I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ungkapan Hati



AUTHOR POV


Jumat malam...


Di Hotel bintang 5...


pukul 19.00 malam..



Di salah satu Ballroom Hotel...


Acara Tunangan Gracia dan Lauro berlangsung dengan lancar, dan 1 bulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.


Dan Althea... tengah berdiri di sudut tempat dimana orang tidak terlalu terpusat padanya.


Dengan diiringi lagu 'say something' dari Christina Agruella... Althea pun menarik napas berat, dia harus mengubur kenangan indah bersama Lauro, dan harus merelakan Lauro bersama adik tirinya.


Saat memejamkan matanya tiba-tiba Handphonenya berdering dan saat Althea melihat itu adalah Danniel dengan cepat Althea pun menjawabnya.


"ya..."


"dimana?"


"di Hotel XXX..." Tak lama telpon itu pun ditutup. "ck... kebiasaan deh, kalo udah nanya trus gue jawab pasti langsung ditutup." gerutu Althea kesal karena Boss nya itu selalu ga jelas kalo udah nanya posisinya dan selalu langsung nutup telpon begitu tau posisi Althea berada.


Althea pun menikmati kesendiriannya dengan ditemani minumannya. tak lama Ayahnya menelpon.


"ya Pah..."


"Al kamu dimana sayang?"


"Al lagi di pojokan nikmatin acaranya pah... kenapa..."


"kemarilah, ayah mau kenalkan kamu sama keluarga Lauro.... kenapa kamu malah dipojokan bukannya disini.. kamu kan keluarga inti bukan tamu..."


"iya-iya... Al kesitu..." Althea pun menutup telponnya lalu menghela napas berat. Dia menyimpan gelas minumannya dan berjalan kearah Angga Wiriawan beserta calon besannya.


"kenapa pah?" ucap Althea ketika tiba di hadapan keluarga Lauro dan keluarganya. Seperti biasa Nesya dan Gracia melihat kearah Althea tidak senang sekarang ditambah kedua orang tua Lauro juga yang tidak menyukainya.


Sementara Lauro hanya terdiam melihat kearah Althea dengan tatapan sendu.




"Ini yang kamu inginkah kan Al..." gumam Lauro dalam hati.


"Selamat ya Gracia... Akhirnya keinginan kamu tercapai..." Ucap Althea mantap sambil tersenyum.


"Kenalkan ini Althea Putri saya dari Almarhum istri saya yang pertama..."


"Aaaahh iya... tapi kok, dia hanya sebagai Staff ya nggak gabung di perusahaan keluarga dan menjadi pemimpin dari perusahaanmu, Pak Angga?"


"Tadinya juga saya ada pemikiran seperti itu, tapi Althea sendiri menolak untuk diposisikan sebagai pengganti saya, jadi mau tidak mau saya serahkan pada Gracia... Dan ternyata Gracia juga ada bakat dalam hal bisnis." Jelas Angga.


"Mana pacarmu? Apa dia tidak akan datang?" tanya Nesya.


Althea hanya terdiam bingung mau jawab apa karena jujur aja dia nggak bilang dan nggak ngundang Danniel ke acara itu.


"Jangan bilang dia sibuk... Masa untuk acara keluarga aja tidak bisa meluangkan waktu?!" lanjutnya dengan sinis.


"Dia..." ucapannya terpotong ketika beberapa tamu yang ada disitu terpusat melihat kearah pintu masuk yang ternyata ada Danniel, Hans dan Reyandra...


Semua tamu yang ada disitu tau siapa mereka makanya mereka bertanya-tanya dan heran kenapa mereka berada disini.



I



Reyandra Henney pemilik Hotel XXX



mereka bertiga berjalan layaknya model dipagari tamu-tamu yang berada di samping kiri kanannya.


"Sayang... Maaf lama ya?" Ucap Danniel pada Althea sambil merangkul pinggangnya saat dia berhenti di depan keluarga Althea maupun Lauro.


Althea terdiam kaget melihat Danniel ada dihadapannya.


"Kau datang juga Nak..." Ucap Angga Wiriawan pada Danniel lalu melihat kearah Reyandra dan Hans.


"Anda Pak Hans kan?" ucapnya pada Hans yang langsung menunduk.


"Benar pak Angga... saya Hans Assistennya pak Danniel Henney..."


"Senang akhirnya bisa melihatmu langsung... Biasanya Gracia banyak bercerita tentangmu..."


