
...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...
^^^By. Lucifer^^^
Sean senang karena hari dia bisa kembali pada rutinitas yang beberapa hari terakhir ini tidak dia lakukan. Sean sangat senang karena dia kembali mengantar istri tercintanya ke kampus. Ya... meskipun awalnya Rubina tetap menolak kebaikan hati Sean yang hendak mengantarnya, namun setelah Sean berjuang, Rubina pun memberinya izin untuk mengantarnya sampai kampus.
Setibanya mereka di depan kampus, Rubina pun melepaskan tangannya yang melingkar pada tubuh pria yang mengemudikan motor. Rubina juga langsung turun dari motor. Gadis itu hendak pergi meninggalkan Sean namun tangannya keburu diambil oleh Sean. Rubina yang bingung pun hanya menatap dengan pandangan meredup. “Kenapa?"
"Kamu enggak mau bilang makasih setelah saya Nganterin kamu sampai kampus?" tanya Sean. Sebelah alisnya terlihat meninggalkan tempat semestinya. Dia tengah menunggu pertanyaannya mendapatkan sebuah jawaban.
"Harus ya, ada ucapan terima kasih? Bukannya kamu sendiri tadi yang maksa-maksa aku buat ikut bareng sama kamu ke kampus?"
Belum juga Rubina mendapatkan balasan saat tiba-tiba mobil milik Agam berhenti persis di belakang motor V4R milik Sean. Rubina tentu saja antusias karena kehadiran mobil itu. Ditegaskan, antusiasnya bukan karena Agam, melainkan karena ada Caca.
Senyum di bibir RUBINA mengembang dengan sempurna kala Caca turun dari mobil. Tidak sendirian, Agam yang mengantar Caca juga ikutan turun.
"Pagi, Sean, Bi,” sapa Agam sambil memamerkan senyum ramahnya.
Walaupun rada-rada kesal dan tidak nyaman dengan kehadiran Agam, Sean tetap menyunggingkan senyuman lewat bibirnya.
“Hm... Pagi juga.”
"Ya udah Bi. Kita masuk sekarang yuk soalnya tugas gue juga masih belum beres, masih ada beberapa yang perlu gue revisi," Caca langsung mengambil tangan Rubina. Mereka memasuki pelataran kampus yang belum terlalu ramai.
Karena sudah tidak ada alasan lagi bagi Sean untuk tetap berada di tempat itu, dia pun memutuskan untuk pergi. "Gam, gue duluan ya," pamitnya kepada Agam.
"Tunggu bentar Sean!" tahan Agam. Sean yang sudah membuka kaca penutup helm yang hendak dilanjutkan dengan memutar kunci V4R nya pun terpaksa urung melanjutkan. Sean membuka kaca helmnya kembali dan memperhatikan Agam lekat.
"Kenapa Gam?" bingung Sean.
"Gue mau bicarain sesuatu. Tapi ngomong-ngomong lo lagi sibuk gak?" tanya Agam memastikan apakah Sean punya waktu luang untuk ngobrol. Pun kalau tidak, maka dia akan membuat jadwal supaya mereka bisa membicarakan ini nanti saja.
Sean tampak berpikir selama beberapa saat sebelum akhirnya dia menjawab, "Boleh. Tapi mau ngebahas apa ya, Gam?"
"Tentang Bina," jawab Agam yang secara tidak langsung membuat kadar penasaran yang mendiami diri Sean semakin bertambah saja.
"Agam?" sahut Sean cepat.
"Iya."
"Ada apa sama Bina?”
"Ntar aja, mending kita nyari tempat buat ngobrol."
Karena di dekat kampus ada kafe jadi keduanya memutuskan untuk ngobrol di sana saja.
"Mau gue pesanin kopi juga?" tanya Agam kepada Sean saat mereka sudah duduk di sebuah meja paling ujung.
"Gue nggak minum kopi, Gam."
"Terus lo minumnya apa? Teh?" tanya Agam sambil dia menduga-duga.
“Gue minumnya susu, Gam."
"Susu?" ulang Agam takut telinganya salah denger.
"Kenapa Gam? Emangnya nggak boleh ya cowok minum susu?" sensi Sean.
