I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 43 Kisah Hans



Guysss... siap-siap tissue ya.. di episode kemarin dan sekarang mari kita sedikit berderai air mata...


Happy reading...


***


(Ost. Wait There -Yiruma)


Sambil baca kebawahnya tetap nyalain lagunya ya di reepeet kalo bisa hahaha... biar dapet aja feel nya.


Bruukkk...


Tubuh Hans limbung dan tergeletak di atas lantai. Hans mulai terbatuk dan mengeluarkan darah lebih banyak daripada yang tadi.


"Polisi! Angkat tangan!" ucap beberapa polisi yang baru saja masuk ke ruang kerja dimana Aquila sedang memegang pisau yang tertusuk di perut Hans.


"Aku... aku nggak sengaja Pak..."


"Berikan keterangan anda saat sudah berada di kantor!" Ucapnya sambil memborgol tangan Aquila ke belakangnya. lalu membawanya keluar.


"Cepat telepon ambulance!" teriak polisi itu.


Tak lama beberapa anak buah Hans datang dan terkejut melihat Bossnya sudah tergeletak di lantai denga pisu yang masih tertancap di perutnya.


"Boss!!! tau gini kami ikut tadi!"


"Maaf, Boss. Kami tidak bisa menjaga Boss..." Hans menggelengkan kepalanya.


"kalian kan mengikuti perintah saya, saya memang hanya ingin berbicara pada Aquila" jelasnya dengan terbata-bata...


"Pak, sebentar lagi ambulance akan datang!" ucap polisi yang masih berjaga di tkp.


"No... saya ingin ke rumah sakit sekarang, istri saya membutuhkan saya..."


"Pak, luka bapak cukup parah dan tidak bisa dibiarkan dengan dua tusukan sekaligus Bapak---"


"Saya mohon, Istri saya sedang dalam bahaya di rumah sakit Pak... saya hanya ingin menemuinya..."


Polisi dan kedua anak buah Hans saling tatap bingung dengan keinginan Hans yang sangat sulit untuk dituruti.


***


"Hans?! Ya Tuhan... Niel..." ucap Althea saat melihat Hans sedang berjalan ke arah mereka dengan luka yang sudah di perban tapi darahnya masih merembes ke perban keduanya. Danniel yang melihat ke arah Hans pun terkejut dengan kradaan Hans yang sangat memprihatinkan, begitu pula dengan Dany yang masih berada di sana.


"Boss---" ucapan Dany tercekat saat hendak mau membantu Hans, karena Hans langsung mengangkat tangannya seperti berkata 'Saya tidak apa-apa'.


"Di mana... Nadin?!" Ucap Hans saat berada diantara mereka.


Althea melihat Hans dengan tatapan sedih dengan muka merah karena habis menangis.


"kemarilah, Hans!" ucap Althea sambil berjalan. Hans pun berjalan mengikuti Althea dengan tertatih-tatih karena lukanya.


Hans melihat tempat yang di tuju Althea adalah ruang operasi.


"Dia---" ucap Hans terhenti.


"Dia belum selesai di operasi Hans, lukanya sangat serius, dia bisa saja---" Althea terdiam tidak melanjutkan ucapannya.


"Bayi kami..." Ucap Hans melihat ke arah Althea. Althea hanya menggelengkan kepalanya sambil menangis lalu memeluk Hans yang masih terdiam shock.


"Kamu harus sabar, Hans. Kamu harus tegar... kuatkan hatimu...Hmmm..." mengeratkan pelukannya sementara Hans hanya terdiam tanpa membalas pelukan Althea lalu tanpa sadar ir matanya mengalir sebelum kesadarannya hilang dan tubuhnya ambruk ke bawah.


Althea pun histeris melihat seorang Hans pingsan dihadapannya. Di mata Althea ini adalah titik terendah Hans. Dimana Hans yang dingin, tegas, kuat. Biasanya mau babak belur, diberondok beberapa senjata juga ditusuk sekalipun Hans pasti akan tetap berdiri tegap, itu karrna dia bertekad untuk melindungi Danniel. Tapi... melihatnya sekarang... Nadin adalah titik lemah seorang Hans, sekarang.


Hans pun dibawa oleh beberapa perawat ke ruang tindakan untuk di tindak. Althea yang melihat keadaan Hans pun hanya bisa menanfis dan memeluk suaminya Danniel.



"Kenapa? Kenapa bisa jadi kayak gini Niel??? apa salah Nadin? kenapa mereka bisa seperti ini Niel???" ucapnya masih memeluk Danniel menangis sesegukan.


"Sayang... Tuhan kasih mereka cobaan kayak gini pasti ada hikmah dibalik semuanya.... kita hanya bisa berdoa sama yang diatas, Al. Semoga mereka berdua baik-baik saja dan bisa melalui cobaan ini..." ucap Danniel dengan muka yang memerah menahan emosinya dan tangisnya.



