
Untuk sementara gue aman. Selama seminggu setelah kejadian Nancy nelpon gue, dia nggak berani bikin masalah lagi. Dan nggak ada berita apapun mengenai dia. Entahlah mungkin dia lagi nyari cara lain lagi buat jatohin gue. Dan sementara Danniel dia nyari orang buat mata-matain Nancy.
**
AUTHOR POV
Ost. imaginary future - Everything We Need
1 bulan berlalu, Althea telah diakui sebagai Direktur wanita termuda pendatang baru yang meraih beberapa penghargaan dalam hal proyek yang ditanganinya. Acara penghargaan pun di hadirinya dan disiarkan di beberapa stasiun tv swasta.
Di rumah masing-masing...
Angga Wiriawan dan Nesya, Gracia dan Lauro, Rizky dan kedua orang tuanya, Tyo beserta Istrinya, Nancy dan kedua orang tuanya, Reyandra dan keluarga kecilnya, kedua orang tua Lauro ikut melihat penghargaan itu di televisi. Sementara di acara itu Rafael yang ikut menghadiri sebagai wakil dari perusahaan Danniel bangga melihat prestasi yang dicapai Althea sekarang.
Danniel dan Hans pun dikirimi video dari Rafael yang memperlihatkan Althea yang sedang menerima penghargaan dan speak up di depan puluhan Direktur termuda pendatang baru.
"Jadi..Althea itu Direktur? Bukanya dia sekretaris?" Ucap Mommy Danniel pada suaminya Tyo.
"Sebenarnya Althea adalah anak kandung dari Angga Wiriawan pemilik Wiriawan Corps."
"Kamu sudah mengetahuinya?" Melihat suaminya terkejut.
"Hmm... Danniel... Dia benar-benar serius dengannya, dan meminta saya untuk membantunya... Fan saya melihat matanya dia sangat tulus pada Althea. Makanya saya menyuruh orang untuk mencari tau tentang kehidupan Althea. Kamu tau.. dia wanita unik.. Dia awalnya tidak ingin masuk ke perusahaan ayahnya karena dia ingin mandiri tanpa ada embel-embel Wiriawan. Dan kehidupannya sangatlah sederhana, nggak seperti wanita pada umumnya." Dia pun menceritakan kisah upik abu Cinderella nya versi Althea yang dia cari tau dari anak buahnya pada istrinya.
**
"Apa kamu masih mencintainya L?"
"Hah... Saya sudah tidak bisa lagi untuk mencintainya karena cintanya Althea bukan mengarah padaku lagi... Jadi mulai sekarang saya akan belajar untuk menerimamu Ci..." Gracia hanya tersenyum.
**
"Hah... Akhirnya dia berhasil juga..." Ucap Nesya melihat Angga yang sedikit berkaca-kaca. "Kau pasti bangga padanya kan Sayang?"
"Tentu saja, dia akhirnya bisa meraih apa yang diinginkannya dan dia juga penerusku selain Gracia... Kau tau saya bangga dan sangat bahagia melihat mereka berdua kompak untuk urusan perusahaan."
**
"Hah... apa-apaan nih? Dia beneran seorang Direktur??" Ucap Nancy kesal.
**
"Boss... Lihatlah.." Ucap Hans saat mereka baru selesai Meeting. Danniel pun melihat video sambil memakai headset. dia tersenyum saat melihat Althea diberi penghargaan dan ber speak up di depan semua orang.
"Good girl babe... You finally made it honey." Sementara Hans tersenyum melihat perubahan sikap Danniel yang akhir-akhir ini jadi lebih dewasa dan tidak terlalu sering marah-marah.
"Berapa lama lagi kita disini Hans?"
"Kalau lancar kurang lebih seminggu lagi kita sudah bisa pulang pak..." Danniel hanya mengangguk.
Ya... Saat ini Danniel sedang berada di London. Dia datang ke kota ini karena anak perusahaannya sedang membuat proyek yang membutuhkannya berada disana selama 1 bulan lebih.
**
ALTHEA POV
"Al... lo gimana sih? Hari ini kan lo yang janjian sama Mr. Smith buat teken kontrak, kenapa diserahin sama gue? Itu kan proyek lo..." Gracia dateng-dateng lemparin berkas ke meja gue nggak terima.
"Ayolah Ci.. Kali ini aja, gue serahin sama lo... Malem ini Danniel pulang dari London Ci... Lo tau sendiri kan selama 1 bulan lebih gue jadi jablay gara-gara dia nggak ada... Dan malem ini gue mau jemput dia. Jadi boleh ya.. gue serahin proyek itu sama lo... Tinggal teken kontrak doang..." Gue melas liat kearah Gracia. Gracia pun menghela napas berat.
