I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 64



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Setelah kabar pernikahan itu Agam terlihat tidak mau mengadu matanya dengan Rubina. Bukan tanpa alasan, mengadu mata dengan Rubina setelah kabar penikahan itu malah membuat hati Agam semakin sakit saja.


"Gue jadi iri sama Sean karena bisa dapetin lo!" ucap pria itu di tengah perasaan sakit yang dideritanya. "Hah... kalo gitu gue pamit dulu. Ingat ya Bi pesan gue, lo jangan benci Caca soal masalah kemarin."


"Iya. Tapi..."


"Kenapa?"


"Lo vakalan dateng kan di hari nikahan gue nanti?"


"Kalau itu gue nggak janji. Lo kan tau sendiri kalau gue suka sama lo. Kalo gue dateng, tar yang ada gue malah tambah sakit hati liat lo di pelaminan sama Sean. Nasib baik kalo gue nggak ngobrak ngabrik gedung tempat berlangsungnya acara nikahan lo," jawab Agam. Tentu saja yang dibicarakannya barusan hanya sekadar bualan semata. Agam tidak sejahat itu sampai ada untuk menghancurkan acara pernikahan Rubina.


"Gue yakin lo nggak akan ngelakuin itu! gue mohon lo harus dateng sebagai sahabat gue!" Rubina tersenyum penuh harap.


"Gue nggak janji, tapi gue bakalan berusaha buat dateng jadi bagian dari acara nikahan lo sama Sean. Kalo gitu gue pamit," Agam tersenyum setelah mengucap pamit, namun setelah jaraknya cukup jauh dan sudah tidak terjangkau lagi senyum itu pun menghilang. Sekarang wajah pria itu datar merasakan getirnya kenyataan hidup mendengar fakta bahwa sebentar lagi harapannya untuk mendapatkan Rubina akan pupus. Rubina telah memilih pendamping hidupnya. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, Agam tetap harus mencoba melupakan Rubina meski itu akan sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.


***


"Dia ngomongin apa Bi? Apa dia ngebahas perasaannya lagi?" Syifa dan Rara baru saja kembali ke tempat duduknya setelah melihat dari kejauhan Agam yang beranjak meninggalkan tempat duduk. Syifa adalah orang yang mengajukan dua buah pertanyaan tadi kepada Rubina.


"Ya, dia ngebahas soal perasaannya lagi," jawab Rubina.


"Terus lo bilang apa sama dia?" lagi, Syifa yang bertanya.


"Ya gue jawab jujur aja kalo gue nggak pernah punya perasaan lebih sama dia. Paling nggak gue harus bilang itu dari pada dia terus aja ngarepin sesuatu yang lebih dari gue."


Syifa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Soal Agam gue minta maaf ya, Bi. Gue beneran nggak tau kalo dia sampe dengar percakapan kita pas gue di kantor tadi. Gue juga nggak sadar kalo ternyata dia diam-diam ngikutin gue ke kafe ini."


"Enggak masalah kok, Fa. Ada bagusnya juga Agam ada di sini. Dengan begitu gue juga bisa clear-in masalah gue sama dia," jawab Rubina tidak ingin membuat perasaan bersalah semakin larut pada diri salah satu sahabatnya.


"Dari sana gue lihat lo ngasih dia kertas. Kertas apa itu?" penasaran Rara. Pun sejak tadi dia dan Syifa sempat berdiskusi dengan menebak kira-kira kertas apa yang Rubi a berikan sehingga Agam tampak shock setelah mendapatkan kertas itu.


"Ah iya gue hampir aja lupa. Padahal tujuan gue ketemu kalian ya karena gue sekalian mau ngasih sesuatu." Rubina mengambil tasnya. Membawa kepalanya menunduk. Tangannya merogoh mengambil tumpukan undangan dari dalam sana.


"Apa tuh Bi?" tanya Rara.


"Ini undangan buat kalian berdua," sambil memberikan undangan atas nama Rara dan Syifa kepada si empunya nama. "Ini juga ada beberapa undangan yang diperuntukkan kepada teman-teman kelas kita waktu SMA. Soalnya besok kayaknya gue udah mulai sibuk, makanya gue minta bantuan kalian berdua buat ngasih undangan ini ke yang lain. Kalian bisa kan?"


"Sama, gue juga mendadak jadi terharu," Syifa ikut membenarkan yang Rara katakan barusan. "Apa karena salah satu bestie kita bentar lagi bakalan memulai kehidupan barunya? Ah, gue jadi pengin nangis." Syifa mengipasi pipinya dengan telapak tangannya sendiri.


