi sama ibu dan papah kalau olitu emng bener.. jadi Om ga usah ngelak!"


"Cih... terus apa jawaban Aunty Nadin?!" ucapnya sambil fokus ke jalan.


"Dia mengharapkan Om Hans kayak Papah... awalnya nggak suka tapi tapi lama kelamaan jadi suka dan malah Aunty Nadin pengen Om Hans jadi bucin kayak Papah ke Ibu." Hans hanya terdiam mendengar Emerald yang hari ini sangat cerewet. dan tidak biasanya Emerald banyak bicara seierti ini. Hans juga bingung melihat kecerewetan Emerald di hari ini.


***


"Kak Hans?!" ucap Aquila yang sedang memperbaiki pakaian yang ada di manekin etalase saat melihat Hans. Lalu dia melihat jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam.


Ya... di butik hanya ada beberapa pegawai yang masih membereskan toko begitu pula dengan Aquila yang masih membenarkan pakaian yang dipasang di manekin.


"Kakak... emangnya nggak ada kerjaan lagi? kok bisa mampir ke sini?"


"Saya lagi suntuk Quil... kamu juga masih ada di toko bukanya pulang!" Aquila hanya tesenyum kearah Hans lalu berjaln menghampiri Hans.


"Jo... lanjutin besok pagi aja, bilang sama yang lain sekarang boleh pulang!" ucap Aquila sesikit berteriak kearah pegawainya yang bernama Jona.


"Baik Bu..." ucap Jona yang langsung buru-buru ke dalam untuk mengambil tas dan memberirahu yang lain untyk pulang.


"Duduk, Kak!" Ucap Aquila menyuruh Hans untuk duduk di sofa untuk tamu.


"Bu.. kami pulang duluan ya.. kami udah kunci semua pintu, tinggal nanti pintu luar ya Bu..." ucap Jona.


"Hm.. iya makasih ya.... jangan lupa kalian besok datang pagi ya buat lanjutin beresinnya."


"Beres Bu..." ucap Jona dan pegawai yang lainnya, lalu berlalu dari hadapan Aquila dan juga Hans. Hans pun memperhatika para karyawan Aquila sambil berfikir.


"Apa Nadin masih kerja disini?!" akhirnya itu kata yang diucapkan Hans. Aquila melihat keaah Hans memgerutkan keningnya.


"Kak, apa hubungan Kakak sama Nadin bermasalah karena aku? karena jujur aja, Kak. aku tuh nggak enak sama Nadin, dan kakak tau, aku tuh butuh Nadin buat berada di butik aku... tapi tiba-tiba dia ngasih surat resign ke aku..." Hans terdiam melihat ke arah Aquila dengan tajam.


"Dia mengundurkan diri?! tapi---"


"Tapi tenang aja, Kak. Aku udah mohon-mohon buat mempertahankan Nadin buat jadi desainer di butik aku... karena jujur aja aku sangat suka dengan desain bajunya... dan para klien juga suka sama baju-baju aku... dan Nadin minta syarat agar dia masih bekerja disini. Dia mau kerja di rumah tanpa harus datang ke sini, lalu dia nggak mau Kakak tau kalau Nadin masih kerja disini." Hans hanya terdiam mengurut keningnya pusing.


"Sebenernya ada apa sih Kak? aku bener-bener nggak ngerti sama hububgan kalian... Kakak bilang kalo Nadin adalah istri kakak tapi Nadin bahkan nggak mau ketemu sama kakak... apa iti semua karena aku?!"


Lalu Hans pun menceritakan awal mula bagaimana dia bisa menikah dengan Nadin.


"Hah? kok bisa?!" ucap Aquila tidak percaya.