I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 13



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


“Ck, gini deh... aku mau tanya, dulu Ibu sama Papah nikah karena dijodohin nggak?” Althea maupun Danniel menggeleng. “Trus pernah nggak papah dijodohin sama Grandpa sebelum ketemu sama Ibu?” Danniel pun mengangguk. “ditolak kan sama Papah?” Danniel mengangguk semakin tegas. “Nah, sekarang... atas dasar apa Papah setuju saat Grandpa mau jodohin anak-anak Papah? Kita juga berhak dong milih calon pasangan buat kita sendiri...”


“Emang kamu udah ada calon?” seru Emerald menaikan satu halisnya penasaran.


“Ada dong, emang Kak Eme?!” ucapnya sambil menjulurkan lidahnya. “Aku tuh udah punya orang yang aku suka Pah, aku malah sekarang lagi ngejar calon suami masa depan aku... Jadi Papah please.. bujuk Grandpa buat nggak usah jodoh-jodohin aku! Maaf yah Pah," Rubina menyampaikannya dengan nada yang sarat dengan rasa bersalah.


“Kamu yakin mau nolak? Tapi anaknya ganteng loh!” Althea nyeletuk. “Ibu udah liat photonya dikasih liat Grandpa kemaren... Lagian selain punya tampang ganteng, dia juga punya kerjaan yang bagus. Katanya sih cowok yang mau dijodohin sama kamu itu pinter banget. Lumayan kan, ntar dia bisa bantuin kamu bikin skripsi loh.”


“Kriteria aku emang yang good tapi kan good looking percuma juga Bu kalo misalkan aku enggak suka sama dia.”


“Hah... Baiklah kalau memang keputusan kamu adalah menolaknya. Ibu sama Papah enggak akan maksa kamu. Soalnya kan kamu juga yang akan jalani hubungan itu,” dengan bijak Althea menerima keputusan anaknya dalam hal menolak tawaran Tyo Henney tentang perjodohan.


“Ok, Papah akan bicarain lagi sama Grandpa kalian soal ini. Tapi Bi, kok Papah nggak tau cowok yang kamu sebutin itu ya?”


“Hmmm... anak buah papah nggak update, karena emang aku Cuma sekilas-sekilas aja ketemu sama dia. Lagian pertama ketemu waktu di SMA dia udah jadi coas... dia juga udah sibuk sama kuliahnya!”


“Dia dokter?” tanya Emerald heran. Sementara Rubina mengangguk bangga.


“Jangan-jangan waktu kemaren kamu kecelakaan itu, cowok itu yang nanganin kamu? Pantesan aja nggak mau ditanganin dr. Kevin...” Althea.


“Ck... Kenapa nggak diterima aja sih Bi, perjodohannya?” Emerald nyeletuk. “Kan kalo misalnya kamu terima perjodohan itu dan akhirnya menikah, jadi saya enggak perlu repot-repot lagi buat nganterin kamu. Trus kalo kamu nikah karena dijodohin kan saya juga nggak perlu dijodohin sama Grandpa. Lagian kamu yang ngejar-ngejar dia kan, daripada nanti kamu ditolak kan kasian banget adek aku, jadi... benran deh Bi, pertimbangkan tawaran dari Grandpa. Mendingan kamu terima aja perjodohan itu, dari pada harus jadi sad girl kan?" lalu setelah itu Emerald tertawa puas.


"Ihh... Pah, liat tuh... Kak Eme nyebelin banget!" adu Rubina pada papahnya.


"EME!" seperti yang Rubina harapkan. Danniel segera menyerukan nama putranya menggunakan nada rendah namun terkesan tegas.


"Maaf Pah!" sahutnya segera diikuti tegukan saliva agak kasar.


"Kenapa minta maaf Papah? Minta maaf sama adik kamu sana!"


"Kakak minta maaf ya, Bi" kata Emerald pada Rubina.


"Kalo minta maaf yang ikhlas dong!" Rubina mengembalikan seperti yang sebelumnya dia terima dari kakaknya sewaktu dia juga sedang meminta maaf.


"Kalau minta maaf harus senyum, jangan cemberut kayak gitu!"


"Ck... itu kalimat Kakak yang tadi ya Bi...."


"Ayo, Kak, kapan nih minta maafnya?" Tanya Rubina. Senyumnya mengembang namun Emerald malah melihat senyum itu sebagai senyum menyebalkan yang membangkitkan emosi.


"Cukup kok."


******


Rubina tetap saja kepikiran soal percakapan di meja makan tadi. Meskipun sang ayah menyuruhnya untuk tidak terlalu memikirkannya dan akan berbicara lagi dengan sang Kakek. Tapi tetap saja, hal itu membayang-bayangi akal sehatnya. Sekaligus jadi alas an paling kuat kenapa sekarang dia masih terjaga disaat jam telah menunjukkan pukul dua belas lewa tujuh menit.


