I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 109



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


AGAM memang terlihat sangat tenang melajukan mobilnya tapi sedari awal duduk di depan kemudi sebetulnya Agam sudah merasakan bahwa perasaannya tidak sepenuhnya baik-baik saja. Degup jantungnya sudah semakin tidak seirama seiring waktu berjalan. Selain itu dia juga merasakan bahwa dia juga merasakan bahwa darahnya serasa mengalir dengan cepat jauh melebihi normalnya.


Agam yakin perasaan itu muncul karena kenyataan dia yang sedang duduk bersebelahan dengan wanita yang dulunya pernah jadi prioritas di dalam hidupnya. Ya, walaupun sempat ada usaha yang dilakukan oleh Agam dalam melupakan Rubina namun sekiranya usaha tersebut harus terputus di tengah jalan setelah Agam mengetahui soal hubungan Sean dengan Rubina yang sebenarnya. Karena itu Agam jadi kembali memiliki sebuah harapan untuk bisa memperjuangkan cintanya ke Rubina.


Lampu lalu lintas yang berubah merah semakin membuat Agam kian gugup saja. Agam bahkan baru sempat merangkai pertanyaan basa-basi yang hendak disampaikan kepada perempuan di sebelahnya namun keburu Rubina yang lebih dulu berbicara.


"Gam, Gue mau ngebahas sesuatu sama lo."


"Mau bahas apa, Bi?”


"Yang waktu di rumah sakit saat gue lagi ngebahas sesuatu sama Sean, lo ada di sana juga kan?" tanya Rubina membuat Agam dengan refleks meneguk salivanya. Bahkan dari tatapan Rubina saja sudah membuat Agam meyakini bahwa sesuatu yang hendak ditanyakan oleh Rubina saat itu sama persis dengan yang ada di pikiran Agam saat ini.


“Apa lo dengar obrolan gue sama Sean?" Rubina menambah jumlah pertanyaannya.


"Maksud lo soal hubungan lo sama Sean yang sebenarnya? Kalo soal itu, gue minta maaf, gue emang nggak sengaja denger obrolan kalian.”


"Hah... bener kan dugaan gue. Ternyata lo emang udah tau soal itu." Rubina menghela napasnya sambil dia berhenti memandangi pria di depan kemudi. Rubina melemparkan pandangannya ke jalanan depan. “Gam, lampunya udah berubah jadi hijau tuh,” kata Rubina.


Agam lanjut mengemudikan kembali mobilnya. Bersamaan dengan itu dia berkata, "Sumpah Bi, gue nggak ada niatan sama sekali buat ikut campur urusan lo sama laki lo. Waktu itu gue beneran nggak sengaja dengarnya."


"Santai aja, Gam. Lo nggak perlu sampe ngerasa bersalah kayak gitu. Salah gue juga sih karena nggak tau tempat buat ngebahas masalah itu sama Sean. Ibarat kata juga udah telanjur lo tau juga kan permasalahannya kayak gimana?"


Agam diam merapatkan kedua sisi bibirnya.


"Gue hanya minta supaya lo jangan sampe ngomongin ini sama siapapun soalnya nggak banyak yang tau soal itu!" pinta Rubina terdengar memohon.


"Santai saja Bi. Gue nggak bakalan mungkin cerita ini sama siapa pun. Bahkan sama Syifa dan Rara sekalipun."


"Tenang aja, kali mereka berdua mah udah tau soal itu. Yang gue maksudkan di sini adalah Caca dan temen-temen sekelas kita yang lain."


"What? Syifa sama Rara sebenernya udah tau?” tanya Agam.


"Hmmm, mereka udah pada tau. Bahkan sebelum pernikahan gue sama Sean aja mereka udah tau kalo sampe saat itu Sean sebenernya belum punya perasaan lebih sama gue.... " jelas Rubina sambil tersenyum miris.


