
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Sean merasakan bulu kuduknya meremang mendengar cerita Rubina. Ketegangan terlihat di wajahnya namun sangat disayangkan karena Rubina tidak dapat melihat itu secara langsung mengingat posisi Sean sedang membelakanginya.
Apa yang Rubina sampaikan barusan tentu saja hanyalah omongan belaka. Dia hanya mencoba untuk menakut-nakuti Sean saja. Tapi sepertinya upaya Rubina tidak berhasil karena dia melihat Sean yang tidak merespon. Pria itu masih sibuk menyusun barang belanjaan di dalam freezer.
"By... mau aku bantuin?" Rubina menawarkan itu ketika dia ikut berjongkok di sebelah suaminya.
"Ya sudah, kamu selesaikan ini semua."
"Lah kok gitu, By. emangnya mau ke mana? Padahal aku niatnya bantuin supaya kita ngelakuinnya sama-sama. Itung-itung supaya romantis tapi kamunya malah mau pergi."
"Saya mau ke kamar. Pengin mandi. Badan saya lengket banget sama keringet."
"Ikut."
"Ikut ke kamar mandi maksud kamu?" tanya Sean.
"Emangnya boleh ya By? aku ikut ke kamar mandi sama kamu?" Rubina mengembalikan sebuah pertanyaan yang sukses bikin Sean terheran-heran.
"Ya enggak lah. Sudah, kamu susun saja barang-barang itu. Nanti setelah selesai kamu bisa kembali ke kamar."
"Ke kamar kamu By?"
"Kamar yang saya maksud adalah kamar tamu alias kamar yang semalam kamu tempati tidur"
"Oh aku pikir kamu lagi ngajakin aku buat tidur bareng malam ini."
Sejurus kemudian Sean sudah ada di kamarnya. Pintu kamar tentu saja tidak lupa untuk dia kunci untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi setelah ini dia akan mandi. Takutnya saat dia sedang tidak mengenakan pakaian Rubina malah datang. Sean mengedikkan bahunya padahal baru membayangkan kejadian itu. Sean sudah bisa membayangkan wajah bahagia Rubina kalau seandainya gadis itu berhasil melihat aset miliknya. Bukan tanpa alasan, Sean menyimpulkan seperti itu karena dulu waktu Rubina melihat perut kotak-kotaknya dia menampilkan raut muka yang teramat bahagia, bagaimana kalau Rubina melihat aset paling berharganya? Pastinya kesenangannya akan berlipat ganda.
Setelah mandi pria itu menyegerakan untuk mengelap tubuh basahnya dengan handuk, dilanjutkan dengan mengenakan piyama. Lalu setelah itu pria berahang tegas itu beranjak menuju ke ranjangnya. Dia merebahkan tubuhnya di permukaan empuk tersebut.
Aktivitas yang dijalani olehnya tadi sore tidak terlalu padat. Dia hanya membeli beberapa barang, makan, dan nonton. Akan tetapi kegiatan yang sederhana itu cukup untuk menghadirkan rasa lelah pada dirinya.
Rasa lelah yang mendiami diri Sean sudah di ujung tanduk. Bahkan karena itu matanya sudah meredup.
"Duh kok gue malah kebayang hantu sih?" Sean kembali membuka matanya. Efek menonton film horror ditambah dengan cerita hantu yang Rubina sampaikan membuat pria itu terus membayangkan sosok hantu.
Sean kembali mengubah posisinya jadi duduk di atas ranjang. 'Gara-gara Bina saya jadi ngebayangin hantu terus terusan,' pria itu bangkit. Tentu saja tujuannya adalah ke kamar Rubina. Dia ingin bernegosiasi dengan gadis itu supaya Sean bisa tidur tenang tanpa pemikiran-pemikiran tentang hantu. Sean membuka pintu kamarnya menuju ke kamar tamu yang ditempati oleh Rubina.
"Bi. Kamu sudah tidur?" tanya Sean dibarengi oleh tangan terkepalnya yang mengetuk pintu kamar.
"Belum By. Ada apa?"
"Buka pintunya. Ada sesuatu yang mau saya bahas sama kamu."
"Tunggu bentar!" ucap Rubina dari dalam. Kira-kira semenit kemudian pintu pun terbuka.
Klik!
"Astaga..." pekik Sean kaget saat matanya bertemu dengan Rubina.
***
KETIKA menyapu bagian dada bidangnya Sean bisa merasakan jantungnya yang sedang menghentak-hentak karena kaget.
"Kamu ini bikin kaget aja. Saya pikir sekarang saya ketemu sama sosok hantu beneran." Sebelumnya wajah Rubina yang sedang dalam balutan masker menjadi alasan kenapa Sean sampai terpelonjak kaget.
"Mana ada sih hantu yang cantiknya kayak aku hehehe."
"Lagian kenapa sih kamu ngedempul muka kayak gitu? Cantik nggak, bikin kaget orang iya."
"Ini tuh masker By. Aku pakai masker sebelum tidur kayak begini supaya kulit wajah aku tuh semakin sehat. Ya, biar aku semakin cantik. Kali aja kan dalam waktu dekat kamu bakalan nerima aku sebagai istri kamu seutuhnya."
"Padahal tanpa bantuan masker sekalipun kamu sudah cantik kok."
"Gimana, gimana? Kamu bilang apa barusan? Aku cantik? Aku nggak salah denger kan, seorang Sean Altemose Ahmet yang tampannya udah nggak diragukan lagi ngasih pujian buat aku?" heboh Rubina seolah dia baru saja memenangkan medali pada ajang pertandingan besar.
