I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 60



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


"Lo yakin nggak mau ngomong sama ..."


"Kan gue udah bilang kalo gue enggak mau," semprot Rubina berhasil membuat Emerald kaget dan refleks mengembalikan fokus perhatiannya ke jalan depan. Emerald yang tidak sempat menyelesaikan kalimatnya pun menutup bibirnya rapat-rapat. Kalau sudah seperti ini Emerald cuma bisa diam. Sungguh, kalau sudah emosi seperti ini adiknya akan terlihat sangat menyeramkan.



Bahkan hantu di film horror saja tidak sebanding dengan seramnya wajah Rubina saat sedang marah.


"Okay, Okay... kita pulang sekarang," kata Emerald.


***


"Pasti Bina bakalan kecewa banget sama gue," Caca yang sudah berjuang untuk memberi penjelasan namun tak mendapat umpan balik dari yang bersangkutan pun mengembuskan napas gusar, sekarang Caca masih berdiri di tepi jalan. Matanya menatap sayu kepada mobil yang ditumpangi Rubina yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang ditelan oleh sebuah belokan.


Cukup lama Caca berdiri di tempat yang sama dengan perasaan melankolis. Kejadian yang selama ini Caca takutkan pada akhirnya kesampaian juga.


Jujur, Caca takut Rubina akan menjauhinya setelah terkuaknya kebohongan ini. Caca takut kehilangan figur seorang kakak sekaligus sahabat yang selama ini berusaha dia pertahankan.


"Gimana? Apa kamu udah jelasin semuanya?" dua buah pertanyaan menyambut Caca yang kembali ke dalam rumah. Tidak ada semangat dalam dirinya meski itu secuil. Ketakutan demi ketakutan memenuhi ruang kecil di dalam hatinya. Caca takut masalah ini akan semakin runyam dan akan membuat hubungan persahabatannya dengan Rubina jadi meregang atau bahkan hancur berkeping-keping.


"Bina langsung pergi Kak."


"Aku kenal dia cukup lama. Sebaiknya kamu kasih dia kesempatan untuk nenangin diri. Kamu nggak perlu cemas kayak gitu. Aku tahu dia, dia orang baik. Dia pasti bakalan maafin kamu."


"Gimana aku bisa tenang Kak. Kakak kan tahu sendiri kalau Bina itu sahabat aku. Aku takutnya setelah kejadian ini dia bakal ngejauhin aku," bola matanya sudah dilapisi oleh cairan bening, hanya saja Caca mati-matian untuk menahan agar cairan itu tidak tumpah ruah membasahi area wajahnya.


"Maafin kakak ya, seharusnya kakak enggak maksa kamu buat diam-diam ngasih hadiah ke Bina. Kakak beneran nyesel, padahal waktu itu kamu sudah menolak tapi kakak terus maksa kamu." Bagas mulai menyalahkan dirinya sendiri.


Caca bisa melihat adanya perasaan bersalah yang tersirat pada kalimat yang disampaikan oleh Agam. Juga selain dari kalimatnya sebenarnya dia juga menyadari perasaan bersalah itu lewat raut muka kakaknya. Tapi, menurut Caca, sekarang bukanlah waktunya untuk menyalahkan siapapun. Nasi sudah jadi bubur. Paling tidak yang harus dicari adalah jalan keluar.


"Sudahlah Kak. Lagian kalo saat itu kakak maksa, kan aku bisa ngasih penolakan." Caca duduk di hadapan kakaknya, dipisahkan oleh sebuah meja. "Aku penasaran, kenapa sih kak Agam masih aja berusaha buat ngejar cintanya Bina?"


"Kayaknya tanpa aku jelasin kamu udah tahu jawabannya."


Caca menautkan anak rambutnya yang agak berantakan ke atas daun telinga. ******* panjang dia persembahkan. "Apa alasannya karena cinta pada pandangan pertama lagi?"


"Benar."


"Sebelum janur kuning melengkung maka kakak enggak akan nyerah. Kakak bakalan berusaha buat melakukan yang terbaik untuk mendapatkan hati Bina."


"Apa sih yang kakak harepin dari Bina? Aku tahu dia kalau Bina tuh cantik dan baik. Tapi kan Bina udah ngasih penolakan. Secara terang-terangan Bina udah ngasih penegasan bahwa dia nggak suka kakak. Saran dari aku sih sebaiknya mulai dari sekarang kak Agam harus belajar untuk melupakan Bina. Aku ngomong kayak begini karena aku peduli sama kakak. Aku enggak mau liat kakak melukai diri sendiri karena mencintai orang yang salah. Bina tuh nggak cinta sama kakak."


WALAUPUN telah diimbau oleh Agam untuk membiarkan hati Rubina tenang dulu, namun imbauan tersebut seakan tidak diindahkan oleh Caca-sang adik. Buktinya sekarang Rubina menerima panggilan telepon dari sahabatnya itu. Rubina hanya melirik, untuk saat ini dia tidak tertarik menjawab panggilan dari Caca.