"Hah... gue jadi ngerasa bersalah gini ya? Kalo Papah ngomong sama Grandpa bakalan jadi bahan berantem kali ya? Apa gue yang ngomong ke Grandpa?” Menyusul gumamannya gadis dengan piyama itu mengambil ponselnya yang di cas di nakas. Setelah itu dia melanjutkan dengan membawa langkahnya menuju ke balkon yang terhubung dengan kamarnya.


Embusan napas panjang dilepaskan oleh Rubina bersamaan dengan duduknya dia pada kursi yang tersedia di balkon. Dia membawa pandangannya ke depan dan menyadari ada satu hal yang aneh.


“Eh... Emang penghuni rumah baru itu udah ada yah? Tumben lampunya pada nyala, kemarin-kemarin kan gelap banget!”


Niat hati datang ke balkon adalah untuk menjernihkan perasaan bersalah yang terus saja menghantuinya. Namun yang terjadi dia malah tambah kepikiran saja. Mungkin karena suasana dibalkon yang sedang dalam keadaan sepi sehingga membuat pikirannya lebih leluasa untuk membayangkan hal-hal yang memang sedari tadi mengganjal.


"Maafin Bina ya Grandpa. Bina beneran nggak bisa nerima perjodohan itu soalnya Bina udah ketemu sama cinta pertamanya Bina. Bina mau berusaha buat perjuangin cinta Bina sama Dokter Sean. Gue harap Tuhan mengiyakan keinginan gue buat bisa terus sama Dokter Sean." Rubina merasa dirinya sedang diserang oleh perasaan dilema. Mungkin dia akan menjalani perjodohan itu kalau seandainya dia belum bertemu kembali dengan Sean. Tapi sekarang? Hanya Sean yang ada dipikiran Rubina.


Sebenarnya masih ingin tertidur lebih lama lagi mengingat hari ini dia tidak ada jadwal untuk kuliah. Rubina sebenarnya masih ingin tertidur lebih lama lagi mengingat hari ini dia tidak ada jadwal untuk kuliah. Akan tetapi bunyi krasak-krusuk yang berasal dari lemarinya mengambil perhatiannya. Rubina akhirnya membuka mata dilanjutkan bangkit mengambil posisi duduk di ranjang.


"Ck... kirain ada tikus yang ngegeledah lemari. Tapi nyatanya bukan tikus, tapi monyet."


"De, tolong ya... itu mulutnya dijaga! Mau aku aduin ke Papah ya, kalo kamu ngatain kakak monyet?" Emerald mengerling tajam di tengah-tengah aktivitasnya yang sedang membuka-buka lemari adiknya mencari barang miliknya.


"Iihhh... dasar tukang ngadu!" cibir Rubina sambil menjulurkan lidahnya.


"Lagian masih pagi udah geledah lemari orang sembarangan. Kakak nyari apa sih? Mau minjem rok aku ya?"


"Apa sih!" kesal Kaisar. " Kamu pikir kakak cowok apaan sampai mu pake rok kamu. Udah deh kamu diem aja. Kakak cuma bakalan periksa barang-barang kakak yang kamu sembunyiin di dalam lemari." Rubina mencepol rambutnya. Mukanya memperlihatkan kebingungan bahkan setelah dia bangkit mendekat ke kakaknya.


"Mu cari apaan sih? Isi lemari ini tuh cuma ada barang-barang aku semua. Di sini enggak ada barang punya...."


"Nah, trus ini apa?" belum selesai kalimat adiknya saat Emerald menyadari sesuatu yang teramat familier dijumpai oleh matanya. Sejurus kemudian Rubina mengambil kaos dari dalam lemari tersebut dan memamerkannya sebagai barang bukti. "Ini kaos Kakak loh?! Katanya di sini cuma ada barang-barang kamu semua." Lanjut Emerald menggeledah isi lemari. Lagi, dia menemukan beberapa kaos miliknya. "Hm.. Kan... Pantesan aja kaos kakak makin dikit di lemari, ternyata ada di sini. Coba jelasin kenapa kaos punya kakak ada di lemari kamu!" Seru Emerald. Menatap adiknya dengan mata yang kian menyipit seiring berjalannya waktu.


"Entahlah." Rubina mengedikkan bahunya bersikap seolah dia tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi.


"Pake bilang nggak tau lagi... Pasti kamu kan yang ngambil kaos-kaos ini dari lemari kakak. Ayo, ngaku!"


"Iya, tapi kan cuma dipinjem doing kak, ya ampun pelit amat!" Rubina berkilah.


"Kamu ngerti konsep minjem gak sih, De?" Tanya Emerald. "Kalo minjem tuh bilang dulu,tunggu diijinin sama yang punyanya. Sama satu lagi, habis minjem tuh barangnya dibalikin bukannya kamu simpan di lemari kayak barang itu adalah milik kamu." Emerald sampai geleng-geleng kepala menceramahi adiknya.


"Udah ah! Males deh debat sama kakak. Mending aku ke bawah aja!" dari pada mendengar omelan dari si kakak. Rubina memilih untuk menghindarinya saja. Dia meninggalkan kakaknya sendirian di kamarnya.