"Aaahh terima kasih pak... dan untuk nona Gracia, selamat semoga lancar sampai hari pernikahan kalian..." Ucapnya sambil menyalami Gracia dan Lauro


"Aaaaa.. terima kasih Pak..." ucapnya tersenyum kecut.


Sementara orang tua Lauro melihat kearah Althea sinis dan juga ke arah Danniel. Danniel yang melihat kearah orang tua Lauro pun tersenyum sinis juga.


"Aaaahh kenalkan ini kakak saya, REYANDRA HENNEY .." ucapnya menekankan. Ayah Lauro tau siapa Reyandra dan juga Danniel mereka keluarga Henney keluarga pengusaha nomor satu di negaranya maupun di luar negeri.


Anak perusahaan mereka tersebar dimana-mana. siapa yang tak kenal keluarga Henney, Ayahnya Tyo Henney yang mempunyai Rumah Sakit terbesar, Reyandra mempunyai Hotel terbesar, dan Danniel pengusaha terkaya dan pintar.


"Tapi... apa hubungan anda dengan keluarga Angga Wiriawan?" Danniel menyeringai melihat kearah Reyandra.


"Oh Althea adalah calon istri dari adik saya Danniel Henney..."


"Benarkah?" Ucap ayah Lauro kaget dan melihat kearah Althea. Althea hanya terdiam kaget oleh penuturan Reyandra begitupun dengan keluarga Althea.


"Dan karena Gracia adik tiri dari Althea maka saya akan berikan hadiah pertunangan dan juga pernikahan Gracia dan...(melihat Danniel yang memberi kode) Aaahh ya. Lauro... kalian bisa menikmati Hotel kami secara gratis.. Saya akan mempersiapkan yang tebaik..." melihat kearah Althea memberi kedipan matanya.


Semua yang ada disana terkejut dengan penuturan Danniel.


"Sayang apa ada yang mau kamu jelaskan sama papah?" ucap Angga Wiriawan melihat kearah Althea memberi Smirk seakan banyak yang harus di jelaskan oleh Althea.


Sementara Althea hanya tersenyum kecut.


"Sayang... bisa kita bicara?" ucap Althea sedikit berbisik kearah Danniel dan menggandeng lengan Danniel pergi dari hadapan mereka.


"Haah.. Anak muda memang sangat bersemangat ya pak Angga... dan saya sangat berterima kasih pada Althea, karena semenjak Danniel mengenal Althea, sifat Danniel jadi berubah seperti dulu lagi... Saya juga Ayah saya benar-benar sangat bersyukur sekali..."


"Aaaahh iya.. kami juga bersyukur bisa mengenal keluarga anda pak..." Ucap Angga Wiriawan canggung.


**


Althea dan Danniel berdiri saling pandang.


"Pak.. Apa maksudnya ini? Kenapa jadi serius, sampai Pak Reyandra juga ikut-ikutan..."


"Dia memang ingin ikut karena ingin berterima kasih sama kamu karena kemaren kamu udah nitipin Alpha."


"Trus sekarang gimana dong? semua orang kan jadi tau... Padahal kita kan cuma pura-pura." Danniel terdiam melihat Althea serius.


"Kata siapa saya pura-pura? Dari awal saya serius kok.."


"Haah.. Pak jangan becanda deh..."


"Sekarang kamu ikut saya..." Ucap Danniel sambil menggandeng Althea ke tempat parkir dan masuk ke mobilnya.


"Kita mau kemana? Saya bawa mobil sendiri pak..."


"Mobil kamu biar Hans yang bawa!"


Danniel pun menjalankan mobilnya meninggalkan Hotel tersebut, setelah Althea yang menghubungi Ayahnya dan Danniel menghubungi Hans dan juga Reyandra.


***


ALTHEA POV


Saat kita sampe di Apartement gue, Danniel pun ngikutin gue masuk ke Apartement... Gue langsung ke kamar, buat mandi dan ganti baju.


Dan saat gue keluar kamar Danniel yang lagi nunggu di sofa tv langsung berdiri.


"Udah beres kan.. saya ikut mandi ya.. gerah.." Laahhh udah kayak Apartement sendiri aja dia. Tanpa nunggu jawaban iya dari gue Danniel pangsung masuk ke kmar gue, hah... dasar!


Gue ke dapur nyari minum, cos sumpah haus banget, efek tadi minum kali ya... Gue nunggu Danniel beres duduk di sofa.. Gue mikir keras yang mau gue omongin ke Danniel masalah pacar pura-pura sampe ada statment dia tentang 'Serius'.



