I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 67



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Acara tidak selesai sampai di situ saja. Di menit berikutnya kedua mempelai diminta untuk sungkeman dengan orang tua masing-masing, dilanjutkan dengan sungkeman dengan keluarga dari pihak pasangan masing-masing.


"Anak Ibu udah gede ya sekarang. Perasaan baru kemarin Ibu ngajakin kamu ke wahana bermain di mall, eh sekarang anak Ibu yang paling cantik udah nikah aja. Selamat ya sayang!" Althea mencium kedua pipi milik putrinya yang terlihat sangat-sangat cantik hari ini. Althea sudah berusaha untuk tidak menangis tapi pada akhirnya tangisnya pecah juga ketika RubiNa mulai menyalami punggung tangannya.


Setelah Ibunya, sekarang Rubina akan menyalami punggung tangan Ayahnya.


"Thanks Pah, karena selama ini Papah udah ngajarin aku banyak hal tentang kehidupan. Papah, jangan nangis lagi, nanti aku juga ikutan nangis lagi," Rubina menghapus deretan air mata yang jatuh dari kelopak mata Daniel. Bahkan ini mungkin menjadi kali pertama bagi Rubina melihat sang Ayah menangis sampai sesegukan seperti ini. Biasanya Rubina selalu melihat ayahnya sebagai figur yang kuat.


"Maaf, Papah nggak bisa nahan nangis di hadapan putri Papah yang cantik ini."


"Bina sayang banget sama Papah," Rubina menghadiahi papinya sebuah pelukan lagi dan lagi.


"Pokoknya putri cantik Papah harus selalu bahagia yah sayang! Papah juga akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan Sean yang sekarang udah jadi suami kamu."


Setelah sungkeman pada Ayahnya. Kini giliran Emerald yang harus disalami oleh Rubina.


"Kok nangis? Katanya nggak bakal nangis?" goda Rubina membuat sebagian orang tersenyum melihatnya.


"Siapa juga yang nangis?" Emerald mencoba berkilah. Padahal buktinya sudah sangat jelas.


"Nih, Pipi Kak Eme masih basah. Mata Kakak juga masih sembab. Udahlah Kak. Ngaku aja kali sebenarnya Kakak tuh sedih karena sebentar lagi aku bakalan jarang ketemu sama Kakak lagi. Iya, kan? Ayo ngaku."


"Siapa juga yang nangis. Tadi ada debu yang masuk ke mata aku makanya sampai keluar air mata."


"Sesulit itu yah Kak buat ngakuin? Ck, ck, ck. Tapi nggak apa, walaupun kadang-kadang Kak Eme nyebelin tapi aku akuin kalo aku tuh sayang banget sama Kak Eme."


Ekspresi Emerald langsung berubah. Dia yang memang sedang menahan tangis akhirnya berakhir menumpahkan keharuan bercampur sedihnya itu.


"Kakak juga sayang banget sama kamu, Bi" Emerald memeluk adiknya erat.


"Bahagia terus ya, Dek. Kakak doain semoga hubungan kamu sama Sean menjadi keluarga yang sakinah mawaddah, warahmah."


ACARA pernikahan tidak sepenuhnya berakhir setelah ijab kabul. Masih ada beberapa rangkaian acara lagi yang harus dilewati oleh kedua mempelai. Terlihat saat ini Rubina sedang berdiri bersebelahan dengan Sean di pelaminan. Pakaian mewah yang dikenakan oleh kedua sejoli itu terlihat sangat sejalan dengan dekorasi gedung tempat mereka melangsungkan resepsi.


Rubina tidak henti mengumbar senyuman ketika menyalami satu persatu tamu undangan yang hadir. Pokoknya mood gadis itu sangat-sangat membaik. Berbeda dengan Sean. Sean memang ikut tersenyum saat menyalami para tamu undangan tapi senyumnya terlihat dipaksakan. Jauh berbeda dengan Rubina yang tersenyum dengan penuh keikhlasan.


"Pegal juga astaga berdiri selama beberapa jam," Sean bermonolog dengan suara rendah. Dia tidak bermaksud untuk membagikan keresahannya itu kepada Rubina.


Sean geleng-geleng. Untuk sekarang Sean hanya bisa bersabar dengan cara tidak meladeni Rubina yang memang memiliki segudang cara untuk menghadirkan kekesalan pada dirinya. Lagi pula Sean tahu situasi. Sekarang dia sedang di pelaminan. Coba kalau seandainya dia mendengar kalimat seperti itu dari Rubina saat hanya ada mereka berdua. Pastinya Rubina akan kembali menerima sebuah umpatan.


"Selamat ya Sean hari ini udah resmi jadi suami," suara itu milik Nino. Cukup terlambat dia datang di acara pernikahan Sean. Tadinya dia ingin datang untuk melihat secara langsung prosesi ijab kabul, tapi karena dia harus menunggu teman yang lain jadinya dia datang sedikit terlambat. "Maaf ya, telat. Soalnya si Irfan di tungguin lama banget! Lebih lama dari nungguin cewek make up tau gak," selama beberapa sekon Nino melihat ke Irfan. Irfan menyengir.