"Lagian lo kenapa juga sih sampe seberani itu buat nikah sama cowok yang jelas-jelas nggak sayang sama lo?”


"Huh, ya... mungkin karena waktu itu gue selalu mengharap kalo suatu hari nanti Sean bakalan berubah. Dari yang dulunya nggak punya perasaan apa-apa jadi sayang sama gue. Dan dari awal gue juga nggak mempermasalahin berapa lama waktu yang harus terbuang sampai Sean beneran punya perasaan lebih sama gue, tapi sangat disayangkan ternyata Sean udah punya anak dari hubungannya sama wanita bernama Sarah!"


"Anak!" kaget Agam. Segera pria dengan rambut yang masih klimis itu terbatuk. Sambil dia memperhatikan spion memperhatikan kendaraan yang ada di belakangnya. Merasa aman Agam pun menepikan mobilnya.


"Kenapa berenti di sini Gam?" heran Rubina karena secara tiba-tiba Agam memilih untuk menepikan mobilnya padahal saat ini mereka bahkan belum sampai ke tempat tujuan.


"Apa kata lo tadi?"


"Yang mana?" Rubina balik bertanya.


"Soal Sean. Apa bener dia udah punya anak?" Agam membagikan sebuah pertanyaan yang sebelumnya bikin dia terbatuk dan terpaksa menepikan mobilnya seperti ini.


"Tunggu." Rubina membulatkan matanya hampir sempurna disusul oleh tangannya yang mengudara menyumpal bagian bibirnya. Di menit selanjutnya Rubina berkata, "Apa jangan-jangan lo nggak tau soal Sean yang udah punya anak dan istri sebelum nikah sama gue?"


Agam geleng-geleng kepala dengan tempo yang sangat cepat. Sementara Rubina sudah tepok jidat karena dia sendiri yang membagikan rahasia hubungannya dengan Agam.


"Gue aja kaget pas barusan lo ngomong soal anaknya Sean. Waktu di rumah sakit gue emang sempet dengerin pembahasan kalian tapi gue cuma dengerin soal Sean yang nikah sama lo tanpa didasari oleh perasaan suka. Soal Sean yang sudah punya anak istri sebelum nikah sama lo baru gue ketahuin sekarang loh, Bi.”


'Ck.. Sial! Kalau aja gue tau dari awal akan berakhir kayak gini, mungkin gue nggak bakalan cerita semuanya sama Agam. Yang ada sekarang malah gue yang bocorin rahasia kebusukan Sean sama Agam... Cih... jadi nambah beban pikiran gue saja,' sesal Rubina, namun sekarang percuma saja karena dia sudah telanjur mengatakan rahasia yang seharusnya tidak dia sampaikan kepada Agam.


"Soal itu apa bener? Maksud gue apa Sean beneran udah nikah dan sudah punya anak?" tanya Agam.


Rubina sekali lagi menghela napas panjang-panjang, membuang beban yang ada di dalam tubuhnya. Kalau dipikir-pikir sekarang sudah percuma menyembunyikan soal itu ke Agam. Bahkan dengan berbohong pun sepertinya Agam tidak akan percaya lagi dengan kata-kata Rubina setelah sebelumnya Rubina mengungkapkannya.


"Bi? Kenapa diem aja?"


"Iya, Gam, soal itu emang bener. Sean emang diem-diem pernah nikah sama seorang perempuan bernama Sarah. Dan bukan hanya nikah secara siri. Mereka bahkan udah punya anak dari hasil pernikahannya itu.”


"Kok bisa sih?" kaget Agam.


"Lo aja kaget Gam denger cerita gue barusan, apa kabar sama gue?"


"Sumpah yah, rasanya gue kayak nggak nyangka banget kalau Sean ngelakuin itu. Apa sebelumnya nggak ada yang tau soal itu?"


"Dia nyembunyiin itu dari semua orang Gam," jawab Rubina agak kesal membayangkan kejadian saat Sean ketahuan bersama dengan Sarah.


