
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
"Lion?" ulang Rubina. Awalnya dia tidak mengerti siapa itu Lion, dia tersadar bahwa Lion mungkin adalah nama dari hewan menggemaskan yang sedang dia gendong saat ini. Setidaknya itulah yang Rubina pikirkan saat itu.
"Maksud kamu Lion yang lagi aku peluk?"
"Ya, kucing saya namanya Lion. Sekarang jawab pertanyaan saya. Kenapa kamu meluk dia?"
"Tadi dia ngedeketin Makanya aku ambil dan meluk dia. Abisnya dia lucu sih, ngegemesin banget. Sebelas dua belas lah sama yang punya," seperti pada kebiasaannya. Rubina menyertakan sedikit gombalan di akhir kalimatnya. Tapi seperti biasa pula Sean nyaris terlihat biasa-biasa saja saat disuguhkan gombalan seperti itu. Mungkin karena dia sudah kebal karena selama ini dia senantiasa disuguhkan gombalan sejenis itu oleh Rubina.
"Kamu belum jawab pertanyaan saya. Kenapa kamu meluk kucing kesayangan saya tanpa minta izin sama saya?" tanya Sean. Kesan menuntut tengah bersemayam pada dirinya.
"Emang aku harus minta izin dulu?"
"Ya, kamu memang perlu izin," sambung Sean cepat. "Lion ini adalah peliharaan kesayangan saya. Saya nggak mau dia sampai kena virus kalau dia deket-deket sama kamu," alam bawah sadar membawa pria itu mengedikkan bahunya. "Turunin dia sekarang!" pinta Sean menggunakan nada suara yang tegas.
"Hmmm," Rubina bergumam seraya memperlihatkan tampilan muka yang seolah sedang berpikir kritis. "Kamu beneran lagi khawatirin si Lion atau kamu cuma lagi...." gadis itu sedang menyetel tampilan muka yang sangat menyebalkan di mata Sean.
Belum lagi dengan tingkahnya yang mendadak memenggal kalimatnya seakan-akan gadis itu sengaja ingin membuat Sean larut dalam rasa penasaran.
"Apa? Kamu emang sengaja kan pengen buat saya penasaran?!" tuduh Sean.
"Kamu beneran khawatirin Lion atau kamu lagi cemburu sama Lion?"
"Cemburu? Gimana maksudnya?" Sean benar-benar tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Rubina. "Sebaiknya berikan penjelasan secara bener, jangan ngeribetin kayak gitu!" Sean menaikkan nada suaranya sekitar setengah oktav dibandingkan dengan yang sebelumnya.
"Kamu cemburu sama Lion karena aku melik dia? Bilang aja kalo kamu juga pengen dipeluk."
Ada kedikan bahu yang Sean perlihatkan, menyusul kedikan bahu itu Sean meloloskan sebuah kalimat lewat bibirnya. "Najis! Mikirinnya aja saya udah mau muntah. Dan tolong, kedepannya kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak. Apalagi sampai mengira kalo saya menyimpan perasaan terhadap kamu. Ingat, sampai detik ini perasaan saya sama kamu masih sama kayak tujuh tahun yang lalu. Aku masih nganggap kamu sebagai perempuan menyebalkan yang menjadi parasit di dalam kehidupan saya," Sean-yang biasanya terkenal dengan sifat hemat bicaranya— memperlihatkan sisi lain yang ada pada dalam dirinya. Mungkin juga kekesalan yang membuatnya sampai sejauh ini.
Setelah mengeluarkan uneg-unegnya, terlihat dada bidang milik pria itu yang dibalut kaos putih terlihat kembang kempis. Keringat juga mulai hadir dan membuat permukaan wajahnya jadi basah.
Rubina bahkan nyaris biasa-biasa saja. Padahal kenyataannya dia baru saja terkena semburan dari orang yang selama ini mencuri hatinya pada pandangan pertama.
"Kalo emang nggak cemburu, ya kamu nggak perlu marah-marah kayak gitu!"
"Ck... Saya marah-marah soalnya kamu itu nyebelin! trus kenapa kamu bisa ada di rumah saya? Ke mana yang lain?" tanya Sean.
"Ayah sama ibu kamu lagi keluar. Katanya mereka lagi jenguk kenalannya yang baru masuk rumah sakit."
"Trus kenapa kamu bisa di sini?"
"Tante Marisa manggil aku. Katanya dia pengen minta bantuan aku. Tapi pas aku ke sini, tante Marisa malah dapat kabar kalo temennya masuk di rumah sakit dan dirawat. Makanya tante Marisa nyuruh aku buat nunggu soalnya dia bilangnya nggak akan lama di rumah sakit."
"Jadi gini, tadinya aku emang nunggu di depan, tapi pas aku ke dapur, aku nggak sengaja lihat barang-barang yang dibeli sama tante Marisa dari departemen store belum sempet dimasukin ke freezer. Karena aku juga bosen nunggu, jadi ya aku inisiatif buat masukin sambil ngerapiin barang-barang tante Marisa."
