
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Di sepanjang jalan, sampai akhirnya dia sudah tiba di kamar— menemukan suaminya sedang duduk di tepi ranjang, senyum di bibir Marisa masih tergambar jelas. "Ayah!" panggilnya kepada sang suami, "Ibu bawa kabar gembira loh!" katanya dengan penuh semangat.
"Ada kabar apa Bu?" tanya Aditya kepada Marisa yang baru saja duduk di sebelahnya. " Kelihatannya Ibu sangat senang sekali," komentarnya setelah memperhatikan muka istrinya yang menyiratkan kebahagiaan.
"Coba tebak kabar apa yang hendak ibu sampaikan?"
Aditya memperlihatkan raut sedang berpikir. "Hmmm, arisan ibu naik kah?"
"Bukan Yah."
"Terus apa dong?"
"Sean sedang bersiap buat ke kondangan." kedua halis suaminya bertaut heran.
"Bukannya kabar itu kedengeran biasa aja? Kok Ibu sebahagia itu dengan kabar Sean yang hendak pergi ke resepsi pernikahan orang. kayak putra kita baru pertama kali pergi sebagai tamu undangan aja."
"Bukan itu intinya Yah. Yang harus Ayah tahu Sean pergi sama siapa di resepsi itu!"
"Emangnya dia pergi sama siapa ke kondangan?" penasaran Aditya yang bisa dilihat dari caranya memandang istrinya dengan mata meredup.
"Sama Bina, Yah."
"Serius Bu?" tanya Aditya. Dia seakan tidak percaya dengan yang diucapkan oleh istrinya.
"Iya," Marisa menjawab dengan singkat.
"Wah. Ayah senang mendengarnya. Semoga hubungan mereka semakin membaik supaya perjodohan itu semakin berjalan dengan lancar tanpa kendala. Ayah benar-benar sangat senang mendapatkan kabar ini. Kita kasih kabar sama Papah, dia juga pasti seneng denger kabar cucunya semakin dekat dengan Bina."
"Iya Yah."
***
Sementara itu di lain tempat terlihat Rubina yang baru saja menyelesaikan urusan make up-nya bersiap untuk berangkat dengan si calon suami menuju ke kondangan. Gaun yang diberikan oleh Sean tadi pagi juga telah tersemat di tubuhnya menambah kadar kecantikan yang dimiliki oleh Rubina.
"Ternyata Sean jago juga dalam milih pakaian. Tanpa menanyakan ukuran gaun gue, dia milih gaun yang pas di badan gue," Rubina bergumam sembari memutar badan di depan cermin yang bertaut dengan lemari pakaiannya, Rubina begitu senang karena Sean memilihkan warna gaun yang tidak terlalu mencolok.
Rubina sudah tidak sabar. Ingin sekali dia mempercepat waktu sehingga dia bisa segera merasakan kebahagiaan saat datang ke pesta sebagai pasangan Sean. Walaupun Rubina tahu Sean mengajaknya ke pesta semata-mata untuk berpura-pura jadi pasangannya. Tapi tetap saja, Rubina sudah tidak sabar berakting layaknya pasangan dengan Sean.
"BI..!" suara milik maminya mengudara dan membuat bayangan di imaji Rubina runtuh seketika. Rubina berhenti memandangi pantulan dirinya di depan cermin. Menolehkan muka kepada Althea yang berdiri di ambang pintu.
"Kenapa Bu?" Rubia bertanya.
"Kamu udah siap belum?" tanyanya.
"Udah, Bu. Bina udah siap kok."
"Ya sudah kalo memang sudah siap, cepet temui Sean. Dia udah nunggu kamu di depan rumah!"
Rubi a mengambil tas kecil di meja rias beserta ponselnya yang tergeletak di tepi ranjang. Rubina mempercepat langkah menuju ke depan rumah.
"Kamu datang udah dari tadi?" ia berbasa-basi kepada si calon suami yang sedang duduk. Tidak sendirian, dia duduk bersebelahan dengan Emerald.
"Belum lama kok. Oh iya, kalo gitu kita berangkat sekarang aja," Sean beranjak dari posisi duduknya. Ia mengarahkan perhatiannya kepada Emerald, lalu berkata,
"Kak, saya sama Bina berangkat dulu," pamitnya dengan nada ramah.
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut!" peringat Emerald mendapat anggukan dari Sean.
"Kak aku berangkat dulu," Rubina turut serta berpamitan.
"Hati-hati!"
"Pulangnya jangan kemaleman yah!" ucap Althea yang baru muncul di pintu.
"Iya, Tan. Saya usahain pulangnya nggak terlalu malem kok," kata Sean berjanji.
Setelah itu Sean beranjak menuju ke V4R. Rubina mengekori Sean.
"Pake nih. helm-nya!" suruh Sean setelah menunggangi V4R nya disusul tangannya memberikan helm berwarna hitam ke arah Rubina. Rubina menyambut dan dengan cepat memasang benda itu untuk membungkus kepalanya. "Sekarang cepat naik."
"Susah." Rubina mengeluh.
"Maksudnya?"
"Iya aku kan pakai gaun. Jadi agak susah buat duduk di belakang kamu."
"ya udah duduknya nyamping aja!" usul Sean.