"Termasuk orangtuanya juga nggak tau kalo Sean udah pernah nikah siri dan punya anak?" tanya Agam lebih lanjut.


"Iya, Gam," tidak cukup memberikan jawaban lewat kata itu, Rubina menyertakan gerakan kepala mengangguk.


"Termasuk orangtuanya juga nggak tau, Gam, kalo Sean udah punya anak dari pernikahan sirinya. Mereka sama shocknya sama gue waktu gue ceritain tentang itu ke mereka."


"Terus gimana penjelasan Sean? Maksud gue setiap tindakan kan pasti ada alasannya. Alasan Sean nyembunyiin pernikahan sirinya itu karena apa? Dan kenapa dia nggak bicara jujur aja soal pernikahan sirinya itu sebelum kalian melangkah ke jenjang pernikahan?"


Rubina mengedikkan bahunya. “Gue juga nggak tau, Gam.”


"Kok nggak tau?" kening Agam mengkerut. "Apa Sean nggak mau cerita soal masa lalunya sama lo?”


"Bukan gitu Gam. Sean mungkin bakalan ngejelasin sama gue. Cuma gue memilih buat nggak ngedengerin."


"Loh, kenapa?"


"Gue masih belum siap aja buat denger penjelasannya. Maklum, akhir-akhir ini ada banyak masalah yang harus gue hadepin. Termasuk kondisi Bokap gue yang baru-baru ini masuk rumah sakit."


"Soal bokap lo apa beliau udah tau permasalahan ini?"


"Belum. Bokap gue sama sekali belum tau soal ini. Gue rencananya nunggu sampe kondisi Papah benar-benar membaik sebelum gue ngasih kabar tentang Sean. Dan setelah itu gue bakalan ngakhirin hubungan gue sama Sean."


Rencana mengakhiri hubungan dengan Sean yang dilantunkan oleh Rubina seharusnya membuat Agam senang. Bukankah memang itu yang Agam inginkan? Toh kalau pada akhirnya hubungan Sean dan Rubina sudah dinyatakan berakhir maka Agam punya kesempatan untuk kembali memperjuangkan cintanya. Dan juga status 'janda' yang nantinya akan tersemat pada diri Rubina setelah berpisah dengan Sean bukanlah sebuah masalah besar bagi Agam yang memang memiliki perasaan yang teramat tulus kepada Rubina.


Tapi kok, anehnya... Agam malah menyayangkan keputusan untuk berpisah yang direncanakan oleh Rubina. Agam merasa bahwa keputusan yang akan diambil oleh Rubina terlalu terburu-buru. Apalagi mendengar pengakuannya barusan yang katanya belum sempat mendengar penjelasan dari Sean. Ya, walaupun Agam juga sadar kalau permasalahan yang membuat Rubina marah dengan Sean bukan karena masalah sepele, melainkan masalah yang super duper besar.


"Apapun keputusan lo nantinya kan bakalan balik lagi ke diri lo sendiri Bi. Lo yang jalanin hubungan ini sama Sean. Tapi saran dari gue sih, sebelum lo ngambil keputusan itu, memdingan lo dengarin dulu penjelasan dari laki lo. Gimana pun juga dia berhak buat ngasih penjelasan sama lo. Siapa tahu kan dia punya alesan kuat kenapa sampe ngelakuin hal itu." Agam menyarankan dengan bijak mengenyampingkan perasaannya.


Rubina menghela napas untuk kali kesekian. “Emang bener kata lo, Gam! Gue emang perlu buat ngedengerin penjelasan dari Sean. Ya, walaupun penjelasan darinya nanti tetep nggak bakalan ngubah apapun. Secara nggak langsung, pernikahan gue sama Sean bakalan buat gue dicap sebagai seorang perebut suami orang." Rubina menatap ke depan.


“Oh ya, Gam, mending kita lanjutin perjalanannya."