"Ya udah, tapi sekali ini aja loh... Lain kali gue nggak mau ya..."
"Sip, kali ini doang... Thanks ya Ci..."
**
Malam ini gue nunggu di bandara buat jemput Danniel, jujur gue kangen banget sama dua, secara hampir 1 bulan setengah nggak ketemu dan jarang juga video call cause kitanya juga udah terlalu sibuk sama kerjaan masing-masing, jadi saat gue ada waktu gue ngasih kabar sama dia dan disaat dia punya waktu dia yang ngasih kabar ke gue.. jadi ya... beginilah hubungan kita selama long distance relationship kemaren.
"Al..." gue tau pemilik suara bariton itu. Gue senyum dan liat kearah sumber suara itu. And that's right he is Danniel, dia ngasih senyum kearah gue. Rambutnya yang sedikit lebih panjang, kumis dan jenggot yang belum dicukur beuh... Cowoknya siapa sih nih? Manly banget dah... Gue berdiri dan langsung menghambur kearahnya meluk dia.
"Do you miss me Honney?"
"Hhhmm.. I miss you Niel..." Saat gue lepas pelukannya dan gue liat kearahnya muka Danniel jadi merah.
"Hans, lo bawa mobil sendiri ya.. Saya bareng Althea." Ucapnya kearah Hans yang tiba-tiba ada di belakangnya.
Shiittt..
Gue lupa kalo Danniel masih diintilin Assisten setianya. Sumpah malu banget gue diliat sama Hans kelakuan gue yang keliatan bucin banget ama Danniel... Sekarang muka gue yang berubah merah. Hans cuma senyum liat reaksi gue.
"Tenang aja Al.. gue nggak akan bilang El kelakuan bucin lo..." Ledeknya sambil tertawa.
Sialan... Bener kan gue diledekin... Gue cemberut kearah Hans.
"Ok, Enough... By Al..." Ucap Hans sambil berlalu dari kita berdua.
"Kita pulang kerumah saya ya..."
"Nggak mampir ke Apartement dulu?" Ucap gue sedikit kecewa. Sementara Danniel senyum liat gue cemberut.
"Sekarang gantian, giliran kamu yang nginep di rumah saya Al... Kamu belum pernah ke rumah kan? Sekali-kali kamu yang datang ke rumah jangan saya terus yang nginep di Apartement kamu..."
Gila gue nginep di rumah Danniel? Gimana kalo keluarganya tiba-tiba dateng kalo nggak Momynya dateng ke rumah dia pas ada gue disana, makin dibenci aja gue sama nyokapnya.
"Tenang, nggak ada yang tau saya pulang malam ini kok... Ya Al ya... Please??!!" Pintanya memelas.
***
Saat nyampe rumah kita masuk dan disambut oleh benerapa orang, mungkin yang bantu di rumah itu.
"Semua udah ngumpul kan?" Ucapnya melihat ada 3 orang yang berdiri didepan Danniel yang satu ibu-ibu paruh baya, bapak-bapak paruh baya mungkin umur mereka nggak beda jauh sekitar 40 tahunan lah dan satu lagi kayaknya masih gadis yang umurnya 20 tahunan.
"kenalin, dia Althea calon istri saya dan yang akan jadi nyonya rumah di rumah ini" Ucapnya dengan santai.
Whaaaat?? Magsudnya apa? Nggak salah nih? Gue dikenalin sebagai calon nyonya di rumah ini? Apa nggak kecepetan?
Gue sadar mereka lagi ngeliatin gue yang masih diem kaget.
"Oh iya... Hai... Saya Althea." Ucap gue canggung.
"Selamat malam Nona, saya mang Ade, dan ini istri saya bi Rani dan ini keponakan kami Ratna..." Ucap mang de memperkenalkan satu-satu anggotanya.
"Non, kalau ada apa-apa bisa panggil saya kalau nggak Ratna..."
"Iya makasih ya Bu..."
"Siapin makan malam ya bu.. Kita mau istirahat dulu..." Ucap Danniel sambil narik gue ke dalam menuju kamarnya.
Gue masuk ke kamarnya dan gue liat kamar dia yang didominasi warna hitam rapih nggak banyak furnitur dikamarnya ya.. Tipe cowok single ya kayak gini kali ya model kamarnya...
Dannie langsung narik gue ke tepi kasur.
"I miss you Al..." Ucapnya dan tanpa ngulur waktu dia pun langsung nyium bibir gue dengan rakus. Tau kan gimana rasanya 1 bulan lebih nggak ketemuan mana komunikasi kita kemaren kurang lagi. Dan gue pun pasrah aja nerima ciumannya karena gue pun sama kangen sampe ke ubun-ubun, sampai nafas kita pun tersenggal-senggal. Dia dudukin gue di pangkuannya.
