I'm Not Cinderella

I'm Not Cinderella
AMFH 37



...ANYEONG MY FUTURE HUSBAND...


^^^By. Lucifer^^^


Sean dengan rambut yang agak lembab menatap orang yang berkunjung ke apartemennya menggunakan pandangan bingung. Dari caranya menatap sepertinya dia tidak menaruh ekspektasi akan bertemu Rubina saat pertama kali membuka pintu.



"Selamat pagi calon suami," karena tangan kanannya sedang menenteng tas laptop, makanya Rubina menggunakan tangan kirinya untuk dilambaikan menyusul sapaannya. Senyum ramah tidak luput dia persembahkan untuk orang terkasih.


Padahal Rubina belum genap semenit berdiri mengadu mata dengan si pemilik iris cokelat, eh sekarang Rubina telah meloloskan sebuah sapaan yang sukses menghadirkan decakan sebal pada lawan bicaranya.


"Kamu..." ucap Sean.


'Gimana bisa lo ada disini?'


"Ah tadi--"


"Apa jangan-jangan kamu sengaja ngikutin ya? Kamu sengaja kan pengen tau alamat apartemen saya biar kamu bisa dateng sesuka hati kmu ke sini?" tuduh Sean tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu dari Rubina.


"Tuduhan kamu salah. Aku ada di sini bukan karena aku diam-diam ngikitin kamu." Rubina berkilah.


"Kalo begitu jelasin kenapa kamu bisa tahu alamat apartemen saya kalo emang kamu nggak ngikutin saya!" titah Sean.


"Aku ke sini soalnya tante Marisa menyuruh aku buat ngasih ini buat kamu!" sambil memperlihatkan tas berisikan laptop milik Sean. "Kalo kamu masih nggak percaya kamu bisa telpon ibu kamu dan tanya secara langsung! Lagian tante Marisa minta tolong sama aku soalnya sekalian kan aku juga mau berangkat ke kampus. Karena kampus sama apartement kamu kan searah makanya aku mau bantu."


Sean rasa tidak perlu ada lagi yang namanya pengecekan untuk mencaritahu apakah Rubina berbohong atau tidak. Lagian tas laptop miliknya yang lupa dia bawa dari rumah tadi sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebagai bukti. Sean yakin Rubina datang menemuinya atas perintah ibunya.


"Ya udah, sini tasnya," pinta Sean. Semoga selepas ini dia bisa segera terbebas dari Rubina si manusia menyebalkan.


"Nih," sambil menyerahkan tas laptop tersebut kepada si empunya.


"Terus kamu nunggu apa lagi? saya kan udah ngambil tas laptopnya. Bukannya kamu bilang mampir ke apartemen sekalian kamu mau ke kampus. Sekarang kamu bisa pergi!"


"Jadwal kampus aku sekitar dua jam lagi dari sekarang."


"trus?" sebelah alis milik Sean terangkat.


"Emang kamu nggak ada niatan buat ngajak aku mampir?"


"No, thanks!" jawab Sean cepat.


"Aneh banget. Harusnya sebagai yang punya tempat tinggal ngajak aku buat mampir." Sean terkekeh singkat.


"Ck... Baru kali ini saya lihat ada tamu yang nawarin dirinya sendiri buat mampir." Selepas kalimatnya dia memberikan sebuah gelengan tidak habis pikir.


"Tenggorokan aku kayaknya agak kering dan butuh minum. Emangnya kamu nggak kasihan sama aku? Aku kan sudah--"


"Ya sudah masuk!"


"Serius?" Rubina melebarkan matanya menatap lawan bicaranya seolah sedang salah dengar.


"Nggak usah berlebihan! Dan ingat, saya ngajak kamu mampir bukan semata-mata saya suka atau sederhananya peduli sama kamu. Saya ngajak kamu mampir karena saya cuma nggak mau utang budi sama kamu. Anggap saja ajakan mampir ini sebagai bayaran karena kamu udah nganter laptop saya."


Sean jalan duluan. Rubina mengikut di belakang pria itu dengan rasa senang yang begitu mendominasi.


"Duduk! Mau minum apa?"


"Aku mau susu."


Uhuk! Sean terbatuk-batuk.


"Kenapa kamu batuk? Apa ada salah sama susu?" tanya Rubina.


"Nggak ada yang salah. Saya batuk karena debu." Sean beralasan.


"Tolong yah, cukup pikiran kamu aja yang kotor. Kamu jangan nyoba buat ngotorin pikiran saya yang masih suci ini. Saya masih polos lebih tepatnya."


"Masih polos kok paham." Rubina bergumam.


"Apa?" tanya Sean.


"Aku bilang kamu tampan!"


Sean hanya memperlihatkan gelengan kepala lalu kemudian bergegas ke arah dapur meninggalkan Rubina sendirian.


Tepat setelah kepergian Sean, Rubina mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Rubina memberi penilaian bahwa suasana apartemen milik Sean sangatlah rapi. Beberapa barang terlihat berada pada tempat semestinya, kecuali barang-barang yang ada di meja di sudut ruangan itu.


Karena saat itu dia masih menunggu Sean membawa minuman, Rubina pun meninggalkan posisi duduknya, dia melangkah mendekati meja. Betapa terkejutnya Rubina sewaktu tidak sengaja menarik taplak meja dan membuat barang di sudut meja itu terjatuh dan menyisakan suara yang menggelegar.


Suara yang hadir disaat suasana lagi hening-heningnya itu terdengar sampai ke dapur- membuat Sean yang masih membuat minuman-jadi kalang kabut meninggalkan dapur menuju ke sumber suara.