"Gue cuma penasaran. Apa nanti setelah Bina nikah persahabatan kita bakal tetap utuh?" Rara berandai-andai. Matanya sudah berkaca-kaca kala itu.


"Of course!" jawab Rubina cepat. "Genk Chili bakalan tetap bertahan sampai kapan pun. Meskipun nanti gue udah nikah gue bakalan tetap ikut nongkrong sama kalian," Rubina berjanji.


"Jujur boleh gak sih, Bi?" ucap Syifa mendapatkan anggukan persetujuan dari Rubina. "Sekarang ini gue ngerasa seneng tapi khawatir juga. Gue senang soalnya lo akhirnya nikah sama orang yang lo cinta. Tapi gue nggak bisa menyembunyikan kekhawatiran gue karena kamu menikahnya sama Sean. Gue janji, gue bakalan terus doain supaya kedepannya hubungan kalian semakin baik. Semoga lo berhasil buat Sean beneran cinta sama lo."


"Aamiin" Rubina dan Rara berujar serempak. "Oh iya ngomongin soal Sean gue minta kalian berdua tetap jaga rahasia yah! Pokoknya enggak ada satu pun yang boleh tahu kalo gue dan Sean nikah gara-gara dijodohin. Gue cuma takut kalo kabar itu sampai ke telinga Agam, bisa-bisa dia kembali ngejar-ngejar gue lagi kayak dulu," pinta Rubina yang disanggupi oleh kedua bestie-nya.


CACA sangat bersemangat melangkah dari arah dapur menuju ke ruang tengah rumahnya. Aroma mie goreng buatannya yang dicampur potongan sosis dan telur mata sapi menyisakan aroma yang sangat menggungah selera. Tadinya Caca telah menawari kakak laki-lakinya untuk dibuatkan juga, tapi dengan alasan kenyang sehingga Caca pun memasak sebungkus saja. Gadis itu memasak mie untuk dirinya saja, "Pasti kak Agam bakalan nyesel karena nolak pas aku nawarin dia mie goreng." Caca bermonolog.


Setibanya dia di ruang tengah dia langsung meletakkan mie-nya begitu saja di meja. "Awas ya, Kak, jangan dicomot mie aku!" peringat Caca.


"Hmmm," jawab Agam lewat gumaman singkat. Pria itu nyaris tanpa ekspresi menatap ke layar televisi yang ada di ruang tengah.


Caca kembali ke dapur karena dia baru teringat kalau dirinya lupa membawa alat makan. Karena itu dia kembali lagi ke dapur untuk mengambilnya. Sendok dan garpu sudah ada di genggaman tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegang gelas berisikan air putih yang diambilnya dari dispenser.


Caca duduk di sofa. Menikmati mie goreng buatannya. "Tumben kak Agam nggak tertarik sama mie goreng. Biasanya kan kalo aku baru nyalain kompor, kak Agam udah langsung minta dibikinin sekalian."


"Kenyang," jawab pria itu. Dia menjawab tanpa menatap lawan bicaranya. Jangankan menatap, melirik saja tidak dilakukannya. Sepertinya tayangan yang ditampilkan oleh layar televisi begitu menarik perhatiannya sehingga ada perasaan rugi pada diri Agam jika mengalihkan pandangan sedetik saja dari layar besar itu.


"Memangnya habis makan apa sampe kak Agam kenyang. Perasaan dari tadi sore kak Agam di rumah aja deh, nggak ke mana-mana. Makan juga nggak perasaan. Kok bisa kenyang. Makan apa sih?" bingung Caca.


"Kenyang aja."


Meski melihat kakaknya terlihat agak aneh namun Caca tetap fokus pada makanannya. Dia menyantap mie goreng hasil kreasinya itu dengan tenang. Tidak butuh waktu lama bagi Caca menandaskan makanan di piring. Air putih digelas juga telah dia habiskan. "Oiya, Kak, aku..." detik awal setelah Caca membawa pandangannya ke wajah kakaknya saat itu juga dia kaget melihat apa yang didapati oleh matanya. "Kok nangis Kak? Ada apa?" Caca berujar panik.


Agam buru-buru menghapus air mata itu dengan punggung tangannya sendiri.


"Kakak kenapa? Ada masalah ya?"


"Enggak kok. Kakak baik-baik saja." Agam berkilah.


"Baik-baik saja gimana? Kalo memang baik-baik aja enggak mungkin sampai nangis kayak gitu. Ayo Kak cerita sama aku sebenarnya ada masalah apa. Barangkali Caca bisa bantu."


"Kakak enggak ada masalah apapun. Im fine. Kakak cuma terharu aja nonton ini," bohong Agam menunjuk layar besar yang bertaut dengan tembok ruangan.