I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 97



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Selepas Caca pergi terlihat Rubina memperlihatkan sebuah senyum melalui bibirnya. Rubina jadi tidak sabar menunggu kedatangan Sean untuk menjemput dan membawanya ke restoran seperti yang telah mereka sepakati saat di rumah tadi. Meski tidak mengatakan secara detail mengenai hal penting yang katanya ingin dia sampaikan ke Rubina namun Rubina sudah bisa menebak-nebak bahwa yang hendak disampaikan kepadanya berkaitan dengan perasaan. Rubina berpikir sejauh itu bukan tanpa berpikir sejauh itu bukan tanpa alasan.


Dua hari yang lalu Sean terlihat terbakar api cemburu sewaktu menemukan Rubina pulang dari acara reunian diantar sama Agam. Walaupun saat itu Sean berkelit namun Rubina tidak sebodoh itu untuk tidak melihat kecemburuan yang diperlihatkan oleh bahasa tubuh suaminya.


Dugaan tentang Sean yang cemburu diperkuat oleh kejadian kemarin-saat Rubina meminta izin untuk menginap di rumah Caca. Sean yang semula acuh tak acuh berubah jadi panik saat tahu kalau Caca adiknya Agam. Dia yang semula mengizinkan jadi tidak mengizinkan. Sean bahkan rela begadang dan izin dari klinik demi mengerjakan tugas tersebut. Maka tak heran kenapa Rubina berpikir suaminya sudah memiliki perasaan lebih kepadanya.


Sebuah mobil berwarna silver baru saja terparkir di hadapan Rubina. Belum melihat si pengemudi namun Rubina sudah tahu kalau mobil itu milik Agam. Mobil yang sedang terparkir di hadapannya saat itu sama persis dengan mobil yang digunakan oleh Agam saat pulang bersamanya.


Dan benar saja dugaan Rubina. Orang yang baru saja membuka pintu dan segera turun itu memang benar adalah Agam. Agam masih dengan setelan kantor tersenyum singkat dan setelah itu dia telah berdiri di sebelah Rubina.


β€œHei Bi!"


"Hay, Gam!"


"Udah lama pulangnya?" Agam mengajukan pertanyaan dalam maksud sedang berbasa-basi untuk menghilangkan kecanggungan yang dia rasakan.


"Ga kok, baru aja kita beres kelas."


Agam memperhatikan sekitarnya. Tentu saja dia sedang mencari keberadaan adiknya. Biasanya adiknya itu selalu sepaket sama Rubina. Di mana ada Rubina pasti di sana juga ada Caca.


"Caca ke mana Bi? Tumben nggak barengan sama lo. Kalian nggak lagi marahan kan?" Agam menatap Rubina dengan pandangan mencurigai.


"Yee... sekate-kate! nggak kok."


"Terus ke mana tu anak?"


"Dia lagi ke toilet. Katanya lagi kebelet. Paling nggak lama lagi dia balik dari sana," selang beberapa menit setelah mengatakan itu tiba-tiba saja Sean datang dengan V4R nya. Dia memarkirkan motornya itu persis di depan mobil Agam.


Setelah membuka helm Sean langsung mendengus tatkala dia menemukan istrinya sedang berdiri tepat di sebelah kiri Agam.


Panas?


Tentu saja hati Sean memanas melihat perempuan yang sudah resmi jadi istrinya berdiri di sebelah seorang pria yang akhir-akhir ini membuat Sean emosi tiap kali memikirkannya. Bahkan sesederhana mendengar namanya disebut saja sudah bikin Sean kesal duluan.


'Kenapa dia lagi sih yang gue liat? Ck, bikin mood turun aja.'


Sean tetap bersikap sesantai mungkin saat menghampiri Rubina dan Agam di tengah-tengah perasaan terbakar yang dirasakannya. Sean masih menyunggingkan senyum kepada Agam yang lebih dulu tersenyum ketika mata mereka bertemu dan beradu satu sama lain.


"Sayang... udah pulang dari tadi?" Sean sukses membuat Rubina melongo dengan kehadirannya yang berdiri di depan Rubina sambil menyematkan kata 'Sayang' di dalam kalimatnya. Seakan Sean tidak puas hanya memperdengarkan itu kepada Agam, detik selanjutnya Sean memberikan ciuman singkat pada kedua sisi pipi milik istrinya. "Sayang, kamu belum jawab pertanyaan saya loh."


"Belum lama kok, by," jawab Rubina sedikit awkward.


"Ya udah, kita berangkat sekarang aja yuk!"


Rubina mengangguk. Buku milik Caca yang dititipkan kepadanya diserahkan kepada Agam, sambil berkata,


"Gam, ini bukunya Caca yang tadi dia titip sebelum dia pergi ke toilet. gue kasi ke lo aja yah soalnya gue udah mu berangkat sama Sean."