"Bukan gitu. Gue cuma nggak nyangka sja kalo ternyata lo hobi minum susu. Gue kira lo pecandu kafein kayak gue," setelah itu Agam mengudarakan tangannya memanggil seorang pelayan. Dia menyampaikan jenis kopi yang dia pesan. Tidak lupa juga dia memesankan susu hangat untuk Sean.
"Pesanan Bapak akan segera kami buatkan," ujar si pelayan lalu meninggalkan meja.
"Apa yang mau lo bicarain soal Bina.”
"Gue liat hubungan kalian terlihat baik-baik aja."
"Maksudnya? Lo lebih suka saat gue dan Bina lagi berantem. Gitu?" Sean mulai naik pitam atas ucapan Agam sebelumnya.
"Tenang Sean, bukan itu maksud gue."
"Terus apa maksud omongan lo sebelumnya?"
"Sorry kalo gue nyinggung soal hubungan lo. Tapi gue sudah tau kalo lo sama Bina lagi ada masalah."
Cukup kaget juga karena Sean tidak berpikir bahwa pria di depannya sudah tahu tentang permasalahannya dengan Rubina.
“Sejauh mana lo tau permasalahan gue sama Bina?"
"Gue tau kalo lo sama Bina nikah tanpa lo ngerasain perasaan lebih ke dia. Dan gue juga tau soal lo yang udah nikah siri juga punya anak dengan cewek itu."
"Siapa yang ngasih tau soal itu? Apa Bina yang nyeritain semua tentang permasalahan rumah tangga kita?" penasaran Sean menunggu Agam menjawab pertanyaannya.
"Bina yang cerita," jawab Agam, sementara itu Sean telah merasakan kekecewaan karena Bina telah membagikan semua rahasia tentang rumah tangganya kepada Agam. "Tapi lo jangan salah paham dulu asean. Bina sebenernya nggak mau cerita, tapi gue tau masalah itu pas kalian ngobrol di rumah sakit waktu itu."
Sean mengembuskan napasnya panjang, "Lo seneng kan Gam, karena hubungan gue sama Bina lagi di ujung tanduk?" tuduh Sean dengan nada pasrah.
"Kalo dipikir-pikir sih harusnya saat ini gue emang seneng dengan kabar ini, tapi kok aneh ya?"
"Aneh kenapa sih Gam. Bukannya itu emang yang lo harepin. Kalo misalnya ya, amit-amit gue emang harus pisah sama Bina, otomatis lo bisa dapat kesempatan kayak dulu lagi. Kan lo sangat cinta sama Bina."
"Tapi rasanya sudah beda, Sean."
"Maksudnya lo bakalan terganggu sama status 'janda' yang nantinya bakalan dia dapatin kalo dia cerai sama gue?"
"Bukan itu alasannya. Bahkan gue nggak bakalan mempermasalahkan statusnya itu. cuma gue sadar kalo kayaknya takdir emang nggak punya rencana buat nyatuin gue sama Bina, Sean. Emang kenyataannya gue cinta sama dia, tapi sayang sekali karena Bina hanya cinta sama lo."
"Tapi sekarang dia seperti sudah hilang rasa sama gue, Gam."
"Dan lo bakalan nyerah gitu saja? Ayo lah, Sean, dia bahkan udah mengejar-ngejar cinta lo selama bertahun-tahun. Lo hanya perlu berusaha lebih keras. Tapi agak susah juga sih... mengingat istri siri lo it....”
"Dia sudah bukan istri siri gue lagi, Gam. Gue udah ngakhirin hubungan sama Sarah," potong Sean.
"Lalu anak itu? Maksud gue hasil hubungan lo sama Sarah?"
"Ceritanya sangat panjang Gam. Singkatnya gue nikah sama dia tuh karena alasan anak saja. Dia bilangnya hamil anak gue, tapi kebusukan dia baru terbongkar baru-baru ini. Sheran ternyata bukan darah daging gye. Sheran adalah hasil hubungan Sarah sama pacarnya."
"Apa?"
"Iya, Gam. Sheran itu anak hasil hubungan Sarah sama pacarnya tapi gara-gara pacarnya kabur, Sarah pun manfaatin kebaikan gue. Dia ngejebak gue."
"Serius Sean, ini semua cuma jebakan?"
