
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Sean meloloskan ******* panjang yang menjadi pertanda bahwa pria itu sedang kesal dengan ucapan Rubina tadi.
"Sean lebih deketan lagi iih!" suara itu disampaikan oleh Dimas. Teriakan itu disampaikan olehnya setelah menaruh telapak tangannya di depan bibir membentuk corong. Sedari tadi dia jadi greget sendiri melihat adik laki-lakinya yang tampak begitu kaku saat hendak berfoto. "Kalian berdua tuh udah sah jadi suami istri, nggak perlu takut lagi buat sekadar pegangan tangan. Lebih dari itu pun udah halal kok."
Fotografer tersenyum karena salah satu anggota keluarga mempelai juga peka, menyadari kalau Sean terlihat begitu kaku— si fotografer merasa senang karena uneg-unegnya telah terwakilkan tanpa harus dia sendiri yang mengatakannya secara langsung. Dari awal si fotografer memang melihat bahwa mempelai pria terlihat sangat kaku. Tidak seperti mempelai wanita yang lumayan agresif. Bahkan si fotografer menilai senyum yang diperlihatkan oleh mempelai pria di beberapa foto sebelumnya terkesan dipaksakan.
Karena Sean masih diam di tempat sehingga Rubina yang bergerak maju memangkas jarak. Rubina tersenyum setelah itu.
"Tahan sebentar!" teriak si foto grafer lantang. "Satu, dua, tiga..."
Cekrek! Cahaya flash mengenai kedua mempelai.
"Sekarang mempelai wanita balik badan, terus mempelai pria memeluk dari belakang!"
'Ya Allah, kenapa gue harus terjebak dalam momen awkward kayak gini sih?' selain mengeluh lewat batin, tidak ada lagi hal yang bisa Sean lakukan.
Sean tetap melakukan yang diperintahkan untuknya terlepas dari adanya ketidaksukaan untuk melakukan itu. Tapi dari pada mengulur waktu lama, dia pun memutuskan untuk mempercepat apa yang diperintahkan untuknya. Kalau rangkaian acaranya cepat selesai, itu artinya Sean bisa segera beristirahat.
"Peluknya yang erat! Takut banget padahal udah halal!" Dimas berkomentar lagi.
"Udahlah Kak, kasihan kak Sean kalo diteriakin kayak gini terus," ujar Dinda pada kakak tertuanya. Dinda yang memang menilai Sean memiliki kepribadian introvert bisa melihat ketidaknyamanan di wajah Sean karena saat ini dia sedang menjadi fokus perhatian orang-orang yang ada di ruangan ini.
"Masih ada satu lagi yang mau aku lakukan," sekelibat ide baru saja mengisi ruang di kepala Dimas.
"Apa lagi sih, Kak. Kasian kak Sean tau!" tegur Dinda.
"Kamu bakal segera tahu yang akan aku lakukan sama Sean. Intinya pasti bakalan seru, percaya deh sama kakak," Dimas hanya menyisakan raut penasaran di wajah Dinda karena dia tidak memberitahukan secara runtut apa yang hendak dia lakukan. Dimas membawa langkah kakinya mendekati fotografer.
"Boleh gak Mas kalau aku minta request foto?" tanya Dimas.
"Hmmm boleh," jawab si fotografer.
"Jadi begini Mas, adik aku nih emang agak kaku. Saya minta tolong sama Mas supaya minta dia untuk nyium istrinya. Mas bisa bilang kalau ini bagian dari konsep foto kalau sampai dia menolak. Gimana? Boleh kan Mas?!"
"Baiklah. Saya akan meminta pengantin pria untuk melakukan itu."
Dimas tersenyum bahagia saat kembali berdiri di sebelah Dinda adik perempuannya.
"Apa yang kak Dimas katakan pada fotografernya?"
"Nanti kamu juga bakal tahu sendiri tanpa aku jelasin."
"Sekarang mempelai wanita balik badan kembali menghadap mempelai pria. Terus mempelai pria sedikit membungkukkan badan ke depan dan cium kening istri anda," fotografer memberikan arahan sesuai dengan request Dimas sebelumnya.
Sean meneguk salivanya susah payah. Tidak terpikirkan bahwa dia juga akan berfoto sambil mencium kening Rubina. Padahal yang sebelumnya saja sudah sangat berat untuk dia lakukan. Seperti yang Sean duga, gadis di hadapannya memperlihatkan kebahagiaan mendengar dia akan mendapatkan kecupan.
'Kayaknya dia bahagia banget denger gue yang mau nyium keningnya. Ah sial, ekspresinya beneran sangat menyebalkan!' rutuk Sean dalam hati.
"Ayo, cium istri kamu!" di bawah sana Dimas berteriak heboh. Di sebelahnya Dinda hanya tersenyum seraya geleng-geleng kepala melihat kakak pertamanya yang sedang mencoba untuk membuat kesal Sean.