"Maksud aku kulit kamu, kalo pun kamu nggak pake masker kamu juga udah keliatan sangat cantik," Sean mengoreksi kalimatnya. "Ah iya, saya mau ngomongin sesuatu sama kamu." Sean merasa bahwa apa yang hendak dia sampaikan saat ini membuatnya terpaksa harus menurunkan gengsi. Kalau tidak, bisa-bisa Sean akan terjaga sampai pagi lantaran imajinya sedang dipenuhi oleh hal-hal yang berkaitan dengan sosok hantu.
"Mau ngomongin apa sih? Kelihatannya serius banget," Rubina meredupkan matanya. Dia menilai yang hendak dibicarakan oleh Sean cukup serius.
"Tidur sama saya malam ini!"
Jangan ditanya lagi. Ucapan tidak terduga yang disampaikan oleh Sean sudah membuat Rubina terbatuk-batuk.
"Iya, saya minta supaya malam ini kamu tidur sama saya," Sean mengulangnya.
"Kenapa tiba-tiba kamu ngajakin aku buat tidur bareng? Apa kamu sebenarnya udah jatuh cinta sama aku dan sekarang ngajakin buat tidur bareng?"
"Bukan itu alasan saya ngajakin kamu tidur sama saya."
"Terus apa alasannya sampai mas kamu ngedadak banget ngajakin aku tidur bareng?"
"Saya nggak bisa tidur sendirian."
"Loh, bukannya kemarin-kemarin Kamu juga tidurnya sendirian. Kenapa malam ini ngedadak banget aih pingin tidur sama aku. Bukannya aku nggak senang. Aku senang banget malah diajakin tidur bareng sama Kamu. Cuma aku ngerasa sedikit aneh karena kamu ngajakinnya tiba-tiba."
"Saya takut tidur sendiri."
"Lah kok bisa."
"Gara-gara nonton film horror ditambah lagi soal cerita kamu tentang temen kamu yang diteror hantu saya jadi kesulitan untuk tidur. saya jadi parno sendiri." Sean sudah kehilangan gengsi untuk mengakuinya. Yang dia butuhkan sekarang adalah istrihat. "Ayo, kita langsung ke kamar sebelah."
"Nggak mau."
"Kenapa?"
"Giliran kamu butuh aku aja kamu langsung dateng, tapi kemarin aja kamu ngusir aku ke kamar ini. Pokoknya aku nggak mau ya."
"Ya udah kalo kamu nolak buat di kamar saya, maka jangan salahin saya kalo malam ini saya bakalan tidur di sini! Lagian saya nggak perlu izin kan buat tidur di mana aja? Apartemen ini kan punya saya."
"Hmmm kalo emang gitu yang kamu mau sih terserah ya. Dan bener kata kamu By, Kamu perlu minta izin sama aku kok. Ya kalo emang kamu penginnya tidur di sini ya terserah. Nanti biar aku yang tidur di kamar kamu."
Rahang bawah milik Sean terjatuh mendengar yang Rubina katakan.
"Konsepnya tidak begitu Bi. Kalo saya tidur di sini sementara kamu tidur di kamar sebelah sama aja boong namanya."
"Terus kamu kayak gimana?" Sean maunya
"Aku maunya tidur bareng kamu," Sean menegaskan keinginannya. "Kenapa senyum-senyum? Perasaan nggak ada yang lucu!"
"Kamu yang lucu By."
"Ada apa sama saya sampe kamu nganggep saya lucu?"
"Karena kamu bela-belain nurunin gengsi ngakuin kalau kamu takut sama hantu. Sama satu lagi aku juga ngerasa lucu pas kamu minta aku buat tidur bareng."
"Jadi gimana? Kamu setuju kan buat tidur sama saya malam ini?"
"Yakin cuma ngajakin tidur bareng doang, nggak ada yang lain-lain nih By?"
"Kamu ini bener-bener yah. Selalu aja pikirannya travelling ke mana-mana. Kayaknya yang ada di otak kamu tuh cuma hal nyeleneh doang."
"Nyeleneh apa sih, By. Maksud sesuatu yang lain itu ngobrol."
"Pinter banget lagi ngelesnya."
"Sorry By, aku nggak mau tidur bareng kamu. Aku udah nyaman tidur sendirian. Siapa suruh kemarin kamu mengusir aku."
"Kamu dendam sama saya?"
"Iya."
"Ya udah, kalo gitu apa yang harus saya lakuin supaya kamu mau tidur sama saya?"
"Aku bakalan tidur sama kamu tapi kamu harus mindahin barang-barang aku yang udah aku isi di lemari sana," menunjuk ke lemari yang ada di ruangan itu, Pokoknya kamu sendiri yang harus memindahkan dan menyusunnya di lemari yang ada di kamar kamu. Gimana?"
"Tapi..."
"Kalo kamu nolak syarat yang aku kasih maka aku juga bakalan nolak keinginan kamu buat tidur di kamar kamu, By."
"Ok, Ok. saya bakalan pindahin barang-barang kamu ke lemari yang ada di kamar saya. Tapi bukan sekarang. Mungkin besok pagi baru saya pindahin. Karena saya udah nurutin keinginan kamu maka sekarang kamu nggak punya alasan buat nolak ajakan tidur bareng."
"Kok rada-rada ambigu ya Mas kedengerannya? Tidur bareng seakan-akan mengandung makna lain."
"Pikiran kamu aja yang enggak beres. Padahal mah kenyataannya tidur bareng tuh cuma sekedar tidur aja, nggak ada aktivitas lainnya. Ayo, kita ke kamar sekarang. Kantuk saya udah di ujung tanduk."
Setibanya di kamar Sean, terlihat Rubina yang memperhatikan suaminya sedang menyibukkan diri merapikan kasur. Tidak lupa benda paling wajib yaitu sebuah bantal guling yang diletakkan di tengah-tengah, dijadikan sebagai sekat yang memisahkan mereka berdua.