"Ada apa ini?" tanya Sean sewaktu melihat Rubina yang sedang dalam keadaan jongkok sembari memunguti barang-barang yang jatuh di lantai. Rubina menoleh dan mendongakkan kepalanya,


"Harusnya aku yang nanya, kenapa kamu bisa nyimpen benda kayak gini di apartemen kamu?" tanya Rubina. Dia memperlihatkan salah satu dari sekian banyak benda yang masih ada di lantai. "Benda ini punya kamu kan?"


Wajah Sean seketika jadi pucat pasi melihat benda yang diperlihatkan oleh Rubina.


"KENAPA KAMU NYIMPEN BENDA KAYAK GINI DI APARTEMEN KAMU?" Rubina mengulang pertanyaan yang sama kepada Sean yang tidak kunjung memberikannya sebuah jawaban. Sean masih dalam posisi berdiri, bergeming tidak ubahnya manekin. "Kenapa diem saja?" Rubina menambah jumlah pertanyaannya.


"Benda itu bukan punya saya!" Sean memberikan jawaban jujur.


Memang benar, benda yang sedang diperlihatkan oleh Rubinq saat ini bukanlah miliknya. Semua benda itu adalah milik Nino.


"Oh ya?" Rubina menatap pria tampan itu tidak percaya. "Kalo benda ini bukan punya kamu, trus kenapa bisa ada di sini? Katanya kamu bilang sama aku kalau otak kamu masih polos. Kamu juga bilang kalo otak aku kotor. Tapi ternyata diam-diam kamu nyimpen benda kayak gini." Rubina menyunggingkan senyum mengejek.


"Kamu nggak perlu gengsi buat ngaku. Jujur saja kalo emang kamu yang ngoleksi kaset dewasa ini," Rubina tidak lagi memandangi Sean, gadis itu membawa fokusnya kepada kaset yang berserakan. Rubina kemudian menumpuknya dengan begitu rapi dan mengembalikannya ke tempat semula.


"Mending kamu sembunyiin deh barang-barang sensitif kayak gini. Kamu bisa nyimpen di kamar kamu saja. Nasib baik karena cuma aku yang liat. Gimana kalau ayah atau ibu kamu yang liat?"


"Udah saya bilang barang-barang itu bukan punya saya." Sean kembali menegaskan bahwa kaset dewasa itu bukanlah miliknya. "Semua kaset-kaset itu milik Nino."


"Mana buktinya? Lagian nih, ya, kalo emang ini milik Nino, kenapa bisa ada di sini?"


"Kasian banget yah Nino, dijadiin kambing hitam sama kamu "


"Saya serius. Saya bahkan berani bersumpah atas nama Tuhan kalo kaset itu bukan milik saya. Saya bahkan nggak pernah nonton salah satu di antara kaset itu. Jadi berenti buat nyudutin saya karena sejatinya otak saya nggak sekotor otak kamu! Sekarang tunggu di sini, saya buatin minuman supaya kamu bisa segera angkat kaki dari sini." Sean hendak balik badan namun urung, "Sama satu lagi, lebih baik kamu diem aja di sofa, ngga usah periksa segala hal!"


"Kenapa? Kamu takut aku nemuin harta karun yang lain?" goda Rubina. "Apa kamu punya barang lain selain kaset dewasa tadi?" pancing Rubina, sengaja ingin menghadirkan kekesalan di diri Sean. Entahlah, akhir-akhir Rubina merasa cukup terhibur saat Sean mengeraskan rahangnya saat kesal. Rubina melihat calon suaminya itu semakin tampan saja. Rubinq seperti melihat figur seorang badboy tengah bersemayam di diri Sean.


"Sebaiknya berhenti berceloteh! Atau Saya akan melakukan sesuatu pada bibir kamu supaya kamu nggak bisa ngomong apa-apa lagi," Sean sedang mengancam namun ancamannya tidak membuahkan ketakutan terhadap lawan bicaranya. Sean malah melihat Rubina tengah tersenyum. Ancaman Sean tidak membuat gadis itu takut. "Kenapa kamu malah senyum. Kamu pikir saya lagi bercanda?" tanya Sean.


"Aku cuma penasaran. Mau kamu apakan bibir aku? atau kamu mau nyium supaya aku berhenti berceloteh!"


"Ck! Kamu ini cewek aneh yang pernah saya temui."


"Jangan salah, perempuan yang kamu katakan aneh ini sebentar lagi akan jadi istri sekaligus calon ibu dari anak-anak kamu loh," sahut Rubina menikmati percakapan itu.


"Semoga aja ada keajaiban sehingga pernikahan yang telanjur dipersiapkan oleh keluarga kita berakhir batal."


"Teruslah berharap seperti itu, karena pada hakikatnya Tuhan lah yang merencanakan semuanya. Aku yakin pernikahan kita akan dilaksanakan, dan aku juga yakin suatu hari nanti kamu juga akan merasakan perasaan suka seperti yang selama ini aku rasain sama kamu."


"Mending saya ke dapur aja deh, capek juga harus dengerin kamu yang terus ngomong hal-hal yang sangatlah mustahil terjadi." Sean berdecak sekali kemudian dia kembali ke dapur. Seperti janjinya dia akan membuatkan minuman untuk Rubina. Walaupun tampangnya sedikit tidak bersahabat namun Sean tetap melakukannya supaya dia tidak merasa berutang budi kepada gadis itu.


Di menit selanjutnya Sean telah menyiapkan secangkir susu hangat. Cukup santai kala pria itu membawanya ke ruang tamu.


'Suamiable banget! Udah ganteng, dokter, jago nyusu lagi, eh salah maksud gue jago bikin susu," Rubina tidak lupa mengoreksi sebelum raut datar di wajah Sean didominasi lagi oleh raut kesal seperti yang sebelumnya dia tampilkan.