***
RUBINA merasakan hentakan jantungnya yang semakin menjadi-jadi di detik-detik terakhir saat Sean mendekatkan wajahnya. Rubina langsung menggigit bibir bawah bagian dalam ketika bibir Sean menyentuh area dahinya.
Riuh rendah terdengar saat Sean mendaratkan bibirnya di bagian dahi Rubina. Semua orang yang didominasi oleh anggota keluarga langsung menghujani dua pasangan itu dengan kata 'ciye' dan juga gemuruh tepuk tangan.
"Tolong ditahan ciumannya supaya saya bisa dapat angle yang pas untuk mengambil gambar!" ujar si fotografer.
Sean pikir ciuman itu akan berlangsung dengan singkat. Tapi sekali lagi semesta sepertinya enggan untuk memihaknya. Sementara Rubina jangan ditanya lagi. Rasa senang yang dia rasakan semakin meluap-luap karena mendapatkan ciuman dari orang terkasih.
Cekrek!
"Tahan!" ucap si fotografer dengan cepat begitu dia melihat adanya pergerakan mempelai pria yang hendak menyudahi aksi mencium istrinya. "Saya ingin mengambil gambar dari angle yang berbeda."
Cekrek! Cekrek!
"Selesai," kata si fotografer disambut Sean dengan gerakan cepat menarik kembali kepalanya sehingga bibirnya tidak lagi bertaut dengan dahi milik Rubina. Sumpah demi apapun melihat Rubina yang sedang tersipu seperti ini membuat darah Sean serasa mendidih. Tanpa dijelaskan Sean sudah tahu alasan kenapa Rubina tersipu, pastilah karena dia mendapatkan ciuman dari Sean.
HARI yang melelahkan itu akhirnya telah berakhir. Tentu saja Sean adalah orang yang paling senang karena seharian ini kakinya sudah sangat pegal karena harus berdiri di pelaminan sekaligus menyalami tangan para tamu undangan yang tentu saja tidak sedikit jumlahnya.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Rubina sedang duduk di tepian ranjang menikmati dekorasi kamar milik suaminya yang terlihat begitu rapi dan indah. Mungkin juga karena ini adalah malam pertama pernikahan sehingga kamar yang biasanya jadi tempat tidur Sean dihias sedemikian rupa hingga terlihat cantik seperti ini.
'Perasaan baru kemarin gue ngejar-ngejar cintanya Sean, eh malam ini gue udah ada di kamarnya aja. Emang ya yang namanya hidup enggak ada yang tahu. Benar kata pepatah, hasil nggak pernah menghianati usaha'
Klik!
Bunyi pintu ruangan berhasil membuat Rubina yang sedang ngehalu menyentakkan badannya kaget. Tapi kehadiran Sean menggantikan keterkejutannya dengan perasaan berbunga-bunga.
"Selamat datang suami."
Sean melirik perempuan dengan setelan piyama berwarna abu itu sebentar. Lalu setelahnya dia memutar bola matanya malas dan melanjutkan langkah kakinya menuju ke depan lemari pakaian. Karena kesibukan resepsi pernikahan tadi Sean bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mandi. Bahkan sekarang dia merasa badannya sudah lengket karena keringat.
"Waktu acara resepsi tadi, kamu bilang sama aku kalau kaki kamu pegel kan? Gimana kalo aku pijitin kamu?" Rubina menawarkan itu kemudian mesem-mesem setelah mengatakannya. "Aku jago mijet loh, nanti aku juga bakal..."
"Bakal apa?" sambung Sean. Dia menatap dengan bringas lawan bicaranya.
"Bakal ngobrol."
"Cih... Bisa aja ngelesnya." Sean menolehkan kembali mukanya ke cermin yang menempel pada lemari di hadapannya. Kedua tangannya telah menggenggam kaki kaos putih yang melekat di tubuhnya, tapi Sean berubah pikiran saat itu juga. Dia tersadar dengan kehadiran si manusia menyebalkan yang masih menjadikannya fokus mata.
'Untung belum gue lakuin, kalo gue buka baju di sini yang ada cewek itu malah tambah kesenengan bisa ngeliat badan gue,' pikir Sean.
"Kenapa? Kok enggak jadi buka bajunya?" kecewa Rubina yang sebelumnya melihat Sean yang sudah hampir membuka kaos tapi entah karena apa dia malah tidak jadi melakukannya. Rubina mengerut bingung memikirkan alasannya,
"Jangan-jangan kamu malu yah karena aku ada di sini? Udahlah, sekarang kan kita udah jadi suami istri. Kamu nggak perlu malu kalo mau buka baju di hadapan aku."
"Itu mah emang keinginan kamu. Tapi maaf ya, jangan harap saya akan ngasih kamu kesempatan buat mendapatkan apa yang kamu mau. sata nggak sebodoh itu!"
"Oh ya? Tapi pas di pelaminan tadi aku udah dapat ciuman kamu loh. Mungkin nggak lama lagi aku juga bakalan dapet sesuatu yang lebih dari kamu."
"Nggak usah mimpi kejauhan!" Sean menyambut handuk putih yang terlipat rapi di dalam lemari.