Gue liat Danniel yang udah seger dan udah pake baju kaos santai ama celana pendek... dapet dari mana coba itu baju, emang dia mau nginep disini apa?



Dia jalan langsung duduk di samping gue.


"pak..." belum gue terusin eh dia udah nyosor dong, gue kaget disitu bingung antara mau nolak apa nggak... dia nyadar gue cuma diem doang dia gigit bibir bawah gue sampe gue buka mulut.


Ya lo kira-kira aja bibir gue di gigit ama dia meskipun pelan tapi kan tetep aja kaget. Dia pun ngabsen dan mengesplore gigi dan lidah gue, dan gara-gara permainan dia akhirnya gue pun ikut terlena dan ikut dalam permainannya.


Beberapa menit kemudian dia akhirin ciumannya dan gue pun balik muka gue malu. Gue tau dia lagi liat kearah gue.. Sumpah ni jantung kenapa deg degan gini sih.. Shield gue mama shiel gue... Disaat ini gue butuh itu....


"Al kalo mau ngomong ngadep saya..." Ah elaaahh mu ngadep lu gimana muka gue udah kayak kepiting rebus ini kayaknya... gue tarik napas dan berusaha netralin muka dan emosi gue.


"Ok.. To the point, maksudnya apa tadi?"


"Kamu masih nggak ngerti? Mesti saya jelasin lagi? kamu nggak sadar perlakuan saya ke kamu itu spesial... Saya nggak pernah memperlakukan wanita kayak perlakuan saya ke kamu meskipun itu sama pasangan saya... itu karena saya serius Al... saya suka kamu..."


Hah... Well akhirnya terucap juga kata-kata itu gue buang napas berat.


"Pak... Bapak cuma nggak sadar apa yang bapak rasakan dan bapak lakuin, paling nanti setelah bapak nemuin seseorang yang bisa diajak malam mingguan, yang bisa bapak ajak berantem, sayang-sayangan, manja-manjaan... dan nggak lagi hampir setiap hari ketemu sama saya.... saya nggak masalah mau jadi pacar boongan bapak kapanpun bapak mau atau jadi temen curhat sekalipun.... tapi kalo buat lebih dari itu bapak juga tau kalo itu imposibble..." jelas gue dengan serius.


"Kenapa imposibble? dari rentetan yang saya lakuin ke kamu selama ini kamu bilang saya nggak sadar? kamu yang nggak sadar apa pura-pura nggak merhatiin? sekarang saya nanya kamu kenapa imposibble?"


"Ya... karena saya bukan siapa-siapa, keluarga saya nggak kaya raya kayak orang-orang, saya cuma Staff, dan saya bukan Direktur atau pun CEO..."


"Trus kamu mesti anak presiden atau anak menteri gitu baru saya boleh suka?"


"errgghh... Saya juga nggak punya kelebihan apa-apa, kaya nggak, cakep juga biasa aja. Sedangkan bapak yang ngantri masih banyak, kalo aja bapak nerima salah satu cewek yang ngantri itu, pasti bapak nggak akan punya perasaan ini lagi sama saya ... dan saya tekankan lagi ya pak, kita bukan dari dunia yang sama, dunia kita beda.. saya realistis pak.. nyadar diri..." Gue jelasin panjang lebar sambil nahan emosi gue, biar dia sadar.


Dia diem merem sambil menggut-manggut.


"Bapak tau sendiri kan kenapa keluarga Lauro milih Gracia daripada saya?" dia ngela napasnya.


"Udah curhatnya?" dia buka mata dan narik gue biar duduk di pangkuannya. gila gila gila... dan gue pun diem aja serasa kehipnotis gue... dia meluk gue dan nyender ke gue.


"Pak..."


"Biarin saya kayak gini sebentar..." Dia ngomong dan gue diem, nggak lama gue pun ngusap kepalanya dia.. dia menghela napas dengn sangat berat kayak yang mikir berat gitu.


"Al... Ayah, Kakak dan Alpha udah tau kamu, dan mereka tau kalau kamu adalah cewek yang Spesial buat saya, tanpa saya ngomong pun mereka udah sadar dengan ngeliat sifat saya yang berubah sejak ketemu kamu... kamu tau kapan saya sadar sama perasaan saya sama kamu?" Gue cuma geleng kepala yang gue yakin dia nggak tau kalo gue jawab pake gelengan.