"Lo nggak percaya sama gue Gam. Gue bahkan punya buktinya tapi hasil tes DNA itu ada di laci apartemen. Nanti deh gue fotoin kalo gue ada di sana."
"Bukannya nggak percaya, gye cuma shock aja. Tapi kali emang itu cuma jebakan berarti permasalahan di antara lo sama Bina bisa segera teratasi Sean."
"Sekarang aja Bina udah kayak ngehindarin gye Gam. Gimana mau ngatasinnya?"
"Itu artinya lo harus extra berjuang Sean buat dapetin hatinya Bina. Gue yakin dia masih cinta sama lo.”
"Dari mana lo tau soal itu Gam? Lo emangnya cenayang sampe tau kalo Bina masih sayang sama gue sampe detik ini?"
"Gue tau itu karena gue ada di posisi itu. Mungkin iya Bina kecewa dan itu wajar karena lo udah bohongin dia. Oke lah, kalopun ternyata kejadian itu cuma sekedar jebakan tapi bagi Bina nggak ada bedanya kan. Tapi terlepas dari itu semua, gue yakin Bina masih punya perasaan lebih sama lo Sean. Saran gue sih, lo cuma perlu berusaha lebih keras."
***
"Hei Bi... kamu belum makan kan? Itu perutnya pasti pada demo minta makan. Ayo duduk!" paksa Sean. Dia bahkan bergerak menghampiri Rubina, dia menarikkan kursi dan memaksa istrinya itu untuk duduk. Setelah duduk Sean bergegas mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi. "Segini cukup? Atau mau ditambah lagi."
"Segitu udah cukup By, lagian aku bisa ngambil sendiri kok."
"Udahlah, kamu duduk manis aja, biarin aku yang ngelakuin ini semua buat kamu. Malam ini saya adalah chef."
"Ck.... Chef abal-abal."
Sean hanya tersenyum mendengar ungkapan istrinya yang menyebutnya sebagai chef abal-abal. "Chef abal-abal kesayangan kamu kan, Bi?" Sean mulai menggoda.
"Ih apa sih," Rubina mengedikkan bahunya. Dia mentap kesal sambil mengadu matanya dengan iris biru milik suaminya. "Itu mah dulu."
"Dulu?"
"Iya, dulu. Aku enggak munafik yah, dulu emang aku selalu tergila-gila sama kamu. Tapi sekarang udah nggak. Perasaan aku ke kamu tuh udah hilang sejak kebohongan kamu itu."
"Oh ya?" ujar Sean dengan senyum smirk yang membuat Rubina kesal. Pria itu kemudian membungkukkan sedikit badannya sehingga wajahnya dengan sang istri terpaut jarak yang semakin dekat. Saking dekatnya dengan wajah tampan pemilik mata biru itu, Rubina sampai bisa merasakan aroma tubuhnya yang telah berpadu dengan aroma parfum yang dia kenakan.
"Coba tatap mata saya dan bilang kalo saat ini kamu udah nggak punya perasaan lebih sama saya!"
'Ya mana bisa aku ngelakuin itu!' ucap Rubina dari dalam hatinya. Memang, beberapa kali bibirnya mengatakan kalau dia sudah hilang rasa dengan Sean. Tapi sangat disayangkan bahwa hatinya masih menyimpan perasaan lebih kepada Sean. Terlebih lagi setelah dia tahu kalau ternyata Sean dan Sarah menikahnya secara terpaksa karena kebohongan yang dilakukan oleh Sarah.
"Kenapa diem aja? Ayo bilang!"
Bunyi bel di pintu apartemen membuat Rubina jadi bisa bernapas lega. Dengan begitu dia bisa terhindar dari suasana yang tegang. "Kalo gitu aku ke depan dulu. Aku mau ngecek siapa yang dateng.” Rubina tanpa adanya pamit segera berlari usai meninggalkan duduknya. Rubina menuju ke pintu. “Tunggu sebentar," ujarnya sambil menyentuh kenop.
Betapa kagetnya Rubina di detik awal setelah membuka pintu dan matanya menemukan seseorang yang tidak terprediksi akan dia temui. Selama beberapa saat Rubina terlihat kaget dengan yang perlahan kian melebar.
"Kamu?" singkat Rubina mengatakannya.