Setelah menerima anggukan kepala tanda persetujuan dari Agam, Rubina menyerahkan buku di pelukannya ke yang bersangkutan.


"Yuk!" ajak Sean. Dia mengayunkan tangannya mengambil pergelangan tangan super lembut milik istrinya. Sean melakukannya sambil dia melirik ke arah Agam. Sungguh, Sean merasa puas sekali melihat Agam yang tidak memiliki keberanian untuk memperhatikan keromantisan yang berusaha dibangun oleh Sean.


"Pamit duluan ya Gam," Sean juga memberikan senyum ramah kepada Agam.


***


DI sepanjang jalan dari kampus menuju ke kafe Rubina banyak melamun memperhatikan jalanan. Pikirannya hanya menjurus kepada satu hal saat itu. Apalagi kalau bukan keanehan yang ada pada diri Sean. Suaminya itu semakin memberikan sinyal kalau dia sudah memiliki perasaan lebih.


Rubina senang tapi disaat yang bersamaan dia juga merasakan debaran di jantungnya. Kalau memang dugaannya benar, itu artinya sebentar lagi tidak akan ada lagi sekat yang memisahkan hubungan mereka. Apa yang selama ini menjadi impian akan segera terwujud.


Setibanya mereka di restoran, Sean kembali memperlihatkan tingkah gentleman dengan menarikkan kursi untuk Rubina gunakan.


"Thank's, By" ucap Rubina sambil dia duduk di hadapan suaminya. "Hubby."


Sean yang sedang membuka buku menu terpaksa berhenti menembakkan fokus matanya di sana. Dia mengangkat dagu sampai matanya dengan sang istri beradu,


"Ada apa?"


"Soal semalem. kamu yang gendong aku ke kamar?" Rubina baru punya kesempatan untuk menanyakan itu, tadi pagi dia terlalu sibuk dengan masakannya sampai dia lupa untuk menanyakannya.


"Iya. Kamu ketiduran di ruang keluarga. Ya... Saya takut pas bangun badan kamu sakit-sakit jadi saya kepaksa ngangkat kamu ke kamar. Maaf ya saya udah bikin kamu nggak nyaman sama aksi saya yang lancang mindahin kamu ke kamar."


"Tidak kok By," sambung Rubina cepat. "kamu enggak perlu sampe minta maaf. Malah harusnya tuh aku yang terima kasih soalnya kamu udah ngelakuin itu buat aku. Oh ya, Caca juga nitip makasi loh sama kamu, By. Coba aja kalau kamu nggak beresin tugas itu, mungkin aku sama Caca udah kena semprot dosen killer." Rubina memperlihatkan kedikan bahu membayangkan dirinya berakhir kena hukum dosen. "Aku juga hampir lupa ngebahas. Soal tadi kenapa kamu nyium aku. Apa semua itu cuma gara-gara ada Agam di sana?"


"Jujur sih iya, karena ada Agam sampe saya ngelakuin itu, tapi terlepas dari ada atau nggak adanya Agam di sana, saya akuin kalau saya nikmatin ciuman itu. Oh iya, nih buku menunya, mending kita pesen makanan dulu. Baru setelah itu saya bakalan ngomong hal penting yang bikin saya ngajakin kamu buat dateng ke sini.”


"Nanti aja, saya takut kalo apa yang mau saya omongin sama kamu ini bakalan ngeganggu nafsu makan kamu. Soalnya saya pengen ngebahas sesuatu yang sifatnya berat. Dan ini jugabada kaitannya sama perasaan saya."


Dering ponsel Sean mengambil alih perhatian. Rubina menemukan Sean terlihat begitu gugup tepat saat titik fokus matanya mengarah kepada layar ponsel.


"Telepon dari siapa By?"


"Anu, eu... Saya keluar bentar ya!" terlihat terburu-buru Sean bangkit dan pergi begitu saja. Menyisakan Rubina memberinya tatapan bingung. Menurut Rubina sangat aneh sekali menemukan suaminya panik dan pergi setelah mendapatkan telpon entah dari siapa. Padahal dia juga bisa menelpon di sini. Rubina bahkan akan berusaha untuk diam saat suaminya itu menerima telpon tanpa dia harus meninggalkan meja segala.


****


LIMA menit selanjutnya Sean sudah kembali ke meja. Namun Rubina masih melihat sisa-sisa kepanikan di wajah suaminya. Rubina bahkan yakin bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Sean saat ini.


"Telepon dari siapa By?" tatapan Rubina begitu intens. Dia memperhatikan suaminya yang sedang mengubah posisi kembali duduk berhadapan dengannya.


"Mmmh... Dari Nino."


"Nino? Emangnya dia bawa kabar apa? Kok Keliatannya kamu panik banget udah dapet telepon dari dia."


