
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
“Apa salah satu dari kalian nggak ada yang bisa jelasin apa yang sedang terjadi? Kenapa dari tadi ribut-ribut terus? kalian nggak tau kalo pasien lain akan terganggu karena suara kalian?!” ucap Sean dingin sambil menggunakan tatapan buas sedang mengajukan pertanyaan kepada perawat yang ada di ruangan itu.
Sean memang tampan, tapi jika telah menampilkan tatapan intens serta menguatkan rahangnya seperti ini maka siapa saja yang menemukan tatapan itu akan menganggap tatapan itu sebagai tatapan yang mengerikan.
"Begini Dok. Nona Bina meminta agar lukanya diperban saja tapi lukanya cukup parah sehingga harus dijahit Dok. Tapi nona Bina bersikeras agar lukanya diperban saja."
"Kalian keluar saja, biar saya sendiri yang menangani pasien ini"
“Tapi, Dok... Dia...” ucap perawat junior tertahan.
“Kalau begitu kami permisi Dok," sela perawat senior dan memutuskan untuk pamit undur diri.
Setelah kepergian para perawat itu, sekarang di ruangan ini hanya menyisakan Sean dan Rubina berduaan saja. Debaran yang berporos didada sebelah kiri milik Rubina terasa ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Sean mendekat keranjang tempat dimana dia sedang terduduk.
Tatapan Sean yang kadang-kadang terlalu intens tidak membuat Rubina merespon takut. Sebaliknya gadis itu senantiasa merasakan kebahagiaan kala menjumpainya. Akhirnya dia kembali mengadu mata dengan pria itu setelah tujuh tahun lamanya dia merindukan momen itu.
"Biar saya periksa dulu," ujar Sean masih dengan dinginnya. Belum lama setelah Sean mengeluarkan kalimat seperti itu dan sekarang dia berkata, "Kamu mau apa?" heran Sean yang melihat gelagat gadis itu yang hendak membuka kaos yang melekat ditubuhnya.
"Katanya kamu mau periksa? Makanya aku buka kaos." Sean mendecakkan bibirnya.
“Apa yang kamu pikirkan? Saya hanya akan memeriksa lukanya, bukan memeriksa tubuh kamu." Sean meninggikan suaranya terdengar geram karena gadis itu.
"Aaaah... jadi Cuma mau meriksa luka toh. Kirain... hihi. Sorry ya, aku emang kayak gini kalo ketemu sama cowok tampan. Bawaannya tuh sering khilaf hehehe," Rubina menampilkan wajah tanpa merasa bersalah kepada dokter tampan yang sedang mengedikkan bahunya.
Singkat saja waktu yang diperlukan bagi dokter Sean untuk mengubah raut mukanya yang tadinya keras menjadi jijik. Tidak dapat dipungkiri bagaimana senangnya Rubina setelah dia bertemu cinta pertamanya setelah tujuh tahun yang lalu menjadi kali terakhir mereka bertemu. Rupanya tidak ada yang berubah. Sean masih saja memiliki sikap dingin. Waktu tidak mengubah kepribadiannya jadi lebih hangat. Sean tetaplah Sean yang dikenal Rubina tujuh tahun lalu. Tapi tak apa, makin pria itu memperlihatkan sikap yang dingin. Rubina malah semakin tergila-gila padanya.
"Sepertinya luka kamu ini cukup serius. Mendingan dijahit aja!" Sean menyarankan. "Kalau kamu setuju biar saya yang menyuntik kamu sekarang."
"Wait, Suntik? Kamu serius bakalan ngelakuinnya disini?"
"Emang Apa salahnya kalau aku nyuntik kamu di sini?" bingung Sean.
"Kenapa kita nggak ngelakuinnya di hotel aja sih?" Rubina memberikan penawaran.
Sean geleng-geleng kepala sesaat setelah dia telah menyadari maksud pembicaraan gadis menyebalkan itu telah mengarah kepada hal-hal jorok. Sean jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mimpi apa dia semalam sampai-sampai dia dipertemukan dengan gadis seperti Rubina. Bahkan ini adalah pasien paling aneh yang pernah dia dapatkan selama berkarir sebagai dokter.
"Sepertinya salah satu saraf kamu juga sedang ada masalah. Saya ini dokter, bukan orang yang bias memuaskan kamu. Tugas saya di sini adalah menyembuhkan, bukan memberikan kenikmatan," terang Sean. Sementara Sean sedang mempersiapkan anestesi, Rubina justru senyum-senyum sendiri memperhatikan pria itu.
'emang ya... Blasteran turki indo memang tidak ada yang gagal,' ucapnya dalam hati dengan fokus yang terus mengarah kepada Sean yang tampak semakin menggairahkan. Kalau begini ceritanya, Rubina makin bersemangat saja untuk mendapatkan pria itu.