Sean hampir tidak bereaksi mendengar penjelasan secara runtut dari Rubina. Sean memutuskan untuk bergegas menghampiri freezer. Efek setelah marah-marah tadi membuat kerongkongannya jadi kering. Sean membuka freezer mengambil botol air mineral dari dalam sana kemudian menempelkan ujung botol itu dengan bibirnya.
"Sean," panggil Rubina. Tentu saja dia tidak mendapatkan jawaban karena Sean saat itu sedang sibuk dengan aktivitas mendongakkan kepalanya meminum air mineral dari dalam botol, "Kamu mau susu aku nggak?"
Uhuk!
Sean terbatuk saat itu juga. Air putih yang belum lolos memasuki kerongkongannya tersembur ke lantai. Dengan pandangan kesal Sean menolehkan mukanya ke arah Rubina. Tatapannya tajam sekali seolah dia hendak menerkam Rubina hidup-hidup.
***
SEJAUH ini Sean masih mempersembahkan tatapan buas kepada Rubina. Sementara Rubina belum membuka sisi bibirnya untuk memberikan sebuah kalimat berisi klarifikasi atas kalimat ambigu yang tergulir dari bibirnya beberapa waktu yang lalu.
"Jangan diem aja! Apa maksud ucapan kamu barusan?" Sean kembali menuntut jawaban atas ucapan Rubina sebelumnya. Karena gadis itu, Sean sampai menyemburkan air mineral yang belum sempat lolos melewati tenggorokan serta kerongkongannya.
"Aku nggak mengerti," Rubina menyahuti.
"Jangan coba membodohi saya Bina!" sambung Sean cepat. "Apa maksud ucapan kamu yang tadi!" balas Sean terdengar memaksa.
"Soal apa yah?" Rubina bertindak dengan berpura-pura bodoh di hadapan Sean. Padahal dia sendiri sudah tahu maksud Sean tentu saja merujuk kepada ucapan Rubina yang pada kenyataannya memang sangat ambigu dan menghadirkan tanda tanya besar bagi siapa saja yang mendengarnya.
"Soal susu tadi. Apa maksud kamu nawarin aset berharga kamu sama saya, sebodoh itukah menawarkan aset yang harusnya kamu jaga," bukannya berpikiran yang jorok.
Tapi Sean sangat yakin, siapa pun yang ada di posisinya saat itu akan mengartikan ucapan Rubina dengan hal-hal yang mengarah ke ranah dewasa. Apalagi Sean memang kerap kali mendengar Rubina membahas hal-hal seperti itu. Waktu dia bertemu di Rumah sakit saja Rubina juga melakukan hal yang sama.
"Aset? Aku nggak lagi nawarin aset. Aku cuma nawarin susu kotak. Kan udah aku bilang waktu itu kalo aku punya stock susu kotak di rumah. Emangnya susu apa yang lagi kamu pikirin," Rubina menahan senyumnya, "Oh jangan-jangan kamu lagi mikir susu yang lain," pancing Rubina.
Saat itu dia menurunkan kucing menggemaskan dalam gendongannya. Lalu dia menegakkan kembali posisi duduknya diikuti tangannya terangkat dan berakhir terlipat di bagian dadanya.
Sean meneguk salivanya secara kasar. Padahal niat awalnya adalah ingin membuat Rubina merasa tersudutkan. Tapi kenyataan yang berjalan malah Sean yang merasa tersudutkan. Sean mendadak tidak memiliki kemampuan untuk merangkai kata. Sean mendadak jadi nge-blank.
"Kok diem?" tanya Rubina dengan kebungkaman Sean. "bener ya dugaan aku kalo kamu emang lagi ngebayangin..."
"Kalo bicara jangan sembarangan! Saya nggak pernah ngebayangun hal yang tidak-tidak. Cuma ya kenyataannya kamu sendiri yang ngarahin ke hal-hal ranah dewasa."
"Ke ranah dewasa gimana maksudnya? Aku jelas-jelas loh lagi bahas susu kotak, tapi kamunya yang malah bahas susu yang lain." Rubina berkilah.
"Lion, ayo ke sini!" panggil Sean. Nada suara yang dilepaskannya terdengar tegas dan tidak terbantahkan. Lion tidak mengindahkan panggilannya. Makhluk menggemaskan itu terus saja mendusel-dusel manja di kaki Rubina. Membuat Sean makin kesal saja melihatnya. "Lion! Lion!" panggil Sean. Biasanya tiap kali menyerukan namanya sekali saja, dia langsung datang dan mengeong di hadapannya, tapi kali ini dia seolah tersihir sampai dia tidak ingin beranjak meninggalkan Rubina.
Hadeuh... bener-bemr ya c'Bina... menguras esmosi Sean... jangankan Sean othornya aja agak lesel ya pas nulis... nyebelin bgt emang kelakuanya 🤣🤣