"Dia butuh bantuan saya. Dia nelpon dan minta saya buat nemuin dia sekarang juga. Oh ya kamu nggak apa-apa kan kalo kita batalkan saja rencana ini? Atau gini aja, kamu tetap di sini aja sementara saya bakalan menemui Nino."


"Emang harus sekarang banget ya, By, kamu nemuin Nino? Nggak bisa gitu bentaran aja pas kita selese makan dulu?” Rubina bertanya lagi.


"Nggak bisa, soalnya masalahnya urgent banget kata dia."


"Hmmm begitu ya," sambil Rubina menggerakkan kepalanya mengangguk. "Ya udah kalo gitu kamu pergi aja."


"Terus gimana sama kamu?" tanya Sean terdengar sangat menghawatirkan Rubina.


"Aku bakalan langsung pulang pas udah selesei makan."


"Pulang sama siapa?"


"Aku bisa pesen taksi online, By."


"Sorry ya By, soalnya saya harus pergi." Sean mengatakannya sambil dia mengulurkan tangan mengambil tangan milik istrinya. Dia menggenggam tangan itu dengan sangat erat, memberikan sebuah tanda kalau dia teramat perasaan bersalah.


"Udah kamu nggak usah ngerasa bersalah kayak gitu. Lagian kita bisa re schedule buat makan di luar kayak gini. Udah sana, takutnya Nino bakalan nunggu kamu lama!" Rubina mengatakannya sambil dia menarik tangannya yang terkurung pada pergelangan milik suaminya.


"Saya pergi ya," katanya. Namun sebelum bangkit lebih dulu dia mengambil dompetnya dari dalam saku. Dia memberikan beberapa lembar rupiah untuk istrinya, "Nih buat makan sama ongkos taksi pulang."


"Nggak usah By, itu kan uang kamu. Mending uangnya disimpen aja. Aku juga ada uang pegangan kok."


"Ambil aja uangnya. Kamu kan istri saya, itu artinya uang milik saya ya uang milik kamu juga. Kan pada dasarnya suami kerja buat istrinya juga kan? nih diambil uangnya."


Senang?


Jangan ditanya lagi, Rubina sangat amat senang mendengarnya. Rasanya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam imajinya. Rubina dengan seulas senyumnya mengulurkan tangan menyambut uang pemberian suaminya. "Makasih By."


"Nggak perlu ngucapin makasih segala."


Akhir-akhir ini sikap Sean padanya juga semakin berkembang membaik. Rubina hanya tinggal menunggu sampai Sean sendiri yang mengakui perasaannya. Dan ya, Rubina yakin sekali bahwa Sean akan mengatakan perasaannya di tempat ini tapi keburu dia dapat telepon dari Nino yang hendak menemuinya.


"Saya pergi dulu ya. Kalo ada apa-apa telpon saya. Juga jangan lupa buat kabarin saya kalo udah sampe di apartemen biar saya nggak khawatirin kamu. Dah."


Padahal Rubina bisa saja menggoda suaminya yang baru saja mengakui tentang kekhawatirannya tapi karena suatu alasan Rubina tidak melakukan itu. Jarang sekali Sean memberinya kalimat semanis ini. Biasanya dia hanya mengatakan kalimat kasar yang menyisakan sakit di hati lawan bicaranya.


***


SETENGAH jam kemudian Rubina baru saja selesai menyantap makannya. Sungguh, aneh sekali makan di restoran tanpa ditemani siapa pun. Coba saja Sean tidak punya urusan mendadak dengan Nino, mungkin sekarang Rubina akan sangat menikmati makanan ini. Selain itu Rubina juga sudah akan berbunga-bunga saat Sean mengakui kalau sebenarnya dia sudah memiliki perasaan lebih dengan Rubina.


Setelah membayar makanan menggunakan uang pemberian Sean, Rubina jadi tidak punya alasan untuk berlama-lama di tempat itu. Rubina memutuskan untuk segera keluar dari restoran megah itu.


Di jalan depan restauran Rubina melihat seorang pria yang begitu akrab di ingatannya. Dia mengenal pria tersebut. Tidak sendirian, pria itu sedang bersama dengan seorang perempuan. Tanpa pikir panjang Rubina langsung mendekati pria itu.



Semakin jaraknya dekat semakin yakin pula Rubina kalau pria itu memang Nino.


"Hai."


Sepasang sejoli itu mengarahkan fokusnya ke arah Rubina yang baru saja mengajukan pertanyaan.


"Eh, Bina," ujar Nino sambil pria itu memasang senyum terbaiknya.


Hayooo.... kaget kan?? kenapa Nino ada disana sementara Sean ngakunya nyamperin NIno yang lagi butuh bantuan ya??? πŸ€”