"Tahu tuh, si Irfan lama banget." Heri ikut menceletuk. " Ada mungkin gue nungguin Irfan selama dua jam di rumahnya Nino," sambung Heri mengikutkan decakan dan sebuah gelengan di waktu yang hampir bersamaan.


"Ya udah, buruan salaman supaya kita bisa cepet makan. gue udah laper banget nih," titah Nino kepada rekan-rekannya.


Sebelum melanjutkan langkahnya, Nino sekiranya tersenyum mengejek. Mendekatkan wajahnya ke telinga Sean, pria itu berbisik.


"Gue jadi penasaran, apa lo bakalan bertahan dengan prinsip lo untuk nggak suka sama Bina, atau sebaliknya, lo bakalan khilaf setelah berada di kamar yang sama dengannya nanti malam." Setelah kepergian rekan-rekan Sean, kali ini Caca yang naik ke pelaminan. Tidak sendirian, Caca datang ke acara nikahan Rubina bersama Agam, kakaknya. Pun sebenarnya Agam sempat menolak permintaan adiknya untuk datang ke nikahan Rubina. Tentu saja karena dia tidak ingin menyakiti hatinya lebih dalam saat melihat Rubina bersanding dengan pria lain di pelaminan. Tapi sangat disayangkan karena pada akhirnya Agam tidak bisa berbuat apa-apa selain datang. Itu karena adik perempuannya terus memaksanya sambil memeles. Akhirnya seperti inilah akhirnya, Agam datang sebagai tamu undangan di pernikahan perempuan yang selama ini mencuri sebagian hatinya.


"Selamat yah, Bi. Oh iya, hari ini lo cantik banget deh," Caca melantunkan pujian setelah ucapan selamat dia sampaikan.


"Thanks, Ca! Tapi apa gue cantiknya hari ini doang, jadi kemaren-kemaren gue nggak cantik ya?" seloroh Rubina setelah mereka saling berjabat tangan.


"Kemaren-kemaren juga cantik kok, cuma hari ini keliatan sangat-sangat cantik," jawab Caca.


"Congrats ya, **, atas pernikahannya," ucapan selamat itu disampaikan oleh Agam sewaktu tangannya dengan Rubina saling bertaut berjabat tangan. Rubina tidak melihat pria itu berekspresi.


Sepersekian detik saja Agam mengadu matanya dengan mata Rubina. Setelahnya pria yang dalam setelan jas cokelat itu membuang mukanya dengan terburu-buru. Agam setidaknya ingin menyembunyikan mata sembabnya setelah semalaman dia menangisi takdirnya yang berjalan tidak sesuai dengan harapan.


Beralih dari Rubina, kali ini Agam berdiri tepat di depan Sean,


"Congrats ya, bro" ucapnya juga kepada Sean. Ada rasa sakit yang menghujani hati Agam saat menjabat tangan pria di hadapannya saat ini. Juga dia merasakan kecemburuan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Andai bisa, mungkin Agam akan meminta bertukar posisi dengan Sean, supaya dia saja yang menjadi suami Rubina.


Caca tidak berlama-lama di tempat ini karena sejak masih di rumah tadi dia sudah janji dengan Agam akan segera pulang setelah bertemu pengantin. Caca juga mengerti bahwa kakaknya pasti tidak akan tahan untuk terus berada di tempat ini. Melihat bagian dari masa lalunya sedang memulai kehidupan baru dengan pria lain.


"Ya udah kita pulang sekarang. Masih ada beberapa kerjaan yang harus gue selesein." bisik Agam kepada Caca.


Caca menganggukkan kepalanya dan beranjak menuju pintu keluar gedung.


Setengah jam berikutnya Sean dan Rubina kebanyakan terduduk pada kursi. Sepertinya tamu undangan sudah berkurang, tidak sepadat sebelum-sebelumnya.


Memanfaatkan situasi itu, fotografer pun meminta keduanya untuk berfoto. Keluarga dari pihak Sean yang lebih dulu berfoto dengan kedua mempelai sebelum disusul keluarga Rubina. Semua orang tampak bersemangat saat menjalani sesi foto.


"Sekarang waktunya saya mengambil gambar kedua mempelai. Oh iya, tolong kepada kedua mempelai untuk saling berhadap-hadapan dan saling berpegangan tangan!" fotografer memberikan arahan kepada si pengantin. "Lebih dekat lagi dan tatapannya lebih dalam lagi!" koreksinya yang melihat Rubina dan Sean seakan sedang jaga jarak.


"Deketan lagi! Dengerin apa kata fotografernya!" Rubina memelankan suaranya saat mengatakan itu kepada suaminya. "Tenang aja, aku enggak gigit kok, enggak tau kalo udah di kamar nanti," tentu saja Rubina hanya bercanda soal itu. Dia hanya merasa senang untuk menggoda suaminya.