
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Ini contoh undangan yang bisa dijadiin referensi buat undangan pernikahan kamu. Kamu suka undangan kayak gimana?" tentu saja Marisa ingin melibatkan putranya mengingat pernikahan ini adalah pernikahannya.
"Kayaknya saya angkat tangan Bu. Mendingan Ibu aja yang milih undangannya yang sekiranya Ibu sukai."
"Kamu yakin nggak mau dilibatin pas milih undangan?" tanya Marisa.
"Yakin. Saya juga gak jago dalam urusan memilih."
"Baiklah kalau kamu menyerahkan urusan undangan ini sama Ibu. Lagian Ibu udah melirik beberapa undangan yang bagus. Nanti Ibu tinggal milih salah satu undangan paling bagus. Sambil ibu milih undangan mana yang cocok, sebaiknya kamu siapkan foto prewedding kamu sama Bina."
"Apa? Prewedding?" kaget Sean. "Emangnya harus ya, Bu, pake foto prewedding segala?"
"Ya, harus dong, Sean. Kan Ibu maunya di undangan tertera foto kalian berdua."
"Duh, emangnya kenapa Ibu nggak pakai undangan biasa aja? Kan ada tuh yang nggak perlu pake foto segala."
"Emang ada sih, tapi Ibu pinginnya yang pakai foto. Emangnya kenapa kalo kalian melakukan foto prewedding. Selain bisa jadi kenangan buat di masa depan kan bisa juga dipakai buat dipajang di gedung pernikahan kalian. Gimana kamu setuju kan?"
"Nanti Saya pikirin soal itu."
"Nggak perlu dipikirin lagi Sean. Pokoknya kamu harus segera melakukan foto prewedding sama Bina," ucap Marisa seakan dia tidak menerima kalimat bantahan dari putranya. "Kalo gitu Ibu ke bawah dulu nyiapin makanan. Soal prewedding itu jangan sampai lupa ya!" seru Marisa.
"Iya, Bu. Urusan itu biar Saya yang handle."
"Ibu tunggu ya! Kalo bisa secepatnya."
***
"GUYS, SEBENTAR LAGI GUE SAMA SEAN BAKALAN NGELANGSUNGIN PERNIKAHAN!"
Apa yang disampaikan oleh Rubina barusan hampir membuat Rara menyemburkan jus jeruk yang belum sempat melewati tenggorokannya.
"Apa? Bi? Lo becanda kan?" cecar Rara usai menelan secara paksa jus jeruk di mulutnya.
"Emang raut muka gue saat ini mencerminkan kalo gue lagi becanda?" ucap Rubina.
"Enggak sih." Jawab Rara. Karena mungkin sudah bersahabat sejak lama sehingga Rara mampu membedakan mana ekspresi bercanda dan mana ekspresi tidak bercanda pada diri Rubina.
"Kapan acaranya?" Syifa nyeletuk.
"Tanggal 25," jawab Rubina.
"Berarti kurang dari sebulan lagi dong! Kok buru-buru banget, Bi?" tanya Syifa. "Wait a minute, jangan bilang alasan kenapa pernikahan kalian dipercepat karena lo..." Syifa tidak sanggup untuk menyudahi kalimatnya ini.
"Jangan-jangan apa?"
"Jangan-jangan lo hamil!" Syifa menyempurnakan kalimatnya di mana sebelumnya dia tidak sanggup dia sampaikan. Saat mengatakannya tentu saja dia memelankan suaranya mengingat saat ini mereka bertiga sedang di tempat umum.
"Jangan ngaco ah!" ucap Rubina. "Kalian pikir aja sendiri gimana caranya gue bisa hamil. Kan kalian berdua tahu sendiri kalau si Sean dinginnya kayak gimana sama gue. Kalo pun resepsi pernikahannya dipercepat semua itu ya karena keinginan keluarga gue sama keluarganya Sean."
"Gue juga punya pemikiran yang sama dengan Syifa," sambung Rara. "Dan juga, pernikahan itu berat banget, Bi. Pernikahan jauh lebih berat dibanding pacaran. Paling nggak pikirin baik-baik sebelum lo ngambil keputusan buat nikah."
Rubina menganggukkan kepalanya sangat mengerti alasan kenapa sahabatnya mengatakan itu. Tentu saja hal itu untuk kebaikannya juga.
