
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Rubina tidak lagi merespon. Bukan karena kehabisan kata-kata, tapi karena dia sengaja untuk melakukan itu. Pikirnya kalau dia sampai menjawab yang suaminya katakan, niscaya Sean akan mengembalikan sebuah kalimat juga. Dan kalau itu terus berlanjut, maka kapan suaminya itu punya kesempatan untuk tidur? Apalagi kan sekarang kondisinya sedang tidak enak badan. Ya, Rubina hanya ingin agar pria itu banyak beristirahat supaya bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.
Beberapa menit selanjutnya ruangan kamar diisi oleh keheningan. Selain denting jam, yang Rubina dapatkan hanya suara helaan napas Sean. Helaan napasnya terdengar santai.
'Hm, apa mungkin Sean udah tidur?'
Rubina tidak bisa menilai apakah saat ini suaminya itu sudah tidur atau belum karena posisi pria itu sedang membelakanginya.
"By, udah tidur ya?" lemah Rubina mengatakan kalimat itu.
Tidak ada jawaban.
"Kayaknya dia emang udah tidur." Rubina yang berpikir kalau suaminya sudah terlelap memilih untuk menggunakan tangannya menepuk lengan kekar suaminya secara perlahan. Rubina ingin membuat tidur suaminya semakin lelap. "Cepet sembuh ya, By. Aku jadi khawatir kalo kamu lagi sakit kayak gini. Ya walaupun cuma demam biasa, tapi tetep aja aku sangat khawatir."
Setelah pertemuan dengan orangtuanya tadi, pemikiran Rubina malah jadi gusar. Keinginan sang Papah untuk menceraikan Sean makin bertambah, daripada itu sang Grandpa malah memberitau untuk memperrahankannya dan memberi kesempatan kedua untuk Sean. Dan Rubina juga berfikir kalau makin ke sini Sean juga sedikit demi sedikit telah memperlihatkan perubahan sikapnya ke Rubina. Dibanding dengan awal-awal mereka bertemu, sikap Sean yang sekarang sudah sangat pesat perubahannya.
***
"LOH, UDAH PAGI TERNYATA!" Sean mengucek-ngucek matanya hingga matanya itu tampak memerah. Kemudian pria itu menyadari satu hal. Sekarang istrinya sudah tidak ada lagi di belakangnya. “Gara-gara dipeluk sama istri semalam tidur gue jadi kelewat nyenyak banget. Hm, udah jam berapa sekarang?" gumam pria itu dilanjutkan dengan merabah-rabah sekitarnya untuk mengambil ponsel.
Sean cukup terkejut melihat ponselnya memperlihatkan jam yang telah menunjukkan pukul delapan lewat tujuh menit.
'Anjir... udah jam delapan pagi. Gue kan harus berangkat ke Rumah Sakit! Mana ada Meeting Morning Report lagi," Sean yang sudah bangkit meninggalkan posisi berbaringnya segera menatap ke arah pintu yang baru saja terbuka.
"Loh, loh, loh, kok udah bangun sih, By?" Rubina mengatakannya dengan tampang terkejut. Apalagi sebelum tadi dia meninggalkan Sean kamar, Rubina yakin sekali bahwa keadaan suaminya itu masih demam. "Mending kamu istirahat dulu deh, By!" Rubina berjalan meletakkan nampan yang dia bawa dari dapur ke atas nakas.
"Kalo istirahat terus bikin capek, Bi. Rebahan semaleman aja udah bikin badan saya pegel-pegel. Kayak habis ditabok hulk tau gak?!"
"Ck... Lebay. Kamu belum menjawab pertanyaan aku, kamu mau ngapain sampe bangun dari tempat tidur segala?"
"Ah itu. Rencananya hari ini saya mau masuk kerja, nggak enak sama yang lainnya, soalnya hari ini ada Morning Report bagian SMF saya, Bi."
"Kok gitu sih? Kamu kan lagi sakit, gimana ceritanya mau masuk kerja. Nggak.. Nggak! Pokoknya aku nggak bakal ngizinin kamu buat ke rumah sakit ya. Ntar kalo kamu kenapa-napa pas di sana gimana?" Rubina membagikan ketakutannya.
"Saya udah baikan kok, Bi. Cuma demam dikit aja. Takutnya juga disana ada pasien yang butuh pertolongan saya."
"Kan ada perawat sama dokter lain, By. Emang di Rumah Sakit Grandpa dokter Bedah cuma kamu doang? Nggak kan?" Rubina memberikan jawaban yang mematahkan alasan suaminya.
"Tapi kan saya dokter penanggung jawabnya, Bi ," keras Sean.
"Iya, kamu emang dokter penanggung jawabnya dan aku tahu kalo kamu juga punya peranan penting. Tapi enggak gini juga lah. Kondisi kamu lagi sakit. Gimana kamu mau nyembuhin pasien kalo kamu aja dalam keadaan kayak gini?"
"Tapi kan, Aduh," eluh Sean.
"Kenapa, By?"
"Kepala saya kok ngedadak dadak pusing ya," seraya memegangi kepalanya yang sakit.
"Tuh kan dibilangin juga apa? Ngeyel banget sih kamu jadi suami!" Rubina menggelengkan kepalanya lebih kepada tidak habis pikir. "Kamu tuh ya, By, kalo dibilangin bebal banget sih. Untung kamu belum bertindak berlebihan berangkat ke rumah sakit pas kamu sakit kepala gitu. Udah tar aku telpon Grandpa buat ijinin kamu istirahat, biar tugas kamu diwakilin sama dokter lain! Jangan debat lagi, By!"
