I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 69



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Membawanya menuju ke kamar mandi. Cara Sean menutup pintu pun sudah bisa menjelaskan betapa kesalnya pria itu. Namun wajah Rubina saat itu terlihat biasa saja, tidak menggambarkan rasa bersalah pasca menghadirkan kekesalan di diri Sean.


Lima belas menit selanjutnya Sean keluar dari kamar mandi. Dia telah siap sedia mengenakan kaos berwarna putih dengan celana pendek selutut berwarna cokelat. Sean berdiri di depan cermin mengelap rambutnya yang masih basah dengan handuk yang masih melingkar di leher.



"Jangan lupa anduknya jangan ditaro gitu doang!" peringat Rubina ditanggapi decakan oleh Sean.


"Iya, bawel. Kamu nggak perlu ngajarin saya, saya juga tau apa yang harusnya saya lakukan. Sebaiknya kamu urus urusan kamu sendiri tanpa perlu mengajari saya hal-hal yang kamu anggap benar." Ketusnya disusul oleh hentakan kaki menuju ke balkon membawa handuk lembab yang masih melingkar di lehernya.


Tepat setelah Sean sedang di balkon Rubina mendengar ada ponsel yang sedang berdering. Diam sejenak gadis itu mencoba mencari sumber suara itu berasal.


Rubina yang tadinya duduk manis di tepian ranjang, kini bangkit karena penasaran. Sekarang dia sudah tahu sumber bunyi itu berasal. Ternyata dari ponsel milik Sean yang tergeletak di meja.


"Tunggu!"


Kayla bergeming, membiarkan tangannya yang hendak mengambil ponsel itu tetap mengudara. Dia menolehkan muka ke arah kanan. Sean sudah berdiri di sampingnya dengan tampang menuntut sebuah jawaban. Manik mata cokelat itu mengandung amarah.


"Kenapa?" Rubina yang memang tidak mengerti memberikan pertanyaan. Rubina bingung mendapatkan tatapan seperti itu dari Sean.


"Kau mau apa?" Sean mengembalikan pertanyaan alih-alih langsung memberikan jawaban.


"Ponsel kamu bunyi jadi aku hendak..."


"Terus kenapa kalo ponsel saya bunyi? Apa urusannya sama kamu?" cecar Sean tanpa ampun. Pria itu bahkan tidak memberikan celah pada Rubina untuk menyudahi lebih dulu kalimatnya.


"Karena ponsel kamu bunyi dan kamu kebetulan lagi di balkon makanya aku berencana buat ngambilin itu buat kamu. Emangnya salah ya kalau aku cuma mau membantu?"


"Kapan saya minta bantuan kamu?"


"Kamu emang nggak minta tapi kan..."


"Ya kalau saya nggak minta bantuan, berarti kamu nggak perlu sok-sokan bantuin," sekali lagi, Sean tidak memiliki kesabaran menunggu sampai kalimat Rubina selesai dulu. Sea langsung menyambar begitu saja dengan nada yang ketus.


Ponsel milik Sean kembali berdering. Namun tanpa pikir panjang Sean langsung mereject upaya sambungan telepon yang entah dari siapa.


"Kok direject sambungan teleponnya? Siapa tahu ada urusan penting?"


"TIDAK ADA URUSANNYA SAMA KAMU!" jawab Sean ketus. "Inget yah, mulai sekarang saya peringatkan. Kamu harus tau batasan kamu. Saya nggak suka kalo ada orang yang nyentuh barang-barang penting saya. Terlebih lagi benda ini," memperlihatkan ponsel yang ada di genggamannya. "Ponsel itu adalah privasi saya. Jadi jangan pernah meninggalkan sidik jari kamu pada benda ini. Ingat!!!"


***



Rubina terus memperhatikan suaminya yang sedang duduk di sofa kamar sembari memainkan ponselnya. Rubina jadi berpikir, apakah mungkin isi ponselnya semenarik itu sampai Sean terlihat mengabaikannya?


"Dari tadi kamu sibuk sama hp kamu terus. Emang ada apa sih?"


"Seenggaknya sibuk sama hp jauh lebih baik ketimbang saya harus sibuk sama kamu yang teramat menyebalkan." Sean memberikan jawaban demikian tanpa melakukan kontak mata dengan Rubina. Sean tetap saja fokus pada apa yang ditampilkan oleh handphonenya. Sean berusaha untuk tidak peduli dengan Rubina yang sedang duduk di tepi ranjang miliknya.


"Mending saya tidur di sofa ini dari pada saya harus tidur di samping kamu," balas pria itu. Dia lalu bangkit untuk mengambil bantal dari ranjang kemudian kembali lagi ke sofa.


"Kamu yakin nggak mau tidur di sebelah aku?" Rubina masih saja bertanya padahal belum genap semenit saat dia mendapat jawaban penolakan dari Sean. "Kamu pasti bakalan nyesel kalo kamu nggak melakukannya. Ayo tidur di sini, di samping aku. Mumpung aku lagi berbaik hati sama kamu," Rubina menepuk-nepuk sisi kasur di sebelahnya.