***
RUBINA sama sekali tidak berpikir bahwa orang yang menekan bel apartemennya adalah Sarah. Rubina pikir hubungan Sean dengan Sarah sudah selesai. Kalau memang seperti itu, kenapa sekarang Sarah memijakkan kaki di apartemen? Ada urusan apa lagi dia dengan Sean?
"Selamat malam, Bina," sapa Sarah lembut.
"Hmmm... malam," jawab Rubina. Sebenarnya dia agak kesal tapi mau bagaimana lagi. “Kamu pasti lagi nyariin Sean, kan?" tuduh Rubina bahkan sebelum perempuan di hadapannya menyampaikan alasannya kenapa datang ke apartemen jam segini. “Masuk aja dulu, kamu bisa duduk di dalem. Biar aku panggilin dulu Sean nya."
Rubina balik badan, tetapi belum juga beranjak saat tiba-tiba Sean datang.
"Siapa yang bertamu?" tanya Sean. "Sarah," imbuh Sean kaget.
"Ya udah kalo gitu aku ke dalem dulu, kalian bisa ngobrol berdua di ruangan ini," Rubina hendak pergi namun keburu Sarah menahannya.
"Tunggu sebentar, Bi!" seperti itulah kalimat Sarah yang buat Rubina berhenti pada langkahnya.
Rubina balik badan menghadap ke Sarah. "Ada apa Sar? Bukannya kamu dateng ke sini malam-malam karena kamu mau ketemu Sean ya? ya udah mending aku ke dalem aja. Biar kalian bebas bicara berdua kan," Rubina tersenyum. Sayangnya Sarah tidak sebodoh itu untuk tidak tahu bahwa senyum yang tergambar di bibir Rubina saat ini merupakan bagian dari senyum yang dipaksakan.
"Aku datang ke sini bukan untuk menemui mas Sean kok, Bi," aku Sarah. “Tujuan aku datang karena sebenarnya ada sesuatu yang mau aku obrolin sama kamu."
"Sama aku?" kening Rubina mengerut. “Ada apa yang mau kamu bicarain sama aku?" heran Rubina. Tidak butuh waktu lama bagi Rubina untuk duduk di sofa ruang tamu. Pun hal yang sama dilakukan oleh Sarah. Dia ikut duduk bersebelahan dengan Rubina.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" Rubina langsung memberikan pertanyaan inti kepada Sarah.
Sarah tidak langsung mengatakannya, lebih dulu dia mengarahkan mukanya kepada Sean yang masih berdiri sekitar lima meter darinya. "Mas, boleh tinggalkan kami berdua. Aku mau membicarakan sesuatu bersama Bina. Berdua aja. Boleh kan?”
Pria dengan tangan terlipat di depan dada itu menatap dengan mata menyipit, "Emangnya apa yang mau kamu bicarakan sama istri saya?" tanya Sean. Jujur saja Sean merasa takut membiarkan Rubina duduk berduaan saja dengan Sarah. Sean takut Sarah akan melakukan hal yang aneh-aneh kepada istrinya. Siapa tahu kan Sarah sampai mencelakai Rubina sebagai bentuk balas dendam setelah Sean menjatuhkan talak kepadanya.
Melihat adanya kekhawatiran pada sorot mata Sean sehingga Sarah segera berkata, "Kamu tenang aja Mas. Aku sama Bina cuma perlu bicara sebentar, aku nggak bakalan macem-macem kok sama istri kamu."
"Hah...Baiklah," setelah mempertimbangkannya Sean pun berada pada keputusan untuk membiarkan istrinya untuk ngobrol berdua dengan Sarah. Saya akan biarin kalian berdua buat ngobrol."
Tepat setelah Sean telah pergi Sarah pun tidak membuang waktunya. "Gimana kabar kamu, Bi?"
"Langsung pada intinya aja Sar, aku nggak mau basa-basi.”
"Gimana hubungan kamu sama mas Sean setelah kamu tau kabar kalo dia udah sempat nikah siri dan punya anak?"
"Ya menurut kamu?"