Rubina mengambil bantal di ranjang dan meletakkannya di sandaran ranjang. Setelah itu dia membantu suaminya untuk duduk bersandar di sana.
"Aku udah bikin nasi kuning," kata Rubina tiba-tiba.
"Nasi kuning?" kening Sean mengkerut. "Bikin sendiri?"
"Iya, bikin sendiri. Kamu suka nasi kuning kan?"
"Suka sih? Tapi kok kamu bisa kepikiran sih bikin nasi kuning? Biasanya kan kalo orang lagi sakit tuh dikasih makannya bubur, lah ini malah dikasih nasi kuning."
"Biar anti mainstream lah, By. By The Way dulu pas aku masih kecil kalo misalkan aku lagi demam biasanya aku selalu minta Papah buat beliin nasi kuning." Rubina bercerita sambil tersenyum mengingat bagaimana memori masa kecilnya yang indah.
"Oh ya?"
"Berarti dari kecil kamu udah jadi beban ya."
"Apa kata kamu?"
"Nggak, saya bilang saya udah laper. Ayo mana nasi kuningnya."
"Kamu diem aja di situ," Rubina meraih piring dari atas nampan bawaannya tadi. “Karena kondisi kamu masih sakit, jadi biar aku saja yang bantu nyuapin."
Wajah Sean jadi berseri-seri.
"Ternyata bener ya kata orang, selalu ada hikmah dibalik cobaan. Kayak saat ini saya lagi sakit, tapi hikmahnya saya bisa ngerasain keromantisan kamu ini."
"By, kamu mau makan kan? Ayo buka mulutnya! Aaa..." titah Rubina mengalihkan topik.
Rubina tidak melewatkan kesempatan. Begitu mulut Sean terbuka lebar, dia langsung menyendokkan nasi kuning beserta lauk ke dalam mulut pria itu. Terlihat Sean yang begitu menikmati makanan yang tersimpan di mulutnya.
"Gimana rasanya?” penasaran Rubina ingin tahu hasil masakannya.
"Enak kok," jawab Sean. Namun ada yang aneh, entah kenapa kata 'enak' itu diucapkan oleh Sean dengan penuh keterpaksaan.
"Tapi kok raut muka kamu nggak sinkron sama ucapan kamu ya? Ayo lah, By, jangan bohong demi buat nyenengin aku. Kalo enak bilang enak, tapi kalo emang nggak enak kamu boleh ngomong nggak enak. Aku bukan orang anti kritik loh. Justru dengan kritikan aku bisa belajar lebih baik lagi."
"Maaf yah Bi, tapi nasi kuning buatan kamu ini kerasa pait di tenggorokan saya."
“Pait?” ulang Rubina yang diangguki segera oleh Sean. "Kok bisa pait sih, By?"
Sean mengedikkan bahunya. "Saya juga nggak tau."
Rubina memang tidak sempat mencoba nasi kuning buatannya itu karena dipikirnya rasanya sudah pas. Soalnya Rubina membuatnya sambil mengikuti buku resep.
"Apa jangan-jangan aku ngelewatin salah satu bahan?"
Rubina pun mencoba nasi kuning tersebut. "Nggak kok Bu, rasanya enak-enak aja.”
Sean langsung menepuk dahinya. "Ah iya saya lupa, sekarang kan saya lagi demam. Biasanya kan hal-hal kayak gitu emang lumrah terjadi." Sean cuma bisa menyengir setelah menyadari alasan kenapa nasi kuning buatan istrinya kerasa pahit tentu saja karena dia sedang demam.
"Bi!"
"Hmm... Kenapa By?"
"Makannya boleh dilanjutin nanti aja?"
“Loh emang kenapa, By?”
"Soalnya saya kebelet pengin pipis. Yuk, anterin saya ke toilet."
"Aku?"
"Iya, siapa lagi?"
"EMANGNYA NGGAK BISA SENDIRI BY?" Rubina langsung mengajukan pertanyaan itu tanpa banyak pertimbangan.
"Kepala saya masih oleng, kleyengan, Bi. Makanya saya minta kamu buat pegangin."
Rubina meneguk salivanya. “Bantu pegangin?" Rubina meneguk salivanya usai mengulang satu kata yang sempat diucapkan suaminya. Tentu saja bukan salah dia sepenuhnya kalau otaknya langsung travelling usai mendengar apa yang menjadi perintah dari suaminya. "Sorry nih sebelumnya. Kamu nyuruh aku pegangin apa ya?" tanya Rubina untuk memastikan apakah yang dia maksud sama persis dengan yang suaminya maksud.
"Bantu pegangin badan saya pas nanti saya masuk ke kamar mandi. Soalnya kan kepala saya masih agak oleng, takutnya saya malah jatuh lagi. Boleh kan?"
"Ohh... B-boleh kok." Rubina diam-diam menghela napas lega.
'Huft... Kirain... Gue udah nethink aja pas denger pegangin! Otak gue jadi mesum kan... Ck...'
Dia sangat bersyukur karena apa yang dia pikirkan sebelumnya tidak sejalan dengan apa yang suaminya itu pikirkan.
"Ya udah, Ayo, aku bantuin." Rubina pun membantu Sean untuk berjalan sampai kamar mandi.