"Najis," balasnya sambil mengedikkan bahu.


"Kok najis, kan kita sudah resmi jadi suami istri."


"Status kita aja yang suami istri. Tapi untuk urusan lain, terutama hal-hal yang ada di pikiran kamu saat ini. Kamu nggak akan pernah ngendapetinnya! Sampai kapan pun. Camkan itu!" Sean berucap tegas.


"Emangnya apa yang aku pikirin saat ini? Kok kamu kayak bisa baca isi pikiran aku."


"Apalagi kalau bukan hal-hal kotor. Cuma itu kan yang ada di pikiran kamu!"


"Kenapa berpikir seperti itu. Pikiran aku itu bersih loh."


"Bersih dari mananya? Otak kamu tuh, bisanya cuma diisi sama hal-hal kotor."


"Jadi gimana? Malam ini kita bakalan ngelakuinnya?" Rubina kembali mencoba memancing amarah Sean.


"Apa maksud kamu?"


"Kayaknya aku nggak perlu ngasih penjelasan runtut. Aku yakin, kamu tau apa yang aku maksud."


Padahal belum genap dua puluh empat jam mereka berada di atap yang sama namun Sean sudah dibikin kesal seperti ini oleh Rubina. Bagaimana dia bisa bertahan untuk hari-hari berikutnya? Nasib baik kalau dia akan tetap waras, kalau seandainya Sean jadi gila karena seatap dengan gadis itu? Baru membayangkannya saja sudah membuat kepalanya mumet duluan.


"Jadi gimana? Apa kamu mau tetep tidur di sofa daripada tidur di..."


"Bisa diem gak?" emosi Sean memuncak. Kemarahan dalam diri pria itu membuatnya bangkit meninggalkan posisi duduknya. "Dari tadi kamu terus aja ngomong sesuka hati kamu. Sekali lagi saya tegesin yah, saya nggak akan pernah melakukan hubungan apapun sama kamu. Jadi sebaiknya kamu tidur aja."


"Yakin?"


"Melihat tingkah agresif kamu, kok saya punya firasat kalo kamu itu udah nggak suci lagi. Kamu udah pernah ngelakuinnya sama pria lain, kan? Ayo, ngaku!"


"Mau ngelakuin sama siapa. Pacaran aja enggak pernah. Kamu kan tahu sendiri kalau aku cintanya cuma sama kamu doang."


"Tapi kenapa tingkah kamu yang seagresif ini meyakinkan saya kalo kamu sebenarnya udah ada berpengalaman dalam urusan seperti itu. Kamu udah nggak virgin lagi kan?" Sean sedang bertanya, namun nada suaranya seperti sedang memberikan tuduhan yang mengharuskan lawan bicaranya memberikan jawaban 'Ya,' atau sederhananya sebuah anggukan. Sean mengatakannya setengah sadar. Mungkin karena kekesalannya juga pada gadis itu yang membuatnya sampai berbicara sefrontal ini.


Sangat diuntungkan dengan kamarnya yang kedap suara. Jadi, orang-orang rumahnya yang lain sudah pasti tidak akan mendengar keributan yang berlangsung di kamar.


"Kalau orang lain yang bilang ini sama aku, mungkin aku udah kasih pelajaran sama sikap lancangnya yang udah fitnah aku. Maybe dengan sedikit kepalan tinju di bagian pelipisnya udah lebih dari cukup buat jadi pelajaran. Tapi sebuah pengecualian karena kamu yang bilang jadi aku maafkan. Tapi yang harus kamu tahu kalo detik ini aku masih suci. Aku belum pernah ngelakuin hal gila dengan pria manapun. Jangankan melakukan aktivitas ranjang dengan lelaki lain, adu bibir sama pria aja jadi hal yang mustahil bagi aku," Rubina memberikan jawaban yang cukup panjang. "Aku belum punya pengalaman seperti tuduhan kamu barusan."


Sean tersenyum remeh dan mengibaskan tangannya. Wajahnya kental dengan perasaan ragu, "Alaaah," ujarnya diselingi tawa renyah sebelum melanjutkan,


"Kamu mungkin bisa bohong ama orang lain dengan kata-kata kamu barusan, tapi tidak dengan saya. Saya sangat yakin kalo kamu itu nggak virgin."


"Ya kalo kamu enggak percaya, kenapa nggak ngelakuin aktivitas ranjang aja sama aku. Biar semuanya jelas kan?" Rubina menampilkan muka menantang sambil dia menggerakkan kedua alisnya menggoda suaminya di ujung sana. "Biar semuanya kebukti apa yang kamu tuduhin itu benar atau justru salah. Gimana? Apa kamu siap ngelakuinnya sama aku?"


Sean terdiam seribu bahasa merapatkan gerahamnya. Padahal dia yang mulai memberikan tuduhan tak berdasar terhadap istrinya. Tapi giliran ditantang untuk membuktikan tuduhannya, nyalinya malah ciut duluan. Sekarang dia kehilangan keberanian untuk menatap Rubina dengan intens seperti sebelumnya.