I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
Ekstra Part 19 Kisah Hans



Di Apartment... Nadin membereskan Gudang dan sofa yang ada di gudang pun Nadin bersihkan, untuk sementara Nadin ingin sendirian, tapi Nadin tidak bisa keluar dari Apartment nya Hans, mau kemana dia tinggal? balik ke rumah orang tuanya malah akan menjadi rumit ditanya dan disalahkan lagi, teman? Nadin ga punya teman dekat yang bisa dia ikut tinggali.


 


Dan akhirnya jadi juga kamar sementara untuk menenangkan hatinya Nadin.


 


Setelah Nadin membersihkan badannya, Ndin memakai baju tidur satin satu tali berwarna putih tulang diatas lutut tanpa memakai baju luaran lagi. Nadin membaringkan tubuhnya di atas sofa itu sambil melihat atap berfikir sampai ketiduran.


 


***


 


Pukul Satu pagi... Hans baru pulang dan melihat lampu Apartmentnya mati. gorden Apartment pun masih terbuka. Hans pun terheran di buatnya, apa Nadin belum pulang?


 


Tapi… karena lelah melandanya, Hans pun langsung berjalan ke kamarnya dengan gontai. Dan baru kali ini Hans merasakan lelah hati pikiran dan fisik. Tanpa sadar akan hilangnya sosok Nadin dari pandangannya Hans pun  ke kamar mandi menanggalkan semua pakaiannya di lantai.


Hans berendam di dalam bathtube sambil membayangkan sosok Azura yang dia lihat di Australia.


 


Itu nggak mungkin dia kan? Sudah jelas-jelas dia meninggal di depan mata saya… Lalu siapa dia? Apa saya yang terlalu banyak berfikir?


 


Hans lalu menghela napas lalu memejamkan matanya menenangkan dirinya yang tengah kalut.


 


Satu jam Hans berada di kamar mandi, akhurnya Hans sedikit Memperbaiki mood nya dan tubuhnya sedikit lebih segar.


Saat Hans sudah siap untuk beristirahat, dengan habya memakai boxer. Ya… Hans kalau tidur memang tidak pernah memakai baju atasan cukup hanya memakai boxernya.


 


Hans pun kaget melihat kasur yang biasanya sudah ada Nadin yang sedang tidur kini tidak ada disana. Buru-buru Hans mengambil handphonenya dan membuka aplikasi lokasi yang menghubungkan handpgone Nadin dengan handphonenya agar dia tau keberadaan istrinya, dia tidak ingin kejadian hilangnya Nadin kemarin yang sukses membuatnya stress terulang lagi.


Di aplikasi itu terlihat handphone Nadin PP w berada di dalam apartmentnya. kedua halisnya pun bertaut heran. kalau dia ada di apartment lalu dimana sekarang sosok Nadin? Karena ingat ucapannya tadi siang Hans pun buru-buru mengambil kunci kamar yang selalu tertutup rapat. Saat hendak membuka pintu ternyata pintu itu masih terkunci. Lalu dimana Nadin?


"Nad?!" hening. Hans memeriksa dapur kamar nandi yang berada diluar kamar semua kosong tidak ada sosok Nadibn. Lalu Hans pun ingat dia belum memeriksa gudang. Tapi masa iya Nadin di gudang? Hans melangkah kearah gudang yang letaknya ada di pojok belakang apartment. Dengan pelan Hans membuka pintu itu, sekilas terlihat remang. Saat Hans membuka lebar dan msuk ke dalam dia melihat Nadin yang sedang tertidur diatas sofa, baju bagian bawahnya tersingkap sampai pangkal paha, sedangkan bagian atasnya tali bajunga melorot hingga bahu lengannya memperlihatkan kulit putih mulus Nadin. Hans pun terdiam memperhatikan Nadin yang sedang tertidur sambil mengerutkan keningnya. Tak lama Hans pun mendekati Nadin berjongkok di sisi Nadin sambil membenarkan Baju Nadin dengan benar. Hans memperhatikan sekitar gydang itu sangat bersih dan rapih, beda dari sebelumnya.


Dia yang membersihkan gudang ini? buat apa? apa dia mulai akan tidur disini? apa dia ingin menghindari saya?


 


"Haahhh.. maafkan saya nad, iya... kamu benar! Saya belum bisa melupakan Azura, bahkan sampai saat ini. Kamu juga benar kalau saya nggak bisa mempunyai anak dari wanita lain selain Azura... maaf juga kalau saya tidak bisa memberikan hati saya sama kamu, Nad. Maaf!" ucapnya sambil mengusap rambut Nadia yang sebagian kedepan wajahnya.