"Saat kamu kecelakaan, disitu saya baru sadar sama perasaan saya, dan dari situ perasaan saya tambah besar dan rasa ingin ngelindungin kamu juga tambah besar, sayang cinta itu ngikutin tanpa saya sadarin Al... " Dia ngelepasin pelukannya dan liat mata gue sambil megang kedua pipi gue.


"Mulai sekarang jangan mikir macem-macem yang terlalu berat, saya sayang dan cinta sama kamu apa adanya kamu walaupun kamu cuma upik abu, you're not Cinderella Al... but you're always be my princess for me..." Gila.. asli gue terharu ama kata-katanya mata gue berkaca-kaca dong liat dia yang so sweet banget.


"Al... Tetep disamping saya, jangan pergi kemanapun, saya nggak perduli sama alasan kamu tadi, semua itu nonesense buat saya. i want to be your favorite hello and your hardnest goodbye..." dan gue cuma narik bibir sebelah.


"Hah.. kamu emang cewek ajaib, orang kalo denger kata-kata saya dari tadi pasti langsung terharu klepek-klepek jatuh cinta sama saya... asli saya depresi nyari kata-kata buat ngelelehin es kayak kamu" gue cuma ketawa denger kata-kata dia. dan gue pasrah aja deh apa maunya dia... kita pun ngabisin waktu nonton sambil senderan.


"Bukanya ibu kamu lagi nyari calon buat kamu ya.. pastinya yang sepadan buat kamu kan..." gue ngomong sambil mata gue fokus ke tv.


"Dia kayak ibu-ibu yang lain yang khawatir sama anaknya. Istri pertama saya dia yang ngenalin, dia cuma ngerasa bersalah aja sama saya... Dan kamu tau saya nggak bisa ngebantah perkataannya dan nolak permintaannya, and Asian Mother pasti akan mencoba berjalan di jalannya sampai apa yang diinginkannya sukses nikah punya anak cucu..." jelas dia panjang lebar. gue masih diem nggak komen apa-apa.


Dia langsung megang tangan gue erat dan nyium punggung tangan gue.


"ok, kasih saya waktu buat ngebuktiin sama kamu. kamu nggak percaya sama kata-kata saya, dan saya tau kamu butuh lebih dari sekedar kata-kata. Tapi mulai sekarang jangan pergi dari sisi saya dan jangan muji-muji Rafael, Hans, Rizky dan cowok manapun di depan saya..."


"hahaha kenapa sih sensi banget sama Rafael dan Hans ditambah Rizky lagi sekarang..."


"Jujur dia cinta pertama kamu kan?" Gue diem liat dia bisa nebak. dia senyum liat ekspresi gue. "Saya bukan dukun, ketauan kali dari ekspresi kamu pas ketemu dia..."


"Aaahhh..." gue ngangguk-ngangguk lalu narik napas.


"Kita temenan dulu aja ya... kamu tau... saya juga kadang takut. saya takut nangis lagi, sekali saya nangis lagi saya nggak bisa percaya lagi sama diri saya sendiri dan selamanya. Sekarang kamu pulang ya... Udah malem.. nggak mungkin kan kamu tidur lagi disini..."dia senyum liat gue masing genggam tangan gue kecewa kali ya....


"Haaahh.. jadi kesimpulannya saya ditolak pada percobaan pertama?" gue cuma senyum.


"saya nggak nolak Dan... saya cuma belum yakin aja, kamu bisa usaha lagi buat yakinin saya, tapi jangan sampe kamu pake DevilCard kamu ke saya, karena kalau iya, saya pasti bakalan jauhin kamu sejauh-jauhnya. karena saya nggak suka cara itu... itu aja sih yang saya minta."


"Fine.. saya janji! tapi boleh kan saya nginep disini? weekend loh ini..."


"iya sok aja kalo kamu suka tidur di sofa..." Sindir gue senyum ke dia.


"Kalo kamu mau saya tidur di kamar juga nggak apa-apa.. " dia nyengir liat gue sambil megang tangan gue.


"Baru juga ngomong, nggak ngeluarin DevilCard... no playing body affection, artinya nggak boleh pegang-pegang, nggak boleh cium-cium, apalagi deket-deket " Dia ngerut alis nggak setuju.


"Althea Wiriawan sayang, magsud saya nggak maen DevilCard artinya nggak berusaha bikin kamu tidur sama saya..." muka gue langsung panas. gue buru-buru berdiri dan lari masuk kamar dan dia cuma ketawa liat muka dan ekspresi gue. sialan!!