"Semua itu salah aku Bi. Aku yang ngejebak mas Sean. Dia adalah pria yang baik tapi aku malah manfaatin kebaikannya itu untuk menjebak dan menjadikannya alibi atas kesalahan yang tidak dia perbuat. Asal kamu tahu Bi, dia nggak pernah melakukan hal gila itu sama aku. Bahkan setelah kami nikah secara siri pun dia cuma ngasih aku uang bulanan. Dia nggak pernah ngelakuin hubungan intim sama aku walau itu hanya sekali.”
"Apa maksud kamu ngomong kayak gini sama aku, Sar?"
Rubina menatap bingung kepada Sarah. Dan Rubina jadi bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Apa iya Sarah datang jauh-jauh dari kampung hanya untuk sekadar memberitahukan soal Sean kepadanya?
“Kamu yakin datdng jauh-jauh cuma buat ngomong itu ke aku?"
"Iya Bi."
"Hm, apakah ini ada campur tangannya Sean?"
"Maksud kamu Bi?" bingung Sarah. “Aku nggak ngerti maksud kamu," Sarah menambahkan.
"Apa iya kamu sampai bela-belain Sean kayak gini karena disuruh?"
"Mas Sean nggak ada tuh nyuruh aku buat dateng ke sini, Bi. Aku dateng ke sini sama tetangga yang ada di kampung. Kebetulan dia juga ada urusan di sekitar sini, jadi aku nebeng aja."
"Yakin bukan Sean yang nyuruh kamu buat dateng ke sini?" tanya Rubina. Kali ini tatapan yang dia persembahkan kian meredup.
"Beneran bukan mas Sean kok Bi yang nyuruh aku buat datang ke sini. Tujuan aku datang ke apartemen semata-mata karena aku emang mau ketemu sama kamu Bi. Aku mau kamu tau kalo mas Sean tuh sangat sayang banget sama kamu."
"Kamu nggak tau apa-apa Sar tentang hubungan aku sama Sean."
"Emang aku nggak tau banyak Bi. Tapi aku tau kalo mas Sean itu sangat sayang sama kamu. Dia benar-benar takut untuk kehilangan kamu," balas Sarah. "Aku tahu kamu marah karena mas Sean menyembunyikan tentang hubungan dia sama aku. Aku bisa memakluminya. Kamu bahkan boleh marah Bi, tapi aku mohon jangan sampai kamu punya pemikiran untuk menyudahi hubungan kamu sama mas Sean karena aku tahu kalau kalian tuh emang ditakdirkan untuk bersama."
***
SEDARI tadi Rubina sibuk balik badan ke kanan, ke kiri, lalu ke kiri, dan ke kanan lagi. Tapi tetap saja tak kunjung Rubina kehilangan kesadarannya. Dan ya, berhubung saat ini dia dan Sean sedang di apartemen, alhasil mereka tidurnya pisah kamar.
Ketika Rubina mulai merasa lelah memaksa dirinya untuk hilang kesadaran, akhirnya dia pun bangkit. Awalnya dia mengambil posisi duduk di tepian ranjangnya memperhatikan jam di ponselnya. Sekarang sudah jam setengah sepuluh malam.
“Emang besok nggak ada kelas sih, tapi kan jam segini biasanya aku udah tidur pules."
Ada sesuatu yang menjebak pikiran Rubina. Dan mungkin itulah yang menjadi penyebab kenapa sampai sekarang dia belum juga tidur. Dan jika ditanya apa, tentu saja jawabannya adalah ucapan Sarah.
Rubina mendesah sambil dia bangkit. "Kenapa aku malah dilema gini sih pas mau ngambil keputusan." Gumamnya. "Padahal sebelum ini keputusan aku untuk cerai udah sangat mantap, kenapa makin ke sini aku malah makin menyimpan keraguan sih?”
Sebelumnya memang sudah ada keraguan pada diri Rubina untuk bercerai dengan Sean. Namun kadarnya tuh semakin bertambah saja setelah tadi Rubiba bertemu dengan Sarah. Apa yang Sarah katakan tentang Sean sedikit banyak membuat perubahan pada mindset Rubina. Rubina yang sebelumnya sudah mantap untuk bercerai kini diserang oleh perasaan ragu.
"Sebaiknya aku bicarain dulu sama Papah dan Ibu tentang kebohongan Sean. Nanti setelah itu baru aku ngambil kesimpulan apakah aku bakalan ngelanjutin hubungan ini atau justru milih pisah aja sama Sean."