"Niel!!??" Gue mulai deg degan apa yang mau dilakuin Danniel selanjutnya. Gue tau ketika napas dia udah memburu kayak gini dia pasti butuh lebih dari sekedar ciuman.
"Al... I need this. I need you. My mind playing me, I miss you so much Al..." Jcapnya sambil meluk gue. Dan nggak lama tangannya mulai eksplores kelemahan gue. Dia tau pusat kelemahan gue. Sesaat gue menikmati belaian Danniel dan lupa akan dunia nyata.
"Aaahh Niel... Enough!" Ucap gue yang baru sadar. Danniel pun narik napas berat.
"Kamu tunggu disini, saya mandi dulu bentar!" Gue pun nurutin dia dengan duduk di sisi kasurnya sambil liat-liat barangnya yang ada di meja. Photo masa kecilnya sih yang dia pajang sekarang, gue sama sekali nggak liat photo mantan istrinya. I know he need to released to bad.
Nggak lama dia keluar masih pake bath robes dan duduk di samping gue diem. Jujur aja gue ngerasa bersalah karena gue nggak bisa bantu dia dalam masalah itu, dan dia juga tau gue nggak bisa nyerahin hal yang selama ini paling gue jaga.
"Niel... Im sorry..."
"Its okay Al, saya ngerti, itu adalah hal yang selama ini kamu jaga dan saya juga nggak mau ngerusak apa yang selama ini kamu jaga... Kamu tau... Gara-gara itu saya jadi buru-buru ingin meminangmu dan memintamu sama papah Angga.
"Kalo gitu nanti saya pulang ya..."
"No... You stay here Al... Stay with me tonight... Kamu tau selama 1 bulan lebih saya menahan keinginan saya buat meluk kamu, nyium kamu dan hal yang paling saya kangenin adalah ndusel sama kamu..." Iya sih gue juga sama soalnya, tapi ngeliat tadi dia kayak begitu gue jadi takut kejadian lagi... Kan kasian juga ke dianya ya...
"Tapi Niel..."
"I want hug you all night..."
"Just hug ok! Nggak lebih dari itu..."
"Althea sayang... Kamu itu pacaran sama cowok yang udah ngerti komitmen. I keep my world not crossing your lines, i just wanna you be my side and hug you all the night, i mis you so bad." Dia pun nyium gue lagi dan lagi sampe gue engap karena nggak dikasih buat ancang-ancang ama dia. Gue cuma diem mikir panjang gimana kalo gue juga kebuai sama dia dan akhirnya kelepasan.
"Al... Please say yes... Saya cuma kangen banget sama kamu dan saya rasa kamu juga sama kangennya sama saya... Iya kan? Kita nggak ketemu 1 bulan setengah dan gue ngerasa itu 'LDRan' setaun" Gue ketawa sama kata-kata dia yang menurut gue agak lebay ya.. Kita sama-sama bucin ternyata.
"Nggak ada yang akan terjadi Al, Believe me! Ya... Kecuali kalo kamu yang minta kayak waktu itu, dan saat itu saya nggak akan nyadarin kamu lagi" Dia ngingetin kejadian memalukan itu lagi. Gue nyubit perutnya kesel. Terus aja hal yang memalukan kek gitu diinget-inget. Gue cemberut.
"Dulu kamu sering bawa cewek kesini ya?" entah kenapa gue jadi keingetan hal ini dan gue jadi curiga ama dia.
"Iiihh kok pertanyaannya tajem bener Yang.." Dia malah ketawa ngakak. Sial bener deh. Nggak lama dia diem liat gue diem nunggu jawaban dia.
"Nggak Yang... Saya nggak pernah bawa cewek mainan saya kesini. Karena saya tau ini rumah buat saya tinggalin sama istri saya, jadi saya nggak mau nginget moment bejadnya saya di rumah ini sama cewek-cewek itu...."
"Trus kamu ngelakuin dimana?"
"Di Apartement Rafael... Kalo nggak ya di Apartement Hans."
"Diihh kasian banget mereka! Tempatnya dijadiin tempat mesum sama kamu!"
"Itu tempat juga saya yang beliin buat mereka!" Gue cuma diem okay... Horang kaya mah bebas ajalah...
"Kenapa nggak di Apartement saya aja sih? Kan malu tar bibi nyangkain ada apa-apa lagi."
"I want you in my bed Al...Not your bed... Lagian kita bukan umur 17 taun dan kamu adalah calon nyonya rumah ini, jadi wajar dong..."
Gue pun akhirnya nyerah dan ngangguk.
****
gomawoooo ...🙇🙇🙇
yang udah setia ngikutin ini cerita...
jangan lupa setelah baca episode pencet 👍 ya...