***


Nadin duduk bersimpuh sambil menangis...


Mas, Mas Hans, dumana kamu, Mas. Aku takut...


"Hi..hi..hi..."


Terdengar suara anak kecil tertawa di telinga Nadin.


Siapa itu...


"Hi...hi...hi..." suara terdengar dari atas melayang ke arah Nadin. Nadin melihat sosok seorang Anak perempuan memakai baju dress berwarna putih lucu, rambutnya yang panjang sepunggunggung dan bergelombang tertiup angin dengan bondu pita melrkan di atas kepalanya... Wajahnya mirip seperti Hans, hanya saja dia seorang anak perempuan.


"Kenapa menangis? kamu kan udah dewasa..." ucap anak perempuan itu sambil tersenyum melayang di depan Nadin dengan tangan disamoirkan ke belakang sangat manis.


Nadin pun terdiam memperhatikan anak perempuan itu dengan mata yang tidak berkedip.


"Kamu siapa? Dan darimana kamu datang?" ucap Nadin tanpa sadar menghentikan tangisnya.


"Hi..hi..hi.." sekali lagi anak itu hanya tertawa dan tersenyum melihat Nadin yang masih terdiam.


Lalu dengan melayang mendekati Nadin dan mengecup kening Nadin. Nadin seperti tersihir oleh anak itu dia memejamkan matanya meresapi kecupan anak perempuan itu lalu tiba-tiba membuka matanya secara tiba-tiba.


Aaahhh... wangi ini... mirip wanginya Mas Hans.


Anak perempuan itu melayang menjauh perlahan dari Nadin masih melihat sambil tersenyum ke arah Nadin.


"Jangan menangis lagi, ya!"


"Hah... tunggu, kamu mau kemana?" ucap Nadin sambil beranjak dari duduknya.


"Aku mau ke sungai itu..." ucap anak itu sambil menunjukan sungai yang tiba-tiba saja ada dihadapan Nadin.


Apa ini? kenapa tiba-tiba ada sungai di sana? terus siapa anak perempuan itu?


"Aku datang ke sini cuma buat pamitan sama Mama..."


"Apa maksud kamu? Mama? tunggu! Heiii..." Ucap Nadin sedikit berteriak.


Nadin terkejut saat merasa kaki dan tubuhnya perlahan menghilang...


"Hah... nggak... Mas Hans!" teriaknya.


***


"Apa? apa maksud anda, Dok?" ucap Althea saat dia berada di ruang ICU bersama dengan dokter juga Danniel yang selalu berada di sampingnya.


"jadi dilihat dari luka yang Nyonya Nadin terima, kondisi rahimnya sangat parah..." ucap dokter obsgyn yang menangani Nadin.


"Ada kemungkinan Nyonya Nadin tidak akan bisa hamil lagi..."


Althea pun langsung menutup wajahnya menangis tersedu sambil duduk tidak percaya apa yang di dengarnya barusan. Danniel pun ikut jongkok dan mengusap punggung Althea sambil melihat kearah Hans yang masih terbaring di samping Nadin.


Ya... Kondisi Hans juga kritis dia banyak kehilangan darah karena luka tusukan pisau yang di terimanya, dan mengharuskannya untuk dirawat bersama di ruang ICU dengan Nadin.


Danniel dan Althea pun berfikir jika mereka berdua dirawat bersama, disatukan dalam satu ruangan khusus agar mereka berdua dapat merasakan kehadiran mereka satu sama lain, dan mungkin juga dengan ini kondisi mereka ada peningkatan dan mengarah menjadi lebih baik.


Di luar ruang ICU...


Danny dan dua anak buah yang dipercayainya sedang ikut menunggui Hans.


Danniel dan Althea baru saja keluar dari ruang ICU Nadin juga Hans.


"Tuan, bagaimana keadaan Boss Hans dan juga Nyonya Nadin?!" ucap Dany.


"Mereka masih belum sadar, kita doakan saja supaya mereka berdua cepat sadar dan pulih dari masa kritisnya."


Danniel melihat reaksi ketiga anak buah Hans yang hanya menunduk merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Hans dengan baik.


"Kalian jangan merasa bersalah, saya sudah tau ceritanya, kalian tidak bisa menjaga Hans karena perintah dari Hans kan? dia tau apa yang dia lakukan, dia tau resiko yang akan dia jalani, dia tau persis semua itu, kenapa dia tidak meminta kalian untuk berada di sisinya? karena itu adalah pilihannya... jadi... kalian jangan menjadikan keadaan ini sebagai kelalaian kalian, kalian sudah berusaha dengan sebaik mungkin..."