"Kamu serius takut disuntik?" Tanya Sean,
"Disuntik apa dulu nih Dok? Kalau disuntik pakai jarum aku emang takut, sejak kecil aku memang sudah takut dengan benda itu. Tapi kalau disuntik pakai senjata milik pak dokter, agak takut juga sih soalnya kata orang, kalo pertama kali ‘ngelakuin itu’ pasti sakit."
Sean benar-benar menyesal memberikan pertanyaan kepada gadis itu. Padahal maksud Sean adalah suntikan jarum, tapi lihat bagaimana respon dari gadis itu? Dia bahkan mengarahkan topik pembicaraan kepada hal-hal mesum. Sean jadi bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, mungkinkah isi akal gadis itu hanyalah sesuatu yang jorok saja?
"AAAhhhh," alih-alih memekik keras-keras, yang terlepas dari bibir Rubina justru sebuah ******* yang sukses membuat Sean kalang kabut.
"Kamu ini apa-apaan sih? Kenapa kamu malah ngendesah? Saya aja belum nyuntik kamu juga. Nanti kalau ada yang mikir kita ngelakuin hal aneh di ruangan ini gimana?" Sean menyampaikan kekesalan yang begitu menjadi-jadi. Karena perempuan gila itu, amarah di dalam dirinya serasa mendidih saja.
"Maaf, Dok. Aku emang suka begitu kalau ketemu pria tampan." Rubina merasa ada yang aneh! Bahkan saat ini dia seperti terhipnotis dengan ketampanan yang dimiliki oleh Sean-cinta pertamanya saat SMA. Rubina merasa bedosa jika melewatkan kesempatan untuk menatap wajah pria yang sedang serius mengobati lukanya. Tanpa sadar Rubina memiringkan kepalanya sambil tetap memaku pandangannya ke titik yang sama.
“Masih lama ya, Dok?” Tanya Rubina.
“Nggak kok. bentar lagi saya akan menyelesaikannya,” jawab Sean. “Saya sudah menyuntikkan anestesi, sebentar lagi kamu tidak akan merasakan apa-apa saat saya menjahit lukanya. Kamu nggak perlu takut." Sebagai seorang dokter sudah menjadi tugas Sean untuk menenangkan pasiennya meski di satu sisi dia masih merasakan kekesalan pada gadis itu.
"Aku gak takut kok, soalnya yang menangani lukaku kan dokter tampan."
"Haah... Sepertinya diagnose saya memang benar. Selain kaki kamu yang bermasalah, sepertinya otak kamu juga ada masalah," pria berahang kukuh itu mengikutkan sebuah gelengan kepala bertempo agak cepat. "Bisa-bisanya ada pasien yang mencoba menggoda dokter yang menanganinya," Sean menambahkan.
Beberapa saat kemudian...
Sean telah menyelesaikan tugasnya. Sekarang luka di bagian betis Rubina telah ditutupi oleh sebuah perban. Sean kemudian mengalihkan pandangan dari luka di betis gadis itu menuju ke wajahnya. Rupanya gadis itu sedang menatap ke arahnya sambil tersenyum.
“Setelah ini kamu suruh anggota keluarga kamu untuk menemui saya di ruangan.” Titah Sean. Nadanya datar namun tetap terkesan begitu tegas.
“Maaf Dok sebelumnya. Aku mau nanya sesuatu.” Entah kenapa Sean merasa ada yang aneh dengan pertanyaan yang hendak disampaikan oleh Rubina. Meski begitu dia tetap saja menanggapi yang gadis itu.
"Mau Tanya apa?" dingin Sean. Sikapnya masih sama seperti biasanya. Dingin dan misterius.
"Jadi begini. Ibu aku pernah bilang katanya aku harus mengejar impian aku demi meraih masa depanku..."
"Apa hubungannya dengan saya?" potong Sean bersama kehadiran raut bingung.
"Sangat berhubungan banget dok. Soalnya kan kamu adalah suami aku di masa depan, yang artinya aku harus mengejar kamu. Oh iya, kira-kira apakah aku boleh ikut pulang?"
"Stress," umpat Sean lewat satu kata itu, lalu membalikkan badannya segera. Baru berapa langkah dia geluti sebelum dia berhenti pada langkahnya. Sean membalikkan badan kembali mengadu mata dengan Rubina yang sedang menatapnya antusias.
"Ada apa Pak Dokter? Apakah Pak Dokter berubah pikiran? Apakah pak Dokter ingin mengajak aku pulang dan segera diperkenalkan dengan keluarga pak Dokter?" cecar Rubina. Kegeeran sih lebih tepatnya.
“Mimpi kamu kejauhan! Oh iya, kamu jangan lupa meminta keluarga kamu untuk menemui saya diruangan!” perintahnya mengingatkan.
“Bina!! Sayang... Kamu nggak apa-apa kan?” ujar seorang pria tua yang tidak lain adalah Kakeknya sekaligus pemilik rumah sakit itu.