"Saya tau, kamu pasti ingin sendiri dan membutuhkan waktu untuk berfikir, begitu pun dengan saya, saya ijinkan kamu untuk menggunakan gudang ini sebagai tempat ketenangan kamu Nad... sekali lagi, saya minta maaf!" ucap Hans. Lalu tak lama Hans pun meninggalkan ruangan itu dan menutup ruanganya. Sementara Nadin yang baru saja membuka matanya hanya bisa menangis, sakit yang amat sangat dirasakan olehnya saat ini, ternya Ndin tidak benar-benar tertidur, Nadin mendengarkan semua apa yang dikatakan Hans.


Aku harus gimana Ya Allah?! Apa aku harus merelakan Mas Hans?Apa aku akan terus merasakan sakit seperti ini kalau aku mempertahankan hubungan ini dengan Mas Hans? Sampai kapan aku harus menunggu agar Mas Hans berpaling dari wanita itu Ya Allah?!


***


Pukul Enam pagi, Hans tebangun dari tidurnya, dia melihat kesamping yang masih kosong tidak ada tanda-tanda Nadin tidur disana. Hans pun beranjak ke kamar mandi. setelah selesai urusan di kamar mandi Hans pun melangkahkan kakinya ke wardrobe disana sudah ada satu stel pakaian yang disiapkan oleh Nadin, lalu setelah seleaai berpakaian Hans pun melangkah ke dapur, disana ada sebuah note dari Nadin.


...'aku cuma sempet bikin roti panggang buat sarapan, di makan ya Mas...'...


***


"Nadin!"


Nadin yang baru saja akn masuk ke lobby pun menghentukan langkahnya dan melihat ke arah yang memanggilnya.


"Tian?!"


"Ya ampun kamu kemana aj sih? dari kemarin aku cariin, kamu tau.. aku khawatir banget loh sama kamu! kamu nggak apa-apa kan?!" Nadin hanya tersenyum kearah Bastian saat melihat reaksi Bastian yang cemas.


"Hmm.. aku nggak apa-apa kok Tian, kemarin aku ada dinas luar kota... Emang sengaja nggak ngabarin yang lain, abis ini proyek rahasia Bu. Althea." bisik Nadin ke dekat Tian.


"Syukur deh kalo ga apa-apa, sarapan bareng yuk?! aku beum sarapan, kamu tau sendiri kan aku nggak bisa sarapan sendiri!"


"Makanya kamu tuh cari pacar biar ada yang ngurus kamu sama nemenin kamu..."


***


Di sebuah cafe dekat kantor Nadin... Akhirnya Nadin menemani Bastian sarapan.


"Nad... apa ada masalah?"


"Hah? nggak kok Tian... "


"Jangan bohong Nad, emang aku kenal kamu berapa hari sih? ekspresi muka kamu itu memperlihatkan ada banyak hal yang kamu pikirin, dan aku yakin itu bukan kerjaan..." Nadin hanya tersenyum samar kearah Bastian.


"Aku cuma capek aja sama semuanya, sama orang-orang yang selalu ngatur hidup aku..."


"Apa orang tuamu masih ngatur hidup kamu meskipun kamu sudah menikah?!"


"Hah... aku kadang pengen banget rasanya lari dari semuanya..."


"Termasuk dari suami kamu?!" Nadin tidak menjawab.


Tapi Bastian tau kalau dalam rumah tangganya Nadin dan Hans ada masalah, juga dari orang-orangbyang selalu ikut campur dalam kegidupan Nadin termasuk kedua irang tuanya yang bastian tau jelas dari dulu Nadin selalu dikekang dan diatur dari cara berteman ataupun pacaran.


"Apa mau aku bantu?"


"Tiaaan?!" ucap seorang perempuan yang baru saja masuk ke cafe dan melihat kearah Bastian.


"Kamu Bastian kan? masih inget aku?!" Bastian yang melihat kearah wanita itu mengerutkan kedua halisnya mengingat.


"Aquila?! Oh My God Aquila?!" ucap Bastian berdiri dari duduknya. Lalu wanita yang bernama Aquila pun menghampiri Bastian dan memeluk Bastian.


"Ya ampun, aku pikir itu bukan kamu loh... aku tuh kangen banget sama kamu, aku nggak nyangka bisa ketemu lagi sama kamu disini..." jelas Aquila lalu melihat kearah Nadin yang masih duduk memperhatikan mereka berdua.


"Ini---"


"Kenalin La, dia Nadin..."


"Oh my God... Tian... don't tell she's the woman you're after until you reject white girls who confess their love for you?!" Bastian memberikan kode pada Aquila untuk tidak membahasnya.


"Hallo aku Aquila.. aku sahabat Bastian saat kuliah di Oxford... dia cerita banyak tentang kamu tau!"


"aahahahaha... La... kamu juga balik lagi ke sini pasti mau ngejar cowok yang kamu taksir itu kan?!" ucap Bastian mengalihkan topik agar Nadin tidak canggung.


hayoooo... siapa tuuhh Aquila??? ada yang bisa nebak???