"Tapi jangan ngebut-ngebut yah! Takutnya aku malah jatuh."
"Tenang saja, saya juga nggak mau kamu jatuh kok."
"Kamu takut kehilangan aku yah?" pede Rubina tersenyum salah tingkah.
"Bukan gitu. Saya nggak mau kamu jatuh soalnya saya tidak mau jadi orang yang harus dimintai pertanggung jawaban sama keluarga kamu," pedas Sean.
"Aduh," eluh Rubina.
"Kenapa?"
"kayaknya aku kelilipan deh."
"Sini biar saya bantu tiup," Sean bergerak refleks mendekatkan wajahnya. Namun saat wajahnya dan wajah Rubina saling berdekatan, saat itu pula Sean menyadari ada sesuatu yang ganjil. Wajah Rubina dalam balutan make up terlihat begitu menarik perhatian. Rubina yang memang memiliki wajah yang cantik semakin cantik saja dalam balutan make up. Rubina hanya mengucek-ngucek matanya dengan jari tangan. Setelah itu dia membuka mata dan menemukan Sean yang mengarahkan fokus mata di wajahnya. Rubi a melihat iris berwarna biru milik Sean begitu indah dalam jarak yang super dekat. "Kenapa liatin aku kayak gitu. Apa kamu udah jatuh cinta padasama aku?" tanya Rubina.
"KENAPA DIEM AJA?" tanya Rubina kepada Sean yang memilih membuang muka. Entahlah, namun Rubina merasa bahwa Sean seolah tidak memiliki keberanian untuk mengadu kembali matanya setelah pertanyaan sakral yang ditanyakan oleh Rubina. "Kamu juga belum jawab pertanyaan aku. Apa kamu jatuh cinta sama aku?" Rubina mengulang pertanyaan yang sama -sebuah pertanyaan yang sebelumnya jadi alasan kenapa Sean mendadak membuang muka.
"Kamu ini ngomong apa sih. cepetan duduk di belakang saya supaya kita bisa cepet sampe," Sean menganggap dirinya beruntung karena saat itu dia menemukan cara untuk dari suasana kikuk tersebut.
"Tapi kamu belum jawab.."
"Kita nggak punya banyak waktu. mendingan naik ke motor sekarang!" Sean memberi penekanan pada kalimat perintahnya. Sekarang Rubina tidak lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Gadis itu menuruti perintah Sean. Segera dia duduk menyamping. Tentu saja tangan kanannya dengan mudah dilingkarkan pada perut si pengemudi.
Seperti biasa. Walau Sean sebenarnya tidak suka namun pada akhirnya dia hanya membiarkan gadis itu memeluknya dari belakang dengan alasan keselamatan. Toh pada akhirnya Sean juga yang kerepotan kalau gadis itu sampai kenapa-kenapa.
"Udah?" tanya Sean memastikan gadis yang duduk di belakangnya sudah siap dengan posisi duduknya.
"Iya, udah!" respon Rubina.
Setelah mendapatkan jawaban dari gadis yang memeluknya erat. Sean lantas membunyikan mesin V4R nya. Sejurus kemudian Sean menjalankan motornya itu dengan kecepatan sedang seperti janjinya tadi. Sean terlihat begitu fokus pada jalanan depan. Berbeda dengan Rubina yang merasa senang dengan kenyataan yang ada. Sekali lagi, dia memiliki kesempatan untuk semakin dekat dengan Sean.
"Ternyata enak juga yah malem-malem liat pemandangan kota sambil meluk calon suami kayak gini," maksud Rubina adalah bergumam, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa Sean bisa mendengar gumamannya barusan. "Aku seneng banget!" lanjut Rubina.
'Coba aja Saya dengerin saran ibu yang nyuruh saya pake mobil, pastinya nggak akan ada adegan di mana Rubina meluk tubuh saya seperti ini. Ah sial, kenapa tadi saya nggak kepikiran sampe sejauh ini sih,' pikir Sean penuh Sesal baru saja dia rasakan karena tidak mengindahkan saran dari ibunya.
Syukurlah. Keadaan jalan raya malam ini tampak lenggang. Tidak ada antrian kendaraan seperti yang ditakutkan oleh Sean.
Mereka pun sampai di gedung tempat berlangsungnya acara pernikahan. Setelah turun, Rubina menunggu Sean memarkirkan motornya.
"Kenapa kamu senyum lagi?" tanya Sean saat dia telah menghentikan langkah kakinya saat jaraknya dengan Rubina sudah dekat.
"Aku senyum soalnya baru sadar satu hal." Rubina memberikan jawaban.
"sadar apa?"
"Aku baru sadar kalo ternyata gaun yang aku pake sama jas yang kamu pake warnanya senada," setelah mengatakannya terlihat Rubina yang tersipu malu.
Sean memperhatikan warna gaun yang dikenakan oleh Rubina, lalu membawa kepalanya menunduk memperhatikan jas yang dia kenakan. Benar ternyata, warna outfit mereka seragam. Padahal Sean tidak pernah merencanakan itu. Waktu ke butik dia hanya memilih gaun secara random, dan juga ketika dia memilih jas di lemari, dia hanya mengambilnya secara asal tanpa terpikirkan warnanya bakal senada dengan gaun Rubina.