Rubina memilih untuk mensilent ponsel dan setelahnya dia menangkupkan benda pipih itu di nakas dekat ranjangnya. Sekarang semuanya semakin jelas, sepertinya Caca adalah orang yang selama ini menaruh hadiah-hadiah itu dengan mengatasnamakan hadiah itu diberikan oleh seorang penggemar rahasia. Siapa sangka penggemar rahasia itu adalah Agam alias kakaknya sendiri.


Dari yang Rubina tahu, Agam memang telah mengejar-ngejar cintanya sejak mereka masih SMA. Persis dengan Rubi a yang mengejar-ngejar cintanya ayang Sean, Agam tidak kenal yang namanya lelah dalam mengejar cinta Rubina. Saat diberikan penolakan, Rubina malah mendapatkan jawaban seperti ini dari Agam; kalo kamu bisa ngejar cintanya Sean yang nggak cinta sama kamu, Apa salahnya sama aku? Aku juga akan berusaha untuk buat kamu jatuh cinta sama aku."


Setelah tujuh tahun berlalu Rubina pikir Agam sudah menemukan gadis yang cocok untuknya. Rubi a juga tidak pernah sekalipun berpikir bahwa hadiah yang dia dapatkan di kampus ternyata berasal dari pria yang sama dengan pria tujuh tahun lalu yang mengejar cintanya tanpa lelah.


"Pantesan aja waktu itu tingkahnya Caca aneh banget. Ternyata dia adalah orang yang nyimpen kotak itu di meja. Selama ini dia orang yang membawa hadiah-hadiah itu dan sama sekali gue nggak sadar." Memikirkan soal itu membuat kepala Rubina jadi mumet. "Kenapa sih ya Allah hidup itu ribet begini. gue yang suka sama Sean tapi Sean nya yang enggak suka sama gue. Sementara ada Agam yang suka sama Gue, tapi gue nya yang malah nggak suka sama dia. Tahu ah, gue jadi pusing sendiri mikirin hidup."


***


Rumah keluarga


Aditya terlihat begitu ramai menjelang hari pernikahan putra kedua di keluarga ini. Adik dan kakak Sean juga sudah terbang langsung dari Bali untuk sama-sama mempersiapkan pernikahan yang tinggal menghitung hari lagi. Selain ada keluarga inti, di ruang keluarga saat ini juga ada keluarga dari pihak ayah dan juga dari pihak ibu Sean.


Sean yang memiliki sisi introvert tentu saja tidak menyukai keramaian. Terlebih lagi menjadi sumber perhatian. Rasanya tuh Sean seakan ingin menghilang dan ngontrak di mars saja. Tapi hari ini Sean menganggap dirinya sedang beruntung karena dia sedang ada janji untuk berangkat ke butik untuk fitting baju pernikahan. Ya, walaupun perginya sama Rubina juga, tapi itu lebih baik jika dibandingkan harus berdiam di sini diantara keramaian.


Sean tidak berangkat berdua saja ke butik. Adik perempuan dan juga ibunya juga ikut untuk melihat prosesi fitting baju. Dinda sangatlah penasaran karena dari cerita ibunya, ball gown yang akan dikenakan oleh Rubina pada hari pernikahannya nanti sangatlah cantik. Karena itulah Dinda ngebet pengen ikut, sekalian juga sebenarnya dia ingin lebih dekat dengan calon istri kakaknya.


Sean masuk dan menutup pintu mobil dengan segera.


"Tante duduk di depan saja sama Sean!" titah Rubina kepada Marisa.


"Tidak, Tante lebih suka duduk di kursi belakang," dalih Marisa. Tentu saja dia tidak akan merenggut kesempatan untuk Rubina bisa semakin dekat dengan Sean, meskipun sesederhana duduk berdampingan saja.


Penolakan dari Marisa calon mertua sepertinya tidak membuat Rubina menyerah. Walaupun dalam hati dia ingin duduk berdekatan dengan ayang Sean, tapi kan Rubina sadar bahwa selain ada dirinya juga ada anggota keluarga Sean.


"Kalo gitu kamu aja, Din, yang duduk di depan sama Sean, nanti biar aku yang duduk di kursi belakang sama tante Marisa," kata Rubina kepada Dinda. Lengkungan senyum dia gambarkan pada bibirnya.


"Enggak Kak!" tolak Dinda. Kak Bina aja yang duduk di depan sama kak Sean. Aku mau duduk di belakang aja sama Ibu."


'Rejeki emang enggak ke mana?' Rubina berucap dalam hati. Dengan segera dia masuk dan duduk di sebelah Sean. Diam-diam melirik Sean dengan ekor matanya. Pria itu tengah serius menghadap ke depan.


Sean baru saja menyalakan mesin mobil ketika adik dan ibunya sudah duduk dengan rapi di kursi belakang.