"Sebelumnya Gue mau ngucapin makasih ke kalian berdua karena kalian sangat-sangat peduli sama gue. Tapi gue udah sangat yakin sama pilihan gue. Ya meskipun Papah belum ngasih restu paling nggak Ibu, Grandpa sama keluarga lainnya juga ngasih restu. Lagian orang tuanya Sean juga nikahnya berawal dari perjodohan, dari yang awalnya nggak kenal, nggak sayang, nggak cinta, tapi kan kalian liat sendiri hubungannya jadi 'samawa'."
"Iya sih, tapi kan enggak semua hubungan perjodohan bakalan berakhir kayak gitu. Hah, tapi, terlepas dari apa yang gue bilang, keputusannya balik lagi ada di tangan lo. Sebagai sahabat kita cuma bisa mendoakan yang terbaik buat hubungan lo ke depannya. Semoga sikap Sean yang udah kayak dinginnya bongkahan es batu bakalan segera mencair. Semoga dia dapat karma akan jadi bucin sama lo setelah nikah nanti."
"Gue yakin, setelah nikah nanti dia yang bakalan tergila-gila sama gue!" janji Rubina di hadapan kedua rekannya.
"Bi, hape lo bunyi tuh!"
Rubina mengambil ponselnya dari dalam tas kecil bawaannya. Ada sebuah telepon dari Sean.
"Ada apa calon suami?" tanya Rubina dengan senyum tipis-tipis terlihat di wajahnya. "Oh, udah ada di depan. Tungguin bentar, aku kesana sekarang." ucapnya sambil menutup telponnya siap-siap pergi.
"Guys gue balik duluan ya, Sean udah ada di luar nungguin gue," Rubina memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecilnya sambil pamit kepada dua rekannya.
Rubina berlari-lari kecil menuju ke parkiran menemui Sean. Setibanya di sana, Sean seketika memberikannya pertanyaan,
"Besok pagi kamu ada jadwal kuliah?"
"Besok aku nggak punya jadwal kuliah kok. Tapi kenapa kamu nanya soal jadwal kuliah aku?" Rubina menjawab dan dia juga mengembalikan sebuah pertanyaan untuk Sean. Agak aneh bagi Rubina mendengar Sean menanyakan soal jadwalnya besok.
"Oh, Bagus deh kalo kamu nggak ada jadwal kuliah. Besok saya mau ngajak kamu ke pantai."
"Ke pantai?"
"Hmm... Besok ada pemotretan buat prewedding. Saya udah ngehubungin fotografernya. Setelah berdiskusi tentang konsepnya mereka nyaranin buat menggunakan konsep pantai. Karena besok kamu nggak ada jadwal kuliah jadi besok pagi kita langsung berangkat ke pantai."
"Yey! Aku jadi nggak sabar sama kencan kita di pantai besok."
"Bukan kencan!" Sean mengoreksi. "Kita cuma melakukan prewedding di sana."
"Terseralah apa sebutannya yang jelas aku seneng soalnya aku bisa ngabisin waktu sama kamu di sana."
"Kalo gitu cepet naik biar tugas saya nganter kamu pulang cepetan selesai. Seenggaknya tinggal beberapa hari lagi sebelum saya memenuhi janji saya sepenuhnya."
***
Rubina tidak menduga Sean menjemputnya menggunakan mobil miliknya. Tadinya Rubina sempat mengira bahwa Sean mungkin akan menjemputnya dengan V4R kesayangannya seperti biasa. Tapi tak apa, terlepas dari kenyataan bahwa Sean akan pergi bersamanya menggunakan motor atau pun dengan mobil tidak akan merubah fakta bahwa saat itu Rubina sudah tidak sabar untuk berangkat ke pantai. Bahkan sudah sejak semalam dia susah tidur karena terlalu antusias menantikan momen yang akan terjadi hari ini.
"Tunggu apa lagi? Cepetan masuk!" seru Sean.
"Kamu nggak ada niatan buat turun trus bukain pintunya buat aku? kayak di sinetron-sinetron?" kata Rubina.
"Jangan harap itu akan terjadi. Cepetan masuk, supaya kita juga bisa berangkat lebih cepat ke pantai." Sean berujar tegas tak terbantahkan. "Ayo buruan naik!"
Rubina tidak dapat lagi berkutik. Segera pintu mobil dibuka dan dia bergerak cepat masuk mengubah posisinya jadi terduduk di sebelah Sean. Setelahnya pintu kembali dia tutup.